Self Improvement - Bentang Pustaka
Stoisisme Filsafat Yunani

Stoisisme: Filsafat Yunani yang Membantumu Meringankan Beban Hidup

Stoisisme filsafat Yunani dapat membantumu meringkan beban hidup. Seiring berjalannya waktu, muncul permasalahan baru dalam kehidupan sosial manusia. Depresi, baik itu ringan maupun berat, merupakan salah satu dampak dari kekhawatiran individu terhadap masalah-masalahnya. Pada era modern ini, dengan banyaknya bantuan dari teknologi yang bisa kita dapatkan untuk menyelesaikan masalah, kasus depresi justru mengalami peningkatan.

Dalam bukunya, Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya, Jules Evans membahas banyak tentang stoisisme filsafat Yunani. Ia juga menceritakan bagaimana mazhab filsafat Yunani kuno yang dicetuskan oleh Zeno itu membantunya menghadapi trauma, depresi, dan serangan panik yang dialaminya semasa kuliah.

Stoisisme Filsafat Yunani

Stoisisme sebagai Penawar Depresi

Pengikut aliran ini meyakini bahwa stoisisme atau yang akrab disebut stoa merupakan obat manjur penawar depresi. Penawar depresi yang dimaksud dalam konteks ini adalah stoisisme mengajari manusia untuk mengelola ekspektasi, menghadirkan kebahagiaan, dan menikmati dinamika kehidupan.

Filosofi stoic menekankan pada keselarasan alam dan penggunaan nalar manusia demi tercapainya kebahagiaan dalam hidup. Konsep bahagia yang diperkenalkan oleh stoisisme adalah apatheia atau free from suffering, terbebas dari penderitaan. Penderitaan yang ditekankan dalam hal ini ialah penderitaan emosi, sedangkan kunci kebahagiaan bagi kaum stoa adalah tercapainya peace of mind atau ketenangan batin.

Dikotomi Stoisisme

Zeno mendikotomi konsepnya dalam dua hal, yaitu sesuatu yang berada dalam kendali kita dan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Sesuatu yang berada dalam kendali kita contohnya seperti usaha, persepsi pribadi, dan emosi kita. Sementara sesuatu yang tak bisa kita kendalikan contohnya bencana alam, kejutan dalam hidup, dan pendapat orang lain terhadap kita.

Seperti matematika, stoisisme menggunakan netral, positif, dan negatif dalam pemahaman konsepnya. Berikut contohnya. Cemoohan orang lain terhadap kita–hal yang berada di luar kendali–sebenarnya merupakan sesuatu yang netral. Namun, sering kali orang menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif karena anggapan bahwa cemoohan tersebut pasti membawa dampak buruk untuknya.

Padahal, kita seharusnya tidak membiarkan hal itu mengganggu pikiran kita. Dengan begitu, kita membiarkan cemoohan tersebut untuk tetap menjadi sesuatu yang netral. Pilihan lain yang bisa kita lakukan adalah dengan mengubah persepsi dan menganggapnya sebagai kritik konstruktif untuk diri kita. Dengan cara ini, berarti kita telah mengubah cemoohan itu menjadi sesuatu yang positif.

Baca Juga: Butuh Terapi Jiwa untuk Atasi Depresi? Henry Manampiring Rekomendasikan Buku Ini

Stoisisme Filsafat Yunani Apakah Masih Relevan dengan Kehidupan Sekarang?

Sejak tadi kita membicarakan betapa manjurnya stoisisme dalam mengurangi beban kehidupan, tapi apa iya filsafat kuno itu tidak terlalu jadul? Jules Evans menyediakan jawaban itu dalam bukunya. Jawaban atas pertanyaan bagaimana filsafat yang berasal dari awal abad ke-3 sebelum masehi itu ternyata masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini.

Stoisisme adalah aliran yang sangat praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika masa Zeno memeloporinya maupun pada era milenial sekarang. Era milenial ini tak lepas dari teknologi dan media sosial. Sadar atau tidak, secara tak langsung, media sosial membuat kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Gambaran mudahnya seperti ini. Ketika menggulir layar ponsel saat membuka aplikasi Instagram, kita melihat salah seorang teman mengunggah momen hebatnya berfoto bersama artis di depan Menara Eiffel. Lalu muncul sedikit rasa iri dalam hati disertai miris pada diri sendiri karena tidak bisa membagikan foto sekeren itu hingga mendapat banyak suka dan komentar.

Ketika menengok profil sendiri, rasanya tak ada yang bisa dibanggakan, hanya beberapa foto biasa yang bahkan dihinggapi satu dua komentar buruk. Padahal, belajar dari stoisisme, kita tidak perlu memusingkan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Komentar dan tanggapan orang terhadap apa yang kita unggah di media sosial contohnya.

Sadarilah, media sosial mendorong kita untuk berlomba dalam kompetisi tak nyata, sehingga membeli barang dengan uang yang tidak kita miliki, untuk mengesankan orang yang bahkan tidak kita sukai.

 

Nur Aisyiah Az-Zahra

mengambil risiko

Berada di Zona Nyaman atau Mengambil Risiko?

Zona nyaman atau mengambil risiko? Hidup adalah tentang pilihan. Manusia sering kali merasa dilema terhadap banyak hal entah itu urusan kecil seperti memilih menu makan siang, sampai persoalan besar seperti harus tidaknya kita menikah. Menurutmu, mana yang lebih penting? Memilih sesuatu yang berada dalam jangkauan dan zona nyaman kita atau melompat ke dalam bara api yang penuh risiko?

Mungkin pertanyaan yang tepat bukanlah mana yang lebih penting, melainkan pilihan mana yang lebih bisa membantu kita berkembang. Apa pun pilihanmu, sadarilah bahwa dalam hal ini tidak ada jawaban yang salah atau benar. Semua punya hak untuk memilih. Perlu diingat juga, kita tidak seharusnya menghakimi pilihan orang lain atau berusaha menggurui bahwa satu opsi lebih baik dari yang lainnya.

“Melakukan apa yang kamu suka adalah kebebasan.

Menyukai apa yang kamu lakukan adalah kebahagiaan.”

 

zona nyaman

Mengambil Risiko dalam Zona Nyaman

Maudy Ayunda melalui bukunya, Dear Tomorrow, mengingatkan kita bahwa konsistensi yang perlu kita jaga dalam hidup adalah pertumbuhan positif dan pengembangan diri. Wanita kelahiran 1994 itu menulis bahwa terus-menerus berada di dalam zona nyaman juga ternyata berisiko. Risiko yang ia maksud adalah potensi dirinya untuk tumbuh dan berkembang akan terampas.

Jika sudah begitu maka istilah yang tepat bukan lagi zona nyaman, melainkan zona berbahaya, bukan? Inilah yang harus kita hindari.

Meskipun begitu, bukan berarti kita harus melulu mengambil risiko dalam setiap pilihan hidup kita. Berada di zona nyaman membantu manusia untuk menghargai lingkungan sekelilingnya, memberikan waktu untuk merancang langkah selanjutnya, dan memikirkan risiko apa yang harus kita ambil setelah ini.

Baca juga: Maudy Ayunda Beri Tips Lolos Beasiswa Luar Negeri

Atasi Rasa Takutmu Terhadap Perubahan

Ajukan pertanyaan ini pada dirimu sendiri setiap memulai hari, jika kau hanya bisa melakukan satu hal hari ini, apa yang akau kau lakukan?

Bagi Maudy, justru lebih menakutkan jika kita tidak tumbuh dan berkembang sebagai individu. Ambillah risiko! Ini adalah hak dan pilihanmu untuk memilih, jangan berikan celah bagi orang lain untuk mendikte hidup kita.

Lakukan apa yang membuatmu senang. Hal itu akan memotivasimu untuk melakukannya lagi dan lagi. Beberapa orang menemukan kebahagiaan dari suatu proses yang mereka jalani, tak peduli fakta bahwa mereka hebat atau buruk dalam hal tersebut. Namun bagi beberapa orang lain, kebahagiaan terletak pada hasil akhir yang dicapai. Lagi, tidak ada yang salah dari letak sebuah kebahagiaan seseorang.

Apa pun pilihanmu kelak, pastikan bahwa kamu tidak akan menoleh ke belakang dengan penyesalan. Tengoklah masa lalu dengan senyuman dan berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena telah mengambil pilihan itu.

 

Kontributor artikel: Nur Aisyiah Az-Zahra.

Introvert Extrovert

Jangan Paksa Seorang Introvert Menjadi Extrovert

Kamu termasuk introvert atau extrovert? Kalimat itu diucapkan oleh Susan Cain, penulis buku nonfiksi berjudul The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking. Mungkin kamu sudah bisa menebak bahwa Susan Cain juga seorang introvert. Dia menuliskan pendapatnya dengan bebas di dalam bukunya tentang bagaimana budaya barat tidak bersahabat terhadap kaum introvert.

Indonesia tidak jauh berbeda. Masyarakat cenderung memandang sebelah mata kemampuan orang-orang introvert. Banyak yang mengatakan bahwa seorang extrovert jauh lebih pantas menjadi pemimpin ketimbang seorang introvert. Hei, itu pemikiran yang salah!

Apabila seorang introvert disediakan ruang dan zona yang nyaman untuknya bekerja, pencapaian mereka akan luar biasa. Jadi, buang jauh-jauh persepsi semacam itu, ya! Asal kalian tahu, banyak pemimpin besar dunia yang ternyata seorang introvert, lho!

Introvert Extrovert

Tokoh Hebat yang Ternyata Seorang Introvert

Wahyu Aditya dalam Sila ke-6 menyebutkan tiga nama tokoh hebat yang ternyata merupakan seorang introvert. Mereka adalah Mahatma Ghandi, Eleanor Roosevelt, dan Rosa Parks. Ketiga nama itu pasti sudah tak asing lagi di telinga, bukan? Mereka dapat dikatakan sebagai sosok yang pemalu, pendiam, dan selalu berbicara dalam intonasi yang lemah lembut.

Para introvert cenderung memiliki sifat tenang dan hal itu merupakan kekuatan yang luar biasa mengingat banyak kegagalan bersumber dari kepanikan dan penguasaan diri yang rendah. Mengapa para pemimpin yang disebutkan di atas tadi bisa memimpin? Dalam bukunya, Mas Wadit menjawab bahwa semua itu karena mereka tidak memiliki pilihan selain melakukan apa yang mereka pikir benar.

“Jangan menganggap sebuah introversi sebagai sesuatu yang harus diobati. Habiskan waktu luangmu untuk melakukan apa yang kamu suka, bukan apa yang kamu rasa harus kamu lakukan.”

Kekuatan Introvert vs. Extrovert

Dunia membutuhkan orang-orang introvert. Hal yang harus kita garis bawahi di sini adalah introvert bukan perihal bisa atau tidaknya seseorang bersosialisasi dan cepat atau lambatnya seseorang beradaptasi di lingkungan baru. Ini tentang bagaimana seseorang merespons sebuah stimulasi yang diterimanya.

Apabila seorang extrovert nyaman dengan interaksi sosial dan merasa sepi ketika sendirian, introvert justru menemukan kekuatannya ketika merasa sendiri. Oleh karena itu, berikanlah respek dan ruang bagi si introvert untuk melakukan apa yang diinginkannya.

Berdasarkan penelitian Susan Cain, talenta manusia bisa dimaksimalkan saat berada di zona, area, dan ruang yang dapat menstimulasi mereka dengan tepat. Menurut Mas Wadit, salah satu kunci untuk menemukan kreativitas, jawaban, dan ide adalah kesendirian.

Baca juga: Jangan Takut Berkreasi, Setiap Karya Memiliki Peminat

Keseimbangan Diri

Sebenarnya, tidak ada orang yang benar-benar bisa dikategorikan sebagai murni introvert atau extrovert. Namun, persentase dominan pada introvert atau extrovert itulah yang kerap dianggap sebagai hasil yang final. Padahal, manusia justru semestinya berada di antara keduanya, menyeimbangkan Yin dan Yang.

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa ambivert adalah jawabannya, kondisi imbang 50:50 dan merupakan pribadi yang fleksibel. Padahal, ambivert masihlah sebuah istilah gaul dan belum ada penelitian ilmiah untuk mengesahkan kosakata tersebut dalam disiplin psikologi. Lantas, benarkah ambivert merupakan jawabannya? Tidak.

Kita harus mengubah persepsi tentang introvert. Sebab pada dasarnya, semua orang berhak mendapat panggung yang sama dan tepukan tangan yang meriah. Hargailah introversi mereka, jangan memaksa mereka untuk menjadi seorang extrovert. Biarkan para introvert leluasa mengembangkan kreativitas tanpa batas mereka. Seperti tajuk Sila ke-6 Mas Wadit, Kreatif Sampai Mati!

 

Nur Aisyiah Az-Zahra

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta

This will close in 0 seconds