fbpx
mengajarkan cuci tangan anak

Mengajarkan Kebiasaan Cuci Tangan Anak

mengajarkan cuci tangan anak

Mengajarkan kebiasaan cuci tangan anak membantu si kecil untuk tetap menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. Tangan adalah salah satu anggota tubuh yang terbilang rentan. Karena tangan memiliki risiko menyebarkan berbagai jenis kuman yang dapat menimbulkan penyakit. Padahal anak-anak suka sekali memegang benda-benda sesuka hati dengan tangan mereka. Maka tugas orang tua untuk mengajarkan kebiasaan cuci tangan sejak dini menjadi sangat penting.

Melindungi Diri dari Penyakit

Mencuci tangan terkesan aktivitas yang sepele, namun sesungguhnya dampak yang dihasilkan sangat besar pengaruhnya. Mencuci tangan bisa menghindarkan diri dari risiko terpapar penyakit diare dan hepatitis A. Apalagi pada saat pandemi virus covid-19 seperti saat ini, mencuci tangan juga menjadi salah satu usaha melindungi diri dari virus tersebut.

Baca juga: Mengajarkan Pentingnya Menjaga Kebersihan Diri kepada Anak

Mengajak orang dewasa untuk membiasakan cuci tangan mungkin lebih mudah dibandingkan mengajak anak-anak. Mengajarkan kebiasaan cuci tangan sejak dini kepada anak bukanlah hal yang mudah. Namun jangan khawatir karena kebiasaan tersebut  tetap bisa ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.  Menemani anak mencuci tangan misalnya, menjadi salah satu cara efektif untuk membiasakan anak rajin mencuci tangan.

Daripada menggunakan paksaan dan kalimat perintah, anak-anak akan lebih suka jika orangtuanya menemani mereka mencuci tangan. Selain itu orang tua juga jangan bosan-bosan memberikan peringatan kepada anak, kapan ia harus mencuci tangan. Misalnya, ketika sudah selesai bermain orang tua langsung mengingatkan anak untuk segera mencuci tangan. Sebelum menyentuh makanan, orang tua harus memastikan anaknya sudah mencuci tangan terlebih dahulu.

Dibutuhkan Kesabaran

Mungkin akan terkesan melelahkan apabila harus mengingatkan terus menerus. Namun ini juga menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kebiasaan cuci tangan sejak dini kepada anak. Hal yang terus diulang-ulang tidak terasa akan menjadi kebiasaan. Termasuk terus mengingatkan untuk rajin cuci tangan dan mengulang-ulangnya setiap saat, akan membantu membentuk kebiasaan sehat tersebut.

Tentu saja diperlukan kesabaran kalau anak-anak susah atau menolak diajak untuk mencuci tangan mereka setelah beraktivitas. Namun, jangan sekali-kali memaksa mereka apalagi menggunakan bentakan dan kata kasar. Hal tersebut kemungkinan besar justru akan menimbulkan trauma kepada anak-anak dan selanjutnya mereka enggan untuk mengikuti ajakan kita lagi.

Ajarkan si kecil lewat bacaan anak-anak tentang aktivitas cuci tangan juga menjadi salah satu cara yang asyik untuk menumbuhkan kebiasaan tersebut. Serial Cican hadir untuk menemani anak menumbuhkan kebiasaan mencuci tangan. Buku anak karya Wahyu Aditya ini menghadirkan pesan-pesan edukasi yang mudah diterima oleh anak-anak. Serial Cican berjudul Cican & Cini Bisa Cuci Tangan Sendiri mengajak anak untuk belajar mencuci tangan dengan cara yang seru dan mengasyikkan.

Menahan Amarah Kepada Anak

Menahan Amarah

Kita sebagai orang dewasa tentu memiliki batasan tertentu dalam menahan amarah atau emosi, sama seperti anak. Anak juga memiliki pola pikir yang jauh berbeda dari kita sebagai orang dewasa, sehingga kita tidak banyak mengerti pemikiran anak. Sesederhana ketika kita melihat anak-anak naik-turun tangga. Hal itu bukan mereka lakukan karena ingin naik ke tangga yang lebih tinggi, melainkan bagian dari usaha anak mengembangkan kemampuan koordinasi tangan, tubuh, dan kaki. Itu sebabnya anak suka mengulang-ulang aktivitas yang sama.

 

Baca juga: Sulit Mengajari Anak Disiplin?

 

Menahan Amarah dengan Menyesuaikan Diri

            Ketika dalam kondisi marah, kita sering lupa dengan diri kita dan anak. Saat marah, kita perlu menyesuaikan hati, pikiran, dan sikap kita. Penyesuaian ini penting karena merupakan suatu proses yang terus berjalan. Kita perlu menyesuaikan diri secara terus-menerus agar bisa hidup dalam harmoni dengan anak. Penyesuaian ini terjadi saat anak lahir, kemudian seiring bertambahnya usia anak, dan kita pun melakukan penyesuaian dengan perubahan anak.

Penyesuaian adalah proses yang dinamis. Jika tidak ada penyesuaian setiap waktu, setiap tahun, setiap anak lahir, yang terjadi hanyalah kemarahan, ketamakan, dan keegoisan. Jika tidak ada yang mengalah dan memberikan serta mengurangi diri sendiri untuk memperbaiki kondisi, maka bisa terjadi konfik.

 

Melakukan Observasi terhadap Anak

Untuk menyesuaikan diri kita dengan perubahan anak, maka kita perlu melakukan observasi terhadap mereka. Perhatikan usia anak hingga kita bisa tahu apa saja yang anak bisa dan tidak bisa lakukan. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan diri kita, usia kita, kemampuan, dan kekurangan kita. Dengan mengamati hal ini, kita bisa mulai melihat penyesuaian seperti apa yang perlu dilakukan dari kita kepada anak.

Ketika melakukan observasi, kita juga perlu sabar karena sabar adalah bagian kecil dari proses penyesuaian tersebut. Kehadirannya hanya untuk menyempurnakan keseluruhan proses penyesuaian. Observasi dilakukan untuk menjembatani perbedaan antara kita dan anak, sehingga kita harus aktif untuk mengobservasi anak. Melalui observasi, kita akan menanggalkan judgement kita terhadap anak. Kita bisa memahami dan mengerti pola pikir anak dan menyeimbangkan ekspektasi kita terhadap mereka.

 

Tidak salah jika kita memiliki emosi tersendiri terhadap anak. Namun, sebelum kita benar-benar mengeluarkan emosi terhadap anak terutama amarah kita, maka kita perlu mempertimbangkan beberapa hal lagi. Kita perlu mempertimbangkan banyak hal agar kita tidak salah mengambil langkah dan malah menjauhkan kita dari anak.

Buku A-Z Tanya Jawab Montessori dan ParentingMelalui buku A-Z Tanya Jawab Montessori dan Parenting karya Rosalynn Tamara, kita akan belajar memahami pemikiran dan dunia anak serta bagaimana cara kita menanggapi perilaku mereka. Dengan begitu, kita lebih bisa menahan amarah kepada anak-anak. Buku ini bisa kamu dapatkan sekarang di linktr.ee/Bentang atau di toko buku kesayanganmu.

Periode Sensitif dan Perkembangan Psikis Anak

Periode sensitif

 

Masa ketika anak balita senang menekuni segala hal dengan serius, kita sebut masa itu sebagai periode sensitif. Mungkin bagi kita hal tersebut menjadikan anak sangat lucu dan ajaib karena ia bisa memperhatikan hal-hal yang luput dari pandangan kita. Hal ini dikarenakan anak memiliki kepekaan mereka sendiri dan telah dimulai sejak dini. Bahkan, kepekaan ini telah ada sebelum dia mampu memerintah instrumen ekspresinya.

Anak memiliki bakat kreatif dan potensi yang memungkinkannya untuk membangun dunia psikis mengenai dunia di sekelilingnya. Tentu dalam perjuangan membangun psikis ini, anak akan menemukan banyak hambatan. Itu sebabnya, anak perlu dibantu dengan menghadirkan lingkungan yang juga disiapkan untuk menyambut anak yang sedang membentuk psikisnya.

 

Baca juga: Pengasuhan yang Dibutuhkan Anak

Periode Sensitif Artinya Memperhatikan Hal-Hal Kecil

Periode sensitif anak menekankan pada ketertarikan anak terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya. Sering kali hal yang membuatnya tertarik adalah hal-hal yang mungil dan lepas dari pandangan kita. Anak akan meraih bermacam-macam capaian menakjubkan sedangkan kita acuh tak acuh sebagai penonton semata-mata karena sudah terbiasa. Anak berusaha untuk bisa membedakan hal ini dan itu, kemudian belajar berkomunikasi serta lika-likunya. Anak kecil hidup apa adanya dengan gembira tanpa mengenal lelah. Sementara, orang dewasa perlu menyesuaikan diri di lingkungan baru dan memerlukan banyak sekali bantuan.

Pada periode sensitif, anak tak hanya memperhatikan hal-hal yang sering luput dari pandangan kita, mereka juga akan fokus terhadap hal-hal yang menarik perhatian mereka. Contoh sederhananya ialah ketika anak menemukan kumbang. Ia akan merasa kumbang itu begitu ajaib dan unik sehingga ia akan terus melihat kumbang itu dan mempelajarinya. Pada periode sensitif, anak yang sedang dalam proses perkembangan memiliki kepekaan khusus. Kepekaan ini bersifat sementara dan terbatas, hanya untuk meraih karakteristik tertentu.

 

Ketika anak sedang berada pada periode sensitif, kita sebagai orang dewasa adalah orang-orang yang berada di luar jangkauan itu. Periode sensitif datang dengan sendirinya dan kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencetuskannya. Anak meraih sejumlah capaian sepanjang periode sensitif yang menjadikannya sangat intens ketika berhubungan dengan dunia luar. Pada periode ini, segalanya menjadi mudah dan dialiri dengan antusiasme. Namun, ketika sebagian semangat psikis ini mati, anak akan mencari hal lain yang membuatnya antusias.

Maka dari itu, sepanjang masa balita, anak melakukan penaklukan tak putus-putus dengan vitalitas yang menggebu-gebu. Pertumbuhan psikis dicapai oleh anak berkat penaklukan natural dan ajaib yang ia capai, sedangkan yang memberdayakannya adalah vitalitas si anak sendiri.

Montessori Keajaiban Dunia Anak yang TerlupakanMelalui buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang terlupakan, kita akan sama-sama belajar memahami dunia anak serta pola pikir mereka. Buku ini ditulis oleh Maria Montessori dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kamu bisa mendapatkannya di linktr.ee/Bentang atau di toko buku favoritmu.