fbpx

Kegiatan Positif yang Bisa Dilakukan di Dalam Toilet Selain Membersihkan Diri

Ketika melihat anak yang ketakutan ke toilet sendiri, kita bisa memberi tahu mereka bahwa ada kegiatan positif yang bisa mereka lakukan di dalam toilet selain buang air. Barangkali, pemikiran mereka jika di dalam toilet sendiri maka akan ada monster yang menghampiri sehingga anak takut sendirian. Meskipun telah kita beri tahu tentang manfaat yang bisa mereka rasakan jika bisa ke toilet sendiri, mereka terkadang masih tetap khawatir.

Perlu juga kita mengubah cara penyampaian kepada mereka tentang pentingnya ke toilet sendiri. Salah satunya adalah dengan memberi tahu mereka kegiatan positif yang bisa dilakukan di dalam toilet.

 

Baca juga: Melatih Toilet Training pada Anak

 

Mengenali Bagian Tubuh Mereka

            Toilet adalah salah satu tempat dengan tingkat privasi yang tinggi dan nyaman bagi kita untuk melakukan banyak hal. Karena toilet adalah tempat yang sangat privat, toilet bisa menjadi tempat bagi anak untuk mengenali bagian tubuh mereka. Mereka bisa melihat secara detail bagian tubuh mereka tanpa harus takut akan dilihat orang lain atau merasa tidak nyaman.

Mengenali tubuh penting bagi anak, agar mereka mengetahui apa saja yang mereka miliki dan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh atau dilihat oleh orang lain. Selain itu, jika anak memiliki tanda tertentu di tubuh, mereka bisa mengetahuinya dengan melihat tanda tersebut secara langsung.

Dengan mengenali tubuh mereka, selanjutnya anak juga tahu apa yang baik dan tidak baik bagi tubuh mereka terutama mengenai perawatan diri. Mereka perlu tahu bagaimana kondisi kulit mereka dan hal lainnya. Kita sebagai orang dewasa juga perlu mengajarkan pada mereka bahwa mengetahui bagian tubuh sendiri bukan hal yang tabu dan memalukan. Mereka justru harus tahu apa yang mereka miliki dan bagaimana cara merawatnya.

 

Tempat Anak untuk Berekspresi

Anak memiliki ekspresi dan emosi yang memang sulit kita tebak. Itu sebabnya, kita perlu melatih mereka untuk mengontrol ekspresi dan emosi yang mereka miliki agar tidak melukai perasaan orang lain maupun perasaan sendiri. Toilet bisa menjadi salah satu tempat bagi anak untuk bebas berekspresi tanpa harus takut melukai perasaan siapa pun. Ketika marah dan menangis atau kecewa, anak bisa menatap dirinya sendiri di kaca dan menumpahkan ekspresi dan emosinya. Namun, kita sebagai orang dewasa tetap perlu mengawasi mereka.

Selain itu, anak bisa bebas melihat wajah dan ekspresi mereka saat senang, sedih, marah, menangis, kecewa, dan lain-lain. Dengan demikian, anak bisa tahu bagaimana mereka harus mengekspresikan sesuatu. Di dalam toilet, anak juga bisa memeriksa seluruh wajah mereka dan apa dampaknya jika mereka mengeluarkan ekspresi tertentu.

 

Banyak sekali ternyata manfaat yang bisa kita rasakan dengan ke toilet sendiri. Tidak hanya untuk buang air dan membersihkan diri, toilet ternyata juga bisa menjadi tempat anak mengenali bagian tubuh mereka dan berekspresi secara bebas tanpa khawatir akan menyakiti orang lain. Mengajarkan anak pentingnya ke toilet sendiri memang terasa sulit di awal-awal, namun jika kita bisa menyampaikan dengan baik dan benar pasti bisa, kok!

cican-bisa-ke-toilet-sendiriMelalui buku Cican Bisa ke Toilet Sendiri, Wahyu Aditya ingin menyampaikan pentingnya anak untuk bisa ke toilet sendiri. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu, full-color, dan tahap-tahap menggunakan toilet yang bisa ditiru anak. Buku ini akan segera terbit pada tanggal 17 Mei 2021. Eits, tidak hanya itu. Cican juga mengajak anak Mom untuk turut berpartisipasi dalam Lomba Mewarnai Tingkat Nasional via Daring, lho. Informasi selengkapnya bisa cek di akun Instagram @bentangkids ya!

Memberi Kepercayaan pada Anak

Memberi Kepercayaan pada Anak

Beberapa kali dalam pengajarannya, Montessori selalu menekankan pada kita untuk memberi kepercayaan pada anak. Mengapa perlu demikian? Mungkin karena pemikiran kita anak masih sangat kecil, lemah, dan belum banyak tahu sehingga rasanya kita perlu membantu mereka terus-menerus. Kita juga tidak memahami apa yang sebenarnya bisa mereka lakukan. Padahal, kita perlu memberi mereka kepercayaan bahwa mereka bisa melakukan banyak hal.

 

Baca juga: Kecakapan Komunikasi Sebagai Potensi Anak

 

Insting Anak untuk Bekerja

Sebagian dari kita pasti tidak tahu bahwa anak memiliki insting untuk bekerja. Montessori merasa bahwa orang dewasa tidak siap mengakui dan menerima bahwa anak kecil memiliki hasrat untuk bekerja. Oleh sebab itu, ketika keinginan anak ini muncul, orang dewasa tidak hanya heran tetapi juga melarang anak untuk mengekspresikannya.

Menurut Montessori, orang dewasa harus belajar mengenai insting bekerja yang dimiliki anak dan membantu mereka untuk menyalurkannya. Meskipun kegiatan dan pekerjaan anak adalah bermain, kita sebagai orang dewasa tidak bisa terus-menerus memaksa mereka untuk bermain. Kadangkala, mereka memilih untuk bekerja atau membantu kita.

Pada saat-saat seperti inilah kita perlu memerhatikan anak dan apa yang mereka inginkan. Kebanyakan orang dewasa bukannya memberi anak kesempatan untuk meraih capaian bermakna, tetapi justru menyuguhi anak-anak dengan berbagai macam mainan.

 

Anak dan Mainan

            Saat kita memberikan banyak sekali mainan kepada anak, apa yang sebenarnya kita inginkan? Barangkali kita memberikan mereka begitu banyak mainan dengan harapan barang-barang itu akan menyibukkan mereka sehingga tidak mengganggu kita. Tanpa disadari, kita menjadi tidak percaya pada anak bahwa mereka bisa bekerja sendiri tanpa perlu terus-terusan kita awasi.

Memberi kepercayaan pada anak bahwa mereka bisa beraktivitas sendiri dan tidak membuat kita khawatir perlu kita lakukan sejak dini. Menurut Montessori, kita tidak perlu terus-terusan memberikan mainan pada anak karena mainan bisa menjadi sumber frustasi bagi anak dan dia cepat bosan akan mainan tersebut. Membiarkan anak mengeksplorasi hal-hal di sekitarnya dan memberi kepercayaan pada mereka bahwa mereka akan baik-baik saja akan menumbuhkan kepercayaan diri pada mereka pula.

Kita juga seringkali memilih untuk menyibukkan mereka dengan mainan daripada melibatkannya dalam kehidupan sehari-hari di sekelilingnya. Menurut Montessori, penyebabnya adalah orang dewasa menyadari bahwa demi mengakomodasi anak, dia harus berkorban, padahal orang dewasa terlampau sibuk mengejar capaian sendiri sehingga tidak mau berkorban seperti itu.

Mari mulai melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari dan mengurangi kontak mereka dengan mainan. Beri mereka kepercayaan bahwa tanpa mainan pun mereka bisa mengeksplor banyak hal dan tidak membuat kita khawatir berlebihan.

 

 

Memberikan kepercayaan pada anak sejak dini akan membuat mereka memiliki kepercayaan diri serta bisa menggali potensi mereka secara bersamaan. Hal ini karena anak-anak kita biarkan mengeksplorasi diri dan lingkungan mereka secara mandiri. Melalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini, Paula Polk Lillard ingin berbagi ilmu cara menggali potensi anak ala Montessori. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan tentu saja menyimpan banyak tips yang bisa kita praktikkan terkait menggali potensi anak. Dapatkan buku ini segera di linktr.ee/Bentang.

Periode sensitif anak

Menyelami Dunia Anak Melalui Periode Sensitif

Ketika kita membicarakan anak-anak, kita tidak asing lagi dengan kata periode sensitif. Ada beberapa orang sudah memahami apa itu periode sensitif anak, tetapi ada pula yang bahkan belum pernah mendengar hal tersebut. Barangkali, dalam benak orang-orang yang belum memahami kata ini, hal itu hanyalah ketertarikan sementara anak akan sesuatu.

Namun, periode sensitif lebih dari sekadar ketertarikan sementara anak akan sesuatu. Melalui periode sensitif, kepribadian dan minat bakat anak terbentuk. Melalui buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan, kita akan memahami periode sensitif menurut sudut pandang Maria Montessori.

 

Baca juga: Makna Perilaku Anak yang Perlu Kita Ketahui

 

Kepekaan Anak Terhadap Keteraturan

Ada berapa orang tua di dunia yang memahami kalau anak ternyata memiliki kepekaan dan bahkan menyukai keteraturan? Barangkali, sikap anak di mata kita yang suka membuat rumah menjadi berantakan membuat kita berpikir kalau anak-anak itu rusuh. Namun, Montessori memandang bahwa sifat khas bayi yang masih sangat kecil adalah kegemarannya akan keteraturan. Bayi yang masih berusia 1,5 atau 2 tahun dengan jelas menunjukkan kebutuhan mereka akan keteraturan di sekelilingnya.

Kegemaran anak terhadap keteraturan tidak sama dengan orang dewasa. Orang dewasa mungkin bisa mengatakan kalau mereka menyukai rumahnya yang selalu rapi. Berbeda dengan bayi, mereka tidak menyukai ketidakteraturan dan cenderung membuatnya cemas jika menghadapi situasi tersebut. Ia akan mengekspresikannya melalui tangisan atau kegelisahan.

Keteraturan disini misalnya ketika anak yang selalu berada di rumah, lalu suatu hari kita membawa mereka pergi jauh. Ketika di perjalanan, mereka tentu rewel. Tidak hanya merasa lelah karena harus berada di perjalanan, anak-anak juga menyadari bahwa mereka tidak berada di lingkungan yang biasanya, dan kegiatan mereka juga jadi berubah.

 

 

Ketika anak menginjak usia periode sensitif, mereka akan cenderung berkonsentrasi terhadap sesuatu yang ada di depannya. Ia menyukai hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan kita. Misalnya, ketika membaca buku cerita, ia malah fokus pada gambar-gambar kecil seperti kelinci atau kucing. Ketika anak sedang berkonsentrasi, jangan sampai kita mengganggu mereka. Berbeda halnya ketika kita harus membantu mereka.

Dalam pengasuhan anak ala Montessori, kita bisa membantu anak sesedikit mungkin, tergantung pada kebutuhannya. Melalui periode sensitif, kita bisa memahami perilaku dan sikap anak sejak dini. Kita bisa memahami hal-hal apa saja yang membuatnya tertarik. Selain itu, kita bisa memahami bagaimana sikap mereka dalam menanggapi sesuatu.

Buku Montessori: Keajaiban Dunia Anak yang Terlupakan adalah buku yang ditulis langsung oleh Maria Montessori dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Melalui buku ini, kita bisa memahami dunia anak yang penuh dengan rahasia dan keajaiban yang tidak pernah kita pikirkan. Kita mampu menyelami dunia dan pemikiran anak dengan berusaha memahami mereka sejak dini. Buku ini bisa didapatkan melalui linktr.ee/Bentang.