fbpx
potensi anak

Menggali Potensi Anak dengan Lingkungan Montessori

“Anak bertumbuh karena potensi kehidupan di dalam dirinya berkembang, mewujud ke permukaan.”

 

Kutipan di atas diambil dari buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini yang ditulis oleh Paula Polk Lillard dan baru diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Membicarakan tentang potensi anak, kita seolah telah memberikan banyak kebebasan pada anak untuk mengeksplorasi hal di sekitarnya. Namun, apakah hanya dengan memberikan kebebasan sudah cukup? Menurut Montessori, banyak hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan lingkungan Montessori dan ramah anak.

Menciptakan Lingkungan Montessori

Montessori memberikan penekanan pada lingkungan dan terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, lingkungan adalah nomor dua setelah kehidupan. Anak bertumbuh seperti demikian bukan karena ia kebetulan berada di suatu lingkungan tertentu. Ia bertumbuh karena potensi di dalam dirinya berkembang.

Kedua, lingkungan harus dipersiapkan agar anak bisa menjadi orang dewasa yang memiliki pengetahuan dan kepekaan. Ketiga, orang dewasa juga harus ikut berpartisipasi dalam kehidupan dan pertumbuhan anak di dalam lingkungan tersebut.

Menurut Montessori, lingkungan yang hidup serta mendukung anak akan membuat proses penggalian potensi lebih terbuka untuk anak. Pada lingkungan Montessori ini, ditekankan pentingnya peran orang dewasa untuk membantu anak. Orang dewasa sudah pasti harus membuka diri terhadap kehidupan dan proses yang sedang dijalankan oleh anak. Jika orang dewasa tidak bisa terbuka dan bersikap kaku terhadap pandangan tentang kehidupan, maka anak juga akan menghadapi hambatan dalam prosesnya.

(Baca juga: Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak)

Enam Komponen Montessori

Lingkungan kelas Montessori mengandung enam komponen dasar. Komponen ini diperlukan tidak hanya untuk menciptakan lingkungan kelas yang baik tetapi juga membantu kita untuk menggali potensi anak. Komponen-komponen ini antara lain ialah konsep kebebasan, struktur dan keteraturan, realitas dan alam, keindahan dan atmosfer, aparatus Montessori, dan pengembangan kehidupan bermasyarakat.

Kebebasan adalah elemen esensial dalam lingkungan Montessori. Anak bisa mengungkapkan dirinya hanya di tengah lingkungan yang bebas. Komponen struktur dan keteraturan berhubungan dengan alam semesta atau lingkungan sekitar anak. Jika kita membiasakan anak melihat dan merasakan keteraturan maka ia juga akan memercayai lingkungannya. Dengan adanya keteraturan, anak juga bisa menyelesaikan aktivitasnya.

Komponen ketiga adalah realitas dan alam. Pada komponen ini, anak harus memperoleh kesempatan untuk memperhatikan batas-batas alam dan realitas agar anak terbebas dari fantasi dan ilusinya sendiri. Dengan cara ini, anak bisa mengembangkan disiplin dan keyakinan dirinya. Komponen keempat adalah keindahan dan atmosfer. Keindahan dan atmosfer ini untuk memupuk respons positif terhadap kehidupan. Montessori mengatakan bahwa keindahan bukan hanya alat bantu anak yang sedang berkembang tetapi juga sebagai hal yang dibutuhkannya untuk mengeluarkan kemampuan dalam merespons kehidupan.

Apa saja Komponen Montessori?

Komponen selanjutnya adalah aparatus Montessori. Banyak anggapan yang salah mengenai hal ini. Aparatus Montessori bukan bahan ajar karena tujuannya bukan untuk mengajari anak keterampilan. Aparatus Montessori berfungsi internal untuk anak, yaitu membantu konstruksi diri dan perkembangan psikisnya. Komponen yang terakhir adalah pengembangan kehidupan bermasyarakat. Pada perkembangan anak, mereka akan belajar untuk menumbuhkan rasa memiliki dan bertanggung jawab. Rasa tanggung jawab ini juga akan berkembang menjadi rasa peduli, simpati, dan empati.

Menciptakan lingkungan kelas Montessori yang bisa membantu kita untuk menggali potensi anak memang bukan hal yang mudah. Namun, jika kita sudah memahami filosofi serta caranya, hal tersebut bukan lagi perkara yang begitu sulit. Melalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini karya Paula Polk Lillard, kita akan mempelajari filosofi Montessori lebih mendalam. Selain itu, kita juga bisa memahami bagaimana untuk menciptakan lingkungan Montessori yang tepat untuk anak sehingga bisa menguak potensi dalam diri mereka.

 

Enda Sinta Apriliana

Pentingnya Menjaga Kebersihan Toilet

Kebersihan toilet adalah salah satu hal yang penting untuk kita terapkan sehari-hari. Toilet menjadi tempat paling privasi dan sekaligus tempat pembuangan kotoran kita, sehingga kebersihannya perlu dijaga. Jika kita sudah terbiasa membiarkan toilet dalam keadaan bersih, anak-anak juga akan menerapkannya. Menjaga kebersihan toilet tidak hanya untuk diterapkan di rumah, tetapi juga di luar rumah.

 

Toilet Umum

Ketika kita mengajak anak pergi ke luar rumah dan menemukan bahwa toilet umum yang akan digunakan ternyata kotor, tentu kita menjadi merasa tidak nyaman. Banyaknya bakteri dan kuman seolah terlihat jelas di depan mata. Anak yang sudah terbiasa dengan toilet bersih juga ikut merasa tidak nyaman dan bahkan bisa menolak untuk menggunakan fasilitas tersebut. Pada situasi seperti ini, kita bisa mengedukasi anak betapa pentingnya toilet yang bersih.

Toilet yang bersih tidak hanya menggambarkan diri kita yang bersih dan sehat, tetapi juga lingkungan yang sehat serta kebiasaan yang baik. Ketika anak terpaksa harus menggunakan toilet umum yang kotor, kita harus menyiapkan hal-hal yang bisa membuat mereka nyaman. Misalnya, tisu basah, tisu kering, dan juga menyiram toilet yang kotor hingga tampak lebih bersih. Sambil membersihkan toilet sebelum digunakan, kita bisa mengajarkan mereka bagaimana menjaga kebersihan toilet umum.

Kita bisa mengatakan bahwa setiap kali kita ke luar rumah, kita harus menyiapkan tisu basah dan tisu kering, serta membawa hand sanitizer. Sebelum kita menggunakan WC, kita harus membersihkan permukaannya terlebih dahulu dengan menyiram air lalu dilap dengan tisu. Kemudian barulah kita bisa menggunakan toilet tersebut.

 

Dampak Toilet yang Kotor

Selain mengajarkan bagaimana cara menjaga kebersihan toilet, kita juga perlu memberi tahu anak dampak dari toilet yang kotor. Mungkin anak-anak masih tidak paham apa yang akan mereka hadapi jika toilet dibiarkan kotor. Namun, tujuan memberi tahu hal ini bukan untuk menakut-nakuti anak dan membuat mereka harus dengan terpaksa menjaga kebersihan toilet itu. Anak memang perlu diberi tahu sehingga ia bisa menganalisis sendiri mengapa toilet perlu dijaga kebersihannya.

Dampak toilet yang kotor berhubungan dengan isu kesehatan. Toilet yang kotor bisa menyebabkan berbagai penyakit, seperti demam tifoid, disentri, hepatitis A, dan kolera. Penyakit demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang menunjukkan gejala-gejala seperti diare, mual, muntah, nafsu makan menurun, dan ruam. Penyakit ini bisa menular melalui air yang terkontaminasi feses penderita.

Disentri terjadi akibat infeksi bakteri Shigella atau parasit Entamoeba histolytica pada usus. Gejalanya adalah demam, mual, muntah, dan BAB berdarah. Cara penularannya sama dengan demam tifoid namun bisa dicegah dengan cara selalu mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet. Hepatitis A tertular dari makanan dan minuman yang terkontaminasi. Jika kita ke toilet yang kotor dan tidak membersihkan tangan, kita bisa terkena penyakit ini. Penyakit kolera adalah infeksi yang menyebabkan seseorang mengalami diare yang tertular melalui air yang terkontaminasi. Tanpa penanganan, kolera dapat mengakibatkan dehidrasi parah.

 

Pentingnya menjaga kebersihan toilet tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Mengajarkan anak harus dimulai sejak dini sehingga kebiasaan mereka juga terbentuk sejak awal. Buku serial anak karya Wahyu Aditya ini tidak hanya menghadirkan tokoh-tokoh menggemaskan seperti Cican dan Cini, tetapi juga menghadirkan pesan-pesan yang baik dan mudah terima oleh anak-anak. Buku Cican Bisa ke Toilet Sendiri menceritakan tentang kemandirian Cican yang bisa pergi ke toilet sendiri. Dalam buku ini juga menjelaskan langkah-langkah yang bisa dilakukan anak saat buang air di toilet. Buku ini akan hadir kembali pada bulan Mei 2021.

 

Enda Sinta Apriliana

 

Sumber:

https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/dampak-toilet-kotor/

Kekangan anak

Kekangan pada Anak

Orang dewasa sering kali tidak menyadari kalau mereka melakukan kekangan pada anak. Setiap kali ditanya bagaimana mereka mengasuh anak-anak, jawaban mereka menunjukkan sebuah pembelaan. Misalnya, mengatakan kalau mereka sudah melakukan yang terbaik atau sudah mengorbankan banyak hal. Tapi apakah benar hal terbaik yang dilakukan ini juga “terbaik” menurut anak?

Salah satu tugas orang dewasa adalah untuk mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak. Namun, orang dewasa malah cenderung memberikan pengaruh terlalu banyak atau memberikan batasan-batasan pada anak sehingga mereka terisolasi. Mereka juga cenderung menjadi sangat protektif dengan alasan untuk melindungi anak. Demikian yang dikatakan Maria Montessori dalam bukunya, Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan.

 

Kekeliruan Orang Dewasa

Fenomena ketika orang dewasa memberikan kekangan pada anak bukanlah hal yang baru. Semua orang dewasa yang selalu berkata kalau mereka telah melindungi anak dari pengaruh luar biasanya memunculkan kekeliruan. Kekeliruan ini bukan saja tak disengaja, tetapi juga yang tidak disadari. Tujuan mereka memang untuk melindungi anak, tetapi sering kali cenderung jadi bersikap terlalu protektif dan malah menghalangi langkah-langkah anak.

Semua orang mengecam kekeliruan yang disadari dan tertarik akan kekeliruan yang tidak disadari. Mereka baru akan sadar akan kekeliruan mereka ketika kita menegur mereka. Sejak awal dalam pikiran orang dewasa ialah mereka merasa bahwa perlindungan mereka terhadap anak-anak adalah hal yang wajar. Padahal, jika orang lain yang melihatnya, mereka menganggap orang dewasa ini terlalu mengekang anak.

Supaya anak dapat memperoleh perlakuan yang tidak demikian dan bisa berdampak terhadap pertumbuhan psikisnya, langkah pertama yang esensial adalah mengubah orang dewasa. Kita harus mulai menyadari bahwa anak-anak memiliki dunia dan pemikiran mereka sendiri. Kita perlu menerima bahwa anak-anak harus mengeksplorasi segalanya dimulai dari diri sendiri dan kita orang dewasa hanya perlu membantu mereka.

 

 

Anak memiliki banyak hal dalam diri mereka yang masih belum diketahui. Masih ada anak yang belum kita kenal kepribadian dan pemikirannya. Anak masih perlu ditelaah supaya bagian yang belum diketahui bisa dikuak. Untuk menemukan hal-hal yang masih belum diketahui ini, kita perlu terbuka dengan diri mereka. Membiarkan anak untuk mengeksplor banyak hal dengan dibantu oleh orang dewasa juga perlu, tetapi tidak menghalangi langkah-langkah mereka.

Orang dewasa akan menjadi egosentris ketika berhubungan dengan anak. Maka dari itu, ia menjadikan sudut pandangnya sebagai patokan dari segalanya dan gagal memahami anak. Sudut pandang seperti ini yang melahirkan pendapat bahwa anak seperti “kosong” dan harus diisi oleh orang dewasa. Orang dewasa juga menjadikan diri mereka sebagai patokan baik dan buruk sehingga anak hanya perlu menirunya. Dengan berlaku seperti itu, orang dewasa merasa mereka telah mengasihi dan berkorban untuk anak. Padahal tanpa mereka sadari, hal itu telah membungkam kepribadian anak dan mengekang diri mereka.

 

Enda Sinta Apriliana