Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam

Judul Buku      : Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam Penulis             : Dr. Muhammad Nursamad Kamba Penerbit           : Pustaka Iman Cetakan           : Pertama, Juli 2018 Tebal Buku      : xviii + 304 ISBN               : 978-602-8648-28-8 Bertasawuf adalah berislam itu sendiri. Setidaknya inilah pemikiran dan gagasan dalam buku ini. (hal.vii) Buku berjudul “Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam […]

Kritik Sosial dan Agama ala Cak Nun

Judul               : Kiai Hologram Penulis             : Emha Ainun Nadjib Penerbit           : Bentang Pustaka, Yogyakarta Cetakan           : Kedua, Mei 2018 Tebal               : viii+ 288 Halaman ISBN               : 9786022914686   Belakangan ini, bangsa Indonesia diuji Tuhan dengan berbagai cobaan dan musibah. Dari gempa Lombok, gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, banjir bandang, hingga jatuhnya pesawat Lion […]

Hakikat Berbangsa dan Bernegara dalam Sudut Pandang Islam

Judul               : Kiai Hologram Penulis             : Emha Ainun Nadjib Penerbit           : Bentang Pustaka Terbit               : Pertama, Maret 2018 Tebal               : 288 Halaman ISBN               : 978-602-291-468-6 Kita hidup di negeri yang tidak hanya memiliki kekayaan alam. Tapi juga budaya, agama, ras, dan bahasa yang beranekaragam. Kendatipun demikian, bangsa Indonesia sejak dulu dikenal hidup […]

Aurat

Yang darurat aurat bukan hanya orang, tokoh, atau figur. Juga fakta peristiwa, substansi kejadian, hakikat peta masalahnya, dan lapisan-lapisan fakta samar di belakangnya. —Emha Ainun Nadjib Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aurat diartikan sebagai ‘bagian tubuh yang tidak boleh terlihat orang lain’ atau ‘kemaluan’. Hari ini kita mengenal aurat sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Dalam […]

Belajar dari Markesot

Markesot namanya, ia mempunyai hobi berdongeng dan bercerita. Datang kepadanya empat puluh orang ke tempat yang disebut Patangpuluhan, lalu tidur di atas tikar di langgar. Ketika Markesot  memulai dongeng-dongengnya, satu per satu orang dari empat puluh orang tersebut beranjak tidur, ngorok, dan lainnya. Markesot tetap melanjutkan dongengnya dan terus mengoceh bak orang gila tidak tahu adat. […]