Matematika Bisa Sebabkan Psikosomatis?

Pernahkah kamu merasakan sakit di salah satu bagian tubuhmu, namun ketika ke dokter tidak ditemukan sakit apa pun alias baik-baik saja? Bisa jadi sakit yang kamu rasakan berasal dari mental atau emosional kamu sendiri.

Dalam dunia psikologi, hal tersebut dikenal sebagai psikosomatis. Psikosomatis dapat diartikan sederhana sebagai gangguan fisik yang disebabkan oleh psikis atau mental. Sebegitu kuatnya pengaruh pikiran sehingga mampu memengaruhi fisik seseorang.

Bagaimana Pikiran Memengaruhi Penyakit?

Seperti diketahui, pikiran dapat menyebabkan munculnya gejala atau perubahan pada fisik seseorang. Contohnya, ketika merasa takut atau cemas, bisa memunculkan tanda-tanda seperti denyut jantung menjadi cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), mual atau ingin muntah, gemetaran (tremor), berkeringat, mulut kering.

Gejala fisik tersebut disebabkan oleh meningkatnya aktivitas listrik atau impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Selain itu, pelepasan zat adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah juga bisa menyebabkan gejala fisik di atas.

Hingga kini, bagaimana persisnya pikiran bisa menyebabkan gejala tertentu dan memengaruhi penyakit fisik, seperti ruam kulit atau darah tinggi, belum diketahui dengan jelas. Impuls saraf yang arahnya menuju bagian-bagian tubuh atau otak, diduga dapat memengaruhi sel-sel tertentu dalam sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan timbulnya gejala penyakit. Tapi keseluruhan dalam hal ini masih belum dipahami secara benar.

Psikosomatis: Teror Pelajaran Matematika

Matematika adalah pelajaran yang menggunakan banyak tenaga otak kiri daripada otak kanan. Banyak anak mempelajari matematika membutuhkan waktu yang panjang dan tenaga yang lebih untuk sekadar paham dan mengerti. Karena itu, ketika otak dipaksa untuk bekerja lebih dari normal, pikiran menjadi stres.

Akibatnya banyak siswa yang mengidap psikosomatis. Solusi dan cara untuk mencegahnya tergantung pada gurunya. Guru yang lebih tahu kondisi anak didiknya. Seberapa kadar anak didik dapat menerima materi yang menurutnya mampu dan keberatan.

Sebagaimana yang dikisahkan dalam novel Guru Aini karya Andrea Hirata, Pak Cik mengisahkan Bu Desi yang sabar dan perhatian kepada anak didiknya dalam mengajarkan matematika.

Terutama kepada Aini yang mengidap psikosomatis terhadap matematika dengan menunjukkan perilaku yang aneh seperti sakit perut, mengacak-acak rambut, mulut komat kamit sampai membayangkan guru matematikanya disambar petir di siang bolong.

Duh, kasihan sekali Aini!

Peran Guru Sebagai Obat Penyembuh yang Ampuh

Dengan adanya Bu Desi yang semangat sekali menemukan cara-cara terbaru untuk mengajari Aini hingga nyaman mempelajari matematika, kita jadi mengerti bahwa peran guru tidak main-main. Guru yang betul-betul berdedikasi adalah obat paling ampuh untuk murid-murid yang takut sekali akan matematika.

Perjuangan Bu Desi, idealisme, dan trik-triknya yang bisa kita baca dalam novel Guru Aini wajib kita baca. Kenapa? Tentu agar kita lebih tahu lagi bagaimana seharusnya melawan ketakutan belajar matematika. (Rizal)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *