Buku Apa yang (pernah) Mengubah Hidup Anda?

“Buku yang baik seharusnya … menyisakan sedikit rasa haus di akhir (cerita). Anda hidup dalam
beberapa karakter berbeda ketika membacanya,”
~William Styron, wawancara, Writers at Works, tahun 1958

Dalam sebuah wawancara bersama @radiobuku, sebuah layanan radio komunitas berbasis buku dan bacaan bergizi lainnya, saya dihadapkan pada satu pertanyaan yang cukup telak. Kalimat tanya itu saya narasikan ulang kira-kira begini: buku apa yang pertama kali membukakan jendela dunia?

Terus terang pertanyaan ini ibarat melemparkan ingatan pada sebuah buku yang ditulis oleh para raksasa dunia baca tulis dalam Bukuku Kakiku terbitan penerbit Kompas. Dalam halaman-halaman yang pepat oleh pengalaman banyak penulisnya, dan tak terhitung jumlah buku yang telah dirampungkan, untuk kali pertama saya mendapati sebuah pertanyaan yang cukup nonjok, “buku apa yang telah mengubah hidup Anda?” Saya cukup mengantisipasi pertanyaan ini, tetapi di antara buku-buku yang benar-benar mengubah seluruh semesta hidup saya, saya perlu menyebutkan dua buku; Ini Budi dan Budak Calakan (serta menjelaskan buku lainnya secara serba ringkas dalam
paragraf berikutnya).

Kedua buku ini datang bak pelita. Saya bahkan mengingatnya dengan romantisme yang begitu kuat, pada suatu sore, ditemani ibu saya yang sedang menggosok baju, saya mulai mengeja huruf demi huruf, kata demi kata, sehingga menjadi sebuah kalimat yang berarti. Sungguh, saya tidak pernah tahu hubungan erat buku ini dengan serial Si Unyil kesayangan saya yang selalu muncul saban hari minggu itu. Ternyata, pengisi gambar buku Budi dan Wati tak lain adalah Pak Raden, tokoh dalam Si Unyil, yang memiliki nama asli Drs. Suyadi, yang belum lama wafat. Seperti anak 80-an pada umumnya, kisah Pak Raden dan keluarga Budi, adalah jejak langkah kecil menuju alam raya literasi di kemudian hari. Tren lain seperti album minggu, dunia dalam berita, mungkin perlu dibahas lain waktu.

Akan halnya dengan Budak Calakan, bacaan ini datang beberapa tahun sesudah saya mulai boros uang jajan untuk digunakan menyewa buku-buku cerita. Budak Calakan adalah representasi dari kisah dengan plot linear yang membawa seorang anak dusun mengarungi kehidupan yang berhasil kelak dengan menjadi … insinyur. Ini mungkin menjelaskan mengapa sinetron Si Doel yang berhasil menjadi tukang insinyur begitu populer pada masa saya. Pada Budak Calakan saya menitipkan mimpi kanak-kanak agar esok menjadi orang berguna bagi nusa dan bangsa, terutama bagi diri sendiri. Buku ini adalah buku berbahasa Sunda, dan judulnya memiliki arti anak cerdas.

Sebenarnya ada pula beberapa jenis bacaan yang saya gemari saat itu. Komik-komik karya Ganes TH, yang paling terkenal tentu saja Si Buta dari Gua Hantu, komik Brasil berjudul Mimin, cerita bersambung Pak Djanggut di Majalah Bobo, Deni Manusia Ikan, dan tentu saja yang harus dicatat disini adalah Donal Bebek dan trio kwak-kwik-kwek. Saya bahkan secara bercanda sering kali harus mengutip paman Gober sebagai pendiri sebuah aliran filsafat ala mazhab Frankfurt, Goberian. Mereka yang senang berenang di kolam koin, melakukan tindakan berdasarkan untung-rugi (bahkan nama Untung adalah karakter asli salah satu bebek), dan terutama hanya mau untung saja, dapat dikategorikan sebagai Goberian.

Perlu saya ceritakan serba ringkas, bahwa persebaran minat baca pada medio 80-an salah satunya didukung oleh menjamurnya taman bacaan partikelir yang menggunakan sepeda sebagai kendaraan utama untuk menyapa para langganannya. Saya tidak tahu persis berapa lama sesi peminjaman dari buku ke buku, yang jelas saya senang sekali mampir ke rumah Uwak saya di daerah Nyengseret, Bandung, dekat dengan kediaman Inggit Garnasih, Istri pertama Presiden Soekarno, untuk melahap semua komik sewaan. Format komik Indonesia yang terdiri dari dua panel itu sesungguhnya telah menghidupkan imajinasi saya akan kehebatan gambar dan teks. Kedua hal ini kemudian menjadi bekal saya menapaki gairah saya di dunia baca tulis.

Namun, setelah beberapa lama, saya kira tak ada yang melebihi keunikan Tatang S. Pria asal Bandung inilah yang menyebabkan fantasi saya akan superhero berkecambah menjadi liar. Bayangkan saja, jauh sebelum Batman dan Superman adu jotos (konon pula ini hanya terjadi sejak Jokowi jadi Presiden), Tatang S. telah mencomot begitu rupa karakter-karakter pahlawan super dan menerjemahkannya secara lokal ke desa Tumaritis. Maka, berkelebatanlah Petruk dan Gareng dalam kostum-kostum gagah dengan cita rasa Tumaritis. Baru sekarang saya sadar, ide The Avengers sejujurnya sudah jauh-jauh hari dirancang Tatang S. dalam banyaknya karakter superhero yang dikumpulkan dalam komik-komiknya, termasuk Megaloman dan Robocop.

Akan tetapi, kalau ada orang yang paling bertanggung jawab dengan tumbuh-kembangnya minat saya terhadap buku ya ayah saya almarhum. Dari ayah saya belajar melahap ensiklopedi kesehatan setebal 1000 halaman yang terdiri dari 2 jilid tebal. Maka, tidak seperti anak lainnya yang menerka-nerka bagaimana bayi lahir, secara dingin dan saintifik saya memahaminya melalui ensiklopedi. Tak ada yang porno dan saru, semua begitu terang benderang seterang matahari pada tengah hari. Yang istimewa, karena letak kedua buku ini berada di atas lemari yang cukup tinggi, setiap waktu saya pasti akan menaiki lemari demi membacanya.

Saya kira saya berhutang banyak kepada harian Pikiran Rakyat, terutama bagian cerita bersambungnya yang saya tuntaskan sampai akhir. Kepada Mangle, majalah berbahasa Sunda, serta rubrik Indonesiana majalah Tempo saya mengasah kepekaan berbahasa, keasyikan bercerita dan kelucuan-kelucuan lainnya. Namun, stamina membaca terbaik tetaplah dilatih oleh “tjerita silat” karya Khu Lung yang disadur ke dalam bahasa Indonesia oleh Gan KL. Ribuan halaman saya sikat demi menyaksikan jurus-jurus mutakhir di dunia Kang-Ouw, yang selalu mengajarkan kerendahan hati akan adanya langit di atas langit. Dunia aksara ini pun rasanya tak berbatas, bersyukurlah meski
terjadi inovasi, bahasa Alay tidak pernah benar-benar menjadi populer.

@salmanfaridi