fbpx
Periode sensitif anak

Menyelami Dunia Anak Melalui Periode Sensitif

Ketika kita membicarakan anak-anak, kita tidak asing lagi dengan kata periode sensitif. Ada beberapa orang sudah memahami apa itu periode sensitif anak, tetapi ada pula yang bahkan belum pernah mendengar hal tersebut. Barangkali, dalam benak orang-orang yang belum memahami kata ini, hal itu hanyalah ketertarikan sementara anak akan sesuatu.

Namun, periode sensitif lebih dari sekadar ketertarikan sementara anak akan sesuatu. Melalui periode sensitif, kepribadian dan minat bakat anak terbentuk. Melalui buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan, kita akan memahami periode sensitif menurut sudut pandang Maria Montessori.

 

Baca juga: Makna Perilaku Anak yang Perlu Kita Ketahui

 

Kepekaan Anak Terhadap Keteraturan

Ada berapa orang tua di dunia yang memahami kalau anak ternyata memiliki kepekaan dan bahkan menyukai keteraturan? Barangkali, sikap anak di mata kita yang suka membuat rumah menjadi berantakan membuat kita berpikir kalau anak-anak itu rusuh. Namun, Montessori memandang bahwa sifat khas bayi yang masih sangat kecil adalah kegemarannya akan keteraturan. Bayi yang masih berusia 1,5 atau 2 tahun dengan jelas menunjukkan kebutuhan mereka akan keteraturan di sekelilingnya.

Kegemaran anak terhadap keteraturan tidak sama dengan orang dewasa. Orang dewasa mungkin bisa mengatakan kalau mereka menyukai rumahnya yang selalu rapi. Berbeda dengan bayi, mereka tidak menyukai ketidakteraturan dan cenderung membuatnya cemas jika menghadapi situasi tersebut. Ia akan mengekspresikannya melalui tangisan atau kegelisahan.

Keteraturan disini misalnya ketika anak yang selalu berada di rumah, lalu suatu hari kita membawa mereka pergi jauh. Ketika di perjalanan, mereka tentu rewel. Tidak hanya merasa lelah karena harus berada di perjalanan, anak-anak juga menyadari bahwa mereka tidak berada di lingkungan yang biasanya, dan kegiatan mereka juga jadi berubah.

 

 

Ketika anak menginjak usia periode sensitif, mereka akan cenderung berkonsentrasi terhadap sesuatu yang ada di depannya. Ia menyukai hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan kita. Misalnya, ketika membaca buku cerita, ia malah fokus pada gambar-gambar kecil seperti kelinci atau kucing. Ketika anak sedang berkonsentrasi, jangan sampai kita mengganggu mereka. Berbeda halnya ketika kita harus membantu mereka.

Dalam pengasuhan anak ala Montessori, kita bisa membantu anak sesedikit mungkin, tergantung pada kebutuhannya. Melalui periode sensitif, kita bisa memahami perilaku dan sikap anak sejak dini. Kita bisa memahami hal-hal apa saja yang membuatnya tertarik. Selain itu, kita bisa memahami bagaimana sikap mereka dalam menanggapi sesuatu.

Buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan adalah buku yang ditulis langsung oleh Maria Montessori dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Melalui buku ini, kita bisa memahami dunia anak yang penuh dengan rahasia dan keajaiban yang tidak pernah kita pikirkan. Kita mampu menyelami dunia dan pemikiran anak dengan berusaha memahami mereka sejak dini. Buku ini bisa didapatkan melalui linktr.ee/Bentang.

Tentang Bayi

Hal-Hal yang Perlu Kita Ketahui Tentang Bayi

Apa yang kita ketahui tentang bayi? Apa yang kita pikirkan? Bayi yang lucu, menggemaskan, dan rentan? Tentu banyak persepsi kita tentang bayi. Ada pula yang menganggap bayi itu sangat rewel dan merepotkan. Dalam buku The Montessori Baby dalam versi Indonesia yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, Simone Davis menjelaskan beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang bayi.

 

Baca juga: Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak

 

Empat Fakta Menarik Tentang Bayi

Hal pertama yang perlu kamu ketahui terkait bayi adalah bahwa mereka menyerap segalanya. Bayi sudah bisa menyerap informasi visual sebanyak yang ia bisa. Bayi juga menyerap bau, ruang di sekelilingnya, dan sentuhan di tubuhnya. Mereka juga mendengar aneka bunyi di sekitarnya dan bisa mengecap jarinya sendiri dan apa saja yang masuk ke dalam mulutnya. Kedua, bayi bisa diajak untuk bercakap-cakap. Tapi, bukan artinya kita hanya sekadar berbicara satu arah kepada bayi. Kita bisa mengajak mereka untuk berbicara dan menunggu tanggapannya, misalnya ketika ia mencoba membuka mulut atau ia menyentuh tangan kita.

Bayi juga perlu waktu untuk bergerak dan menjelajah. Mereka perlu waktu untuk berbaring di lantai yang dialasi dan meregangkan seluruh tubuhnya. Kita bisa mendukung bayi dengan cara memberinya bantuan sesedikit mungkin dan sebanyak yang diperlukan. Tentu bayi juga perlu diperlakukan lembut, bukan? Tapi, bukan berarti bayi rapuh. Kita perlu peka terhadap peralihan bayi dari rahin ke dunia luar dan memegang bayi secara lembut dan hati-hati. Namun, kita tidak perlu membungkus mereka sangat rapat dan malah justru mengungkungnya. Tangan, kaki, dan kepala boleh tidak tertutup asalkan hangat supaya bayi bisa bergerak bebas.

Selanjutnya, bayi juga sedang membangun kepercayaannya terhadap lingkungan, pengasuhnya, dan diri sendiri. Selama sembilan bulan pertama, mereka masih menyesuaikan diri di lingkungan baru. Mereka juga sedang membangun kepercayaan terhadap lingkungan dan dirinya sendiri, serta belajar bagaimana mengandalkan orang tuanya.

Pada tahun pertama, bayi beranjak dari ketergantungan, lalu ke kolaborasi dan ke kemandirian. Saat baru lahir, bayi mengandalkan kita untuk memperoleh pangan, papan, sandang, dan termasuk membersihkan tubuhnya atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Semakin ia besar, kita perlu membiarkan dia untuk turut berpartisipasi, misalnya mengangkat lengan saat memakaikannya baju. Perlahan, ia juga akan belajar untuk mandiri.

 

Tiga Hal Tentang Bayi yang Tidak Pernah Kita Pikirkan

Bayi berkembang secara sehat jika ada kelekatan aman atau secure attachment. Yang dimaksudkan dengan secure attachment adalah jika kebutuhan akan kedekatan dan makanan biasanya dipenuhi secara konsisten semasa bayi. Kelekatan menciptakan hubungan emosional yang mendalam antara bayi dengan pengasuh utama. Selanjutnya, ketika kita melihat bayi yang menangis, pernahkah kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin ia katakan? Bayi yang menangis sebenarnya sedang berusaha mengomunikasikan kebutuhannya. Ketika kita tidak tahu apa yang ingin ia katakan, kita perlu berkomunikasi dan mencermati apa yang hendak mereka sampaikan pada kita.

Hal berikutnya adalah bahwa bayi tidak membutuhkan banyak barang. Dalam pengasuhan bayi, ada sebuah prinsip yang perlu diingat bahwa lebih sedikit lebih baik. Bayi memerlukan pelukan penuh kasih, tempat meregangkan tubuh, tempat untuk tidur, nutrisi yang cukup, dan rumah hangat dan nyaman untuk dijelajahi. Selain itu, mereka juga meraih kepercayaan diri berkat dari titik-titik acuan. Titik-titik acuan adalah macam-macam di kehidupan sehari-hari yang digunakan bayi untuk mengorientasikan diri. Hal ini bisa jadi adalah tangan bayi sendiri, suara kita, tempat bayi diberi makan, dan ritme harian.

Hal terakhir yang perlu kita ketahui bahwa bayi mengetahui banyak hal yang tidak kita ketahui. Ketika kita memandang mereka, banyak misteri yang menanti untuk dikuak. Seolah bayi mengatakan, “jika kamu ingin tahu tentang aku, perhatikan aku.” Mengamati bayi adalah salah satu cara untuk menghormatinya.

 

Banyak hal yang ternyata belum kita ketahui tentang bayi. Namun, melalui buku The Montessori Baby, kamu bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang bayi dan cara pengasuhannya. Melalui buku ini, kamu bisa memahami dunia bayi dan bagaimana sebenarnya bayi ingin diperlakukan dan seperti apa kita harus memandang bayi. Buku The Montessori Baby akan mulai prapesan tanggal 6 hingga 22 Mei 2021.

Kecakapan Komunikasi Anak

Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak

Siapa yang menyangka kalau ternyata kecakapan komunikasi juga merupakan sebuah potensi bagi seseorang? Bagi beberapa orang, kecakapan komunikasi adalah sebuah anugerah atau kemampuan semata. Tetapi, kecakapan komunikasi dapat dilatih sejak dini. Komunikasi terbagi menjadi dua, yakni komunikasi verbal dan non-verbal. Dalam buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini, dijelaskan mengenai komunikasi verbal melalui kemampuan baca dan tulis.

Untuk memahami pendidikan Montessori seperti apa, perlu diingat bahwa pendekatan Montessori selalu tidak langsung. Dalam pendidikan Montessori, tidak pernah ada pendekatan langsung seperti dalam pendidikan konvensional. Pada buku ini, Montessori menjelaskan bahwa kemampuan baca dan tulis sebagai komunikasi verbal anak bisa dilakukan melalui pendekatan tidak langsung.

 

Pendekatan Tidak Langsung

Pendekatan tidak langsung yang dianjurkan Montessori untuk membantu anak mempelajari komunikasi tertulis dimulai sejak anak lahir. Mengapa sejak mereka lahir? Karena komunikasi tertulis adalah bahasa visual dan merupakan kelanjutan dari bahasa oral anak. Sehingga, penting bagi lingkungannya untuk dipenuhi dengan bunyi-bunyi dari manusia sejak dini. Meskipun anak masih baru lahir, mereka tidak boleh dijauhkan dari kehidupan sosial, tetapi justru disertakan dalam seluruh kegiatan keluarga. Hal ini ditujukan agar anak bisa mendengar hal-hal di sekitarnya dan mengetahui banyak nama-nama benda di sekitarnya.

Anak mampu belajar hal-hal yang tidak bisa ia dapatkan di sekolah melalui interaksi sosial dan juga kita sebagai orang dewasa yang membantu mereka berkenalan dengan dunia sejak dini. Setelahnya, kita sebagai orang dewasa maupun guru bisa membantu kemampuan komunikasi tertulis mereka dengan lebih lanjut. Namun, pendekatan yang digunakan bukan mencekoki anak dengan teknik membaca. Menurut Montessori, hal yang bisa dilakukan adalah memerdekakan anak sehingga bebas mengekspresikan diri dan berkomunikasi.

Selain kecakapan anak dalam membaca, ada pula kecakapan anak dalam menulis. Untuk bisa menulis, seorang anak tentu harus bisa menggunakan alat tulis, bisa bergerak di dalam batasan yang tersedia untuk menulis, serta mengetahui bentuk gerakan atau tulisan yang ingin ia buat. Tidak hanya harus menguasai proses mekanis tersebut, anak juga harus mengetahui kata-kata nonfonetik atau kata yang pelafalannya tidak sama dengan penulisan. Ia harus memiliki perbendaharaan kata yang kaya dan memahami konsep bahwa benda memiliki nama dan setiap kata memiliki definisi tertentu.

 

Kemampuan komunikasi ini juga harus disertai dengan kesadaran anak bahwa bahasa merupakan kemampuan unik manusia yang membedakan mereka dengan binatang. Dengan bahasa, memungkinkan anak melampaui batas-batas waktu, emosi pribadi dan sejarah, serta meninggalkan warisan kepada generasi selanjutnya. Bahasa juga membantu anak berkomunikasi dan membuat berbagai macam perjanjian di antara masyarakat.

Melalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini karya Paula Polk Lillard, kita bisa membantu anak menggali potensi ala Montessori yang bisa diterapkan di rumah dan di sekolah. Dapatkan buku ini melalui linktr.ee/Bentang sekarang juga.