fbpx
Kecakapan Komunikasi Anak

Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak

Siapa yang menyangka kalau ternyata kecakapan komunikasi juga merupakan sebuah potensi bagi seseorang? Bagi beberapa orang, kecakapan komunikasi adalah sebuah anugerah atau kemampuan semata. Tetapi, kecakapan komunikasi dapat dilatih sejak dini. Komunikasi terbagi menjadi dua, yakni komunikasi verbal dan non-verbal. Dalam buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini, dijelaskan mengenai komunikasi verbal melalui kemampuan baca dan tulis.

Untuk memahami pendidikan Montessori seperti apa, perlu diingat bahwa pendekatan Montessori selalu tidak langsung. Dalam pendidikan Montessori, tidak pernah ada pendekatan langsung seperti dalam pendidikan konvensional. Pada buku ini, Montessori menjelaskan bahwa kemampuan baca dan tulis sebagai komunikasi verbal anak bisa dilakukan melalui pendekatan tidak langsung.

 

Pendekatan Tidak Langsung

Pendekatan tidak langsung yang dianjurkan Montessori untuk membantu anak mempelajari komunikasi tertulis dimulai sejak anak lahir. Mengapa sejak mereka lahir? Karena komunikasi tertulis adalah bahasa visual dan merupakan kelanjutan dari bahasa oral anak. Sehingga, penting bagi lingkungannya untuk dipenuhi dengan bunyi-bunyi dari manusia sejak dini. Meskipun anak masih baru lahir, mereka tidak boleh dijauhkan dari kehidupan sosial, tetapi justru disertakan dalam seluruh kegiatan keluarga. Hal ini ditujukan agar anak bisa mendengar hal-hal di sekitarnya dan mengetahui banyak nama-nama benda di sekitarnya.

Anak mampu belajar hal-hal yang tidak bisa ia dapatkan di sekolah melalui interaksi sosial dan juga kita sebagai orang dewasa yang membantu mereka berkenalan dengan dunia sejak dini. Setelahnya, kita sebagai orang dewasa maupun guru bisa membantu kemampuan komunikasi tertulis mereka dengan lebih lanjut. Namun, pendekatan yang digunakan bukan mencekoki anak dengan teknik membaca. Menurut Montessori, hal yang bisa dilakukan adalah memerdekakan anak sehingga bebas mengekspresikan diri dan berkomunikasi.

Selain kecakapan anak dalam membaca, ada pula kecakapan anak dalam menulis. Untuk bisa menulis, seorang anak tentu harus bisa menggunakan alat tulis, bisa bergerak di dalam batasan yang tersedia untuk menulis, serta mengetahui bentuk gerakan atau tulisan yang ingin ia buat. Tidak hanya harus menguasai proses mekanis tersebut, anak juga harus mengetahui kata-kata nonfonetik atau kata yang pelafalannya tidak sama dengan penulisan. Ia harus memiliki perbendaharaan kata yang kaya dan memahami konsep bahwa benda memiliki nama dan setiap kata memiliki definisi tertentu.

 

Kemampuan komunikasi ini juga harus disertai dengan kesadaran anak bahwa bahasa merupakan kemampuan unik manusia yang membedakan mereka dengan binatang. Dengan bahasa, memungkinkan anak melampaui batas-batas waktu, emosi pribadi dan sejarah, serta meninggalkan warisan kepada generasi selanjutnya. Bahasa juga membantu anak berkomunikasi dan membuat berbagai macam perjanjian di antara masyarakat.

Melalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini karya Paula Polk Lillard, kita bisa membantu anak menggali potensi ala Montessori yang bisa diterapkan di rumah dan di sekolah. Dapatkan buku ini melalui linktr.ee/Bentang sekarang juga.

Melatih Toilet Training pada Anak

Pernahkah kita mendengar kata toilet training? Apakah kita mengetahui apa maksudnya? Toilet training adalah proses anak belajar untuk buang air besar dan buang air kecil di toilet secara mandiri. Tahap ini mengajarkan anak untuk tidak lagi buang air di popok, seperti yang biasanya ia lakukan. Pada buku Cican Bisa ke Toilet Sendiri, diceritakan bahwa Cican sudah bisa ke toilet secara mandiri dan tahu kapan ia harus ke toilet. Ajak si kecil untuk ke toilet sendiri juga, yuk.

 

Bagaimana Cara Melatih Toilet Training?

Melatih toilet training pada anak tentu memerlukan waktu dan kesabaran. Sebelumnya, anak telah terbiasa untuk buang air di popok tanpa berusaha untuk pergi ke toilet dan membersihkannya. Ketika ia harus pergi ke toilet untuk buang air, tentu ada banyak perubahan yang ia rasakan dan perlu ia sesuaikan.

Langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk melatih toilet training pada anak adalah mengenalkannya pada toilet. Kita ingatkan dan beri tahu anak bahwa jika ingin buang air besar dan kecil, ia bisa pergi ke toilet.

Langkah kedua adalah menjelaskan fungsi dan beri contoh penggunaannya. Kita harus menjelaskan fungsi benda-benda yang ada di toilet sembari mengajarkan cara penggunaannya. Misalnya, wastafel. Kita jelaskan bahwa benda tersebut namanya adalah wastafel, fungsinya sebagai tempat mencuci tangan, wajah, dan gosok gigi. Kemudian kita beri contoh penggunaannya.

Langkah selanjutnya adalah menjadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas. Misalnya saat anak baru bangun tidur, kita bisa mengajaknya ke kamar mandi untuk buang air. Sebelum tidur juga kita bisa ajak anak untuk buang air.

 

Baca juga: Pentingnya Menjaga Kebersihan Toilet

 

Mengajari Anak Cara Penggunaan Toilet

Saat melihat toilet pertama kali, anak pasti merasa bingung karena banyaknya hal yang harus ia lakukan ketika buang air. Untuk mempermudah toilet training, pastikan anak mengenakan celana yang mudah dilepas dan dipakai secara mandiri. Setelah itu kita bisa mengajari mereka cara menggunakan toilet.

Pertama, kita jelaskan cara duduk yang benar di kloset. Selanjutnya, kita mengajari cara membersihkan diri setelah buang air. Saat mengajari cara membersihkan diri ini, pastikan anak merasa aman dan nyaman. Kemudian, ajari mereka cara menekan tombol flush setelah selesai buang air. Mungkin tombol flush bisa terlalu tinggi atau berat bagi anak, sehingga kita perlu pelan-pelan mengajari mereka.

Langkah selanjutnya kita bisa menunjukkan proses pembuangan air seni atau tinja ke kloset. Kita perlu menekankan pada anak bahwa tempat pembuangan akhir air seni dan tinja adalah kloset. Langkah terakhir ialah mengajari mereka cara mencuci tangan dengan benar setiap selesai menggunakan toilet. Langkah terakhir ini sangat penting untuk selalu anak lakukan dan beritahu mereka pentingnya mencuci tangan setelah menggunakan toilet.

 

Mengajari anak toilet training penting dilakukan sejak dini. Tidak hanya agar mereka bisa terbebas dari popok lebih cepat, tetapi juga melatih kemandirian mereka. Selain itu, jika anak terlambat memahami toilet training, ia bisa telanjur merasa tidak nyaman ketika kita mengajari dan menunjukkan langkah-langkahnya.

Melalui buku Cican Bisa ke Toilet Sendiri yang akan segera republish pada bulan Mei, ajak dan ajari anak untuk ke toilet sendiri. Buku karya Wahyu Aditya ini tidak hanya menampilkan karakter Cican dan Cini yang menggemaskan, tetapi juga menyampaikan pesan yang baik untuk anak.

Makna kegiatan anak

Makna Perilaku Anak yang Perlu Kita Ketahui

Ketika kita melihat perilaku anak, mungkin dalam pikiran kita hanyalah mereka melakukan aktivitas yang lucu, menggemaskan, atau bahkan nakal. Namun, setiap gerakan mereka mengandung sebuah makna. Pada buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan, Montessori menjelaskan hasil eksperimennya terhadap makna perilaku anak-anak.

 

Anak Suka Mengulang-ulang Kegiatan

Apakah si kecil sering mengulangi kegiatan yang sama? Misalnya mengeluarkan dan memasukkan mainan dua kali atau lebih? Apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat hal tersebut? Montessori dalam buku ini melakukan eksperimen dengan berusaha menginterupsi fokus anak yang melakukan hal sama berulang kali. Hasilnya, si anak tetap fokus dengan hal yang sedang ia kerjakan.

Hal ini menandakan bahwa anak berhasil konsentrasi terhadap sesuatu yang ia kerjakan dan begitu selesai ia akan kembali melihat kita dan mencari hal lain yang menarik. Tentu ini menjadi lebih mudah bagi kita ketika ingin mengajari anak sesuatu. Misal kita mengajari mereka cara mencuci tangan setelah bermain. Anak-anak cenderung mengulangi hal yang sama dan bangga menunjukkan pada kita kalau mereka sudah mencuci tangan.

 

Peka Terhadap Keteraturan

Banyak dari kita yang tidak mengetahui kalau anak-anak itu menyukai keteraturan. Ketika anak terlepas dari sesuatu yang biasa ia rasakan atau keteraturan tersebut, mereka cenderung merasa tidak nyaman. Mereka juga suka meniru apa yang mereka lihat. Misalnya, ketika kita menjatuhkan sesuatu kemudian kita ambil dan kita kembalikan ke tempatnya. Anak juga cenderung akan melakukan hal tersebut dan paham bahwa benda itu memiliki tempatnya sendiri.

Kita pasti pernah menghadapi situasi ketika sedang melakukan suatu pekerjaan lalu anak mengikuti dan kita meminta mereka untuk tidak mengikuti. Namun, anak tetap mengikuti dan kita berpikir bahwa mereka tidak patuh. Namun, sebenarnya anak ingin membantu. Ketika ia sudah berhasil membantu, ia akan kembali melakukan hal tersebut untuk seterusnya. Ini menunjukkan bahwa anak sebenarnya peka terhadap keteraturan.

 

Bebas Memilih

Pernahkah kita lupa mengunci pintu lemari anak dan kemudian tiba-tiba ia mengambil barang miliknya di dalam lemari? Apa yang kita pikirkan ketika hal itu terjadi? Ketika hal ini terjadi, Montessori melihat bahwa hal ini menandakan anak-anak sudah mulai bisa memilih. Ketika melihat lemari terbuka, mereka berpikir bahwa mereka boleh memilih baju dan aksesori apa yang ingin mereka kenakan.

Kita juga bisa mulai melatih kebebasan anak dalam memilih, misalnya memilih rasa es krim yang mereka inginkan, pakaian yang ingin mereka kenakan, dan kegiatan apa yang ingin mereka lakukan hari ini. Alih-alih berpikir bahwa mereka nakal atau memiliki insting mencuri, misalnya, kita bisa berpikir bahwa anak sudah memiliki preferensi dan minat mereka sendiri.

 

Anak-Anak Tidak Selalu Memilih Mainan

Montessori melihat bahwa anak-anak tidak selalu memilih mainan dalam beraktivitas. Mereka lebih memilih aktivitas tanpa mainan hingga Montessori datang kepada mereka dan menawarkan mainan. Anak-anak tetap memilih kegiatan tanpa mainan ini dan Montessori menyimpulkan bahwa ketertarikan anak tidak selalu pada mainan.

Dalam kehidupan anak, mainan dan bermain mungkin dianggap sebagai sesuatu yang inferior, sementara aktivitas adalah alternatif lain yang bisa mereka lakukan jika tidak ada yang lebih baik lagi. Ini sama halnya ketika kita bermain kartu pada saat senggang, namun kita tidak lagi tertarik bermain kartu jika dipaksa terus-menerus.

 

Ada banyak perilaku ajaib anak yang mungkin hanya terlihat sederhana dan tanpa makna, namun jika kita mendalaminya, setiap langkah mereka jadi bermakna. Pada buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan, Maria Montessori mengupas makna perilaku anak yang sering terlupakan oleh kita. Untuk memperdalam pemikiran Maria Montessori mengenai dunia anak, buku ini menjadi rekomendasi yang bisa kamu dapatkan melalui linktr.ee/Bentang