fbpx

Sulit Mengajari Anak Disiplin?

Sering kali kita merasa bahwa setiap tindakan anak hanya mengacau dan sulit untuk membuat anak disiplin. Seolah ketika mereka bergerak, mereka akan menghancurkan sesuatu atau akan berbuat hal-hal yang hanya akan merusak segala hal. Dan ketika ini terjadi, kita mengatakan bahwa anak tidak disiplin dan menyalahkan mereka. Namun, apakah benar ketika anak sulit menjadi disiplin adalah sepenuhnya kesalahan mereka? Lantas, bagaimana caranya agar anak mau menjadi disiplin?

Alasan Sulitnya Membuat Anak Disiplin

Kita sering kali bertanya-tanya mengapa seorang anak sulit sekali untuk menjadi disiplin? Di mana letak kesalahan kita saat mengasuh atau apakah ketidakdisiplinan seseorang adalah turunan dari orang tua? Banyak sekali pemikiran kita terhadap hal ini dan kita tidak tahu apa penyebabnya. Sebenarnya, ada dua macam kedisiplinan yang dapat kita temukan pada anak.

Yang pertama adalah external discipline yang merupakan bentuk kedisiplinan yang lahir karena campur tangan orang lain di sekitar anak. Misalnya, kehadiran kita sebagai orang terdekat anak yang memarahi, memaksa, mengancam, atau bahkan menjanjikan hadiah agar mereka patuh. Proses ini mungkin hanya butuh waktu singkat, namun anak belum tentu memahami arti kedisiplinan tersebut.

Yang kedua adalah internal discipline atau disiplin batin. Hal ini merupakan bentuk kedisiplinan yang tumbuh dalam diri anak. Artinya, anak mampu membuat pilihan yang baik karena ia tahu mana yang benar dan salah. Hal ini tidak datang dari pemahaman yang dipaksakan oleh orang lain. Disiplin batin merupakan pedoman moral bagi anak dalam menjalankan kehidupan mereka.

 

Membentuk Disiplin Batin

Menurut Maria Montessori, kedisiplinan dapat mulai tumbuh ketika anak dibebaskan untuk memilih aktivitas yang menarik dan memiliki tujuan yang jelas saat melakukan sesuatu. Anak mudah berkonsentrasi ketika menemukan suatu aktivitas yang menarik bagi mereka. Akan tetapi, aktivitas yang menarik saja tidak cukup untuk menumbuhkan disiplin pada anak. Aktivitas ini perlu memiliki tujuan yang jelas dan control of error.

Menyediakan aktivitas dengan tujuan yang jelas artinya memberikan anak pekerjaan yang berguna. Ada tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan pekerjaan tersebut. Ketika hal ini dipenuhi, anak akan mampu melakukan lebih banyak hal lainnya. Sementara itu, control of error artinya kegiatan tersebut bisa memberi tahu anak akan berhasil atau jauh dari keberhasilan. Ini merupakan ciri khas aktivitas untuk anak dalam metode Montessori. Aktivitas yang memiliki control of error membuat anak merenungkan kembali apa yang sudah ia lakukan sendiri. Orang tua tidak perlu memberikan teguran ketika anak membuat kesalahan. Aktivitas itu akan menunjukkan kepada anak kesalahannya supaya diperbaiki.

Ketiga hal ini memungkinkan adanya proses integrasi dalam diri anak. Hasilnya, kita bisa melihat anak yang tenang, penuh sukacita mengerjakan aktivitas dan mengulangnya terus hingga membentuk keteraturan dalam dirinya. Dari keteraturan ini, maka lahirlah kedisiplinan dalam diri anak. Anak jadi tahu apa saja yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

 

 

Keluhan-keluhan yang kita keluarkan ketika anak terlihat tidak disiplin rupanya bisa kita cegah sejak dini dengan menumbuhkan disiplin batin dalam diri anak. Kita sebagai orang dewasa juga tidak perlu banyak memarahi atau menegur anak ketika mereka tidak disiplin jika disiplin batin sudah ada dalam diri anak. Aktivitas yang dianjurkan oleh Montessori pun bukan aktivitas yang membutuhkan biaya yang besar. Hal ini karena aktivitas yang dibutuhkan berada di sekeliling kita, misalnya mencuci piring, menyiapkan makanan, menuang air, membersihkan rumah, merawat tanaman, membersihkan tempat tidur, dan lain-lain.

Buku A-Z Tanya Jawab Montessori dan ParentingMelalui buku A-Z Tanya Jawab Montessori dan Parenting karya Rosalynn Tamara, founder Montessori Haus Asia, kita akan belajar memahami dunia anak dari kacamata Montessori. Banyak tips yang bisa kamu dapatkan tentang pengasuhan anak serta praktik Montessori. Buku ini bisa kamu dapatkan di linktr.ee/Bentang atau di toko buku kesayanganmu mulai tanggal 26 Juni 2021.

Manfaat Pengamatan Terhadap Bayi

Pengamatan terhadap bayi

 

Memahami bayi harus dimulai dengan membentuk bonding dengan mereka sedini mungkin. Saat bayi masih dalam kandungan pun, seorang ibu perlu memulai komunikasi dengan bayi. Dalam memahami bayi, kita perlu melakukan pengamatan terhadap bayi. Tidak hanya agar mengenal mereka lebih dekat, tetapi ada manfaat lain yang bisa kita dapatkan.

 

Baca juga: Tiga Alasan Kita Mencintai Bayi

 

Memahami dan Mengikuti Perkembangan Bayi

Ketika telah berusaha mengamati bayi, kita akan memahami dan mengikuti perkembangan mereka. Kita bisa menyadari perubahan-perubahan kecil dalam kemampuannya. Ketika menyadari perubahan tersebut, kita bisa menyediakan lingkungan serta kegiatan yang memberikan tantangan yang tepat bagi bayi.

Selain itu, kita juga bisa mengetahui rintangan apa saja yang menghambat gerakan, komunikasi, dan kegiatan bayi. Jika bayi kita rasa kurang mandiri, kita bisa mengenali faktor yang menghambat kemandirian bayi. Melalui pengamatanlah kita bisa mengetahui apakah kecenderungan manusiawi bayi sudah dipupuk atau belum.

 

Pengamatan Membuat Kita Menyadari Usaha dan Kemampuan Bayi

Saat melakukan pengamatan terhadap bayi, kita juga perlu mengamati apakah bayi berinteraksi dengan lingkungannya atau tidak. Kemudian, kita juga perlu melihat apakah bayi menggunakan indranya untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pengamatan ini, kita bisa mulai menyadari apa usaha yang sedang dilakukan bayi.

Begitu kita menyadari usaha yang sedang dilakukan oleh bayi, kita juga akan menyadari kemampuan mereka. Dari sini, kita bisa mulai mengenali periode sensitif bayi. Kita akan menyadari minat dan kegiatan apa yang menjadi konsentrasi bayi. Selain itu, kita pun mulai melihat apa saja hal yang terus-menerus bayi kembalikan, ulangi atau justru bayi menaruh konsentrasi di bidang tersebut.

 

Melalui pengamatan terhadap bayi, kita bisa mengenal dan memahami bayi kita lebih jauh dan mampu membantu saat mereka butuhkan. Pengamatan ini akan lebih baik lagi jika kita lakukan tanpa harus ikut campur tangan terlalu banyak. Dengan mengamati secara seksama, kita benar-benar memahami setiap gerakan yang dilakukan bayi dan hal apa yang berusaha mereka sampaikan. Kita bisa memaknai semua ini lebih dalam dan bisa membuat kita lebih dekat lagi dengan bayi. Hal ini karena bayi akan berpikir bahwa orang tua atau orang terdekatnya, benar-benar memahami mereka.

 

Montessori Baby coverMelalui buku The Montessori Baby karya Simone Davies dan Junnifa Uzodike dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ini, kita bisa belajar memahami bayi seutuhnya dan juga menemukan alasan mengapa kita begitu mencintai bayi. Hal-hal sederhana yang dilakukan bayi barangkali tidak pernah kita pikirkan, namun melalui buku ini penulis mengajak kita untuk memahami mereka lebih dalam lagi. Buku ini bisa kamu dapatkan di linktr.ee/Bentang atau di toko buku terdekat.

Biarkan Anak Membantu, Yuk!

Biarkan Anak Membantu

Pernahkah kita melihat anak berniat untuk membantu kita? Bagaimana respons kita atas hal tersebut? Apakah kita senang dan biarkan anak membantu atau justru menganggap mereka hanya mengganggu? Ketika anak memiliki niatan untuk membantu kita, sebenarnya karena mereka sedang berusaha aktif. Hal ini, menurut Montessori, adalah hal yang baik. Ketika anak banyak bekerja, justru hal tersebut semakin baik karena menurut Montessori hidup adalah aktif.

Anak-anak memiliki hasrat untuk bekerja; dalam hal ini adalah membantu kita. Namun, banyak dari kita yang belum memahami hal ini. Sehingga, banyak dari kita yang justru membatasi anak untuk membantu atau mengekspresikan keinginan mereka tersebut. Justru, kita sebagai orang dewasa malah menyuruh anak untuk bermain terus-menerus. Kita harus mulai mengenali insting anak untuk membantu kita mulai sekarang.

 

Baca juga: Penerapan Praktis Metode Montessori

 

Anak Senang Membantu

Saat kita membersihkan rumah atau memasak, anak melihat yang kita lakukan. Mereka suka sekali dengan keteraturan, sehingga timbul dalam diri mereka untuk ikut bekerja bersama kita. Mereka akan sangat senang jika diperbolehkan untuk membantu pekerjaan kita. Selain itu, anak memang memiliki hasrat untuk bekerja selain bermain.

Jika anak terlihat tertarik untuk membantu maka kita bisa membiarkan mereka untuk terlibat. Jangan berpikir bahwa anak hanya akan membuat keadaan kacau atau berpikiran negatif lainnya. Anak-anak memang senang membantu, kok. Jadi, biarkan anak membantu kita ya!

 

Membantu Bukan Bikin Berantakan

Sering kali ketika kita melihat anak sedang menyapu atau berusaha merapikan meja yang berantakan, kita justru melarang mereka untuk melanjutkan aktivitas tersebut. Kita khawatir jika anak malah menghancurkan barang berharga yang ada di sekitar meja atau membuat lantai semakin kotor. Padahal, mereka juga masih sedang dalam proses belajar dan tugas kita sebagai orang dewasa adalah membantu mereka untuk belajar.

Jangan menganggap bahwa anak membantu hanya untuk merusak atau membuat keadaan semakin berantakan. Anak-anak memang senang membantu dan mereka juga belajar bagaimana untuk bekerja. Jadi, jika anak melakukan kesalahan, kita cukup memberi tahu kepada mereka bagaimana cara kerja yang benar.

 

Insting anak untuk bekerja memang ada dan kita sebagai orang dewasa perlu memahami hal tersebut. Ketika anak mulai menunjukkan hasratnya ini, kita harus peka dan menyediakan apa yang mereka butuhkan. Alih-alih memberikan mainan yang mahal dan banyak kepada anak untuk membuat mereka bermain, kita bisa memanfaatkan insting mereka ini untuk membantu pekerjaan kita. Kita juga bisa memanfaatkannya untuk mengajak dan mengajari anak agar bekerja sesuai yang mereka minati.

Montessori Seni Menggali Potensi Anak Sejak DiniMelalui buku Montessori: Seni Menggali Potensi Anak Sejak Dini karya Paula Polk Lillard ini, ia mengajak kita untuk memahami buah pemikiran anak dan menggali potensi mereka. Buku ini bisa kamu dapatkan di sini atau toko buku kesayanganmu.