buku muslimah dalam penantian

Telah Terbit! Buku Muslimah dalam Penantian

Di Balik Buku Muslimah dalam Penantian

Kini Muslimah dalam Penantian bisa kamu dapatkan. Kang Abay adalah penulis kelahiran Cianjur yang menetap di kota Bandung. Kang Abay adalah Co-Founder Sisterlillah. Sebelumnya Kang Abay pernah menulis novel pertamanya berjudul Cinta dalam Ikhlas terbitan Bunyan (Bentang Pustaka) pada 2017 yang berhasil menjadi best seller di Indonesia. Kali ini Kang Abay menggandeng istrinya, Nia Agustini atau Teh Nia, dalam menulis buku Muslimah dalam Penantian.Buku ini lahir karena banyak sekali muslimah yang curhat tentang apa saja yang perlu disiapkan dalam masa penantian kala memantaskan diri. Masa penantian ini sebenarnya tidak hanya terikat pada masa menanti jodoh tiba, tetapi juga masa penantian dalam mencapai cita-cita.  Mereka berharap buku ini dapat menjadi pegangan sederhana para muslimah dalam mencapai semua hal baik yang diharapkan.

Apakah Cinta Itu Ada?

Rasa cinta itu adalah fitrah yang Allah berikan untuk makhluk-Nya. Pasti tidak akan salah. Namun, jika hal ini menjadikan kita lalai, membuat yang dilarang menjadi dihalalkan, ini yang membuat kita salah dalam memaknai cinta.  Cinta yang murni selalu sejalan dengan keikhlasan di hati. Membuat hatimu tenang, damai, dan kuat untuk bergerak menuju sebuah titik cahaya: meniatkan cinta yang terpilih atas dasar rida Allah.

Sejak awal mencintai seseorang haruslah karena Allah sehingga yang kita lakukan selalu berusaha sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Allah meridai kita mengaktualisasikan cinta pada lawan jenis itu hanya dalam pernikahan.

Bukan hanya soal percintaan buku ini juga membahas soal bagaimana menjadi seorang muslimah yang positif, kreatif, dan tips membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah. Buku ini juga memberikan wawasan kepada perempuan bagaimana perspektif laki-laki ketika jatuh cinta dan ketika menikah, serta cara memilih suami yang tepat.

Para muslimah yang sedang berada dalam penantian, pasti akan merasa penuh dengan ujian. Ketika berada pada masa penuh pengharapan bertemu dengan jodoh impian, apa saja yang bisa dilakukan?

Buku Muslimah dalam Penantian ini akan menjadi jawabannya. Dapatkan bukunya di sini.

 

Sejarah Awal Gerakan Feminisme di Indonesia

Desain by pang.png

Gerakan Feminisme di Indonesia berawal dari gerakan perempuan-perempuan Indonesia yang melawan kolonialisme Belanda, munculnya kesadaran nasional, dan pembentukan negara. Sosok pahlawan perempuan seperti R.A. Kartini (1879-1905), Dewi Sartika (1884-1947) dan Rahmah El-Joenesijjah (1900—1969), yang menangkap semangat nasionalisme, dan meletakkan perjumpaan antara feminisme dan Islam sebagai sumber kemajuan dalam konteks kolonialisme lokal.

Emansipasi Batu Loncatan Menuju Kesetaraan Gender

Sementara ide-ide tentang kemajuan dalam Islam dan feminisme di Indonesia tumbuh secara lokal dan menunjukkan perkembangannya pada nasionalisme, mereka secara kompleks berkaitan dengan jaringan umat Islam dan feminisme global.

Sosok R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Rahmah El-Joenesijjah merupakan salah satu tokoh perempuan yang mengadvokasi kebutuhan akan perubahan status sosial perempuan melalui pendidikan. Mereka menciptakan preseden bagaimana gerakan perempuan di Indonesia melawan kolonialisme – serta spirit nasionalisme dan reformisme Islam.

R. A. Kartini mencatat bahwa androsentrisme laki-laki tumbuh melalui pengasuhan ibu mereka. Laki-laki kemudian mengontrol anggota perempuan di keluarganya sendiri. Setelah menikah, laki-laki terus memegang otoritas dan kontrol. Akibatnya, para perempuan menderita setiap hari.

Dari sini R. A. Kartini berpendapat bahwa perempuan memiliki kebebasan berkehendak tetapi dikuasai oleh adat. Pada saat itu pendidikan perempuan diklaim berisiko merusak tatanan moral masyarakat. Selain itu, kaum tua khawatir bahwa pendidikan perempuan dapat mengganggu peran perempuan itu sendiri ketika menjadi istri.

Sedangkan Dewi Sartika berpendapat orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Oleh karena itu, Dewi Sartika berusaha meyakinkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya agar terdidik. Perempuan yang terdidik akan menjadi ibu dan menjadi kunci penyebaran pengetahuan bagi anak-anaknya kelak.

Ia juga menyuarakan kesetaraan laki-laki dan perempuan dari berbagai aspek karena menurutnya kemajuan perempuan sebagai syarat kemajuan negara.

                              Baca Juga ulasan singkat Buku Feminisme Islam, disini!

Sementara Rahmah El-Joenesijjah mewakili sosok reformis baru dari golongan perempuan Muslim. Ia tumbuh dari golongan reformisme Islam di Minangkabau, Sumatra Barat. Ia mewujudkan mimpinya dengan mendirikan sekolah Dinijjiah Sekolah Poetri yang didukung oleh saudara laki-lakinya.

Dinijjiah Sekolah Poetri bertujuan mendidik anak-anak bangsa dengan pendidikan lengkap; fisik dan moral. Sekolah tersebut memberi pendidikan Agama Islam karena masih banyak perempuan yang belum mengetahui ajaran Islam.

Konteks Perjuangan Emansipasi

Dari sini kita tahu bahwa para tokoh perempuan Indonesia telah meletakkan dasar bagi perubahan kondisi sosial dan politik di lingkungan mereka, yaitu melalui gerakan-gerakan feminisme yang berjalan beriringan dengan gerakan nasionalis di Indonesia.

Nah, kalian dapat membaca lebih lanjut penelitian tentang feminisme Islam di Indonesia karya Etin Anwar yang dikemas dengan sangat apik dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dapatkan bukunya disini!

Belenggu Romansa dan Relevansi Kondisi Masa Kini

Belenggu romansa pada masa kis

 

Ada banyak jenis belenggu romansa. Beberapa disebabkan oleh konflik internal seperti kepribadian dari kedua belah pihak. Dari kasus internal, masih dapat memiliki turunan konflik. Namun, beranjak dari konflik internal, ada pula yang disebabkan oleh konflik eksternal. Dalam konflik eksternal, sering kali belenggu menjadi sesuatu di luar kuasa dari kedua belah pihak yang menjalin hubungan. Seperti hierarki sosial, atau kasus seperti agama dan ras yang sering kali menjadi alasan pasangan-pasangan berpisah. Kasus eksternal menjadi faktor yang mampu berubah kadar keberpengaruhannya. Hal ini tentu diprakarsai oleh zaman dan era yang terjadi di masa itu. Hal ini bisa dilihat dari kisah Selma Karamy dan Gibran dalam Sayap-Sayap Patah, belenggu romansa mereka yang bersifat eksternal. Jika diterapkan di masa kini, mampu memunculkan tanda tanya, apakah yang terjadi pada keduanya masih relevan di masa kini?

Beda Masa Beda Belenggu Romansa

                Perubahan zaman banyak memberi pengaruh pola pikir. Pada zaman di era Gibran dan keluarga Karamy hidup, kelas sosial bisa jadi menjadi begitu penting untuk mempertimbangkan segala hal, tidak terkecuali persoalan pasangan hidup. Latar belakang sosial dan reputasi seseorang menjadi nilai utama seseorang dipilih menjadi rekan atau pasangan. Tidak hanya persoalan zaman persoalan wilayah dan adat istiadat juga begitu memengaruhi pola pikir. Belenggu-belenggu itu sebenarnya justru diciptakan oleh pola pikir yang dibangun di kelompok masyarakat setempat.

Namun, disamping itu, pada masa kini, faktor-faktor eksternal dari belenggu romansa yang terjadi di masa itu masih bisa ditemui. Tidak sedikit orang-orang yang masih mengaplikasikan adat istiadat dan pola pikir yang konservatif di masa kini. Nilai kebudayaan yang tidak mudah hilang meski penggunaannya dianggap tidak tepat. Kasus ini mampu menjadi pertanyaan yang tidak ada habisnya, masihkah belenggu romansa di ranah sosial masih relevan hingga saat ini? Masihkan kelas sosial menjadi nilai utama dari pemilihan pasangan hidup seperti pada kasus Selma Karamy dengan Gibran? Pertanyaan ini pun mampu menjadi pertanyaan yang sama sinisnya: apakah perbedaan zaman membuat masyarakat meninggalkan budaya yang ditanamkan?

Konflik yang Menyayat Hati

Tidak sedikti kasus Selma Karamy-Gibran yang terjadi di lingkungan masyakat era terkini. Masyarakat yang masih membatasi diri mereka sendiri karena kepercayaan dan kebiasaan yang dianut. Melalui Sayap-Sayap Patah, pembaca bisa melihat betapa berpengaruhnya pola pikir yang membentuk suatu zaman. Kisah cinta kedua tokoh milik Kahlil Gibran ini memberi suatu sudut pandang tentang belenggu romansa yang begitu menyedihkan dan menyayat perasaan. Belenggu yang di luar kuasa para pemilik hubungan itu sendiri.

Dapatkan bukunya di Mizan Store 

Membaca Psikis Patah Hati Melalui Penokohan

sebuah gambaran terkait orang dengan psikis patah hati

Kondisi psikis patah hati mampu mengubah seseorang, seperti pada momen merelakan seseorang ketika patah hati. Bagi beberapa orang, merelakan sesuatu adalah hal yang begitu berat. Tidak mudah merelakan sesuatu meski seringkali ada tawaran menggiurkan. Dalam hal percintaan, merelakan menjadi sesuatu yang sering kali saling beriringan. Tidak semua percintaan berakhir dengan akhir yang berbahagia: Bersatu bahkan pernikahan. Banyak kisah cinta yang gagal dan memaksa seseorang untuk memulai fase baru dalam kehidupan percintaan tersebut. yakni merelakan. Merelakan tidak melulu perihal melupakan. Merelakan adalah sebuah usaha untuk melepaskan sesuatu dan membiarkan sebagaimana adanya. Tidak sedikit dari korban patah hati akhirnya terjerumus dalam suatu jurang rasa sakit dan depresi. Konflik mental ini sering kali muncul dalam kisah-kisah cinta yang begitu mendayu dan melankolis, seperti tokoh Kashmir dalam novel Shirath karya Tasaro GK.

Pengaruh Psikis Patah Hati

Banyak cara melampiaskan rasa sakit ketika mengalami patah hati. Ada yang dengan mengurung diri di kamar, ada pula yang sibuk mencari sesuatu yang mengalihkan perhatian. Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa sakit dari patah hati dapat berdampak besar bagi korbannya. Dalam fase merelakan yang telah terjadi, manusia sering kali melakukan sesuatu sebagai upaya terbaik menghilangkan rasa sakit yang dialaminya. Jangan salah, beberapa mampu melakukan hal yang nekat.

Cari tahu lebih lanjut perihal depresi saat patah hati  https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/gejala-depresi-karena-patah-hati/

Dalam contoh kasus dalam kisah Shirath, Kashmir adalah salah satu tokoh yang menjadi korban patah hati. Dalam pelampiasan rasa sakitnya, Kashmir digambarkan melanglang buana menemukan impiannya. Kondisi psikis Kashmir barangkali tidak stabil, tetapi tidak serta-merta menjadikan dirinya kehilangan tujuan besar dalam kehidupannya. Meski demikian, kepercayaan diri tokoh digambarkan merosot, bahkan rendah diri seakan menjadi bagian dari perwatakan Kashmir. Besar pengaruh dari patah hati bukan sesuatu yang bisa diremehkan, psikis bisa menjadi taruhan dari proses menjadi pulih.

Kashmir: Sebuah Pembelajaran

Pada akhirnya, patah hati dalam sosok Kashmir tidak menjadikannya kehilangan nilai-nilai yang bisa diterima oleh pembaca. Sebagai tokoh yang Tangguh, Kashmir menjadi seseorang yang mampu bertahan dalam terpaan masalah. Kisah cinta Kashmir dan Kanya sebagai suatu cerminan bahwa patah hati tidak seharusnya menjadikan seseorang kehilangan dirinya sendiri. Penokohan yang kuat ini menjadi suatu contoh yang bisa pembaca terapkan. Kashmir adalah suatu cermin untuk bangkit setelah jatuh terlalu dalam.

masa the girl from tomorrow

Keterhubungan Masa ala The Girl From Tomorrow

masa the girl from tomorrow

Masa di The Girl From Tomorrow membuat kita sering mengira-mengira, hal yang terjadi yang tidak pernah ada. Ada pula perihal rasa penasaran terkait peristiwa, bendawi  yang terdapat di waktu lampau, yang bisa memengaruhi saat ini. Serangkaian tanda tanya yang tidak pernah terputus. Manusia yang sibuk mempertanyakan hal-hal dalam hidupnya menjadi indikator sifat harfiah mereka yang tidak pernah bisa puas. Baik kamu maupun orang terdekatmu sibuk menerka-nerka sekaligus menjawab keresahan mereka sendiri. Termasuk Lana, yang menjawab sendiri kegundahan hatinya atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Mempertanyakan sebab dari perpisahan kedua orang tuanya yang dirasa sebaiknya tidak terjadi. Lana tidak hanya mempertanyakan, tetapi menemukan solusinya.

Mengubah Masa Lalu

Setiap orang barang kali ingin kembali ke masa seperti di The Girl From Tomorrow yang telah terlewatkan dan membenahi hal-hal yang dianggap tidak pas, atau bahkan menambah hal-hal yang luput. Lana, tokoh dalam The Girl from Tomorrow berusaha melakukan keduanya. Gadis SMA itu sengaja bersusah payah mengarungi masa dan sampai  pada era milik kedua orang tuanya. Meski kedatangannya sedikit mengobrak-abrik kisah yang telah digariskan, Lana tidak peduli. Dia tetap berusaha untuk memperbaiki cikal bakal dari penyebab-penyebab perceraian kedua orang tuanya. Lana menambahkan atau bahkan mengurangi segalanya sesuai yang dia perkirakan terbaik untuk masa depan.

Kita semua adalah Lana. Ia adalah kepuasan batin setiap pembacanya yang berharap bisa kembali ke masa lalu, dan menghubungkan masa kini, dengan masa lalu—yang akan memengaruhi masa depan. Lini waktu tidak pernah ada ujungnya. Meski demikian, kita tetap harus percaya bahwa sesuatu memang sudah digariskan, sudah ditentukan akan seperti apa dan harus bagaimana. Tapi jika memiliki daya lebih, apakah kamu akan sibuk-sibuk mampir ke waku yang lalu?

Keterhubungan Masa di The Girl From Tomorrow

Fantasi menjadi suatu komponen yang begitu mendasari cita-cita manusia yang satu ini. suatu lingkup imajiner yang membawa kita pada rasa puas. Melalui tulisan, kita menjelma menjadi tokoh-tokoh yang singgah di setiap kurun waktu. Lana menjadi kita, dan kita akan dibawa pada pengelanaan milik Lana dalam karya fiksi yang tidak biasa ini.

Jelajahi ruang dan waktu melalui buku The Girl From Tomorrow di sini.

 

the prophet

The Prophet: Sebuah Perjalanan yang Begitu Dicintai

The Prophet atau Sang Nabi merupakan karya dari sang sastrawan dunia, Kahlil Gibran yang terbit perdana pada tahun 1923. Setelah hampir 100 tahun terbit, karya ini telah dinikmati oleh banyak sekali pembaca dari seluruh dunia. Kahlil Gibran menuliskannya dengan tokoh utama yang begitu dikenal oleh dunia, yakni Sang Nabi. Seperti dalam judulnya. karya ini ditokohutamai oleh Sang Nabi, yang kemudian dikenal dengan Almustafa. Pada bukunya ini, Kahlil Gibran menuangkan banyak sekali masalah-masalah yang akan kerap ditemui oleh para manusia di bumi. Perihal cinta, rasa, hidup dan hal-hal yang menyertainya, bahkan perihal antarmanusia, orang tua kepada anak misalnya.

The Prophet yang Dicintai Semua Kalangan

Pembaca dunia merespons karya ini sebagai suatu karya yang sangat membangun. Hal ini bisa terlihat dari lalu lalang manusia yang ditemui oleh Sang Nabi agung di seluruh dunia. Digambarkan tanpa kecenderungan keyakinan apa pun membuat kisah ini bisa diterima oleh semua kalangan, terlebih kisahnya yang begitu inspiratif. Sebab, kehidupan sendiri menawarkan dan menyediakan banyak sekali pesan dan amanat dari setiap masalah, buku ini seolah merangkumnya menjadi satu kesatuan yang siap dikaji bersama. Kahlil Gibran melalui tokoh inspiratifnya ini, seolah-olah merangkum keseluruhan masalah yang ada dalam bait-bait indah yang dihasilkan oleh tangannya yang lihai. Sebuah karya yang dicintai dan dinikmati oleh banyak manusia, entah sebagai penghiburan atau sebagai sebenar-benarnya buku yang dipelajari.

Perjalanan yang dilakukan Sang Nabi membawa pembaca dalam satu pemahaman dan pemahaman lainnya. Beberapa hanya membaca dan menyimak. Atau bahkan lebih dari itu, pembaca senantiasa menelaah betul isi dalam buku tersebut. tidak hanya demikian, beberapa pihak telah mewujudkan buku bijak satu ini ke dalam bentuk yang lain, yakni film. Alih wahana buku prosa-puisi Kahlil Gibran ini membuktikan adanya ketertarikan dari masyarakat luas kepada karya sastra ini. suatu karya yang menjadi besar karena keindahan, kebijaksanaan yang ditawarkan dalam setiap pertemuan Sang Nabi.

The Prophet karya Kahlil Gibran telah hadir di dalam bahasa Indonesia dengan judul Almustafa. Dialihbahasakan oleh maestro dalam negeri, Sapardi Djoko Damono, yang telah mengenal betul seluk beluk sastra dan keindahan di dalamnya.

Dapatkan buku Almustafa di sini.

Sinestesia dan Mengembaraan waktu

Sinestesia? Pernah dengar istilah yang satu ini? Sinestesia merupakan satu dari sekian banyak jenis kelainan pada otak. Sinestesia dipercaya sebagai suatu kelainan yang mampu membuat para penyandangnya (sinestesian) memiliki lebih dari satu respons dalam satu indra.  Dalam hal ini, Sinestesia adalah fenomena neurologis di mana otak menimbulkan beberapa persepsi respons lain yang  berupa penglihatan, suara, ataupun rasa dari keenam indra. Contohnya, seorang penyandang penyakit ini merasa melihat suara, atau mendengar rasa. Wah, aneh ya? Meski demikian, beberapa beranggapan bahwa hal ini tidak benar sebab satu indra hanya merespons dengan satu cara.

Baca jugahttps://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/sinestesia-adalah-merasakan-warna/

Sinestesian di Masa Depan

Dalam karyanya yang satu ini. Sahlil GE mengakui bahwa ini adalah karya fantasinya yang pertama. Meskipun karya fiksi fantasi yang kali pertama, novel ini bukan berarti tidak keren dan menarik perhatian. Karya ini pernah terbit di Wattpad dan menguras perhatian para pembaca dengan kisahnya. Fantasi pertama karya Sahlil GE ini dibuatnya menarik dengan melibatkan peran dan kinerja dari para penyandang sinestesia. Para sinestesian di kisah ini menjadikan jalan cerita dari The Girl FromTomorrow menjadi begitu imajinatif.  Dengan sentuhan sesuatu yang magis dan tidak ternalar, peran sinestesian menjadi harga jual dari kisah ini.

Tidak menulisnya dengan ngawur, Sahlil GE menyebutkan bahwa kisahnya ini melalui riset yang panjang. Terlebih ketika diakuinya bahwa Sahlil GE merupakan satu di antara sekian banyak sinestesian. Dengan melakukan serangkaian wawancara dengan sesama sinestesian, Sahlil GE membungkus kisahnya dengan basis yang tidak sembarangan. Sinestesian dalam kisahnya kemudian dikembangkan menjadi orang-orang dengan bakat istimewa. Di buku ini disebutkan memiliki kemampuan khusus yang mampu mengembara waktu. Menjadi pengendali waktu yang mampu menilik kembali hal-hal yang terjadi, lebih-lebih berusaha membenahinya barang sedikit. Seperti yang dilakukan oleh tokoh Lana dalam  kisah ini.

Wajah Baru Fantasi Indonesia

Pengembaraan waktu yang dilakukan oleh Sinestesian dalam kisah ini memberi harapan baru bagi Indonesia untuk melahirkan penulis-penulis bergenre fantasi. Sahlil GE menjadi wajah baru yang menyodorkan karya unik yang tidak biasa. Karya yang bisa dinikmati kalangan tidak hanya remaja, tapi juga oleh kalangan umur yang lebih dewasa.

The Girl From Tomorrow: Masa SMA yang Magis

Masa SMA adalah masa yang begitu menantang, diwarnai asmara dan penuh ambisi. Pada usia SMA, rasanya semua hal ingin dilakukan. Ambisi yang menggebu-gebu untuk menjadi populer dan menonjol. Dalam karya romance remaja ini, Sahlil GE menggambarkan masa muda dengan begitu nyata dan memberi rasa relevan bagi para pembaca. Juno, sang tokoh utama digambarkan sebagai remaja yang begitu menonjol sehingga karakternya begitu sentris sepanjang cerita. Meski demikian, Sahlil tidak membunuh karakter dari tokoh-tokoh lainnya. Tokoh-tokoh lainnya dhadirkan sebagai oposisi, bahkan menjadi suatu persimpangan karakter dari sang tokoh utama. Tokoh-tokoh tersebut menjadi satu kesatuan yang membangun jalan cerita dengan “apik”. Sahlil juga menghadirkan dimensi dan konflik yang magis. Hal ini yang selanjutnya memberi nilai lebih pada masa SMA di novel ini, lho!

Membongkar Realitas dengan Dimensi Magis

Siapa yang akan berpikir kalau masa SMA bisa begitu berubah oleh sesuatu yang tidak ternalar? Begitulah kiranya kehidupan Juno yang tidak pernah terduga adanya. Hidupnya begitu mulus dan baik-baik saja, sampai akhirnya hal yang tak masuk akal muncul dalam kisah hidupnya. Ketimpangan dalam realitas yang begitu tidak terduga mampu mewarnai kisah masa SMA yang selalu tampak riang dan menggebu-gebu.

Masa muda Juno pun menjadi begitu penuh lika-liku yang tidak terduga. Semua karena seseorang dari masa depan yang terhubung dengan masa kini. Orang itu membuat hari ini dan hari yang akan datang begitu abu-abu dan penuh ketegangan. Masa-masa SMA seolah disulap menjadi suatu pengalaman yang menyita rasa. Melalui dimensi waktu yang begitu dijungkirbalikkan, Juno mengantarkan kita pada suatu usaha bernama pengendalian diri.

Kalau masa muda menjadi sesuatu yang harus dilupakan dan dikorbankan, apakah kamu akan merelakannya? Sesuatu yang magis menjadi alasan utama atas rasa yang harus hangus, merelakan satu masa menguap sebab rasa yang harus dibasmi. Juno dan para tokohnya mengajak para pembaca untuk mengelana masa depan dengan tetap bertaut pada lini waktu terkini. Sebuah kisah penerimaan akan masa depan yang membalikkan rasa dan masa hari ini. The Girl From Tomorrow akan mengantarkanmu sebagai pembaca yang mengalami pasang surut emosi. Buku ini dapat menjadi rekomendasi bacaan yang penuh akan hiburan dan sarat akan imajinasi.

Dapatkan bukumu di https://mizanstore.com/the_girl_from_tomorrow_70463

sebuah buku tua yang memancarkan manfaat seperti karya Kahlil Gibran

Karya Kahlil Gibran Satu Abad yang Tetap Terkini

Kahlil Gibran dikenal oleh khalayak umum sebagai sastrawan dunia dengan karya-karya yang berdiksi indah. Padanan kata yang dirangkai menjadi satu kesatuan yang memiliki karakteristik khas seorang Kahlil Gibran. Tidak hanya dikenal dengan keindahannya semata, karya-karya Kahlil Gibran juga dikenal dengan kritik sosial yang terjadi pada masanya. Konflik-konflik yang berada di lingkungannya diadaptasi menjadi suatu karya tulis yang menarik. Tidak hanya demikian, tulisan-tulisan beliau seolah menjadi rujukan para penyair “berguru”. Daya tarik lainnya sebab karya ini juga dipercaya sebagai adaptasi kisah cinta dari sang maestro sendiri

Satu Abad yang Tak Kunjung Padam

Salah satu karya yang lahir dari tangan piawai Kahlil Gibran adalah Sayap-Sayap Patah. Karya ini perdana terbit dengan judul The Broken Wings, terbit sebagai poetic-novel yang dituliskan pertama kali dalam Bahasa Arab. Terbitan pertama kali pada tahun 1912. Terhitung pada tahun ini, karya sastra dunia ini telah hadir di dunia literasi sejak 109 tahun yang lalu. Satu abad lebih! Karya tersebut terus-menerus dikonsumsi oleh para pembaca—bahkan dari seluruh dunia, dan telah diterjemahkan dalam banyak bahasa. Sayap-Sayap Patah yang merupakan kisah cinta dengan diksi indah dan romantis, menambah daya tarik karya satu ini. Seolah menjadi satu paket yang utuh, kisah cinta dengan diksi yang indah ditawarkan lewat karya sastra dunia yang satu ini.

Baca juga https://www.arabnews.com/node/1613941/lifestyle

Karya yang direkomendasikan

The Broken Wings terus hadir menjadi karya yang dirujuk untuk proses kreatif. Begitupun dalam Bahasa Indonesia, telah diterjemahkan dengan judul Sayap-Sayap Patah. Di tahun 2021 ini, Bentang Pustaka menghadirkan karya ini kembali dalam edisi bahasa Indonesia. Bentang Pustaka menghadirkan penerjemah yang mampu menerjemahkan karya Kahlil Gibran menjadi relevan di Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Edisi Sayap-Sayap Patah kali ini seolah tetap menjaga karya ini terus menarik perhatian, tanpa menghilangkan orisinalitas, sekaligus menyesuaikan dengan pembahasaan di Indonesia. 109 bukan tahun yang sebentar, tapi relevansi karya ini masih begitu kentara dan direkomendasikan untuk para pembaca di seluruh dunia.

 

 

 

Wuhan Diary

Buku Wuhan Diary Kini Akan Segera Hadir di Indonesia!

Buku Wuhan Diary. Melihat dari judul bukunya, pasti semua orang akan menerka-nerka isi buku tidak lain merupakan diari kota Wuhan; sejarah kota Wuhan ataupun Wuhan dengan segala isinya yang berkaitan tentang koronavirus. Memang tidak salah, akan lebih baik saya beri sedikit penegasan, buku ini berisi segala catatan harian daring oleh salah seorang penulis kenamaan Tiongkok, Fang Fang, yang kemudian catatan tersebut diterbitkan pada Juni 2020.

Di balik hiruk pikuk wabah koronavirus yang telah menyebar pertama kali di kota Wuhan, masih ada orang yang memiliki niat untuk merekam segala kejadian awal hingga akhir bagaimana koronavirus menghantam kehidupan umat manusia. Fang Fang menceritakan segala luapan emosi di dalam bukunya itu, baik kegeraman terhadap aparat pemerintah, kemanusiaan yang hadir di tengah wabah, dan bagaimana masyarakat bisa beradaptasi dengan situasi krisis yang tak berkesudahan.

Berikut disajikan beberapa fakta atau spoiler terkait buku Wuhan Diary.

Buku Wuhan Diary ditulis oleh Fang Fang

Memiliki nama asli Wang Fang, sedangkan nama penanya ialah Fang Fang. Lahir di Nanjing, Tingkok, pada 11 Mei 1955. Wang Fang merupakan lulusan Universitas Wuhan. Pada tahun 1975, ia mulai menulis puisi dan pada tahun 1982, ia meluncurkan novel pertamanya, Da Peng Che Shang. Pada tahun 1987, ia merilis mahakaryanya “Feng Jing“, dan memenangkan penghargaan novel medium-length nasional yang luar biasa pada tahun 1987-1988. Karya lainnya, termasuk Qin Duan Kou, dan Xing Yun Liu Shui, “Jiang Na Yi An“, “Yi Chang San Tan“, telah diterima dengan baik juga.

Penguncian wilayah selama 76 hari

Buku Wuhan Diary memiliki cerita yang begitu mendetail, terutama saat awal penguncian wilayah (lockdown). Masyarakat dikagetkan dengan seruan aparat pemerintah setempat yang menyuruh masyarakat untuk segera mengisolasi diri dan menutup semua akses transportasi, jual-beli, dan hal-hal yang yang dijadikan tempat kerumunan. Hal tersebut bertolak belakang dengan seruan awal bahwa virus ini “Tidak Menular Antarmanusia; Bisa Dikendalikan dan Bisa Dicegah”. Wang Fang pun turut geram akan ketidakpastian aparat pemerintah terhadap nasib rakyatnya.

Ditambah lagi, sejak 20 Januari, ketika pakar penyakit infeksi Tiongkok, dr. Zhong Nanshan, mengungkapkan bahwa koronavirus bisa menulari antarmanusia dan terdapat fakta kalau sudah ada empat belas tenaga medis sudah terinfeksi virus. Wang Fang merasa terguncang, tentunya. Ia seketika langsung mengisolasi diri selama 14 hari (sesuai dengan informasi periode inkubasi virus) dan menuliskan di kertas siapa saja yang sudah ditemui 2 minggu ke belakang untuk memberikan informasi jikalau ia benar-benar terinfeksi. Ia pun berpikiran tidak mau kalau orang-orang tersayangnya ikut terinfeksi virus tersebut.

Wuhan layaknya kota mati tak berpenghuni

Kota sebesar Wuhan ditutup? Tak mungkin!

Wang Fang benar-benar tak bisa mengelak jika kota Wuhan harus benar-benar ditutup. Keadaan kota sangat sunyi dan senyap. Jalanan terbentang luas dan ibarat makanan sudah terbengkalai. Sedih rasanya melihat jalanan yang biasanya menjadi pusat keramaian tiba-tiba saja harus bernasib seperti ini. keresahan di dalam benak pun muncul, apakah orang-orang tersayang, termasuk anak dan keluarganya akan atau sudah terinfeksi virus, serta mempertanyakan keadaan masa depan kota Wuhan akan seperti apa.

Akibat penguncian wilayah yang menyebabkan kota Wuhan layaknya kota mati, masyarakat yang sudah memiliki gejala berat–yang ingin memeriksakan diri ke tenaga media–tidak memiliki akses untuk menjangkau pusat pelayanan kesehatan. Tak satu pun transportasi yang melintas di jalanan, sekali pun itu transportasi publik. Alhasil, orang-orang yang bergejala berat tersebut meninggal di tempat sebelum mendapat pertolongan medis.

Keadaan di Wuhan memang benar-benar miris saat awal kemunculan koronavirus. Beberapa bulan kemudian koronavirus menyerang berbagai negara, bahkan hingga saat ini sudah hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia.

Itulah sedikit simpulan dari isi buku Wuhan Diary. Nantikan segera di pasaran dan ikuti masa pre-order bukunya di Bentang Pustaka pada tanggal 30 November-15 Desember 2020.

Bagaimana pun keadaanmu pada masa pandemi sekarang ini, saya harap dirimu tetap bisa bertahan dan bangkit dari masa-masa sulit, ya!

Pamungkas Adiputra.

Baca juga: COVID-19: Musibah atau Konspirasi?

 

 

 

 

 

© Copyright - Bentang Pustaka