Buku Baru Cak Nun: Hubungan Cak Nun dengan para Anak-Cucu

Melibatkan fenomena yang terjadi di masa kini dan masa lampau, mulai dari agama, politik, budaya, sejarah, hingga kehidupan setelahnya, yang seolah-olah mengajak kita berkaca kembali, apakah Indonesia saat ini sudah tercipta sesuai dengan harapan para pendahulunya?

Setelah sukses menghasilkan karya tulis yang mampu mendobrak ilmu kehidupan kita, seperti Siapa Sebenarnya Markesot?, Kiai Hologram, Sinau Bareng Markesot, Lockdown 309 Tahun, Cak Nun kembali menetaskan karya selanjutnya yang berjudul Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar.

Berbeda dari esai-esai sebelumnya, buku tersebut menampilkan satu style  penulisan yang menggambarkan hubungan “baru” antara Cak Nun dan orang-orang atau generasi yang belakangan menempatkan Cak Nun sebagai Simbah mereka dan karena itu pula mereka memosisikan diri sebagai anak-cucu.

Beruk, Gendhon, dan Pèncèng adalah tiga nama anak cucu Simbah (yang tak lain adalah Cak Nun sendiri) yang hadir dalam buku ini. Dalam kenyataannya, tiga nama itu memanglah orang-orang yang berada dalam sebuah organisasi kemanusiaan, yang meminta Cak Nun menjadi orang tua mereka. Cak Nun menjadi tempat untuk dimintai pendapat, saran, dan nasihat tentang pelbagai yang akan mereka lakukan atau putuskan. Malahan, dalam beberapa hal atau keperluan, mereka tidak melakukan sesuatu sebelum mendapatkan izin dari Simbah mereka ini.

Hubungan yang terbangun antara anak-cucu dan Simbah ini tidak benar-benar baru. Beberapa puluh tahun sebelumnya, Cak Nun sering melakukan fungsi sosialnya dengan cara merespons pelbagai masalah yang dicurhatkan kepadanya. Pada perkembangan lebih jauh, forum-forum Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng sendiri menjadi wadah bagi anak-cucu di berbagai tempat itu bertanya, minta nasihat, dan masukan dari hal sehari-hari hingga hal-hal yang bersifat sosial, filosofis, dan teologis.

Dalam kehidupan ini, kita tahu terdapat banyak jenis relasi. Ada relasi pemerintah-rakyat, negara-warga negara, perusahaan-karyawan, parpol-konstituen, organisasi sosial-anggota, dan bentuk-bentuk relasi lainnya. Hubungan Cak Nun dan anak-cucu Maiyah di berbagai tempat adalah satu bentuk relasi yang mungkin berbeda dengan semua relasi yang ada dalam beberapa segi. Namun, satu hal sederhana yang dapat kita asakan adalah hubungan Cak Nun dan anak-cucu ini bersifat imajinatif, bukan imajiner (dalam pengertian: tidak riil/sekadar dibayangkan).

Hubungan itu tidak imajiner karena di dalamnya terdapat makna. Keberadaan Simbah atau Cak Nun memiliki “makna” bagi anak-cucu secara intelektual, sosial, termasuk spiritual. Keberadaan Cak Nun bagi mereka bersifat “transformatif”. Banyak di antara mereka yang mendapatkan “pengalaman psikologi agama”. Jangan bayangkan pengalaman psikologi agama yang dimaksud itu gimana-gimana atau serem bentuknya. Pengalaman psikologi agama yang dimaksud cukup sederhana: mereka ingin menjadi orang yang lebih baik dibanding sebelumnya. Namun, tidaklah dorongan atau transformasi seperti itu substantif dalam hidup kita? Setidaknya hidup mereka yang mengalaminya.

Alih-alih bersifat imajiner, relasi ini bersifat imajinatif karena―sekurang-kurangnya diwakili oleh buku ini―ada daya cipta yang tumbuh di dalam relasi tersebut. Daya cipta kreatif. Sebagai contoh, ketika harian Kedaulatan Rakyat meminta Cak Nun mengisi kolom koran ini secara rutin, tiba-tiba muncul nama-nama anak itu. Beruk, Gendhon, dan Pèncèng. Sebuah dunia lalu dibangun Cak Nun di situ. Obrolan berbagai hal muncul dalam suasana Simbah yang memandu dan mengasuh anak-cucunya: menarik, menyodorkan, dan membuka peluang-peluang mereka ikut berpikir mengenai hal-hal yang di luar rutinitas mereka.

Selain itu, daya imajinatif yang sama telah mendorong Cak Nun agar para anak-cucu menulis di situs web caknun.com pada kolom Menek Blimbing. Kolom ini dikhususkan bagi anak-cucu itu menceritakan pengalaman mendapatkan sesuatu dari Cak Nun sebagai Simbah dan beberapa sesepuh di komunitas Maiyah. Ada yang lain lagi, misalnya, setiap kali Sinau Bareng digelar, secara kreatif Cak Nun selalu menyiapkan daftar pertanyaan untuk para anak-cucu yang hadir. Pertanyaan-pertanyaan ini lazimnya menyangkut tema yang diusung penyelenggara Sinau Bareng dan secara metode, sesi mereka menjawab pertanyaan ini menjadi salah satu cara pembelajaran atau sinau dalam “pengajian” itu. Hal yang dapat dikatakan baru jika dilihat dari tradisi-tradisi pengajian yang selama ini telah ada.

Anak-anak cucu ini kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diberi waktu untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan Cak Nun. Setelah selesai, mereka bertugas mempresentasikan hasil diskusi di depan jamaah dan para narasumber. Setelah itu, para narasumber diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. Sering kali juga para narasumber ini mengapresiasi dengan menyiapkan hadiah. Tampaknya, metode dan suasana asyik yang tercipta dalam sesi workshop anak-cucu itu tidak lahir jika tidak terbangun relasi Simbah-anak-cucu.

Baca Juga: Proses Kreatif Cak Nun dalam Buku Lockdown 309 Tahun

Berbagai bentuk aspek kreatif lain pada sisi anak-cucu barangkali akan lebih banyak kita jumpai kalau kita mampu menyelam lebih dalam: apa saja wujud-wujud kreatif imajinatif yang telah terbentuk pada diri mereka yang tertumbuhkan oleh relasi ini. Cak Nun, sebagai Simbah, telah menunjukkan buah-buah imajinatif itu dalam beberapa contoh yang sudah disebutkan di atas. Tentu saja, telah berwujud dalam esai-esai yang sekarang berada di tangan kita semua.

Begitulah tuturan pengantar dari Helmi Mustofa terkait buku baru dari Emha Ainun Najib ini. Begitu produktif seorang Cak Nun menuangkan buah pikirannya dalam bentuk karya tulis tidak sampai mencapai berbulan-bulan lamanya.

Sahabat Bentang bisa mengintip lebih jauh isi dari buku Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar dengan mengikuti pra-pesan yang akan segera diluncurkan. Pantau terus kelanjutannya melalui laman mizanstore.com, timeline Instagram dan Twitter @bentangpustaka & @pustakacaknun.

Salam,

Anggit Pamungkas Adiputra

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *