kebiasaan baik untuk anak

Tanamkan 5 Kebiasaan Baik untuk Anak

Kebiasaan baik, seperti halnya kebiasaan lain, akan terbentuk setelah dilakukan berulang. Para ahli menyimpulkan durasinya minimal selama 66 hari. Membentuk sebuah kebiasaan memang bisa dimulai kapan saja. Akan tetapi, waktu yang paling efektif untuk menanamkan perilaku yaitu ketika masa anak-anak, lo! Maka, manfaatkan momen emas untuk memupuk kebiasaan baik si kecil, ya!

Kebiasaan yang Perlu Diajarkan Sejak Kecil

Happy Parents bisa mengajarkan kebiasaan baik mulai dari hal sederhana.  Nah, apa saja kebiasaan baik untuk anak yang perlu diajarkan?

  • Menjaga kebersihan diri

Memunculkan kesadaran si kecil akan kebersihan ialah hal yang penting. Nah, Happy Parents bisa mengajari si kecil menjaga kebersihan diri. Misalnya, cuci tangan sebelum dan setelah makan. Akan tetapi, jangan lupa ajarkan si kecil untuk menghemat air ya.

  • Lingkungan

Selain kebersihan diri, penting juga untuk menanamkan cinta lingkungan. Ajak si kecil untuk membuang sampah di tempat sampah, juga merawat lingkungan sekitar. Happy Parents bisa berkebun bersama anak. Biarkan si kecil memberi nama tanaman tersebut agar si kecil semakin antusias.

  • Bersikap Sopan

Terkadang orang tua memaklumi ketika anak bersikap tidak sopan. Padahal, jika dibiarkan sikap tersebut akan berlanjut hingga dewasa. Oleh karena itu, pupuk sikap sopan mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, biasakan si kecil untuk menutup mulut saat bersin atau meminta izin jika mau buang angin.

  • Bertanggung jawab

Tanggung jawab adalah sikap yang bisa dilatih. Meski masih kecil, ajarkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi.  Happy Parents bisa mulai membiasakan anak untuk merapikan mainan setelah dimainkan. Jangan lupa beri pemahaman si kecil tentang tujuan tanggung jawab tersebut, ya!

  • Sabar

Tahukah, Happy Parents? Menurut penelitian, anak yang mampu bersabar untuk memperoleh kesenangan akan lebih sukses ketika dewasa. Oleh karena itu, latih si kecil untuk sabar. Misalnya, sanggup menunggu untuk makan bersama, sabar mengantre, atau sabar menunggu giliran mainan.

Happy Parents, pasti mau kan si kecil memiliki kebiasaan baik? Jangan menyerah dalam membentuk kebiasaan baik untuk anak ya. Selain dengan contoh dan arahan, penanaman kebiasaan baik juga dapat dilakukan dengan buku cerita. Melalui koleksi buku Seri Kebiasaan Baik si kecil dapat mencontoh kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan oleh Cican dan kawan-kawan.

Memahami Penyebab Pertengkaran Antara Anak

Dalam sesi seminar parenting, sering sekali orang tua bertanya bagaimana mengatasi anak yang suka bertengkar, atau bagaimana cara mempersiapkan anak pertama menjadi seorang kakak. Dua hal ini menjadi masalah umum dalam pengasuhan. Sebagai orang tua dan keluarga, menyambut anggota keluarga baru adalah sebuah momen yang sangat dinantikan. Berharap anak kita memiliki teman di masa depannya setelah kita tidak ada. Akankah hal yang sama dirasakan oleh anak pertama? Jawabannya adalah belum tentu. Anak pertama akan merasa bahwa ia akan memiliki saingan dan cinta yang diberikan orang tua tidak cukup baginya. Oleh karena itu, ia menciptakan berbagai drama.

Ketika anak kedua lahir, mereka tumbuh dan di besarkan oleh orang tua yang sama dan dengan pola asuh yang sama. Tapi mengapa mereka sering mengalami pertengkaran dan bersaing? Orang tua merasa bahwa ia telah cukup dan banyak cinta untuk dibagikan kepada anak-anaknya. Tetapi, anak belum tentu merasakan hal itu.

Untuk mengatasi penyebab dari pertengkaran antara anak, kita perlu mengetahui penyebab yang memicunya. Dalam buku Gentle Discipline yang ditulis oleh Sarah Ockwell-Smith, disebutkan bahwa setidaknya ada beberapa penyebab pertengkaran anak.

Kurangnya Perhatian Individu

Berusaha untuk memberikan perhatian penuh secara personal kepada anak lebih dari satu adalah hal yang tidak mudah. Terlebih jika orang tua bekerja. Namun, hal tersebut bukan tidak mungkin dilakukan. Orang tua bisa membuat jadwal untuk mengajak anak pertama saja untuk sekadar jalan- jalan bertiga. Lalu, minggu selanjutnya membawa anak kedua untuk jalan-jalan bertiga dengan orang tua. Hal tersebut akan membuat anak merasa dianggap dan dipedulikan. Keluarga juga harus sering melakukan kegiatan bersama di tengah-tengah kesibukan. Kegiatan tersebut bisa membantu untuk mengurangi pertengkaran anak.

Membandingkan

Sebagai orang tua, kita sering melihat perilaku beragam dari anak-anak kita. Setiap anak dengan perilaku dan tingkahnya masing-masing. Tidak semua perilaku dan tingkah anak disukai oleh orang tua. Ketika orang tua mulai membandingkan baik dan buruk antara satu anak dengan saudaranya, saat itu juga orang tua sudah merusak hubungan antara anak-anaknya. Membandingkan akan membuat anak terputus dari orang tuanya dan pasti akan menyimpan iri kepada saudaranya, sehingga timbullah pertengkaran antara anak. Jika ingin melindungi hubungan anak dengan saudara kandungnya, hindari membandingkan mereka.

Melabeli

Dalam lingkup keluarga, memberi label adalah hal yang biasa. Mengatakan anak dengan “si lucu”, “anak yang nakal”, dan label lainnya yang terkadang disampaikan langsung di depan salah seorang dari anak kita. Hal ini jelas akan menimbulkan pertengkaran antara anak. Setidaknya ada dua masalah yang akan timbul ketika memberikan label pada anak yaitu, harapan yang tidak disadari dan menumbuhkan pola pikir permanen.

Terlalu Banyak Tekanan pada Anak Sulung

Terkadang orang tua meminta anak sulungnya untuk menjaga adik-adiknya, menjadi contoh terbaik, harus lebih memiliki pemahaman lebih, dan keinginan lainnya yang seakan harus ada pada anak sulung. Beberapa anak sulung akan menerima hal tersebut dan sebagian mereka merasa keberatan karena mendapat tanggung jawab dan tugas ekstra. Terlalu banyak kewajiban dan tekanan pada anak sulung akan memicu pertengkaran antara anak karena anak sulung merasa tidak adil dalam pembagian peran tertentu.

Sekolah Montessori untuk Anak, Yes or No?

“Bayar mahal-mahal di sekolah Montessori, kok anakku malah disuruh beberes, sih?”

Hayo, siapa nih, yang anaknya sekolah di Montessori dan suka bertanya-tanya seperti ini? Pastinya hampir semua montessorian newbie pernah, deh. Karena memang aneh bagi kita yang sudah biasa terpapar metode pendidikan teacher center ketika melihat konsep mengajar di sekolah Montessori yang menggunakan metode pendidikan follow the child.

Kesan pertama yang akan kita dapatkan biasanya, “kok anakku dibiarkan tanpa pengawasan, ya? kok gurunya cuma diam aja? Ih, kok, ada praktik beberes rumah, sih?”

Eits, tenang dulu. Begini lho, penjelasannya….

Masa usia dini adalah masa saat anak-anak harus mendapatkan kesempatan untuk bisa mengeksplorasi banyak hal. Termasuk aktivitas beberes rumah, yah. Karena, ternyata dari aktivitas beberes rumah ini, kita bisa mengasah  kecerdasan majemuk anak. Salah satu contohnya adalah membiasakan mereka mencuci sendiri peralatan makan yang digunakan.

Dalam buku Montessori for Multiple IntelligencesIvy Maya Savitri menjelaskan bahwa aktivitas ini bertujuan untuk mengajarkan mereka cara mencuci peralatan makanan yang benar dengan mengembangkan sikap disiplin sejak dini. Itu sebabnya kita bisa menemukan aktivitas seperti ini di sekolah Montessori. Begitu pula di sekolah-sekolah umum yang sudah mulai terbuka dengan metode pendidikan follow the child.

Lebih lanjut, Ivy Maya Savitri selaku penulis dan founder sekolah Rumah Montessori menambahkan, kita juga bisa melihat ada keterampilan motorik kasar yang tanpa sadar sedang kita latih dari aktivitas mencuci peralatan makan. Misalnya ketika anak-anak menggenggam peralatan mereka. Selain itu ada stimulus motorik halus yang juga sedang kita asah dimana anak-anak bisa mengevaluasi kebersihan mereka sendiri.

Jadi bukan tanpa alasan ya, sekolah Montessori mengharuskan muridnya untuk mencuci peralatan makannya sendiri di sekolah. Karena memang terbukti membawa pengaruh positif bahkan bisa mengasah kecerdasan majemuk juga!

Dalam bukunya yang berjudul Montessori for Multiple Intelligences, Ivy menjelaskan aktivitas mencuci peralatan makanan bisa mengasah kecerdasan logika matematika anak, loh. Anak akan dikenalkan pada konsep sebab-akibat melalui pengalaman langsung. Aktivitas ini akan membuat anak menganalisis semua hal yang dikerjakan. Misalnya, jika sabun yang diberikan hanya sedikit bercampur dengan air terlalu banyak, maka busa yang dihasilkan juga sedikit. Tanpa sadar, mereka sudah mengasah kecerdasan logika matematikanya.

Masih ada juga kecerdasan visual, kinestetik, natural, hingga musik. Ternyata semua kecerdasan itu bisa diasah juga dari aktivitas mencuci peralatan makanan!

Nah, jadi jangan berburuk sangka dulu ya dengan sistem pendidikan di sekolah Montessori. Jika memang tertarik menyekolahkan si kecil di sekolah Montessori, jangan ragu untuk menanyakan lebih jelas.