fbpx

Memahami Penyebab Pertengkaran Antara Anak

Dalam sesi seminar parenting, sering sekali orang tua bertanya bagaimana mengatasi anak yang suka bertengkar, atau bagaimana cara mempersiapkan anak pertama menjadi seorang kakak. Dua hal ini menjadi masalah umum dalam pengasuhan. Sebagai orang tua dan keluarga, menyambut anggota keluarga baru adalah sebuah momen yang sangat dinantikan. Berharap anak kita memiliki teman di masa depannya setelah kita tidak ada. Akankah hal yang sama dirasakan oleh anak pertama? Jawabannya adalah belum tentu. Anak pertama akan merasa bahwa ia akan memiliki saingan dan cinta yang diberikan orang tua tidak cukup baginya. Oleh karena itu, ia menciptakan berbagai drama.

Ketika anak kedua lahir, mereka tumbuh dan di besarkan oleh orang tua yang sama dan dengan pola asuh yang sama. Tapi mengapa mereka sering mengalami pertengkaran dan bersaing? Orang tua merasa bahwa ia telah cukup dan banyak cinta untuk dibagikan kepada anak-anaknya. Tetapi, anak belum tentu merasakan hal itu.

Untuk mengatasi penyebab dari pertengkaran antara anak, kita perlu mengetahui penyebab yang memicunya. Dalam buku Gentle Discipline yang ditulis oleh Sarah Ockwell-Smith, disebutkan bahwa setidaknya ada beberapa penyebab pertengkaran anak.

Kurangnya Perhatian Individu

Berusaha untuk memberikan perhatian penuh secara personal kepada anak lebih dari satu adalah hal yang tidak mudah. Terlebih jika orang tua bekerja. Namun, hal tersebut bukan tidak mungkin dilakukan. Orang tua bisa membuat jadwal untuk mengajak anak pertama saja untuk sekadar jalan- jalan bertiga. Lalu, minggu selanjutnya membawa anak kedua untuk jalan-jalan bertiga dengan orang tua. Hal tersebut akan membuat anak merasa dianggap dan dipedulikan. Keluarga juga harus sering melakukan kegiatan bersama di tengah-tengah kesibukan. Kegiatan tersebut bisa membantu untuk mengurangi pertengkaran anak.

Membandingkan

Sebagai orang tua, kita sering melihat perilaku beragam dari anak-anak kita. Setiap anak dengan perilaku dan tingkahnya masing-masing. Tidak semua perilaku dan tingkah anak disukai oleh orang tua. Ketika orang tua mulai membandingkan baik dan buruk antara satu anak dengan saudaranya, saat itu juga orang tua sudah merusak hubungan antara anak-anaknya. Membandingkan akan membuat anak terputus dari orang tuanya dan pasti akan menyimpan iri kepada saudaranya, sehingga timbullah pertengkaran antara anak. Jika ingin melindungi hubungan anak dengan saudara kandungnya, hindari membandingkan mereka.

Melabeli

Dalam lingkup keluarga, memberi label adalah hal yang biasa. Mengatakan anak dengan “si lucu”, “anak yang nakal”, dan label lainnya yang terkadang disampaikan langsung di depan salah seorang dari anak kita. Hal ini jelas akan menimbulkan pertengkaran antara anak. Setidaknya ada dua masalah yang akan timbul ketika memberikan label pada anak yaitu, harapan yang tidak disadari dan menumbuhkan pola pikir permanen.

Terlalu Banyak Tekanan pada Anak Sulung

Terkadang orang tua meminta anak sulungnya untuk menjaga adik-adiknya, menjadi contoh terbaik, harus lebih memiliki pemahaman lebih, dan keinginan lainnya yang seakan harus ada pada anak sulung. Beberapa anak sulung akan menerima hal tersebut dan sebagian mereka merasa keberatan karena mendapat tanggung jawab dan tugas ekstra. Terlalu banyak kewajiban dan tekanan pada anak sulung akan memicu pertengkaran antara anak karena anak sulung merasa tidak adil dalam pembagian peran tertentu. (Annisa)

Sekolah Montessori untuk Anak, Yes or No?

“Bayar mahal-mahal di sekolah Montessori, kok anakku malah disuruh beberes, sih?”

Hayo, siapa nih, yang anaknya sekolah di Montessori dan suka bertanya-tanya seperti ini? Pastinya hampir semua montessorian newbie pernah, deh. Karena memang aneh bagi kita yang sudah biasa terpapar metode pendidikan teacher center ketika melihat konsep mengajar di sekolah Montessori yang menggunakan metode pendidikan follow the child.

Kesan pertama yang akan kita dapatkan biasanya, “kok anakku dibiarkan tanpa pengawasan, ya? kok gurunya cuma diam aja? Ih, kok, ada praktik beberes rumah, sih?”

Eits, tenang dulu. Begini lho, penjelasannya….

Masa usia dini adalah masa saat anak-anak harus mendapatkan kesempatan untuk bisa mengeksplorasi banyak hal. Termasuk aktivitas beberes rumah, yah. Karena, ternyata dari aktivitas beberes rumah ini, kita bisa mengasah  kecerdasan majemuk anak. Salah satu contohnya adalah membiasakan mereka mencuci sendiri peralatan makan yang digunakan.

Dalam buku Montessori for Multiple IntelligencesIvy Maya Savitri menjelaskan bahwa aktivitas ini bertujuan untuk mengajarkan mereka cara mencuci peralatan makanan yang benar dengan mengembangkan sikap disiplin sejak dini. Itu sebabnya kita bisa menemukan aktivitas seperti ini di sekolah Montessori. Begitu pula di sekolah-sekolah umum yang sudah mulai terbuka dengan metode pendidikan follow the child.

Lebih lanjut, Ivy Maya Savitri selaku penulis dan founder sekolah Rumah Montessori menambahkan, kita juga bisa melihat ada keterampilan motorik kasar yang tanpa sadar sedang kita latih dari aktivitas mencuci peralatan makan. Misalnya ketika anak-anak menggenggam peralatan mereka. Selain itu ada stimulus motorik halus yang juga sedang kita asah dimana anak-anak bisa mengevaluasi kebersihan mereka sendiri.

Jadi bukan tanpa alasan ya, sekolah Montessori mengharuskan muridnya untuk mencuci peralatan makannya sendiri di sekolah. Karena memang terbukti membawa pengaruh positif bahkan bisa mengasah kecerdasan majemuk juga!

Dalam bukunya yang berjudul Montessori for Multiple Intelligences, Ivy menjelaskan aktivitas mencuci peralatan makanan bisa mengasah kecerdasan logika matematika anak, loh. Anak akan dikenalkan pada konsep sebab-akibat melalui pengalaman langsung. Aktivitas ini akan membuat anak menganalisis semua hal yang dikerjakan. Misalnya, jika sabun yang diberikan hanya sedikit bercampur dengan air terlalu banyak, maka busa yang dihasilkan juga sedikit. Tanpa sadar, mereka sudah mengasah kecerdasan logika matematikanya.

Masih ada juga kecerdasan visual, kinestetik, natural, hingga musik. Ternyata semua kecerdasan itu bisa diasah juga dari aktivitas mencuci peralatan makanan!

Nah, jadi jangan berburuk sangka dulu ya dengan sistem pendidikan di sekolah Montessori. Jika memang tertarik menyekolahkan si kecil di sekolah Montessori, jangan ragu untuk menanyakan lebih jelas. (Radyastuti)

Montessori

Montessori & Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu pada Anak

Montessori percaya bahwa anak bukanlah bejana kosong yang siap diisi fakta. Secara naluriah, mereka penuh rasa ingin tahu, senang belajar, eksplorasi, dan menemukan solusi kreatif dalam kehidupannya. Hal ini menjadi pegangan dasar para guru montessori. Mereka percaya bahwa manusia dilahirkan dengan potensi yang siap dikembangkan. Misalnya, sikap ingin tahu yang merupakan faktor penting dalam proses belajar.

Dengan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, anak-anak akan memiliki keinginan yang kuat untuk belajar. Montessori meyakini rasa ingin tahu harus dikembangkan sejak dini. Dengan demikian, hal itu menjadi suatu kebiasaan yang akan mendukung proses belajar anak di masa depan.

Simone Davies dalam bukunya The Montessori Toodler memaparkan beberapa prinsip yang harus dimiliki orang tua untuk menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak.

 

Ikuti Kemauan Anak

Orang tua cenderung mengabaikan pendapat anaknya karena dirasa masih terlalu kecil. Contohnya saja ketika ingin pergi liburan. Mereka akan menjadi pengambil keputusan yang menentukan rencana liburan keluarga, mulai dari lokasi hingga aktivitas. Padahal, apabila kita membiarkan anak-anak berpendapat, hal itu sudah termasuk salah satu upaya dalam menumbuhkan rasa ingin tahu anak, lho. Anak-anak akan merasa memiliki kendali terhadap kehidupan mereka sendiri.

Mendorong Pembelajaran yang Melibatkan Tangan (Hand-on)

Anak-anak senang mengeksplorasi sekitarnya untuk mendapatkan sensasi dan pengalaman langsung. Perilaku menyentuh, mendengar, dan merasakan benda-benda yang ada di sekitarnya merupakan proses belajar terbaik bagi mereka. Oleh karena itu, Simone Davies memberikan saran melalui buku The Montessori Toodler untuk memberikan anak fasilitas untuk bermain di alam. Alam adalah tempat yang bagus untuk pembelajaran yang melibatkan tangan dan indra.

Libatkan Anak dalam Kehidupan Sehari-hari

Rasa ingin tahu anak paling tinggi bisa dilihat dari bagaimana reaksi anak yang selalu penasaran dengan apa yang dilakukan orang tuanya. Misalnya ketika memasukkan baju ke mesin cuci. Terkadang anak akan mengeluarkan kembali baju-baju tersebut. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah akan mendorong rasa ingin tahunya. Meskipun ketika melibatkan mereka, pekerjaan rumah menjadi sedikit lama dan berantakan, namun akan membentuk memori yang dapat bertahan selamanya.

Jangan Terburu-buru

Dalam menumbuhkan rasa ingin tahu anak, orang tua tidak boleh terburu buru dan tidak sabar. Memancing rasa penasaran anak pasti membutuhkan waktu. Misalnya, ketika anak bertanya tentang suatu hal, memang akan lebih cepat kita memberi tahu langsung. Tetapi akan lebih baik jika anak ikut terlibat dan mencari jawaban.

Biasanya, rasa ingin tahu anak yang berlebih justru dianggap menganggu. Orang tua merasa kelelahan mempersiapkan jawaban yang tepat. Alhasil, rasa ingin tahu mereka sering kali dimatikan sebelum bisa tumbuh berkembang. (annisa)