Self Improvement - Bentang Pustaka

Rahasia Deep Talk dengan Allah: Cara Curhat kepada Allah Saat Hati Sedang Lelah

Sebagai manusia, kita sering merasa ingin meluapkan apa yang sedang kita rasakan kepada orang lain sebagai salah satu cara untuk mengurangi beban di hati. Namun, alih-alih tenang atau membuat hati menjadi lebih ringan, kadang hati kita justru terasa semakin semakin berat.

Kita mungkin hanya ingin mengatakan bahwa hari ini terasa berat. Namun, alih-alih didengarkan, kita justru mendapat respons seperti, “Kamu masih mending. Aku pernah mengalami yang lebih parah.” 

Atau ketika kita bercerita tentang pekerjaan yang membuat stres, orang lain membalas dengan cerita tentang pekerjaannya yang jauh lebih berat. Saat kita mengeluh soal hubungan, mereka mulai membandingkannya dengan kisah hubungan mereka. Bahkan ketika kita sedang patah hati, bisa saja kita malah mendengar daftar patah hati orang lain.

Padahal, kita tidak membutuhkan solusi, apalagi perbandingan. Kita hanya ingin didengarkan.

Namun, kita lupa bahwa manusia penuh dengan keterbatasan. Dan dibanding manusia, sebenarnya ada satu tempat yang tidak akan membuat kita merasa masalah kita terlalu kecil, tidak akan membandingkan luka kita dengan luka orang lain, dan tidak akan meminta kita terlihat baik-baik saja, yaitu Allah.

Mengapa Kita Butuh Tempat untuk Curhat?

Sebagai makhluk sosial, manusia memang membutuhkan manusia lain. Kita membutuhkan teman untuk berbagi cerita, pasangan untuk bersandar, atau keluarga yang bisa menemani ketika hidup terasa berat.

Namun, sesempurna apapun di mata orang lain, setiap manusia tetap punya keterbatasan.

Orang yang kita percaya untuk mendengarkan cerita kita, mungkin sedang memiliki masalahnya sendiri. Mereka bisa saja tidak memahami apa yang sedang kita rasakan. 

Bahkan tanpa bermaksud menyakiti, respons mereka terkadang justru membuat kita merasa tidak pernah dimengerti.

Bukan berarti kita tidak boleh curhat kepada manusia. Tapi pada kenyataannya, tidak semua hal bisa dicurahkan kepada manusia. Apalagi kita juga punya Allah Yang Maha Mengetahui (Al-’Alim) dan Yang Maha Mengetahui secara mendalam (Al-Khabir).

Allah tidak hanya mengetahui apa yang kita lakukan. Sebelum kita menemukan kata-kata yang tepat untuk bercerita, Dia sudah mengetahui apa yang kita rasakan, apa isi hati kita. Allah selalu tahu apa yang kita sembunyikan, bahkan tanpa kita perlu bercerita.

Maka, tidak ada salahnya jika kita juga menjadikan Allah sebagai tempat pertama untuk bercerita.

Deep Talk dengan Allah dengan Cara yang Sederhana

Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa berbicara kepada Allah harus menggunakan bahasa yang indah dan doa yang panjang. Padahal, kita bisa memulainya dengan sangat sederhana.

Allah sudah mengetahui isi hati kita, bahkan sebelum kita mampu mengatakannya. Jadi, kita juga tidak perlu mencari cara berdoa yang sempurna untuk mulai bercerita kepada Allah.

Cobalah bicara kepada Allah seperti seseorang yang sedang benar-benar membutuhkan tempat untuk pulang. Kepada Allah, kita bisa menceritakan apa saja yang sedang kita rasakan.

Ceritakan saja apa yang membuat kita takut atau kecewa. Katakan saja bahwa mungkin kamu sedang merasa iri, marah, lelah, takut gagal, takut kehilangan, atau bahkan tidak tahu harus melakukan apa.

Kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Allah karena curhat kepada Allah adalah tentang kejujuran. Kita datang kepada-Nya dengan membawa diri kita apa adanya, termasuk ketika sedang lemah atau bahkan sedang merasa sangat kuat dan hebat.

Setelah menceritakan semuanya, kita bisa melanjutkannya dengan doa. Meminta apa yang kita butuhkan, memohon petunjuk ketika merasa bingung, meminta kekuatan ketika lelah, juga memohon agar hati kita tetap dijaga.

Mengenal Asmaul Husna Sebagai Salah Satu Cara Deep Talk dengan Allah

Biasanya kita hanya mau menceritakan masalah hidup kita kepada orang yang kita kenal dan kita percaya. Begitu juga saat kita ingin bercerita kepada Allah. Meski Allah tahu segalanya, kita tetap perlu belajar mengenal siapa yang sedang kita datangi dalam doa agar kita bisa merasa nyaman saat menceritakan semua yang kita rasakan.

Dan Asmaul Husna adalah salah satu jalan paling sederhana untuk mengenal Allah lebih dekat.

Saat merasa tidak punya apa-apa, misalnya, kita bisa mengingat Al-Ghaniyy, Yang Maha Kaya. Saat sedang kehilangan arah dan tidak tahu keputusan apa yang harus diambil, kita bisa mengingat Al-Hadi, Yang Maha Memberi Petunjuk. Saat merasa terlalu banyak melakukan kesalahan, kita bisa mengingat Al-Ghafur, Yang Maha Pengampun.

Dengan mengenal-Nya, doa kita tidak lagi terasa seperti monolog kosong. Justru kita sedang berbicara kepada Tuhan yang kita kenal.

Kita tahu kepada siapa kita bersandar. Kita tahu bahwa di balik nama-nama-Nya ada rahmat, pertolongan, pengampunan, petunjuk, dan kasih sayang yang selalu bisa kita harapkan.

Dan semakin kita mengenal-Nya, semakin kita tahu bagaimana cara pulang kepada-Nya.

Belajar Memahami 99 Nama Allah Bersama Gus Nadir

Kalau selama ini kita mengenal Asmaul Husna sebatas sebagai 99 nama Allah yang perlu dihafalkan, mungkin sekarang kita bisa mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.

Bagaimana jika setiap nama Allah ini justru bisa membantu kita memahami berbagai persoalan yang sedang kita hadapi?

Bagaimana jika Asmaul Husna bisa menjadi pintu untuk mengenal Allah sekaligus memahami diri sendiri?

Sudut pandang inilah yang akan kita temukan dalam buku terbaru Gus Nadir, 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah.

Berisi tafsir Asmaul Husna, tafsir buku ini akan mengajak kita melihat 99 nama Allah melalui berbagai problematika kehidupan sehari-hari.

Ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mengangkat berbagai isu kekinian, buku ini juga akan mengingatkan kita bahwa ketika hidup terasa berat, kadang kita hanya perlu mengingat kembali kepada siapa kita bisa bercerita, kepada siapa kita bisa meminta pertolongan, dan kepada siapa kita bisa pulang, yaitu Allah.

Membawa 99 Nama Allah dalam Kehidupan Sehari-Hari

Mengenal Asmaul Husna bukan hanya tentang memahami makna dari setiap maknanya, mengetahui kepada siapa kita bercerita, tapi juga menghidupkannya dalam keseharian. Hal ini juga tidak perlu dilakukan melalui hal-hal yang besar, melainkan dengan cara-cara yang sederhana.

Temukan cara lengkapnya dalam buku 99 Nama Tuhan untuk Jiwa yang Lelah yang kini sudah bisa Anda dapatkan di seluruh marketplace Bentang.

Ikuti seluruh media sosial Bentang untuk mendapatkan informasi terbaru terkait buku-buku Gus Nadir.

Cara Presentasi yang Baik dan Tetap Menarik buat Audiens

Bagaimana sih cara presentasi yang baik? Pertanyaan ini pasti sering muncul di benak Sobat Bentang, terutama buat kamu yang sering melakukan presentasi. Entah itu untuk urusan kampus, pekerjaan, atau klien. Presentasi sebenarnya bukan hanya sekadar memaparkan gagasan atau laporan, tetapi juga menceritakannya agar mudah audiens pahami.

Kali ini Bentang Pustaka sudah menyiapkan tulisan khusus yang memuat cara presentasi yang baik. Kamu dapat mempelajarinya dan mempraktikkannya saat presentasi nanti. Tak hanya itu, Bentang Pustaka juga menyediakan rekomendasi buku yang bisa jadi bahan belajarmu untuk menyusun kata-kata dalam presentasi. Seperti apa nih bukunya? Simak artikel ini sampai tuntas, ya!

Cara Presentasi yang Baik

Presentasi yang menarik bukanlah tentang seberapa banyak informasi yang kamu paparkan. Panduan cara presentasi yang baik berikut ini dapat membantumu memaksimalkan diri saat tampil di hadapan audiens. Kuncinya adalah menyiapkan bahan dan mental jauh-jauh hari. Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

1. Persiapkan Diri

Persiapan adalah setengah dari kesuksesanmu dalam presentasi. Maka, buat persiapan serapi dan sebaik mungkin sebelum presentasi. Persiapan ini meliputi menyusun materi secara sistematis, latihan berbicara dengan jelas, menyiapkan obrolan yang menarik, dan lain-lain. Yang tidak kalah penting, kamu harus memahami siapa audiensmu. Mengenal audiens dapat membantumu memilih kata atau kalimat yang lebih sesuai sehingga mereka mampu menyimak presentasi sampai akhir.

2. Beri Pembukaan yang Menarik

Bagian pembukaan itu sangat penting. Pasalnya, tertarik atau tidaknya audiens terhadap presentasimu sangat bergantung pada bagian awal ini. Kamu bisa mengawali presentasi dengan memberikan salam dan meminta audiens menjawab dengan penuh semangat. Selain itu, menggunakan teknik storytelling juga efektif kamu jadikan pembukaan. Misalnya, kamu menceritakan kisah sehari-harimu yang relevan dengan topik presentasi pada hari tersebut.

3. Cermati Komunikasi Non Verbal

Dalam presentasi, komunikasi verbal memang jadi sorotan utamanya. Namun, jangan lupakan juga peran komunikasi non verbal. Misalnya, lakukan kontak mata langsung dengan audiens. Ini ampuh membuat audiens lebih fokus ke presentasi. Kamu bisa juga mengubah mimik wajah ataupun memberikan beberapa gestur tubuh agar presentasimu tidak terkesan membosankan.

4. Siapkan Slide Menarik dan Interaktif

Desain slide yang menarik dapat membuat audiens berkonsentrasi penuh ke materi presentasi. Oleh sebab itu, pastikan slide yang kamu tampilkan benar-benar mampu menumbuhkan interaksi dengan audiens. Hindari terlalu banyak kalimat dalam slide. Taruh poin-poin penting dalam slide sehingga kamu dapat memaparkan lebih detail dengan kalimatmu sendiri.

5. Beri Jeda

Cara presentasi yang baik juga mencakup pemberian jeda sepanjang presentasi. Dalam hal ini, kamu harus peka pada gestur audiens yang mulai menunjukkan tanda kebosanan. Misalnya, mulai sering menguap, duduk tidak lagi tegap, pandangan kosong, dan lain-lain. Saat kebosanan audiens mulai muncul, beri jeda dalam presentasi untuk membangkitkan konsentrasi mereka. Kamu bisa mengisinya dengan kuis, humor, dan lain-lain.

6. Libatkan Audiens

Melibatkan audiens juga merupakan salah satu cara presentasi yang baik. Artinya, kamu tidak harus selalu mendominasi pembicaraan sepanjang presentasi. Sesekali ajak audiens berinteraksi, entah itu lewat diskusi atau pertanyaan singkat. Selain untuk menghindari rasa bosan audiens, cara ini paling efektif untuk membangun presentasi yang komunikatif. Saat audiens merasa ikut terlibat dalam bagian presentasi, mereka akan lebih bersemangat. 

Magic Words, Keajaiban Kata untuk Presentasi

Cara presentasi yang baik erat hubungannya dengan kemampuan berkata-kata atau bicara. Nah, Bentang Pustaka punya koleksi buku self development yang bisa membantu dalam menyusun presentasi. Judul bukunya adalah Magic Words, karya dari Jonah Berger. Dalam buku tersebut, sang penulis menunjukkan hasil risetnya sampai menemukan enam jenis kata yang mampu meningkatkan pengaruhmu dalam berbagai bidang.

Magic Words bukan hanya bagus untuk berlatih presentasi, tetapi mencakup aspek lainnya. Mulai dari membangun hubungan pertemanan, membujuk orang lain, meningkatkan kreativitas, dan lain-lain. Pokoknya, Sobat Bentang bisa menemukan aneka keajaiban kata dalam Magic Words ini deh!

Gimana nih, Sobat Bentang? Jadi makin penasaran ya sama buku Magic Words! Langsung saja pesan bukunya di Bentang Pustaka. Bisa lewat toko buku kesayanganmu atau bisa pula kamu beli di marketplace Bentang Pustaka. Yuk, belajar menjelajahi keajaiban kata-kata mulai dari sekarang!

menghadapi quarter life crisis

Quarter Life Crisis dengan Wejangan Puitis

menghadapi quarter life crisis

Masa quarter life crisis sering kali menjadi masa yang penuh akan nasihat yang merujuk pada ungkapan inspiratif yang memuakkan. Ketika menghadapi masa-masa ini, orang-orang mungkin mengharapkan sesuatu yang tidak melulu menggurui. Sebab, masa-masa ini kamu tidak hanya berurusan dengan diri sendiri, tetapi juga menyeimbangkan hubungan dengan sesama. Segala hal yang menggurui mungkin justru menjadi bumerang bagi mereka yang berada di posisi ini. Di masa-masa quarter life crisis, kamu mungkin membutuhkan masukan yang tidak mendoktrin atau sebuah wejangan dengan penyampaian yang tidak biasa. Tidak sedikit dari mereka yang menghadapi masa-masa berat ini mencari ketenangan dan solusi dari bacaan mereka. Almustafa karya Kahlil Gibran sangat layak menjadi rekomendasi kamu.

Wejangan yang Reflektif

Quarter life crisis bisa disebut sebagai titik lelah dan jenuh. Kamu mungkin kehilangan semangat dan mempertanyakan jati dirimu. Menghadapi momen ini, bacaan di Almustafa karya Kahlil Gibran bisa menjadi opsi untuk solusi kamu. Sebab, kisah satu ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di benakmu: perihal faktor-faktor yang kehilangan jawabannya. Almustafa menghadirkan rangkaian tema yang dimulai dari pertanyaan. Kahlil Gibran berdiri melalui tokoh utamanya, ia menjawab dengan pemaparan yang menjadi fasilitas bagi para pembacanya untuk berefleksi. Jawaban-jawaban yang tidak menohok dan menggurui.

Alasan lain kamu harus membaca Almustafa, baca di sini!

Tidak melulu perihal nasihat bermoral, karya ini sarat nasihat puitis. Seperti khas Kahlil Gibran, kalimat-kalimat di dalam prosa-puisi ini ditulis dengan keindahan yang memberimu kenyamanan saat membaca. Di setiap lembarannya, kamu akan menemui jawaban yang tetap inspiratif dan kaya akan motivasi. Refleksi dengan sesuatu yang implisit akan terdengar lebih menyenangkan daripada sesuatu yang terlalu memaksamu untuk berubah dalam waktu yang cepat. Menyenangkan dan menyamankan diri adalah yang penting di masa-masa ini

Hadapi Quarter Life Crisis dengan Ketenangan

Saat menghadapi quarter life crisis, kamu memerlukan waktu untuk meredam semua kegelisahanmu. Lingkungan dan pribadi yang tenang menjadi hal yang mendukungmu untuk melewati masa berat ini. Tidak perlu buru-buru, ambil jeda dan fasilitasi dirimu dengan asupan dan benda-benda yang membantu proses ini. Almustafa karya Kahli Gibran bisa kamu dapatkan di sini. Yuk, bekali dirimu dengan bacaan yang menenangkan dan mampu mendukungmu menghadapi masa quarter life crisis. Jangan kehilangan diri dan menjadi bahagia adalah hal yang penting. Selamat membaca!

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta

This will close in 0 seconds