Memaknai Hidup melalui Kacamata Cak Nun

IMG_20160113_092554_HDR[1]

 

Salah satu hal yang selalu dipertanyakan oleh umat manusia adalah bagaimana caranya memaknai kehidupan. Banyak hal terjadi dan menciptakan berbagai rasa dan ekspresi. Berbagai hal terjadi begitu saja tanpa mereka ketahui. Manusia tidak mampu meramal tetapi mampu membingkai harapan. Namun, toh, manusia bukanlah orang yang mencipta takdir.

Dengan berbagai hal yang terjadi pada diri seseorang, pernahkah kalian bertanya apa arti hidup ini? Terkadang kita merasa jenuh juga merasa kosong. Kadang-kadang pula, diri kita telah terisi penuh dan kemudian berubah menjadi begitu pongah.

Jika kita masih kebingungan dalam memaknai hidup, kita bisa sedikit menyimak kehidupan melalui kacamatan seorang penulis sekaligus budayawan besar bernama Emha Ainun Nadjib. Pria yang akrab dipanggil Cak Nun ini merumuskan sedikitnya tiga hal yang berada dalam dirinya ke dalam tiga buku seri ilmu hidup.

Ketiga buku tersebut adalah “Istriku Seribu”, “Orang-Orang Maiyah”, dan “Kagum Kepada Orang Indonesia”. Cak Nun, dengan pola pikirkanya yang begitu terbuka, telah menggagas konsep-konsep besar dalam kehidupan dan meringkasnya dalam dialetika yang sederhana

Dalam buku “Istriku Seribu”, Cak Nun berbicara soal “istri-istrinya” yang jumlahnya ribuan dan bagaimana ia melayani semua istrinya dengan adil. Pada buku kedua, “Orang-Orang Maiyah” bercerita tentang orang-orang yang “kecanduan Maiyahan”. Setiap tanggal 17, mereka tidak lupa untuk tetap bershalawat bersama – berkumpul di satu tempat dengan rasa yang sama pula. Pada buku ketiganya, Cak Nun berbicara tentang orang In donesia dengan rasa takjub, heran, sekaligus kaget. Ia menulis dengan gaya humoris tetapi juga sarat akan berbagai kritis.

Melalui ketiga buku ini, kita akan diajarkan untuk melihat kehidupan melalui kacamata Cak Nun — bagaimana ia memaknai kehidupan dan menggagasnya dalam konsep-konsep yang jenaka namun sarat akan makna.

Lamia Putri D. IMG_20160113_092554_HDR[1]

 

Salah satu hal yang selalu dipertanyakan oleh umat manusia adalah bagaimana caranya memaknai kehidupan. Banyak hal terjadi dan menciptakan berbagai rasa dan ekspresi. Berbagai hal terjadi begitu saja tanpa mereka ketahui. Manusia tidak mampu meramal tetapi mampu membingkai harapan. Namun, toh, manusia bukanlah orang yang mencipta takdir.

Dengan berbagai hal yang terjadi pada diri seseorang, pernahkah kalian bertanya apa arti hidup ini? Terkadang kita merasa jenuh juga merasa kosong. Kadang-kadang pula, diri kita telah terisi penuh dan kemudian berubah menjadi begitu pongah.

Jika kita masih kebingungan dalam memaknai hidup, kita bisa sedikit menyimak kehidupan melalui kacamatan seorang penulis sekaligus budayawan besar bernama Emha Ainun Nadjib. Pria yang akrab dipanggil Cak Nun ini merumuskan sedikitnya tiga hal yang berada dalam dirinya ke dalam tiga buku seri ilmu hidup.

Ketiga buku tersebut adalah “Istriku Seribu”, “Orang-Orang Maiyah”, dan “Kagum Kepada Orang Indonesia”. Cak Nun, dengan pola pikirkanya yang begitu terbuka, telah menggagas konsep-konsep besar dalam kehidupan dan meringkasnya dalam dialetika yang sederhana

Dalam buku “Istriku Seribu”, Cak Nun berbicara soal “istri-istrinya” yang jumlahnya ribuan dan bagaimana ia melayani semua istrinya dengan adil. Pada buku kedua, “Orang-Orang Maiyah” bercerita tentang orang-orang yang “kecanduan Maiyahan”. Setiap tanggal 17, mereka tidak lupa untuk tetap bershalawat bersama – berkumpul di satu tempat dengan rasa yang sama pula. Pada buku ketiganya, Cak Nun berbicara tentang orang In donesia dengan rasa takjub, heran, sekaligus kaget. Ia menulis dengan gaya humoris tetapi juga sarat akan berbagai kritis.

Melalui ketiga buku ini, kita akan diajarkan untuk melihat kehidupan melalui kacamata Cak Nun — bagaimana ia memaknai kehidupan dan menggagasnya dalam konsep-konsep yang jenaka namun sarat akan makna.

Lamia Putri D.bentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta