Keluarga sebagai Sumber Belajar bagi Anak Lewat Observational Learning

Keluarga menjadi sumber belajar anak-anak usia dini sebab di dalam rumah mereka bisa belajar apa pun, kapan pun, di mana pun, dan dengan siapa pun. Anak-anak biasanya akan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah daripada di sekolah. Situasi ini dapat dimanfaatkan oleh para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai sosial pada anak, sekaligus membentuk ikatan emosional antara anak dan orang tua. <p style="text-align: justify;">Anak-anak merupakan peniru ulung. Mereka diibaratkan seperti spons yang mampu menyerap semua hal yang mereka lihat maupun mereka dengar. Kemampuan ini tentu saja memberikan dampak positif pada fase pembelajaran anak pada usia dini. Maka tidak heran, sebagai orang dewasa, kita diminta untuk sangat berhati-hati ketika bersikap dan berperilaku di depan anak-anak. Namun di sisi lain, kita justru bisa menjadi <em>role model</em> bagi anak-anak. Ini akan menjadi keuntungan tersendiri bagi kita yang ingin melatih anak-anak untuk belajar dari segala macam hal di sekitarnya.</p>

<p style="text-align: justify;">Keluarga menjadi sumber belajar anak-anak usia dini sebab di dalam rumah mereka bisa belajar apa pun, kapan pun, di mana pun, dan dengan siapa pun. Anak-anak biasanya akan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah daripada di sekolah. Situasi ini dapat dimanfaatkan oleh para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai sosial pada anak, sekaligus membentuk ikatan emosional antara anak dan orang tua. Tidak dapat dimungkiri, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan yang utama bagi anak. Lalu, bagaimana keluarga menjadi tempat belajar yang efektif bagi anak?</p>

<p style="text-align: justify;">Pada anak-anak usia dini, mereka memiliki pikiran yang mudah menyerap informasi yang dilihat atau didengarnya. Dalam teori Montessori, hal ini disebut dengan <em>absorbent mind</em>. Anak-anak tanpa sadar akan mudah menangkap informasi dari lingkungan di sekitarnya, kemudian mempelajari semua itu dengan cepat. Dengan kemampuan anak yang demikian, langkah tepat untuk menjadikan keluarga sebagai sumber belajar adalah melalui <em>observational learning</em>. Anak-Anak bisa memperlajari hal-hal baru lewat hal yang dilakukan orang tuanya di rumah.</p>

<p style="text-align: justify;">Ada empat komponen penting dalam proses <em>observational learning</em>. Pertama, <em>attention process</em>, kegiatan meniru atau <em>modeling</em>. Anak-anak akan menaruh perhatian pada model yang akan ditiru. Kedua, <em>retention process</em>, setelah memperhatikan dan mengamati model, kemudian akan disimpan dalam bentuk simbol-simbol yang tidak hanya diperoleh melalui pengamatan visual saja, tetapi juga melalui verbalisasi. Hasil pengamatan ini biasanya akan berbentuk meniru perilaku model. Komponen ketiga adalah <em>motor reproduction</em> process, agar bisa mereproduksi tingkah laku secara tepat, peniru tadi sudah bisa memperlihatkan kemampuan-kemampuan motorik yang meliputi kekuatan fisik. Komponen terakhir adalah ulangan-penguatan dan <em>motivational processes</em>, yang bertujuan untuk mengaplikasikan tingkah laku dalam kehidupan nyata dan ini bergantung pada kemauan serta motivasi yang didapat. Proses peniruaan tingkah laku memerlukan penguatan agar memperkuat ingatan dan bisa memperlihatkan tingkah laku dari hasil meniru.</p>

<p style="text-align: justify;">Empat komponen dalam proses <em>observational learning</em> tadi sebenarnya secara tidak sadar sudah dilakukan oleh anak-anak di rumah. Para orang tua perlu memperlihatkan perilaku baik agar bisa ditiru oleh anak, bahkan diaplikasikan dalam aktivitas sehari-seharinya. Contoh sederhananya seperti ini, orang tua selesai makan segera membereskan piring, sendok, dan gelas yang telah digunakan, kemudian segera membawanya ke tempat cuci piring. Anak-anak yang melihat hal ini akan memprosesnya di dalam otak. Pada awalnya, orang tua harus meminta mereka terlebih dahulu untuk melakukan hal yang sama, tetapi jika kegiatan itu dilakukan secara berulang, anak-anak akan melakukannya dengan lebih terbiasa. Tidak heran jika ada pepatah yang mengatakan bahwa anak-anak lebih membutuhkan contoh nyata agar mereka bisa langsung meniru dan mengaplikasikannya.</p>

<p style="text-align: justify;">Dalam <a href="https://www.instagram.com/storykina/">buku anak pertama karya Maudy Ayunda berkolaborasi dengan ilustrator Kathrin Honesta</a> yang berjudul <a href="https://www.instagram.com/bentangkids/"><em>Kina and Her Fluffy Bunny</em></a> melatih anak untuk belajar dari hal-hal yang ada di sekitarnya dan menjadikan orang tua mereka sebagai <em>role model</em>. Melalui <em>observational learning</em>, anak-anak juga akan diasah untuk menjadi pribadi yang inisiatif.</p>

<p style="text-align: justify;"> </p>

<p style="text-align: justify;">Sumber gambar </p>

<p style="text-align: justify;">Parenting.dream.co.id</p>Nur Oktafia Rachmawati

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *