Proses Kreatif Cak Nun dalam Buku Lockdown 309 Tahun

Pada saat pre-order, buku Lockdown 309 Tahun karya Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun berhasil terjual hingga lebih dari 1.000 eksemplar, sekaligus menandai cetak ulangnya yang kedua. Hal ini menyiratkan, jika para pembaca tak hanya menunggu bagaimana buah produktivitas dihasilkan dari seorang penulis senior sekaliber Cak Nun, tetapi mereka juga membutuhkan pandangan lebih lanjut mengenai pendapat sekaligus refleksi hidup Cak Nun, terutama mengenai kemunculan pandemi virus Corona atau Covid-19 ini.

Tulisan-tulisan Cak Nun yang dinilai menyejukkan serta menenangkan hati, diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada para pembacanya−terutama respons atas munculnya virus berukuran mikro di Indonesia sejak awal Maret itu. Meski sekali lagi, Cak Nun tak pernah menganggap dirinya dapat mengajari apa pun, sebab yang beliau inginkan hanya satu: semua dapat belajar bersama-sama, mencari jawaban bersama-sama, serta mampu mengamalkannya pula secara bersama-sama. Istilah khasnya, yaitu sinau bareng.

Maka dari itu, jika berbicara seputar proses kreatif Cak Nun dalam kepenulisan seputar virus Corona, hampir semua tulisan yang dibuat, selalu berhubungan dengan perilaku manusia, baik responsnya, akhlaknya, kedekatan kepada Tuhannya, hingga ulah-ulahnya yang sering kali menimbulkan kerusakan. Termasuk virus Corona, yang sering dimaknai oleh sebagian manusia lainnya sebagai upaya konspirasi, ataupun bocornya suatu proyek laboratorium uji di sebuah daratan jauh di sana.

Akan tetapi, terlepas dari semua itu, Cak Nun selalu mengingatkan kepada kita agar justru semakin mendekatkan diri kepada Yang Kuasa, terlebih dalam ancaman pandemi yang sejak tahun lalu belum usai. Pada akhirnya, rasa ikhtiar serta tawakallah yang mampu kita serahkan kepada Tuhan Maha Kuasa karena hanya diri-Nya-lah Pencipta serta Penghilang virus tersebut nantinya. Begini kira-kira pendapat Cak Nun seputar komposisi proses kreatifnya dalam menuliskan buku Lockdown 309 Tahun:

Semua tulisan saya di buku ini tentang segala sesuatu yang terkait Coronavirus, memakai pola pandangan dan pemetaan yang mengungkapkan keterkaitan antara virus dan kesehatan jasad, struktur kejiwaan, kekuasaan Tuhan, metode takwa dan tawakal, iman, doa, wirid, zikir, hizib, dan seluruh famili konteksnya menurut pola pandang yang saya pakai.

Maka dari itu, jika ditilik dari proses kreatif oleh Cak Nun selama puluhan tahun berkarya ini, dapat kita simpulkan bahwa salah satu hal terpenting, serta menjadi bekal dari kepenulisannya adalah riset. Riset termasuk tahap yang cukup penting karena tak hanya mengetahui seluk-beluk serta awal mula gagasan itu ada, tetapi juga memberikan semacam perbandingan atas suatu pendapat yang diutarakan.

Hal tersebut dengan mudah dapat kita amati dalam beberapa paragraf pada buku Lockdown 309 Tahun. Cak Nun selalu mengikuti kabar seputar jumlah penderita positif virus Corona setiap harinya, lalu mengikuti apa saja kebijakan terbaru pemerintah setiap harinya, mempelajari apa saja isu yang beredar semasa pandemi, hingga bagaimana sejarah wabah pada masa lampau, terutama pada zaman Rasulullah Saw. serta kepemimpinan khalifah Umar bin Khaththab setelahnya. Bisa dikatakan bahwa Cak Nun tak hanya sekadar menulis, tetapi juga melihat serta mendengar apa saja yang ada di sekitar beliau.

Selain itu, riset juga dapat mempertajam pendapat yang diutarakan. Misalnya, ketika Cak Nun membahas hikayat Ashabul Kahfi yang ditidurkan oleh Allah Swt. di dalam gua selama 309 tahun, demi terlindungi dari pemimpin kejam yang berusaha memaksa para pemuda itu untuk berpindah keyakinan.

Kisah nyata seputar Ashabul Kahfi itu akhirnya dapat digunakan oleh Cak Nun sebagai perantara atas keluh kesahnya agar dapat langsung menyadarkan kita bahwasanya kita harus meneladani kisah mereka yang nurut serta tunduk pada apa yang menjadi perintah Tuhan, yakni berlindung di dalam gua. Maka, ketika masa pandemi sedang berkecamuk seperti ini, seruan untuk tetap tinggal dan beraktivitas di rumah tak seharusnya kita acuhkan. Sebab, salah satu cara untuk memutus rantai penyebaran virus, yakni melalui pencegahan kontak antar-manusia itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa virus dapat menyebar melalui droplet, yang medianya berupa air liur serta ludah.

Pentingnya riset itulah yang kemudian menjadi kunci produktivitas Cak Nun dalam menuliskan berbagai sudut pandangnya. Selain itu, mengutamakan rasa saling mengingatkan juga menjadi perhatian Cak Nun selama ini. Terbukti dalam hampir seluruh karyanya, selalu mengingatkan kepada kita bahwa hidup ini harus selalu ditujukan kepada Tuhan, baik ketika senang, bahagia, sedih, murung, hingga susah, semua harus tetap kita kembalikan kepada Allah Swt. sebab kelak roh kita juga yang akan kembali kepada-Nya.

Hal ini menjadi nilai penting, sebab manusia seperti kita sering kali dihinggapi rasa lupa dan malas sehingga tak luput juga dalam kesalahan serta ketidakingatan kita kepada Yang Kuasa. Maka, sudah seharusnya kita bersyukur jika Tuhan memerantarakan hidayah-Nya melalui pemikiran serta tulisan-tulisan Cak Nun, yang nantinya dapat kita baca dan renungkan. Semoga Cak Nun juga selalu diberi kesehatan sehingga dapat terus produktif dalam menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas serta menggugah hati pikiran kita.

Pada akhirnya, Cak Nun sangat berharap agar Allah Swt. dapat segera mengangkat virus Corona ini−sehingga hilang dari bumi agar nantinya Jamaah Maiyah dapat bercengkerama kembali serta sinau bareng Cak Nun. Tak hanya melalui tulisan-tulisan sebagaimana saat ini, yang kemudian mendasari terbitnya buku Lockdown 309 Tahun setebal 260 halaman itu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *