fbpx
Gentle Discipline

Pujian dan Motivasi dalam Mendisiplinkan Anak

Benarkah pujian bisa mendisiplinkan anak?

Cerita Sarah Ockwell-Smith (penulis buku Gentle Discipline) bersama ahli pendidikan John Holt tentang pujian dan motivasi.

Ide bahwa anak-anak tidak akan belajar tanpa hadiah dan penalti dari luar, atau yang dalam jargon para behaviourism disebut sebagai “penguatan positif dan negatif” biasanya menjadi ramalan yang terwujud dengan sendirinya. Jika kita memperlakukan anak-anak dengan cara tertentu untuk waktu yang cukup lama seolah-olah itu benar, mereka akan menjadi percaya bahwa hal tersebut memang benar. Banyak orang yang berkata kepada saya, “Jika kita tidak menyuruh anak-anak melakukan sesuatu, mereka tidak akan melakukan apa pun.” Bahkan, yang lebih parah, mereka mengatakan, “Jika saya tidak disuruh melakukan sesuatu, saya tidak akan melakukan apa pun.” Ini adalah keyakinan seorang budak.

Inti dari diskusi di atas menunjukkan bahwa tidak selamanya hal positif selalu membawa hasil yang positif. Sebagai contoh dalam dunia parenting. Misalnya, kita terlalu banyak menerapkan sistem pujian dan motivasi. Ternyata, kita secara tidak langsung menanamkan pemahaman pada anak untuk fokus pada hal positif semata. Hal ini  bisa jadi berujung pada tidak realistis.

Hmmm, jadi gimana, nih, baiknya menggunakan pujian dan motivasi dengan tepat? Nah, kalau belajar dari buku Gentle Discipline karya Sarah Ockwell-Smith, ada yang namanya konsekuensi positif ketika kita masih tetap bisa memberikan pujian dan motivasi sebagai alat bantu pendisiplinan anak.

Kuncinya adalah konsekuensi positif terjadi ketika anak berperilaku baik dan dihadiahi dengan hasil alami yang tidak kita rencanakan sebelumnya, ya. Contohnya, setelah selesai makan, anak membantu membereskan meja tanpa diminta. Lalu kita bisa memberikan konsekuensi positif dengan mengajak mereka bermain ke taman dan sebagainya. Asalkan konsekuensi positif ini tidak diucapkan dan direncanakan.

Sebab, kalau konsekuensi positif ini kita rencanakan, dia akan berubah menjadi hadiah. Dan, metode pemberian hadiah itu sangat penuh dengan masalah bila terus-terusan kita terapkan.

Sama halnya dengan konsep motivasi yang sering kali salah praktik ketika masuk dalam ranah sekolah. Misalnya, pemberian hadiah-hadiah seperti sertifikat, piala, atau stiker “Kamu bekerja baik” kepada anak berprestasi. Mungkin tidak kelihatan seperti hukuman ya, tetapi dia akan menjadi hukuman untuk anak yang tidak bisa mendapatkannnya, lo.

Kenapa? Karena motivasi seperti ini berdasarkan riset bisa menimbulkan efek negatif pada perilaku anak di masa depan. Mereka yang menerima hadiah tidak akan melakukan kebaikan yang sama untuk kali keduanya bila tidak ada hadiah yang mereka terima. Adapun anak yang tidak bisa mendapatkan hadiah akan mengalami situasi rendah diri. Ia akan merasa buruk karena tidak punya keterampilan untuk mendapatkan hadiah.

Itulah kenapa sekolah di Negara Finlandia tidak menggunakan sistem ranking. Hasilnya? Anak-anak tumbuh dengan memiliki motivasi positif eksternal yang kuat dan menghasilkan perilaku yang baik. Itulah kenapa Finlandia akhirnya juga dinominasikan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

 

Sumber gambar: amazonaws.com

mendisiplinkan anak

Mitos Mendisiplinkan Anak dengan Ancaman

Cerita Ibu Ajeng ….

“Sering kali anak saya berperilaku tidak sopan dan suka membantah. Kalau tidak dengan hukuman, mau didisiplinkan bagaimana lagi? Sepertinya cara lembut malah tidak mempan untuk dia.”

Jadi gimana, benar, nggak sih, sudah tidak ada cara lain untuk mendisiplinkan anak selain melalui hukuman?

Hmmm, kalau kita malas mencari jawaban dan ilmu, sih, sepertinya jadi benar-benar saja, ya. Namun, kenyataannya, pola pikir seperti Ibu Ajeng ini yang justru akhirnya benar-benar membuat mendisiplinkan anak tanpa hukuman jadi mitos!

Seperti yang ditulis Sarah Ockwell-Smith dalam bukunya Gentle Discipline, untuk mendisiplinkan anak, kita harus tahu dulu akar permasalahan kenapa dia berperilaku buruk. Dan, akar permasalahan ini dibagi Sarah ke dalam 3 faktor: Neurologis, Fisiologis, dan Psikologis.

Ketiga faktor ini adalah pemicu perilaku anak yang sebenarnya sudah banyak kita ketahui, tetapi tidak dipahami, lo. Alhasil ancaman dan hukuman, deh, yang jadi last option.

Padahal, dengan mencoba memahami faktor Neurologis anak berperilaku buruk, kita bisa jadi “melek” bahwa pada hakikatnya otak manusia itu berbeda secara dramatis dari bayi ke remaja, ke dewasa, yang berarti nggak realistis, dong, kalau kita mengharapkan anak berperilaku sama dengan orang dewasa???

Nah, setelah merenung dari faktor Neurologis, kita bergeser ke faktor Fisiologis, ya. Faktor ini pastinya sudah banyak yang tahu kan, seperti anak akan jauh lebih rewel ketika mereka sedang lapar atau capek gitu. Berbeda lagi dengan psikologis, kalau faktor ini biasanya dipicu karena anak kurang memiliki kendali terhadap kehidupan mereka sendiri. Bisa juga karena ada perilaku orang lain yang tidak mereka inginkan, atau anak merasa rendah harga diri.

Dengan memahami faktor ini, kita jadi sadar, deh, cara mendisiplinkan anak dengan ancaman atau hukuman sama sekali salah. Bahkan, pemicu perilaku buruk anak yang sering kali dikatakan karena faktor “Hormon” itu hanya mitos!

Terus, kalau sudah paham dengan faktor-faktornya, langkah apa lagi, nih, yang perlu kita ambil untuk bisa mendisiplinkan anak dengan lembut dan efektif?

Buat hierarki kebutuhan anak pakai konsep Abraham Maslow. Nah lo, kira-kira masih pada ingat seperti apa? Hehehe.

Oke, next step-nya apalagi, nih? Yuk, cari tahu dalam buku Gentle Discipline karya Sarah Ockwell-Smith.

Sudah tersedia di seluruh toko buku Indonesia!

 

Mendisiplinkan Anak

Yes or No, Mendisiplinkan Anak dengan Hukuman?

Cerita Ibu Mona ….

Sejak punya dua toddler di rumah, Mona mulai jadi waswas tentang hari esok. Dia mulai merasa kesulitan untuk mendisiplinkan anak yang makin lama makin susah diprediksi kemauannya. Alhasil, Mona pun mulai menerapkan sistem hukuman dan ancaman demi bisa membentuk perilaku anak yang lebih baik.

Namun, apa iya, sistem hukuman dan ancaman benar ampuh untuk mendisiplinkan anak?

Menurut psikolog parenting Sarah Ockwell-Smith, ancaman dan hukuman itu bukan jawaban yang tepat untuk mendisiplinkan anak. Ketika kita sibuk memberikan hukuman dan ancaman, apa yang kita lakukan itu sebenarnya hanya untuk mengendalikan perilaku anak pada saat itu saja, lo. Hal tersebut tidak memberikan efek jangka panjang.

Kenapa? Ya, karena kita menggunakan jalan pintas.
Menggunakan hukuman, tandanya kita membuat perasaan anak-anak terputus dari kita akibat bentakan atau sebuah pukulan yang mungkin saja kita layangkan. Cara ini nyatanya cuma meningkatkan potensi timbulnya perilaku yang tidak diinginkan dan membuat anak merasa lebih buruk, lo.

Adapun dengan memberikan ancaman seperti, “Kalau nangis terus nanti Mama nggak belikan es krim, ya,” ternyata juga sama aja, nih. Penggunaan es krim mungkin bisa mengendalikan anak untuk sementara waktu, tetapi tidak bisa meningkatkan motivasi intrinsik bagi anak untuk berperilaku seperti yang kita harapkan, ya.

Jadi, bisa diambil kesimpulan, nih, kalau sistem hukuman dan ancaman sudah nggak ampuh lagi, ya, untuk mendisiplinkan anak. Terus, apa dong yang ampuh?

Sebagai orang tua dari empat anak, Sarah Ockwell-Smith paham betul, nih, betapa beratnya harus bekerja bersama anak-anak, terutama ketika mereka sedang menguji kesabaran. Oleh karena itu, dirinya merumuskan sebuah jurus jitu yang dikenal sebagai Gentle Discipline!

Gentle Discipline ini adalah metode modern yang berfokus mendisiplinkan anak dengan memadukan praktik belajar-mengajar ketimbang menghukum. Nah, kita sebagai orang tua, diajak untuk membiasakan adanya keseimbangan kuasa, ya. Caranya dengan bersikap positif dan memahami penyebab perilaku buruk anak sebagai titik awal untuk mengetahui cara memperbaikinya.

Ada lima langkah yang dia jelaskan untuk menuju disiplin yang lembut, tetapi juga efektif. Apa saja kelima langkah tersebut?

Yuk, cari tahu dalam buku Gentle Discipline karya Sarah Ockwell-Smith.

Sudah tersedia di seluruh toko buku Indonesia!