Mencintai Bayi

Tiga Alasan Kita Mencintai Bayi

Pernahkah kita berpikir, mengapa kita mencintai bayi? Apa alasan yang membuat kita bisa mencintai mereka begitu dalam? Apakah semua orang bisa mencintai bayi? Atau perasaan ini sebenarnya hanya sebatas kagum? Banyak sekali pertanyaan kita tentang bayi. Dunia mereka yang sangat mungil namun menyimpan berbagai misteri, membuat kita semakin tertarik.

Di sisi lain, bayi menguras banyak waktu, membangunkan kita pada malam hari, membuat kita merasa kelelahan, dan terkadang mereka juga tidak berhenti menangis. Tentu hal-hal ini dirasakan setiap ibu yang sedang memiliki bayi. Tetapi, kita tetap menyayangi mereka. Apa alasannya? Berikut adalah tiga alasan kita mencintai bayi.

 

Baca juga: Hal-Hal yang Perlu Kita Ketahui Tentang Bayi

 

Bayi Mengingatkan Kita Betapa Polosnya Manusia Sewaktu Lahir ke Dunia

Ketika kita melihat bayi, yang terlintas pertama kali dalam benak kita adalah bahwa mereka terlihat sangat polos dan suci. Kita juga bisa teringat bahwa dulu pun saat kita masih bayi tentu seperti mereka. Kita melihat bahwa setiap manusia mengawali hidup seperti bayi kita. Mereka polos, tidak menghakimi siapa pun, tidak merasa takut, dan tidak memiliki beban.

Saat bayi pertama kali melihat dunia, kita sangat suka mengamati kepolosan mereka saat menelaah dunia di sekitarnya. Tindak dan tanduk bayi dalam melihat dan menjelajahi segalanya membuat kita merasa sangat damai. Kepolosan mereka yang melihat segala sesuatu tanpa menghakimi, tetapi justru merasa takjub membuat kita mencintai bayi. Ini adalah alasan pertama mengapa kita bisa mencintai bayi dengan sangat mendalam.

 

Bayi Menumbuhkan Harapan Kita untuk Masa Depan

Kelahiran anak mencetuskan harapan semoga dunia menjadi lebih baik untuk hidupnya kelak. Kita selalu berharap bahwa nantinya anak kita suka untuk belajar, dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Kita juga berharap bahwa mereka mencintai lingkungan dan semesta, dan ia tidak terlibat pada kekerasan maupun peperangan. Harapan ini membuat kita semakin ingin melindungi dan menjaga mereka, kita jadi semakin mencintai bayi.

Harapan-harapan inilah yang membuat kita semakin menyayangi mereka. Harapan itu semakin besar, hingga kita berharap mereka menjadi orang sukses dan bisa bekerja sebagai ini dan itu. Karena harapan itu, kita benar-benar berniat untuk menjaga mereka sepenuh hati dan jangan sampai mereka terluka. Rasa sayang kita dibungkus dengan harapan untuk menjadikan lingkungan sekitar semakin baik dan nyaman. Karena adanya harapan ini, kita mencintai bayi dengan mendalam. Kita berharap cinta kita membuat mereka bisa mewujudkan harapan tersebut.

 

Bayi Berbau Harum dan Ekspresif

Ini adalah salah satu alasan yang paling banyak diutarakan oleh orang-orang. Bayi berbau harum! Bagi kita, tidak ada aroma yang lebih sedap daripada bau badan bayi sehabis dimandikan. Kita sering kali mencium tubuh bayi karena menyukai aroma mereka yang membuat kita merasa relaks dan nyaman, juga senang menggelitik mereka.

Kita senang dengan ekspresi mereka saat kita menggelitik mereka. Kita juga senang melihat mereka saat mengekspresikan sesuatu. Misalnya, saat mereka menangis untuk menyampaikan bahwa popok mereka sudah kotor atau saat mereka lapar dan lelah. Meskipun suara tangisan terkadang membuat kita terganggu, kita juga merasa senang melihat ekspresi mereka. Kita seolah bermain tebak-tebakan dengan mereka, apa yang sedang bayi sampaikan dan apa yang mereka inginkan. Aroma tubuh mereka yang harum, ekspresi mereka yang lucu tidak hanya membuat kita semakin mencintai bayi, tetapi juga merasa lebih rileks dan seolah beban dalam pikiran hilang.

 

 

Beberapa orang mengatakan bahwa bayi bak mainan yang sangat mereka sayangi. Saat kita bersama bayi, ada rasa nyaman dan ingin merawat mereka dengan sepenuh hati. Saat kita melihat wajah mereka, memperhatikan ekspresi mereka, dan mencium aroma mereka, kita menyadari bahwa bayi sangat berharga. Kesadaran kita bahwa bayi sangat berharga itulah yang membuat kita mencintai mereka dan ingin mengasuh mereka dengan sangat baik.

Menurut Montessori, kita bisa melakukan pengasuhan dengan pendekatan Montessori bahkan sejak mereka lahir. Kita menjadi tahu caranya menanggapi tangisan bayi, tahu aktivitas mana saja yang dicari dan tepat untuk bayi, dan cara menyiapkan rumah yang ramah bayi. Semua penjelasan tersebut bisa didapatkan melalui buku The Montessori Baby karya Simone Davies dan Junnifa Uzodike yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bentang.

Saat ini, buku The Montessori Baby dalam bahasa Indonesia sedang dalam masa prapesan. Kamu bisa ikut prapesan melalui bit.ly/pesanmontessoribaby.

Kegiatan Positif yang Bisa Dilakukan di Dalam Toilet Selain Membersihkan Diri

Ketika melihat anak yang ketakutan ke toilet sendiri, kita bisa memberi tahu mereka bahwa ada kegiatan positif yang bisa mereka lakukan di dalam toilet selain buang air. Barangkali, pemikiran mereka jika di dalam toilet sendiri maka akan ada monster yang menghampiri sehingga anak takut sendirian. Meskipun telah kita beri tahu tentang manfaat yang bisa mereka rasakan jika bisa ke toilet sendiri, mereka terkadang masih tetap khawatir.

Perlu juga kita mengubah cara penyampaian kepada mereka tentang pentingnya ke toilet sendiri. Salah satunya adalah dengan memberi tahu mereka kegiatan positif yang bisa dilakukan di dalam toilet.

 

Baca juga: Melatih Toilet Training pada Anak

 

Mengenali Bagian Tubuh Mereka

            Toilet adalah salah satu tempat dengan tingkat privasi yang tinggi dan nyaman bagi kita untuk melakukan banyak hal. Karena toilet adalah tempat yang sangat privat, toilet bisa menjadi tempat bagi anak untuk mengenali bagian tubuh mereka. Mereka bisa melihat secara detail bagian tubuh mereka tanpa harus takut akan dilihat orang lain atau merasa tidak nyaman.

Mengenali tubuh penting bagi anak, agar mereka mengetahui apa saja yang mereka miliki dan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh atau dilihat oleh orang lain. Selain itu, jika anak memiliki tanda tertentu di tubuh, mereka bisa mengetahuinya dengan melihat tanda tersebut secara langsung.

Dengan mengenali tubuh mereka, selanjutnya anak juga tahu apa yang baik dan tidak baik bagi tubuh mereka terutama mengenai perawatan diri. Mereka perlu tahu bagaimana kondisi kulit mereka dan hal lainnya. Kita sebagai orang dewasa juga perlu mengajarkan pada mereka bahwa mengetahui bagian tubuh sendiri bukan hal yang tabu dan memalukan. Mereka justru harus tahu apa yang mereka miliki dan bagaimana cara merawatnya.

 

Tempat Anak untuk Berekspresi

Anak memiliki ekspresi dan emosi yang memang sulit kita tebak. Itu sebabnya, kita perlu melatih mereka untuk mengontrol ekspresi dan emosi yang mereka miliki agar tidak melukai perasaan orang lain maupun perasaan sendiri. Toilet bisa menjadi salah satu tempat bagi anak untuk bebas berekspresi tanpa harus takut melukai perasaan siapa pun. Ketika marah dan menangis atau kecewa, anak bisa menatap dirinya sendiri di kaca dan menumpahkan ekspresi dan emosinya. Namun, kita sebagai orang dewasa tetap perlu mengawasi mereka.

Selain itu, anak bisa bebas melihat wajah dan ekspresi mereka saat senang, sedih, marah, menangis, kecewa, dan lain-lain. Dengan demikian, anak bisa tahu bagaimana mereka harus mengekspresikan sesuatu. Di dalam toilet, anak juga bisa memeriksa seluruh wajah mereka dan apa dampaknya jika mereka mengeluarkan ekspresi tertentu.

 

Banyak sekali ternyata manfaat yang bisa kita rasakan dengan ke toilet sendiri. Tidak hanya untuk buang air dan membersihkan diri, toilet ternyata juga bisa menjadi tempat anak mengenali bagian tubuh mereka dan berekspresi secara bebas tanpa khawatir akan menyakiti orang lain. Mengajarkan anak pentingnya ke toilet sendiri memang terasa sulit di awal-awal, namun jika kita bisa menyampaikan dengan baik dan benar pasti bisa, kok!

cican-bisa-ke-toilet-sendiriMelalui buku Cican Bisa ke Toilet Sendiri, Wahyu Aditya ingin menyampaikan pentingnya anak untuk bisa ke toilet sendiri. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu, full-color, dan tahap-tahap menggunakan toilet yang bisa ditiru anak. Buku ini akan segera terbit pada tanggal 17 Mei 2021. Eits, tidak hanya itu. Cican juga mengajak anak Mom untuk turut berpartisipasi dalam Lomba Mewarnai Tingkat Nasional via Daring, lho. Informasi selengkapnya bisa cek di akun Instagram @bentangkids ya!

Memberi Kepercayaan pada Anak

Memberi Kepercayaan pada Anak

Beberapa kali dalam pengajarannya, Montessori selalu menekankan pada kita untuk memberi kepercayaan pada anak. Mengapa perlu demikian? Mungkin karena pemikiran kita anak masih sangat kecil, lemah, dan belum banyak tahu sehingga rasanya kita perlu membantu mereka terus-menerus. Kita juga tidak memahami apa yang sebenarnya bisa mereka lakukan. Padahal, kita perlu memberi mereka kepercayaan bahwa mereka bisa melakukan banyak hal.

 

Baca juga: Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak

 

Insting Anak untuk Bekerja

Sebagian dari kita pasti tidak tahu bahwa anak memiliki insting untuk bekerja. Montessori merasa bahwa orang dewasa tidak siap mengakui dan menerima bahwa anak kecil memiliki hasrat untuk bekerja. Oleh sebab itu, ketika keinginan anak ini muncul, orang dewasa tidak hanya heran tetapi juga melarang anak untuk mengekspresikannya.

Menurut Montessori, orang dewasa harus belajar mengenai insting bekerja yang dimiliki anak dan membantu mereka untuk menyalurkannya. Meskipun kegiatan dan pekerjaan anak adalah bermain, kita sebagai orang dewasa tidak bisa terus-menerus memaksa mereka untuk bermain. Kadangkala, mereka memilih untuk bekerja atau membantu kita.

Pada saat-saat seperti inilah kita perlu memerhatikan anak dan apa yang mereka inginkan. Kebanyakan orang dewasa bukannya memberi anak kesempatan untuk meraih capaian bermakna, tetapi justru menyuguhi anak-anak dengan berbagai macam mainan.

 

Anak dan Mainan

            Saat kita memberikan banyak sekali mainan kepada anak, apa yang sebenarnya kita inginkan? Barangkali kita memberikan mereka begitu banyak mainan dengan harapan barang-barang itu akan menyibukkan mereka sehingga tidak mengganggu kita. Tanpa disadari, kita menjadi tidak percaya pada anak bahwa mereka bisa bekerja sendiri tanpa perlu terus-terusan kita awasi.

Memberi kepercayaan pada anak bahwa mereka bisa beraktivitas sendiri dan tidak membuat kita khawatir perlu kita lakukan sejak dini. Menurut Montessori, kita tidak perlu terus-terusan memberikan mainan pada anak karena mainan bisa menjadi sumber frustasi bagi anak dan dia cepat bosan akan mainan tersebut. Membiarkan anak mengeksplorasi hal-hal di sekitarnya dan memberi kepercayaan pada mereka bahwa mereka akan baik-baik saja akan menumbuhkan kepercayaan diri pada mereka pula.

Kita juga seringkali memilih untuk menyibukkan mereka dengan mainan daripada melibatkannya dalam kehidupan sehari-hari di sekelilingnya. Menurut Montessori, penyebabnya adalah orang dewasa menyadari bahwa demi mengakomodasi anak, dia harus berkorban, padahal orang dewasa terlampau sibuk mengejar capaian sendiri sehingga tidak mau berkorban seperti itu.

Mari mulai melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari dan mengurangi kontak mereka dengan mainan. Beri mereka kepercayaan bahwa tanpa mainan pun mereka bisa mengeksplor banyak hal dan tidak membuat kita khawatir berlebihan.

 

 

Memberikan kepercayaan pada anak sejak dini akan membuat mereka memiliki kepercayaan diri serta bisa menggali potensi mereka secara bersamaan. Hal ini karena anak-anak kita biarkan mengeksplorasi diri dan lingkungan mereka secara mandiri. Melalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini, Paula Polk Lillard ingin berbagi ilmu cara menggali potensi anak ala Montessori. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan tentu saja menyimpan banyak tips yang bisa kita praktikkan terkait menggali potensi anak. Dapatkan buku ini segera di linktr.ee/Bentang.