Tag Archive for: emha ainun nadjib

Sinau Bareng: Rendah Hati dalam Mencari Kebenaran

 

Pada masa pandemi ini, salah satu hal yang tentunya sangat dirindukan oleh Jamaah Maiyah adalah Sinau Bareng. Setiap orang dari berbagai latar belakang berkumpul bersama. Cak Nun, bersama beberapa narasumber yang beliau undang, akan membahas suatu isu. Dan, setiap orang yang datang berkesempatan untuk bertanya atau mengemukakan gagasannya.

Sinau Bareng jika diterjemahkan secara harfiah berarti Belajar Bersama. Pemaknaan belajar di sini adalah menggali falsafah-falsafah kehidupan. Memberdayakan akal, pikiran, dan hati sehingga mampu bersikap kritis dalam melihat suatu fenomena. Kita tentu tidak tahu kapan forum Sinau Bareng yang biasa dihadiri oleh ratusan hingga ribuan orang itu akan hadir kembali. Kita tentu sudah sangat rindu untuk bersilaturahmi dan melantunkan shalawat bersama-sama.

Untuk mengobati kerinduan tersebut, Bentang Pustaka bekerja sama dengan Progress (Manajemen Cak Nun dan Kiai Kanjeng), menggelar Sinau Bareng daring yang ditayangkan di YouTube. Sinau Bareng kali ini membahas buku terbaru Cak Nun yang terbit pada Agustus, Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar. Dimoderatori oleh Helmi Mustofa, narasumber yang turut hadir dalam acara ini yaitu Iqbal Aji Daryono (esais dan pengamat media) serta Iman Budhi Santosa (Budayawan).

 

Andhap Asor (Rendah Hati) dalam Belajar

Buku terbaru Cak Nun ini menguliti fenomena pencarian kebenaran pada diri setiap insan. Menurut Iqbal, orang-orang yang datang ke Sinau Bareng pasti memiliki bekal perasaan andhap asor. Karena, jika mereka berangkat dengan kesombongan dan perasaan pasti benar, tidak mungkin menuju atmosfer belajar bersama. “Sama halnya dengan para calon mahasiswa yang datang ke Yogyakarta. Banyak orang dari luar daerah ke Yogya untuk belajar. Berarti ada niatan untuk belajar. Iklim Sinau Bareng banyak muncul di buku Mbah Nun. Simbah tidak terus memosisikan diri sebagai pihak otoriter, beliau menganggap anak cucunya juga sebagai sumber kebenaran, sebuah insight yang penuh kewaskitaan.”

Perihal rendah hati dalam mencari ilmu juga dicontohkan oleh Iqbal melalui pengalaman pribadinya. Suatu waktu, ketika masih bermukim di Melbourne, Iqbal mengajak putrinya untuk mengunjungi museum. Ketika melewati patung dinosaurus, putrinya kemudian berkata, “Pak ini bentuk dinosaurus, but it can be right, it can be wrong.” Iqbal yang tertarik dengan pernyataan itu pun bertanya lebih jauh mengapa bentuk dinosaurus itu hanya mengira-ngira. Jawabannya sungguh menarik: karena sudah tidak ada. Scientist hanya menduga-duga dari sedikit yang dia tahu lalu menyimpulkan.

Bagi Iqbal, itulah contoh paling konkret dari spirit pendidikan yang andhap anshor.  Keyakinan tak perlu dipegang terlalu erat karena pada prosesnya bisa benar atau salah.

 

Berhati-hati dalam Melangkah

Jika Iqbal menekankan pencarian kebenaran pada prinsip rendah hati dalam berilmu, Romo Iman memberi contoh lain melalui filosofi di balik pesan “hati-hati di jalan”. Pesan tersebut sesungguhnya tidak berarti berhati-hati terhadap segala hambatan di jalan. Namun, ada makna yang jauh lebih dalam. Dalam falsafah Jawa, dikenal peribahasa “Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang, dalane orang mung siji” [Tersandung di jalan yang rata, terbentur langit, (maka ingatlah) tidak hanya ada satu jalan]. Segala sesuatu yang serba mulus dan lancar terkadang menyimpan jebakan di baliknya. Jalan yang rata tetap bisa membuat kita terjatuh karena tersandung oleh kaki sendiri.

“Maka, carilah yang pener [sesuai], bukan sekadar benar,” nasihat Romo Iman. Sikap penuh hati-hati dalam mencari kebenaran juga merupakan prinsip dalam forum Sinau Bareng. Para Jamaah Maiyah diajak untuk berhati-hati dalam mengungkapkan pendapatnya. Begitu pula ketika mendengarkan pendapat orang lain. Karena bisa jadi, kebenaran itu bukanlah apa yang terbaik untuk kita, melainkan justru yang terbaik untuk sesama.

Cak Nun dan Penelusuran akan Nilai Kesadaran

 

Cak Nun memang pantas menyandang gelar “penulis yang selalu mampu melecut kesadaran pembaca”. Misalnya saja fenomena bias informasi yang marak belakangan ini. Begitu banyaknya informasi yang berseliweran saat ini tak bisa dimungkiri memang kerap membuat kita bingung. Ada begitu banyak pendapat yang saling bertentangan. Ditambah lagi kemunculan pihak-pihak yang mengeklaim keyakinannyalah yang paling benar. Lalu, bagaimana cara kita memilah informasi dan menentukan apa yang paling benar? Nilai semacam apa yang harus kita jadikan pegangan?

 

Mengenal Patrap

Cak Nun secara khusus mencermati fenomena tersebut dalam buku terbarunya, Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar. Beliau mengajak kita untuk belajar pada filosofi hidup masyarakat Yogyakarta, yaitu patrap.

Salah satu yang semakin hilang dari manusia, masyarakat, dan bangsa kita adalah kesadaran tentang patrapGemah ripah loh jinawi hanya bisa dicapai kalau proses memperjuangkannya diletakkan dan setia pada patrap-nya. Manusia Indonesia dan Yogya modern saat ini sudah sangat melimpah pengetahuannya tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan, tetapi belum disertai oleh pengelolaan patrap.

Kita sudah berproses 71 tahun menjalani pem-beradab-an bangsa. Kita sudah menanam dan membangun ilmu-ilmu, demokrasi, republik, supremasi hukum, sampai ada variabel-variabel yang mbumboni [membumbui] keadaan ini secara sangat riuh rendah. Sejak sosialisme dan kapitalisme, politik kanan dan kiri, kebudayaan timur dan barat, hingga racikan-racikan yang bikin kita kepedesen: liberalisme dan ultranya, radikalisme, fundamentalisme, ekstremisme, anarkisme, agama garis lurus, mazhab garis lengkung, politik lipatan dan strategi tikungan, serta bermacam-macam lagi.

Semua itu soal patrap. Ada yang memang memilih benere dhewe [kebenaran versinya sendiri], ada yang mengeklaim atau memanipulasi benere wong akeh [kebenaran versi banyak orang], ada yang tersingkir karena mencari bener kang sejati [kebenaran yang sejati]. Ada yang memang benar-benar bener, tapi susah banget untuk pener [sesuai] tatkala diterapkan. Karena seluruh konstruksi nilai zaman ini memang sudah semakin kehilangan patrap.

(Bab Patrap dan Atlas Nilai Yogyakarta, hal. 4)

Patrap bisa diartikan sebagai perilaku yang terukur, atau dengan kata lain perilaku yang berkesadaran. Bagi Cak Nun, masyarakat modern belakangan ini kesulitan untuk “benar-benar sadar” pada setiap tindakan maupun ucapannya. Banyak yang sekadar ikut-ikutan dan manut [menurut] tanpa mencermati kembali apakah hal tersebut sesuai bagi dirinya atau tidak. Untuk itulah kita tidak boleh berhenti mencari kebenaran dengan berpatokan pada kesadaran kita sendiri. Kesadaran bahwa kita bisa menjadi manusia yang lebih baik bagi sesama.

 

Mata yang Melihat Kebenaran

Romo Iman Budhi Santoso, budayawan, dalam “Sinau Bareng Simbah” memberikan ilustrasi menarik tentang pencarian akan nilai kesadaran ini.  “Dalam buku ini, diceritakan bahwa Simbah mengajak tiga anak masa depan ini ke lereng merapi. Mereka diminta untuk melihat secara luas dan memunculkan ide-ide yang bisa dijadikan pedoman untuk menentukan patrap. Ketiga murid ini kebingungan karena dalam kerangka sudut pandangnya belum bisa memahami apa yang disampaikan oleh Simbah,” ujarnya.

Romo Iman kemudian meminta kita semua untuk membayangkan alasan Tuhan menciptakan sepasang mata pada manusia. Ketika kita ingin melihat sesuatu secara lurus, salah satu mata harus dipicingkan. Namun, ketika dua mata sama-sama terbuka, meski tidak bisa terlihat selurus tadi, kita bisa melihat dengan lebih lebar. Artinya, setiap manusia memiliki pilihan-pilihan dalam hidupnya.

Jika kita ingin melihat persoalan dengan lebih luas, bukalah cakrawala berpikir seluas-luasnya. Terbukalah pada semua pandangan dan pahami alasan di baliknya. Sebaliknya, jika kita ingin memilih tindakan apa yang tepat bagi kita, “picingkan salah satu mata”. Pilah mana jalur yang sesuai untuk kita lalui. Dan, dengan patrap itulah, kita akan terhindarkan pada jalan yang berkelok. []

Cak Nun dan Ilmu Agama Jamaah Maiyah

Cak Nun: Berbagai Nilai Agama yang Ditegakkan Bersama Jamaah Maiyah

Cak Nun dan Jamaah Maiyah sebenarnya sama dengan masyarakat Muslim lainnya. Sama-sama saling bersinergi dengan manusia dan ciptaan-Nya pula. Namun saya perlu akui, Jamaah Maiyah memiliki sikap kedewasaan yang begitu mendalam. Saya turut senang ketika melihat berbagai perkumpulan dari berbagai wilayah berkumpul, mulai dari Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat, Padhang Mbulan, Bangbang Wetan, Gambang Syafaat, Juguran Syafaat, dan sebagainya.

Oleh karena itu, tulisan ini hadir untuk menjabarkan beberapa ilmu agama yang diterapkan dalam kehidupan. Sangat diakui jika pemikiran Jamaah Maiyah sangat merakyat dan mampu mewakili kita semua. Mari kita simak bersama.

Cak Nun: Hidup Nerimo dan Legowo

Cak Nun dan Jamaah Maiyah menanamkan sikap dalam dirinya untuk terus nerimo atau menerima diri yang sebenarnya. Setelah proses pencarian jati diri ditemukan, ketika semua usaha telah dikerahkan, yang terakhir yaitu bersikap menerima atau penerimaan diri. Tak dapat semua hal kita tolak secara mentah-mentah. Sesuatu yang telah terjadi di dalam kehidupan kita sudah menjadi takdir Allah Swt. Bahkan, jika kita beranggapan sesuatu itu buruk, belum berarti pula Allah melihatnya sebagai keburukan. Berprasangka baiklah kepada hal-hal yang telah terjadi.

Sikap yang menjadi gabungan dari penerimaan diri yaitu legowo atau ikhlas. Semua yang telah terjadi di dalam kehidupan kita, sekalipun kita telah berusaha secara maksimal, memang baiknya kita berserah diri kepada Allah Swt. Menjunjung tinggi sikap pasrah dan ikhlas setelah berjuang. Hal-hal semacam itu perlu kita terapkan bersama karena jika kita sering melakukan sebuah penyangkalan ataupun pergolakan dengan diri sendiri, justru keberkahan pun dikhawatirkan tidak maksimal.

Baca Juga: Yogyakarta dan Cak Nun dalam Buku Terbaru

Bermuhasabah Setiap Saat

Cak Nun dan Jamaah Maiyah selalu menerapkan sikap bermuhasabah atau introspeksi diri. Dalam kehidupan bersosial, wajib hukumnya untuk berkaca dari diri sendiri. Tujuannya yaitu untuk mengevaluasi segala perilaku yang telah kita perbuat di dunia dan menjadi pribadi yang mampu menempatkan posisi sesuai dengan takarannya.

Fungsi dari introspeksi diri juga berguna membenahi segala hal dalam diri kita untuk lebih bisa berbuat kebaikan demi orang lain. Nah, jadi ilmu muhasabah yang diterapkan oleh Jamaah Maiyah pada lingkungannya itu untuk diri sendiri dan juga orang lain.

Pandai Mensyukuri Nikmat Allah Swt.

Kalau kita membicarakan perihal bersyukur, pasti bahasannya sudah Sahabat Bentang pahami sendiri. Jika saya bisa memberikan pemaknaan soal bersyukur versi Jamaah Maiyah, yaitu dengan menggabungkan dari fase sikap penerimaan diri―melakukan yang yang terbaik―hingga membenahi diri. Jikalau kita telah melaksanakan poin-poin tersebut, niscaya kenikmatan yang diberikan dari Allah Swt. akan memberikan keberkahan yang besar pula tanpa kita sadari sekalipun. Hidup akan terasa ringan jika kita menjalaninya dengan penuh syukur.

Jika kita bisa mengilhami dari sebuah syukur, kita akan bisa melihat dunia seisinya dari berbagai sudut pandang. Wawasan kita akan luas. Pandangan kita lebih visioner dan tertata. Begitu dalam jika kita benar-benar bisa memahami arti bersyukur. Sangat disayangkan pula ketika ada orang yang menyalahartikan bersyukur dengan hal-hal yang tidak diterima oleh nilai-nilai agama.

Cak Nun: Masjid dan Musala Menjadi Tempat Mencari Saudara

Memang benar jika perilaku kita ada kaitannya erat dengan siapa kita bergaul dan di mana kita berada. Cak Nun dan Jamaah Maiyah selalu membicarakan terkait dengan persaudaraan kita sebisa mungkin dijaga tak hanya di dunia saja, melainkan juga di akhirat pula. Maka dari itu, sebaik-baiknya teman atau saudara, carilah yang bisa satu frekuensi atau sepemikiran dengan kita semua.

Ajak sahabat, teman, dan saudaramu itu menunaikan kebaikan-kebaikan yang dapat dijadikan amal di akhirat pula. Masjid dan musala menjadi ladangnya. Banyak orang yang mengabaikannya, sebenarnya itu hal yang salah besar. Saat ini, banyak kita jumpai bangunan masjid dan musala yang bertingkat dan memiliki ornamen yang bagus, tetapi yang datang ke masjid dan musala tersebut bisa dihitung dengan jari. Semoga kita semua bisa semakin sadar akan hal ini.

Takut Akan Sikap Takabur, Gede Rasa, dan Gede Rumongso

Cak Nun dan Jamaah Maiyah sangat menghindari sifat takabur, merasa ingin menang sendiri dan sejenisnya. Sebisa mungkin dijaga akal, pikiran, dan jiwanya ditanamkan bahwa semuanya akan kembali kepada Sang Pencipta. Bersyukur boleh, bangga hati karena memiliki juga tak dilarang, tetapi jangan sampai di dalam lubuk hati terselip sifat riya’ atau takabur. Nauzubillah.

Kalian dapat berjumpa dengan ilmu-ilmu kehidupan yang dituturkan oleh Emha Ainun Nadjib lainnya dalam buku terbarunya berjudul Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar. Ikuti masa pre-order-nya hingga 9 Agustus 2020 melalui laman Cak Nun Mencari Kebenaran atau mizanstore.com.

Salam,

Anggit Pamungkas Adiputra

 

Petuah Cak Nun

Petuah Jawa dari Cak Nun: Rumongso Biso atau Biso Rumongso

Petuah Jawa dari Cak Nun. Sejalan dengan peribahasa, Ojo Rumongso Biso, Nanging Biso Rumongso, yang berarti ‘jangan merasa bisa, tetapi bisa merasa’ adalah sebuah teguran agar kita jauh dari kesombongan dan kebohongan. Melakukan segala sesuatu hanya mengandalkan ego secara berlebihan, tanpa mengerjakannya dengan hati dan perasaan, terutama kejujuran, dapat membuahkan hasil yang tidak maksimal, bahkan secara tidak langsung dapat merugikan orang lain.

“Petuah: Siapa-siapa yang dianggap benar sehingga dia ‘pro’ maka disimpulkan benar 100%, sedangkan yang salah pasti salah 100%. Manusia zaman sekarang, memang senangnya ‘rumongso biso’ bukannya ‘biso rumongso.’” ―Emha Ainun Nadjib

Merasa bisa dapat dianggap sebagai suatu sikap yang gegabah, apalagi merasa bisa berkonotasi belum tentu bisa. Bahkan, yang lebih bahaya lagi apabila merasa belum bisa, tetapi mengaku bisa. Tentu saja hal ini juga menyangkut sebuah kebohongan. Berikut petuah dari Cak Nun.

Petuah Cak Nun

Petuah Jawa dari Cak Nun. Sejalan dengan peribahasa, Ojo Rumongso Biso, Nanging Biso Rumongso, yang berarti ‘jangan merasa bisa, tetapi bisa merasa’ adalah sebuah teguran agar kita jauh dari kesombongan dan kebohongan. Melakukan segala sesuatu hanya mengandalkan ego secara berlebihan, tanpa mengerjakannya dengan hati dan perasaan, terutama kejujuran, dapat membuahkan hasil yang tidak maksimal, bahkan secara tidak langsung dapat merugikan orang lain.

Indonesia Tidak Belajar kepada Yogya

Dalam salah satu judul bab yang ada di dalam buku terbaru Cak Nun, terdapat bahasan materi yang berjudul Indonesia Tidak Belajar kepada Yogya. Di dalamnya, terdapat percakapan antara Simbah dan anak-cucunya yang membahas persoalan sikap manusia zaman kini.

Tiba-tiba, Beruk menyeletuk, bahwa orang sekarang cenderung merasa lebih hebat daripada orang dulu. Masyarakat sekarang merasa lebih maju daripada masyarakat dulu. Peradaban manusia sekarang diam-diam memastikan di dalam dirinya bahwa mereka lebih pandai daripada manusia zaman dulu.

Parameter landasan rasa lebih hebat itu terutama sekolah, teknologi, dan gebyar hedonism materialistis mereka. Ini suatu tema luas dan rentang pembicaraannya sangat panjang, serta complicated mozaik konteksnya. Beruk bilang tidak ingin berdebat soal ini, terutama karena setiap orang yang berdebat di dunia modern hampir selalu hadir dengan parameter subjektifnya.

Orang Zaman Sekarang

Orang zaman sekarang tidak merasa perlu belajar, kecuali hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan nafsu dan kemewahan hidup mereka. Tidak punya kemampuan untuk berdialog dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa kebenaran pada setiap manusia itu bersifat relatif. Mereka tidak siap untuk “sinau bareng”. Kalau bertemu, niat mereka mempertahankan kebenaran yang dipahami, kemudian diam-diam memaksakannya kepada orang lain.

Mereka tidak punya kebiasaan untuk mencari kebenaran bersama-sama. Tidak cenderung datang dengan “biso rumongso” atau bisa merasa. Malah menanantang siapa saja di luar dirinya dengan sikap mental “rumongso biso” atau merasa bisa, merasa unggul, merasa paling benar, merasa pasti masuk surga, dan semua yang akan ditemuinya adalah para penghuni neraka. Itu pun mereka sibuk dan selalu ribut dengan menyimpulkan “apa yang benar” dan “siapa yang salah”. Siapa-siapa yang dianggap benar, sehingga dia “pro” maka disimpulkan benar 100%, sedangkan yang salah pasti salah 100%.

Baca Juga: Piweling Syukur dari Cak Nun untuk Jamaah Maiyah

Lebih parah lagi, pemenang pada setiap persaingan disimpulkan sebagai yang benar. Yang benar pasti berkuasa. Lalu, yang berkuasa pasti baik. Akhirnya, yang baik pasti tidak sedikit pun ada buruknya. Bahkan, variabelnya berkembang-kembang: yang kaya itulah yang menang, benar, baik, sukses, ditambah diridai Allah dan masuk surga. Sampai-sampai almarhum Asmuni dalam sebuah episode Srimulat berkata lantang, “Saya, kan, kaya maka saya lurah. Lurah yang kaya tidak mungkin salah, tidak mungkin buruk, tidak mungkin kalah .…”

Petuah Jawa dari Cak Nun: Gadjah Mada

Setiap kali berkunjung ke Yogya, Mahapatih (Perdana Menteri) Gadjah Mada bahkan diam-diam bergumam, “Di mana letak saya di universitas kebanggaan cucuku Yogya ini? Saya tidak menemukan diri saya dalam prinsip mereka. Tapi, saya tidak berdetak bersama jantung mereka. Juga, saya tidak mengalir di darah mereka. Dan, saya tidak merupakan tiang utama peta berpikir mereka. Kenapa sekolah ini diberi nama menggunakan nama saya? Namun, untunglah namanya bukan Ratu Shima atau Pangeran Padma sehingga tidak lebih runyam lagi harkat rohani nenek dan kakek saya itu.”

Kita ketahui sendiri―bahkan bisa jadi kita menjadi bagian―manusia-manusia zaman sekarang yang sungguh mengherankan. Gadjah Mada bodoh kalau menuntut Lembaga Gadjah Mada beserta para kaum terpelajarnya yang belajar kepadanya. Sementara itu, Indonesia didirikan dengan “didukuni” oleh Yogyakarta, ditraktir mengaji pemerintahannya pada tahun-tahun awal, dipinjami tanah, gedung, dan fasilitas-fasilitas, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa Indonesia belajar kepada Yogyakarta.

Siapa itu Indonesia?

Entah anak siapa Indonesia itu. Tiba-tiba, lahir sebagai republik, sebagai negara, bersifat kesatuan, dengan tata aturan yang tidak terkait dengan asal-usul sejarah yang melahirkannya. Tanpa pernah bertanya atau belajar kepada para leluhurnya. NKRI ini lahir dari Ibu Pertiwi, tetapi seakan-akan bapaknya bukanlah bangsa Indonesia, yang kandungan nilai sejarah selama hampir tiga milenium demikian dahsyatnya.

Sekali lagi saya tekankan, manusia memang haus akan “jatah tambahan”. Kebanyakan dari kita bukan haus akan ilmu kehidupan, melainkan haus akan fenomenal, keviralan, dan harta duniawi yang memabukkan. Rumongso biso sesungguhnya tipu daya duniawi yang sering kali melekat dalam jiwa dan pikiran manusia. Mereka seolah-olah ingin menunjukkan eksistensinya. Mereka ingin dianggap ada, dianggap merasa paling bisa.

Kebalikannya?

Kebalikannya, biso rumongso merupakan jati diri manusia yang haus akan ilmu pengetahuan di dalam kehidupan. Mereka bisa melakukannya, tetapi juga tak selalu ingin tampak. Bekerja dengan aksi, bukan hanya bualan-bualan yang dipolitisasi.

Kalian dapat berjumpa dengan ilmu-ilmu kehidupan yang dituturkan oleh Emha Ainun Nadjib dalam buku terbarunya berjudul Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar. Ikuti masa pra-pesannya melalui laman Cak Nun Mencari Kebenaran.

Terus gerilyakan segala kemampuanmu pada dunia. Buktikan bahwa aksi nyata memang ada. Kurangi angkuhmu, perkecil tamakmu, dan perbesar langkah kontribusimu. Ambisimu terlalu berharga untuk direndahkan, tetapi jangan pula untuk meninggikan tanpa tahu batasan.

Salam,

Anggit Pamungkas Adiputra

Intensitas Emha Ainun Nadjib Mentadaburi Al-Quran

Sinau Bareng Markesot

Tadabur Al-Quran bersama Cak Nun (Sumber: www.caknun.com)

Sinau Bareng Markesot merupakan karya mutakhir Emha Ainun Nadjib yang seolah tak berhenti menulis dan menerbitkan buku baru tiap tahunnya. Pemahamannya tentang Al-Quran dipadukan dengan kemampuan membaca fenomena budaya, seni, politik, sosial, dan ekonomi merupakan bahan bakar bagi Emha menulis. Setelah beberapa bulan yang lalu ia menelurkan dua serial Markesot, Markesot Belajar Ngaji dan Siapa Sebenarnya Markesot?, sementara itu, tanggal 10-18 November 2019 buku Sinau Bareng Markesot dijadwalkan terbit untuk melengkapi trilogi tersebut. 

Sinau Bareng Markesot merupakan buku yang berisi tentang penafsiran ayat Al-Quran yang punya dimensi kontekstual di tiap esai-esai yang ditulisnya. Buku yang terdiri dari lima bagian ini ditopang oleh 113 esai dengan topik yang luas. Tak hanya soal agama, di dalamnya memuat tafsiran Mbah Sot–sapaan akrab Markesot, tokoh sentral dalam buku ini–tentang kepemimpinan, pendidikan, budaya, Pancasila, dan kemanusiaan.  Lewat esai pendeknya, para pembaca akan dibuat terpesona oleh gaya kepenulisan Emha yang artikulatif, blak-blakan, dan mudah dimengerti. Seolah, tafsir ayat Al-Quran menjadi begitu menyenangkan tanpa harus repot-repot mengerutkan kening.

Memperkenalkan Metode Tadabur

Berbeda dari dua Serial Markesot sebelumnya, Sinau Bareng Markesot lebih berfokus pada metode tadabur. Menurut Emha, “tadabur adalah proses yang sangat berdimensi moral dan spiritual, lebih dari sekadar intelektual.” Ia melanjutkan, “tadabur menyaratkan bahwa kesudahannya lebih berkecenderungan terhadap Allah. Misalnya menjadi lebih dekat, lebih beriman, meningkat akhlaqul-karimah-nya, lebih baik hidupnya, lebih saleh perilakunya”. Sebagai sebuah proses pendalaman dan tadabur kepada Al-Quran, hal-hal disajikan dalam Sinau Bareng Markesot ini memperkaya wawasan kita mengenai upaya memahami Al-Quran, yang tak semata-mata terwakili oleh metode-metode akademis yang dikenal sebagai Ulumul Quran. Buku ini seolah menjadi oase bagi kita untuk memperkaya, memperindah, dan menunjukkan betapa banyaknya celah tadabur yang belum kita masuki.

Pernyataan ini diperkuat oleh pandangan Helmi Mustofa, Progres (Sekretariat Cak Nun dan KiaiKanjeng), yang mengatakan bahwa “sampai saat ini, tidak terlalu sulit untuk menyadari dan merasakan bahwa pada semua forum yang Cak Nun ampu dan inisiasi—baik yang regular di sejumlah kota maupun Sinau Bareng atas undangan berbagai pihak dan segmen masyarakat—Al-Quran dan Al-Hadis senantiasa merupakan foundational text.” Menurut Helmi, “Kemampuan dan terutama kekhasan yang saya maksud, bagi saya pribadi, hanya bisa lahir dari (sekaligus menggambarkan) suatu kedekatan yang sangat intens pada diri Cak Nun terhadap Al-Quran.”

Barangkali intensitasnya dengan Al-Quran inilah yang menjadikan Emha sebagai sosok spesial di masyarakat, terkhusus di lingkaran Maiyah. Tokoh yang lahir di Jombang, 27 Mei 1957 ini seolah tak henti-henti menimbulkan kesan kagum ketika melihat dan membaca karya-karyanya. Bagi Bentang Pustaka sendiri, sosok Emha adalah guru dan teman belajar yang menyenangkan. Tidak kurang 25 judul buku yang lahir dari kerja sama konstruktif antara pihak Emha, Sekretariat Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan Bentang Pustaka. Sebuah pengalaman panjang yang penuh dinamika dan dilandasi oleh rekatnya persahabatan.

Sinau Bareng Markesot Karya Mbah Nun

Sinau Bareng Markesot merupakan karya teranyar dari Emha Ainun Nadjib. Dalam buku terbarunya, kita diajak untuk memadukan pemahaman tentang Al-Quran dengan kemampuan membaca fenomena budaya, seni, politik, sosial, dan ekonomi. Dengan cara tersebut, nantinya kita dapat menemukan ruang-ruang tadabur yang belum pernah dimasuki dalam mentadaburi Al-Quran. Lewat buku Sinau Bareng Marekesot, pembaca akan disuguhkan oleh 113 esai dengan berbagai topik pembahasan yang luas. Tak hanya soal agama, di dalamnya memuat tafsiran tentang kepemimpinan, pendidikan, budaya, Pancasila, dan kemanusiaan.

Pembaca akan menyadari bahwa dirinya seolah sedang tersihir ketika menyelesaikan halaman terakhir buku ini. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh gaya kepenulisan Emha yang artikulatif, blak-blakan, dan mudah dimengerti. Kita seolah dibuat ketagihan untuk membaca lembar demi lembar isi buku tersebut. Dengan demikian, pengalaman tafsir ayat Al-Quran menjadi begitu menyenangkan karena kita seolah diajak berkeliling ke dalam horizon pemaknaan Emha atas Al-Quran yang luas.

Berbeda dari dua Serial Markesot sebelumnya (Markesot Belajar Ngaji dan Siapa Sebenarnya Markesot?), buku ini lebih berfokus pada metode tadabur. Bagi Emha, “tadabur adalah proses yang sangat berdimensi moral dan spiritual, lebih dari sekadar intelektual.” Ia melanjutkan, “Tadabur menyaratkan bahwa kesudahannya lebih berkecenderungan terhadap Allah. Misalnya menjadi lebih dekat, lebih beriman, meningkat akhlaqul-karimah-nya, lebih baik hidupnya, lebih saleh perilakunya.” Sebagai sebuah proses pendalaman dan tadabur kepada Al-Quran, hal-hal yang disajikan dalam Sinau Bareng Markesot ini memperkaya wawasan kita mengenai upaya memahami Al-Quran, yang tak semata-mata terwakili oleh metode-metode akademis yang dikenal sebagai Ulumul Quran. Buku ini seolah menjadi oase bagi kita untuk memperkaya, memperindah, dan menunjukkan betapa banyaknya celah tadabur yang belum kita masuki.

Special order buku Sinau Bareng Markesot dapat dipesan mulai tanggal, 10-18 November 2019. Harga buku khusus untuk program special order ini adalah Rp84.150,00.

Keuntungan mengikuti special order:

  • Mendapatkan surat ekslusif bertanda tangan Emha Ainun Nadjib
  • Diskon 15% dari harga asli Rp99.000,00 menjadi Rp84.150,00

Klik pada toko di bawah ini

  1. Kamarbuku – 0857-1526-5323 – Jakarta
  2. @ruangbacabuku_id – 081227797125 – Yogyakarta
  3. Khoirurroziqin – 08563121229 – Surabaya
  4. Penjarabuku – 082133748678 – Semarang
  5. Sorabook.id – 085281703631 – Jakarta Selatan
  6. @lagijualbuku  – 081319960934 – Cilegon dan BSD
  7. Omah Buku RN – 089656173671 – Surabaya
  8. Marimocobuku – 087862026148 – Mojokerto
  9. Pian – 087758345727 – Ponorogo
  10. Gundam Core Shop – 081237872001 – Sleman
  11. FBM – 081585748193 – Bekasi
  12. Zbookslacoffee – 085697360226 – Jakarta
  13. Lapak Naqi – 085804875314 – Malang
  14. RencaNgaos – 082337793320 – Surabaya
  15. Aldrinjava – 081216850048 – Mojokerto
  16. Buku Buku Laris (Shopee)
  17. Bukku.id
  18. Bookishtorage (Shopee)
  19. Preloved Book Bandung (Shopee)
  20. Bukabuku.com
  21. Mizanstore.com
  22. Klasikabookstore
  23. Republikfiksi
  24. Alifia Bookstore
  25. Bukukita.com
  26. ParcelBuku.net
  27. Bukuwanita (Tokopedia)
  28. Novely Young (Tokopedia)
  29. Gramedia.com
  30. Wasurjaya (Tokopedia)
  31. Toko Nubu (Shopee)

(Afina)

Siapa Sebenarnya Markesot

Pre-Sale Siapa Sebenarnya Markesot?

Siapa Sebenarnya Markesot? adalah karya terbaru Emha Ainun Nadjib terbitan Bentang Pustaka. Mulai tanggal 1 hingga 6 Agustus 2019, Bentang Pustaka bersama Reading Partner mengadakan program Special Order.

Setiap pembelian 1 buku Siapa Sebenarnya Markesot? melalui kanal penjualan di bawah ini, kamu akan mendapatkan Kartu Ucapan Cak Nun untuk Anak Cucu. Kartu ucapan ini merupakan tulisan tangan Cak Nun dan ditanda tangani.

Harga spesial, Rp58.650,00.

Stok buku dan kartu ucapan terbatas!

Sila pilih dan hubungi Reading Partner di bawah ini.

  1. Mizanstore – mizanstore.com – Tangerang Selatan
  2. KamarBuku – 0857-1526-5323 – Jakarta
  3. MariMocoBuku – 0878-6202-6148 – Mojokerto Jatim
  4. Pustaka Syatibi – 085701114177 – Grobogan Jateng
  5. Penjarabuku – 082133748678 – Semarang
  6. RuangBaca – 082225698938 – Purworejo
  7. Gubuk Buku – 085871691165 – Yogyakarta
  8. Bukubu – 081232977446 – Mojokerto
  9. Waroeng Buku Sastra – 0895 2017 2908 – Tangerang
  10. @Lagijualbuku – 081319960934 – Cilegon
  11. Samudra Reading Partner – 087758345727 – Ponorogo
  12. Kupkupbuku – 082126981310 – Bandung
  13. Gundam Core Shop – 081237872001 – Sleman
  14. Omah Buku RN – 089656173671 – Surabaya
  15. Marketing BukuKita
  16. Bukabuku.com
  17. Bukubuku Laris
  18. Grobmart.com
  19. Demabuku
  20. Alifiabookstore
  21. Klasika Bookstore
  22. Gramedia.com
  23. Bookish Storage
  24. Preloved Book Bandung
  25. Sertaserbi Buku
  26. Bukku.id
Emha Ainun Nadjib

Di Balik Pembuatan Buku Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib

Bagaimana proses kreatif menulis buku tersebut?

Awalnya saya sekadar ikut berpartisipasi dalam meramaikan tawaran dari manajemen progress EAN untuk program voluntary & riset  tulisan tentang Emha Ainun Nadjib. Dalam bayangan saya, bersama banyak peserta lainnya yang ikut nantinya akan tersusun semacam bunga rampai mengenai “potret Emha Ainun Nadjib dari berbagai latar belakang disiplin ilmu”.

Ketika itu, saya hanya menyumbangkan 12 halaman tulisan saja, yang saya beri judul “Cak Nun dan Kesehatan”. Ternyata menurut Progress, tulisan tersebut unik. Mas Helmi Mustofa dari sekretariat Progress kemudian berusaha meyakinkan saya untuk mencoba membuat lebih agar karya ini bisa dijadikan buku tersendiri.

Sejujurnya, pada awalnya dengan rasa serba kurang serta rasa sungkan untuk menelusuri kehidupan tokoh sebesar Emha Ainun Nadjib, saya butuh waktu sebelum akhirnya mengambil langkah bismillah mencobanya. Dan perlahan-lahan secara intensif selama 3 tahun dan atas dukungan banyak pihak,  jadilah buku ini Cinta, Kesehatan & Munajat Emha Ainun Nadjib dalam 365 halaman. Alhamdulillah.

Apakah (buku) ini menggambarkan tentang Cak Nun?

Perlu saya menegaskan lebih dulu bahwa buku ini “bukan upaya untuk mempelajari” Cak Nun, melainkan justru “belajar dari” seorang Emha Ainun Nadjib. Mempelajari Cak Nun itu absurd, mengutip perkataan Ashadi Siregar, “Emha adalah individu yang telah bermetamorfosis menjadi institusi”. Cak Nun adalah “manusia ruang”!

Saya tidak akan mampu membingkai “ruang”. Yang mungkin saya potret hanyalah salah satu diantara sudutnya. Posisi saya sebagai dokter membuat saya melihatnya lewat jendela medis. Ilmu kedokteran adalah titik orbit pijakan bagi saya dalam menuliskan karya-karya saya.

Apakah (buku) ini menjelaskan aktivitas keseharian Cak Nun; dalam menemani jamaah maiyah?

Belajar pada Emha Ainun Nadjib tentu tidak akan lengkap, jika tidak membahas maiyah. Ada bab bahasan tersendiri tentang maiyah di buku ini. Di samping itu, maiyah —meskipun Cak Nun mengatakan maiyah bukan karyanya, bukan ajarannya, bukan prestasinya, melainkan “software” hadiah dari Allah. Namun tidak dapat dipungkiri, Cak Nun-lah yang menjadi salah satu perintis maiyah dan berperan sebagai guru utama di forum itu.

Konfigurasi maiyah dalam perjalanannya berkembang menjadi wahana pertemuan “yang mirip dengan pribadi Emha” yang juga bermetamorfosis menjadi “ruang”. Maiyah sebagai majelis ilmu yang hadir begitu cair, luwes, luas, dalam, rileks, & nyaris tanpa struktur baku.

Di sana tidak ada formasi absolut antara mursyid dan murid, atau dosen dan mahasiswa sebagaimana di dunia pendidikan konservatif. Tidak pula ada imam dan jamaah, atau kiai dan santri sebagaimana di pesantren konvensional. Di maiyah, tidak ada yang mutlak menjadi guru atau murid. Semua orang adalah pembelajar, para murid yang menghendaki cahaya pengetahuan.  Emha Ainun Nadjib menyebutkan, sejatinya maiyah merupakan dinamika tafsir tanpa ujung, tak terlalu penting untuk didefinisikan secara baku.

Namun, bila dicermati lebih jauh, apa yang kemudian tumbuh berkembang dalam maiyah memang sukar disebutkan bahwa maiyah ini sebagai “karya manusia”. Tampaknya “logis” untuk mengatakan bahwa tidak ada orang yang mampu menghimpun ribuan hingga puluhan ribu manusia secara gratis, dengan durasi perlangsungan acara selama 7-8 jam secara konsisten setiap minggunya selama bertahun-tahun (sudah lebih dari 2 dekade). Perlu intervensi luar biasa untuk bisa melangsungkan hal seperti itu.

 

Inspirasi apa yang mau disampaikan dari buku ini pada pembaca?

Core-nya soal kesehatan. Secara umum, bila kita menelusuri wacana-wacana populer tentang bagaimana hidup sehat, biasanya pusat perhatiannya cenderung difokuskan pada soal “makanan dan olahraga”. Sebenarnya faktor yang berkontribusi terhadap bangunan kesehatan manusia begitu kompleks.

Ada sekian faktor-faktor non-material yang mempengaruhi manusia dan sangat berimbas terhadap kesehatannya yang mungkin jarang kita bahas. Pengaruh pikiran yang jujur, pandangan yang positif, keseimbangan gaya hidup, keberadaan komunitas yang saling mendukung. Selain itu juga kegembiraan canda tawa, kebaikan budi pekerti, jiwa yang optimistis, cinta, ketulusan. Dan, yang terpenting dari semua itu: kepatuhan tanpa syarat pada kehendak Ilahi. Kesehatan hadir dari keseimbangan hidup dalam ketepatan berpikir, hati yang tenteram dan kebahagiaan kehidupan spiritual.

Sementara itu, juga ada sejumlah variabel negatif non-material (seperti trauma, kekecewaan, depresi, kesepian, perasaan tidak berharga, dan emosi negatif lainnya). Hal-hal itu mengendap di sungai jiwa, lalu suatu ketika muncul ke permukaan dan dibaca sebagai suatu penyakit.

Dengan artikulasi medis dan referensi dasar teori dari ilmu-ilmu medis. saya mencoba menggali hal-hal yang non material tersebut. Suatu nilai-nilai yang sesungguhnya berlimpah ditemukan di maiyah.

Bicara sehat dan sakit, pesan terpentingnya juga soal pemaknaan yang tepat pada keduanya. Sehat belum tentu positif selalu, sakitpun bisa jadi justru punya sisi positif dari pemaknaan spiritual yg tepat.

Adakah (di buku ini dibahas) tutorial semacam olah raga fisik yang dilakukan Cak Nun?

Tidak ada.

Emha Ainun Nadjib tidak memiliki olah raga khusus (gak sempat juga ya saya rasa 😊). Kesibukan dan aktivitasnya yang padat sebenarnya sudah bernilai olahraga. Setiap minggu, ia rutin bertemu ribuan hingga puluhan ribu anak-anak negeri secara face to face. Rata-rata 10-15 kali dalam sebulan ia berkeliling ke berbagai wilayah Nusantara bersilaturahmi menjajakan peseduluran, cinta dan cahaya ilmu.

Apakah Emha Ainun Nadjib menggunakan ramuan tradisional (untuk merawat stamina fisiknya)?

Sepenelusuran saya tidak.

Jikapun “ada suplementasi yang ia yakini”, adalah : “La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim”. Tak ada kuasa dan daya, tak ada otoritas dan energi. Kecuali pada, di, dalam dan bersama Allah yang Maha me-ninggi-i dan mem-besar-i segala sesuatu.

Bagaimana memesan special-order buku ini?

Special order terbatas hanya akan berlaku tanggal 18 Juni hingga 1 Juli 2019. Menurut info penerbit Bentang Pustaka, akan ada diskon harga sebesar 15 %. Ditambah bonus undian berupa ekstra buku serial pustaka Cak Nun, pulsa senilai 600 ribu, kaos sinau bareng dan post card Emha Ainun Nadjib untuk 5 orang.

Bisa menghubungi WA/sms 081578600923, atau lihat infonya di mizanstore.com atau toko lainnya atau IG pustakacaknun.com

(Tanya jawab live bersama penulis dilakukan oleh Irfan dari Bentang Pustaka di radio MQ-Yogya 92,3 FM pada 16 Juni 2019. Tulisan ini dibuat untuk melengkapi wawancara tersebut, khususnya tema pertanyaan terkait medis).

cinta kesehatan munajat

Special Order Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib

Special order Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib, karya terbaru dr. Ade Hashman

Dengan mengikuti special order ini, kamu berkesempatan mendapatkan hadiah undian:

  1. Diskon lebih banyak
  2. Kaus Sinau Bareng untuk 12 orang
  3. Pulsa senilai total Rp700.000,00 untuk 9 orang
  4. Ekstra buku Serial Pustaka Cak Nun pilihan Bentang Pustaka untuk 7 orang
  5. Postcard Emha Ainun Nadjib untuk 5 orang

Hadiah undian bakal diundi setiap hari selama masa special order, 18 Juni – 01 Juli 2019.

Kamu bisa mengikuti special order Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib dengan memilih daftar toko buku online atau reseller di bawah ini.

Langsung klik toko buku di bawah ini, ya.

  1. Mizanstore.com
  2. BukuKita
  3. Alifiabookstore (WhatsApp)
  4. Bukabuku.com
  5. Bukubuku Laris
  6. Buku Wanita (Shopee)
  7. Lini Buku
  8. Bookish Storage – Yogyakarta
  9. Kamar Buku – Jakarta
  10. Wassurjaya
  11. Klasika Bookstore (WhatsApp)
  12. Demabuku
  13. Katalis Books (WhatsApp)
  14. Semesta Kata – Balikpapan
  15. Preloved Book Bandung
  16. Abdul Syukur – Bekasi
  17. Pandhu Panutun – Sukoharjo
  18. Alpian Dwi Samudra – Ponorogo
  19. Nulis Buku – Jakarta Selatan
  20. Siswanto – Mojokerto
  21. Penjara Buku – Semarang
  22. Lathifah Husna Marwah – Aceh
  23. Imam Nasir – Tangerang
  24. Faqih Ramdhani Almubarroq – Bekasi
  25. Hendi Setyawan – Jakarta
  26. Alfiyatun Rokhmah
  27. Toko Nubu
  28. Panthelopedia – Wonosobo
  29. Parist Book Store – Kudus
  30. Republikfiksi
  31. Serba Serbi – Jakarta
puasa menurut bahasa

Orang Berpuasa atau Manusia Puasa

Puasa adalah sebuah istilah yang kita pinjam dari bahasa Sanksekerta, yakni “Upavasa”. Kata “Upa” berarti dekat dan “vas” berarti hidup. Penggabungan dua kata tersebut memiliki makna yang lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, konon menurut para Resi dan Biksu, kata “upavasa” berarti hidup yang terbiasa dekat dengan Sang Pencipta melalui doa dan berpegang teguh dalam hal tersebut. Kalangan spiritualis dulu berpandangan, aktivitas yang menyenangkan fisik jasmani seperti makan, minum serta berhubungan badan sangat bersifat duniawi sehingga dipercaya cenderung menjauhkan atau melupakan kehadiran Sang Pencipta.

Dipergunakannya istilah “Puasa” dalam bahasa Indonesia (bukan Shiyam atauShoum), seperti populernya istilah “sembahyang” ketimbang sholat, menggambarkan bahwa beberapa unsur peradaban nusantara masa lalu masih diterima dalam kosakata kita, negeri yang jumlah umat Islamnya mayoritas. Penggunaan istilah puasa ini juga menjadi bukti bahwa laku berpantang makan minum ini telah berjalan jauh sebelum syariat Shiyam Ramadlan diturunkan kepada Rasulullah saw. Qur`an menegaskan …”diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”…(QS 2:183).

Adapun istilah orisinal yang diperkenalkan Qur`an dalam konteks berpuasa adalah Shiyam dan Shoum. Keduanya dari segi bahasa bermakna “menahan”, namun bila dielaborasi lebih jauh nuansa kedua istilah itu tidaklah identik persis. Shiyam adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan seks karena Allah sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Shiyam merupakan aturan administratif ibadah yang harus dijalani selama bulan Ramadlan. Sedangkan istilah Shoum digunakan Qur`an dalam konteks lain. Dalam Qur`an surat Maryam ayat 26, Ibunda Nabi Isa a.s dipesankan Allah untuk melakukan shoum, yakni menahan diri dengan tidak berbicara kepada kaumnya ketika putranya lahir tanpa ayah. Di ayat tersebut kata ‘shoum’ bahkan tidak terkait dengan larangan makan dan minum, karena pada awal ayatnya justru memerintahkan Maryam untuk makan dan minum. Secara bebas, shoum berarti menahan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya berhak dilakukan.

Menariknya, ketika hendak memulai puasa, lafaz ikrar do’a memulai puasa yang populer menggunakan istilah Shoum, itu berarti antara ritual shiyam dan nilai shoum keduanya harus berjalan bersama-sama saling komplementer. Shiyam harus berkonten Shoum. Shiyam tanpa nilai shoum adalah praktik puasa yang muspra. Sebuah hadits Nabi, dikatakan ”Betapa banyak orang yang melakukan SHIYAM namun yang didapatnya hanyalah rasa lapar dan dahaga saja”. Dalam kesempatan lainnya misalnya Nabi mengatakan “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” Bila shiyam kita jalani selama 29 atau 30 hari di bulan Ramadlan, maka Shoumhendaknya menjadi ahklak yang dapat dijalankan sepanjang masa hidup kita. Shoum berkaitan dengan kecerdasan mental dalam mengendalikan diri.

Dalam term biologi, manusia digolongkan sebagai mahkluk omnivora: bisa makan apa saja. Meski dapat mengkonsumsi apa saja, kita membatasi diri dalam mengkonsumsi jumlah dan jenis suatu makanan, itulah shoum. Kita bisa ngomong apapun, bisa berbicara sebebas-bebasnya, tapi kita mengendalikan diri untuk lebih memilih mengatakan hal-hal yang baik-baik saja dan yang bermanfaat saja, itulah nilai shoum. Bahwa hidup tidak dijalani berdasarkan kebebasan ekstrem dan memperturuti selera saja, tapi membuat batasan-batasan yang baik dan wajar yang harusnya dijalani. Dalam kurikulum Maiyah diajarkan, hidup bukan melulu soal senang tak senang, suka tidak suka, tapi yang terpenting adalah baik atau tidak, benar apa salah.

Mengendalikan Vs Melampiaskan

Dalam suatu acara Maiyah kurang lebihnya Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa: “ibadah puasa pada hakikatnya merupakan aturan yang sangat dibutuhkan manusia, tapi aslinya tidak disukai manusia”. Tidak enak itu rasanya menahan lapar, tidak mudah itu menahan dahaga, tidak enak pula kenapa harus diatur-atur bergaul dengan pasangan yang sah, kenapa harus bersahur bangun dini hari, kenapa harus ada batasan-batasan, pengekangan, pagar dan rambu-rambu? Lebih tepatnya, praktik berpuasa itu aslinya tidak disukai oleh kecenderungan syahwat manusia. Diwajibkan puasa Ramadlan itu telah menjelaskan bahwa metode ini pada dasarnya tidak kompatibel dengan syahwat, keinginan daan nafsu. Bila memang secara default sesuatu itu disenangi, maka tanpa disuruh-suruh atau diwajib-wajibkanpun akan dijalani manusia secara suka rela. Buat manusia, “mengendalikan diri jauh lebih sulit ketimbang melampiaskan keinginan” Argument-argumen dari hikayat genealogis, fakta fisiologis, kecendrungan psikologis akan mendukung pandangan ini.

Sejak bayi, anak manusia sudah terbiasa melampiaskan apa yang ia inginkan. Bila ingin makan dan minum anak bayi akan menangis menuntut dipenuhi segera keinginannya secara instant. Dan bayi memang berhak atas itu. Bila sang bayi akan buang hajat, ia akan lakukan kapan saja dimanapun saja, tanpa perlu minta izin. Beranjak kanak-kanak, keinginan itupun semakin berkembang. Lihatlah bagaimana seorang anak akan “setengah memaksa” atau bila perlu merajuk, merengek untuk dibelikan sesuatu yang ia sukai walau sebenarnya tidak ia butuhkan. Orangtua yang memiliki konsep parenting dalam mendidik anak, tentu tidak akan pernah memenuhi segala keinginan anaknya, meski mereka sanggup memenuhinya.

Bercermin dalam hikayat leluhur pun, pelanggaran yang dilakukan nenek moyang manusia, Adam di surga juga berhubungan dengan “ketidakmampuan mengendalikan diri”. Syahdan Adam dan Hawa dahulunya berdiam di surga, dan di sana mereka bebas untuk menikmati apapun fasilitas yang ada di taman syurga kecuali satu saja, “hanya sebuah pohon!”. Larangan yang “hanya satu” itu pun pada akhirnya dilanggar! Pesan moral dari kisah itu menjelaskan bahwa: dasar kelemahan manusia adalah ketidakmampuan mengendalikan diri. Maka kita sebagaimana leluhur kita, juga punya kecenderungan yang sama yakni gampang tergoda. Kita semua punya kemungkinan melanggar larangan Allah, melupakan janji setia kita dahulu dan kemudian akhirnya tergelincir jatuh tidak terhormat. Kita dapat saja terkecoh oleh sesuatu yang sepintas lalu menyenangkan dan menarik, padahal di belakang hari nanti akan membawa malapetaka. Kita semua bani Adam ini punya potensi untuk jatuh tidak terhormat kalau kita tidak tahu batas & tidak bisa menahan diri.

Dan bila merujuk pada sistem anatomi dan fisiologi manusia, lagi-lagi kita akan menemukan simpulan bahwa “pengendalian itu jauh lebih sulit dari pelampiasan”. Mekanisme kontrol tubuh manusia dilakukan oleh sistim syaraf, yang terdiri dua bagian besar yakni syaraf sadar dan syaraf otonom (tidak sadar). Syaraf otonom ini mengontrol dan mengendalikan seluruh mekanisme internal didalam tubuh kita, sejak denyut jantung, gerakan usus atau kandung kemih hingga reflek-reflek penyelamatan diri. Sistem ini dibagi atas dua bagian, syaraf simpatis dan syaraf parasimpatis; yang bekerja secara antagonis. Simpatis bekerja “memacu”, parasimpatis berfungsi “mengendalikan”. Analogi kerja tersebut, mirip-mirip fungsi gas dan rem dalam sebuah kenderaan. Tanpa gas, kenderaan tak mungkin berjalan. Semakin pedal gas ditekan dalam maka laju kecepatan kenderaan semakin tinggi. Namun kenderaan yang berjalan tanpa rem jelas membahayakan penumpang. Faktanya kemudian, tidak seperti syaraf parasimpatis yang semakin menurun kemampuannya sejalan dengan pertambahan usia, syaraf simpatis relatif tetap terpelihara. Dus, karena itu syaraf parasimpatis ini perlu “dilatih” agar ia tetap dapat menyeimbangkan kerja simpatis yang mendorong dan memacu irama kerja tubuh. Kerja simpatis yang berlebihan dan tidak diimbangi, lamban laun segera akan menghancurkan konsitusi kesehatan, menurunkan imunitas dan mempercepat proses penuaan. Ibarat kenderaan yang hanya memiliki pedal gas, sementara remnya blong maka kehancuran dari kenderaan itu mernjadi hal yang tidak terelakkan. Bukti-bukti empiris lainnya masih banyak lagi untuk membuktikan bahwa mengendalikan diri itu jauh lebih sulit dari melampiaskan diri.

Relevan dengan ini, dari madrasah Ramadlanlah kita dapat memperoleh pelatihan-pelatihan untuk self control tersebut lewat BERPUASA. Ramadlan tidak saja disebut sebagai bulan suci, tapi juga bulan yang mensucikan. Kata “Ramadlan” sendiri secara generik bermakna “membakar”. Kita selalu menemukan asosiasi dari kata “membakar” dengan pembersihan atau membentuk suatu yang baru untuk meningkatkan suatu fungsi. Sebagai contoh misalnya, sampah bila dibakar akan bersih, makanan bila dibakar (dioksidasi) akan menghasilkan energi, logam bila dibakar dapat diubah menjadi mesin atau bentuk lainnya seperti pesawat yang memiliki manfaat lebih besar untuk dipergunakan dalam kehidupan. Sebulan di gembeleng dalam institusi ramadhan, kita dilatih untuk mengontrol diri ini, dididik menahan keinginan untuk dapat menanamkan nilai-nilai shoum dalam dimensi yang lebih luas dan komprehensif.

Mbah Nun pernah mengungkapkan ilustrasi betapa uniknya ibadah puasa ini dibandingkan model-model ibadah lainnya dalam hal relasi kita dengan dunia. Jika dalam sholat kita menginterupsi dunia sejenak- saat takbiratul ihram kita memutus matarantai komunikasi sosial untuk fokus beraudiensi dengan sang Pencipta. Interupsi itu kemudian berakhir saat kita mengucapkan salam ke kanan dan kekiri, menegaskan bahwa kita siap membawa pesan damai ke seluruh lingkungan kita. Jika melakukan zakat, dunia malah kita cari, agar sebagian perbendaharaannya nanti bisa kita distribusikan kepada saudara-saudara kita yang berhak menerimanya. Sementara ketika berhaji, kita sudah talak tiga dengan dunia. Kita tinggalkan kampung halaman sanak famili handai tolan, dengan berbekal kain putih sederhana tak berjahit kita sambut panggilan ilahi pergi ke tanah suci menyeru labbaik allahuma labbaik tanpa atribut duniawi apapun. Namun ketika berpuasa, dunia tidak kemana-mana melainkan ada dihadapan kita, NAMUN KITA TIDAK DIPERKENANKAN UNTUK MENYENTUHNYA. Pesan moralnya adalah apabila suatu ketika dunia datang dengan segala glamour kemilaunya menggoda prinsip-prinsip hidup dan idealisme kita, puasa telah menanamkan pada diri kita sebuah imunitas, ketangguhan mental dalam mengendalikan diri terhadap segala godaan dunia.

Kurikulum pendidikan Shiyam Ramadlan dalam 3 jenjang

Selama sebulan atau tiga puluh hari berpuasa ini, para ulama sering membagi puasa menjadi 3 bagian dalam rentang per-10 hari-an, yang memiliki titik tekan dan pencapainnya masing-masing. 10 hari pertama adalah masa adaptasi secara fisik, yakni jenjang puasa jasmani (berdimensi fisik). Inilah periode saat beradaptasi terhadap irama jadwal makan yang baru saat sahur dan waktu berbuka, juga penyesuaian dalam konteks mengurangi jumlah asupan makanan. Demikian pula ada adaptasi biologis terhadap irama tidur. Periode ini mewakili fase pendisiplinan terhadap fisik jasmani kita.

Dalam dunia kesehatan, kini telah terbukti luas manfaat puasa bagi kesehatan jasmani. Penelitian terbaru misalnya, Prof.Dr.Noboru Mizushima dari Tokyo Medical University mengatakan “orang yang menjalani proses kelangkaan makanan, ia telah memfasilitasi mekanisme daur ulang bagi sel-sel didalam tubuhnya untuk menyapu sel-sel yang aus dan rusak. Dalam tinjauan biokimiawi terbaru, berpuasa itu mengaktifkan proses autofag seluler (pencernaan sampah dalam sel) & apoptosys, mengakibatkan terjadi proses detoksifikasi dengan membersihkan sampah-sampah seluler (zombie sel).”. segudang fakta klinis lain yang akan panjang lebar untuk membahas hikmah puasa dari kesehatan ini. Dan bukankah Rasulullah saw sendiri juga mengatakan secara eksplisit “Berpuasalah niscaya kamu sehat”.

Pada 10 hari kedua, diharapkan kita naik kelas masuk pada fase jenjang puasa nafsani (berdimensi psikologis). Di fase ini kita melatih kedisiplinan diri khususnya dari segi mental kejiwaan. Dari segi psikologis, puasa tentu tidak sekedar menahan makan dan minum atau sekedar persyaratan sah secara fiqih saja. Namun puasa harus disertai peningkatan pemahaman tentang apa yang sesungguhnya harus kita tahan selama kita menjalani ibadah shiyam ini. Nabi saw menjelaskan keharusan yang semestinya dijalani melebihi sekedar makan minum dalam berpuasa ini dengan mengatakan “Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Tetapi puasa adalah menahan diri dari lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya ‘Aku sedang berpuasa, sedang puasa””. Mengontrol emosi, meninggalkan perbuatan yang tidak produktif, menjauhi aktivitas yang tidak menambah nilai kemanusiaan, meninggalkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya seperti : dusta- perilaku kasar agresif- bergihibah- berdusta- mengumpat- berkata-kata kosong dsb.

Puasa yang tidak memberi dampak terhadap fisik dan kejiwaan, hanyalah puasa yang ibaratnya hanya mengubah jadwal makan minum & istirahat saja. Kini popular istilah sinisme dalam dunia politik :”kampret vs cebong”. Saya tergoda untuk merenungkan, bagaimana bila fenomena istilah cebong-kampret ini bukan sekadar meme sarkastik politik? Bagaimana jika ini sebuah pertanda isyarat atau amsal zaman? Yang jelas menjadi cebong dan kampret di dunia hewan adalah suratan Ilahi, itu merupakan kemuliaan bagi mereka. Tapi berlaku seperti cebong atau kampret, atau mengatribusikan percebongan dan perkampretan pada manusia adalah pelecehan terhadap kemanusiaan.

Dalam kaitan dengan puasa, hindarilah “model puasa kampret dan cebong”. Kampret berpuasa pada siang hari, namun justru “berpesta pora” divmalam hari. Manusia adalah makhuk diurnal bukan species nokturnal seperti kampret. Sistem pencernaan manusia secara fisiologis dirancang untuk mengkonsumsi secara baik bagi kesehatannya pada siang hari bukan pada malam hari. Jadi berpuasa disiang hari dan melampiaskan konsumsi dimalam hari adalah seperti pola kampret yang nokturnal.

Lalu bagaimana pula model puasa yang dijalani kecebong? Ternyata menurut literatur, kecebong yang aslinya mahkluk herbivora ketika mengalami krisis makanan berubah tabiatnya menjadi pemakan segalanya bahkan bersifat kanibalis (memangsa saudaranya sendiri) Ramadlan-lah saatnya kita kembalikan marwah dan kehormatan manusia dengan tidak melabel pada sesame saudara-saudara kita dengan gelar-gelar yang tidak simpatik yang menurunkan derajat kemanusiaan.

Dan pada 10 hari ketiga terakhir, diharapkan kita akan sampai pada level yang bersifat Rabbany (level spiritual), yakni perolehan prestasi secara ruhani. Dengan mujahadah (berjuang sungguh-sungguh) kita berharap meraih pencapaian prestasi ruhani itu seperti yang disimbolkan dalam pertemuan dengan Laylat al-Qadr. Laylat al-Qadr sendiri digambarkan sebagai malam yang mampu “melipat ruang dan waktu secara quantum” yang analog dengan waktu bernilai lebih baik dari 1000 bulan. Tentunya bagi yang mendambakan ampunan Ilahi, limpahan pahala dan kesempatan melipatgandakan kebaikan, dan merindukan perjumpaan dengan Tuhannya, malam Laylatul Al-Qadr merupakan moment yang sangat istimewa dan ditunggu-tunggu..

Bila kita mampu melampaui tiga jenjang hirarki dalam per-sepuluhan disaat Puasa maka diharapkan saat memasuki satu Syawal kita akan terlahir kembali menjadi manusia atau disebut menjemput kembali fitrah asli kemanusiaan kita. Jika Ramadlan bermakna “membakar”, maka Syawal secara generik artinya “meningkat”. Diharapkan memasuki bulan Syawal terjadi peningkatan kwalitas diri, penambahan bobot kepribadian bukan peningkatan berat badan. Hidup harus dijalani secara progresif berubah hari demi hari waktu demi waktu menuju perbaikan. Orang beriman pantang berprinsip “aku masih seperti yang dulu”. Para muballigh sering membuat perumpamaan, jika pada Bulan Sya’ban kita masih seperti ulat yang rakus dan menjijikkan maka memasuki Ramadlan kita di gembleng-ditatar-dididik dengan institusi Ramadlan untuk menjadi kepompong, hingga pada akhirnya memasuki bulan Syawal kita laksana menjadi kupu-kupu yang berpenampilan indah dan membawa kemanfaatan bagi kehidupan.

Dan sesungguhnya, nilai puasa (shoum) sebenarnya baru akan teruji dan dimulai justru ketika Ramadlan berakhir.

Wallahu’alam bi al shawab.

Sangatta, 12 Mei 2019


Artikel ini ditulis oleh dr. Ade Hahsman, Sp. An. dan pertama kali dipublikasikan di https://www.caknun.com/2019/orang-berpuasa-atau-manusia-puasa/

© Copyright - Bentang Pustaka