fbpx
Kina Makes A New Friends

Menumbuhkan Toleransi kepada Anak Sejak Dini

Perbedaan selalu ada di sekitar kita dan membutuhkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentunya tidak mudah dipahami oleh anak-anak. Mereka belum memahami konsep perbedaan dalam keberagaman. Sebagai orang tua, kita perlu mengenalkan konsep tersebut secara perlahan dan mulai menumbuhkan toleransi kepada anak dalam dirinya. Sebab, zaman sekarang, mengajarkan toleransi kepada anak-anak rasanya tidak cukup hanya dengan pelajaran yang ada di sekolah.

Orang tua perlu mengajarkan sikap toleransi sejak dari rumah. Lingkungan tempat anak-anak tinggal akan sangat berpengaruh terhadap sikap toleransi anak pada masa depan. Mereka akan memiliki kemampuan untuk memahami, menghargai, dan bekerja sama dengan orang lain. Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan sikap toleransi pada anak-anak sejak dini?

1.Mengenalkan anak tentang perbedaan yang ada di sekitarnya

Menurut Anne Stenhouse, seorang konsultan anak usia dini,  anak-anak menyadari perbedaan pada orang lain sejak usia dini. Misalnya warna kulit, tekstur rambut, suara, dan bentuk penampilan yang lain. Mereka memperhatikan itu semua, berusaha untuk memahami dan menerimanya. Hal tersebut bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan toleransi kepada anak-anak. Mereka biasanya akan mengajukan pertanyaan tentang perbedaan di sekitarnya. Sebagai orang tua, jangan ragu untuk mengajak mereka berbicara dan menjelaskan perbedaan-perbedaan itu dengan kalimat yang mudah dicerna.

2. Biarkan anak-anak berada di lingkungan yang beragam

Awalnya akan terasa tidak familier bagi anak-anak karena mereka terbiasa melihat sesuatu yang “sama” atau “mirip” di lingkungan sehari-hari. Namun, orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk keluar dari “circle” mereka. Anak-anak perlu melihat perbedaan yang ada di sekitarnya. Di lingkungan yang beragam, anak-anak bisa menjadi lebih berani dan lebih terbuka untuk berinteraksi dengan orang lain.

3. Hati-hati ketika berkomentar tentang orang lain

Tanpa kita sadari, anak-anak sangat memperhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan oleh orang tua. Kita perlu berhati-hati ketika memberikan komentar kepada orang lain. Bisa jadi tindakan atau perkataan kita malah merujuk pada sikap intoleran.

4. Pilih media yang cocok untuk mengajarkan toleransi kepada anak-anak

Selektif dalam memilih apa yang ditonton atau dibaca oleh anak-anak sangat perlu dilakukan. Nah, salah satu media yang cocok untuk mengajarkan toleransi kepada anak adalah seri kedua dari Kina’s Story karya Maudy Ayunda dan Ilustrator Kathrin Honesta. Karakter Kina, Anya, dan Lulu dalam Kina Makes A New Friend mengajak anak-anak untuk lebih menghargai satu sama lain. Sebuah kisah sederhana yang bisa dibaca oleh semua kalangan usia. Dengan membaca Kina Makes A New Friend, buku kedua seri Kina, orang tua bisa melakukan bonding dengan anak sekaligus mengajarkannya tentang toleransi.

Our world needs people who seek to understand, rather than assume without knowing. Here Kina learns to embrace change and not judge others.

 

Yuk, ajak anak-anak kita untuk mencintai keberagaman dan menghargai perbedaan!

Andien Aisyah

Andien Aisyah, dari Menyanyi Jazz hingga Jadi Ibu

 

Andien Aisyah

Andien Aisyah Belahan Jantungku

Andini Aisyah Haryadi atau lebih dikenal dengan nama Andien Aisyah. Ia adalah seorang penyanyi jazz asal Indonesia yang telah menelurkan tujuh album selama dua dekade dalam industri musik. Tak hanya musik jazz, Andien juga memiliki ketertarikan pada bidang fashion.

Tiga tahun lalu, Andien dianugerahi seorang putra yang lucu bernama Anaku Askara Biru, atau lebih akrab dipanggil Kawa. Sejak menjadi ibu, kiprah Andien di Indonesia kian meluas, tidak hanya dalam bidang musik dan fashion, tetapi juga lifestyle.

Selama ini, metode asuh yang diterapkan oleh Andien pada Kawa banyak “kontroversional”, benarkah? Yuk, kenali Andien lebih dalam.

Andien Aisyah Menekuni Jazz Sejak Belia

Sejak kecil, Andien selalu lebih tertarik pada lagu-lagu jazz. Saat teman-temannya lebih menyukai lagu-lagu Whitney Houston, Andien lebih suka dengan lagu Girl From Ipanema. Bakat menyanyi ini tak disia-siakan. Andien selalu menjuarai kontes menyanyi di Indonesia maupun di luar negeri. Hingga pada usia 15 tahun, Andien menelurkan album pertamanya berjudul Bisikan Hati.

Menikah pada 2015

Andieh Aisyah telah menikah dengan Irfan Wahyudi, atau akrab disapa Ippe. Pertemuan mereka berawal dari event yang diikuti Andien. Kala itu Ippe adalah seorang EO. Saat ini, Ippe aktif menjadi fotografer dan menekuni hobi sepeda.

Andien dan Ippe Dianugerahi Kawa

Tak lama setelah menikah, Andien Aisyah dikaruniai seorang putra yang lucu bernama Anaku Askara Biru. Kawa adalah panggilannya sejak sebelum lahir. Nama Anaku Askara Biru diambil dari beberapa bahasa, salah satunya adalah bahasa Jepang.

Metode Parenting Andien Aisyah

Sejak memasuki kehamilan, Andien mempelajari beberapa metode mengasuh anak. Pada masa kehamilan, ia aktif mengikuti yoga dan mengonsumsi makanan penunjang kehamilan. Setelah itu, Andien mulai banyak menyuarakan mengenai gentle birth. Pada proses kelahiran pun Andien memilih metode water birth atau melahirkan di dalam air. Metode-metode yang diterapkan Andien ini menjadi kontroversi pada beberapa kalangan.

Akan tetapi, ternyata metode gentle birth yang diterapkan Andien sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang. Yang perlu diperhatikan dari metode ini adalah bahwa proses melahirkan bukanlah proses yang penuh paksaan.

Selain metode tersebut, Andien sudah menerapkan metode BLW atau Baby Lead Weaning pada Kawa sejak berusia 5 bulan. Artinya, Kawa sudah bisa mengonsumsi makanan padat sedari dini. Metode ini pun menuai kritikan dari beberapa pihak. Namun, Andien punya alasan tersendiri ia menerapkan BLW pada Kawa.

Andien menceritakan perjalanan hidupnya sebagai seorang perempuan dan sebagai ibu ke dalam buku pertamanya, Belahan Jantungku. Tidak hanya tulisan Andien, di dalam buku ini pun terdapat tulisan beberapa praktisi kesehatan dalam bidangnya masing-masing, seperti Reza Gunawan, Najeela Shihab, Couch Yusa, dr. Ratih Wulandari, dan lainnya. Buku ini bisa mulai dipesan 26 Oktober 2019. (Afina)

Gentle Discipline

Pujian dan Motivasi dalam Mendisiplinkan Anak

Benarkah pujian bisa mendisiplinkan anak?

Cerita Sarah Ockwell-Smith (penulis buku Gentle Discipline) bersama ahli pendidikan John Holt tentang pujian dan motivasi.

Ide bahwa anak-anak tidak akan belajar tanpa hadiah dan penalti dari luar, atau yang dalam jargon para behaviourism disebut sebagai “penguatan positif dan negatif” biasanya menjadi ramalan yang terwujud dengan sendirinya. Jika kita memperlakukan anak-anak dengan cara tertentu untuk waktu yang cukup lama seolah-olah itu benar, mereka akan menjadi percaya bahwa hal tersebut memang benar. Banyak orang yang berkata kepada saya, “Jika kita tidak menyuruh anak-anak melakukan sesuatu, mereka tidak akan melakukan apa pun.” Bahkan, yang lebih parah, mereka mengatakan, “Jika saya tidak disuruh melakukan sesuatu, saya tidak akan melakukan apa pun.” Ini adalah keyakinan seorang budak.

Inti dari diskusi di atas menunjukkan bahwa tidak selamanya hal positif selalu membawa hasil yang positif. Sebagai contoh dalam dunia parenting. Misalnya, kita terlalu banyak menerapkan sistem pujian dan motivasi. Ternyata, kita secara tidak langsung menanamkan pemahaman pada anak untuk fokus pada hal positif semata. Hal ini  bisa jadi berujung pada tidak realistis.

Hmmm, jadi gimana, nih, baiknya menggunakan pujian dan motivasi dengan tepat? Nah, kalau belajar dari buku Gentle Discipline karya Sarah Ockwell-Smith, ada yang namanya konsekuensi positif ketika kita masih tetap bisa memberikan pujian dan motivasi sebagai alat bantu pendisiplinan anak.

Kuncinya adalah konsekuensi positif terjadi ketika anak berperilaku baik dan dihadiahi dengan hasil alami yang tidak kita rencanakan sebelumnya, ya. Contohnya, setelah selesai makan, anak membantu membereskan meja tanpa diminta. Lalu kita bisa memberikan konsekuensi positif dengan mengajak mereka bermain ke taman dan sebagainya. Asalkan konsekuensi positif ini tidak diucapkan dan direncanakan.

Sebab, kalau konsekuensi positif ini kita rencanakan, dia akan berubah menjadi hadiah. Dan, metode pemberian hadiah itu sangat penuh dengan masalah bila terus-terusan kita terapkan.

Sama halnya dengan konsep motivasi yang sering kali salah praktik ketika masuk dalam ranah sekolah. Misalnya, pemberian hadiah-hadiah seperti sertifikat, piala, atau stiker “Kamu bekerja baik” kepada anak berprestasi. Mungkin tidak kelihatan seperti hukuman ya, tetapi dia akan menjadi hukuman untuk anak yang tidak bisa mendapatkannnya, lo.

Kenapa? Karena motivasi seperti ini berdasarkan riset bisa menimbulkan efek negatif pada perilaku anak di masa depan. Mereka yang menerima hadiah tidak akan melakukan kebaikan yang sama untuk kali keduanya bila tidak ada hadiah yang mereka terima. Adapun anak yang tidak bisa mendapatkan hadiah akan mengalami situasi rendah diri. Ia akan merasa buruk karena tidak punya keterampilan untuk mendapatkan hadiah.

Itulah kenapa sekolah di Negara Finlandia tidak menggunakan sistem ranking. Hasilnya? Anak-anak tumbuh dengan memiliki motivasi positif eksternal yang kuat dan menghasilkan perilaku yang baik. Itulah kenapa Finlandia akhirnya juga dinominasikan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

 

Sumber gambar: amazonaws.com