Kitab Omong Kosong Bukan Sekadar Omong Kosong

Setiap buku, barangkali, menjadi strategi bagi setiap penulis untuk menciptakan impresi baik pada pembaca melalui judul yang menarik. Tidak terkecuali Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma. Apa yang kita bayangkan jika membaca judulnya? Kekosongan? Kehampaan? Atau mungkin sesuatu yang nihil sama sekali? Kalau membayangkan salah satunya, atau bahkan ketiganya sekaligus, sepertinya kita salah besar. Inilah menariknya. Bagi saya, yang telah membaca sepenuhnya dan mengingat kurang dari separuhnya, Kitab Omong Kosong bukanlah omong kosong belaka. Kok bisa?

Kitab Omong Kosong Bukan Cerita Wayang

Kita selalu berkutat bahwa cerita-cerita wayang yang hampir selalu jatuh pada narasi mainstream itu memiliki nilai yang tetap, sesuatu yang pakem dan tak dapat diubah. Menariknya, meskipun menyadur kisah Ramayana, kita tak dapat menemukan apa yang kita bayangkan sebagai identitas Ramayana itu sendiri. Rama, Sinta, Anoman, atau bahkan Rahwana hanyalah partikel kecil di dalam Kitab Omong Kosong. Tokoh-tokoh mayor yang didudukkan dalam dominasi pada kisah Ramayana, dibalikkan menjadi tokoh yang sama sekali tak penting, bahkan tercitrakan jahat. Mereka, yang dalam kisah Ramayana begitu elitis, ditampakkan sisi buruknya. Tokoh-tokoh ningrat yang abai pada rakyat, bahkan cenderung menindas. Kita akan menyaksikannya, dengan amat jelas bahkan, dalam perjalanan panjang Maneka, seorang pelacur yang menjadi korban persembahan kuda.

Bukankah itu semua tidak terjadi dalam cerita-cerita wayang? Atau cobalah kita berjalan-jalan, keluar rumah, barangkali Kitab Omong Kosong itulah hidup yang kita jalani? Atau Maneka barangkali adalah orang-orang di jalanan, tetangga kita,  atau bahkan diri kita sendiri?

Protes Ketuhanan

senja turun di dalam kitab, o

dunia terlipat ke balik huruf

laut dan gunung berdesakan

sehingga ikan ketemu macan

jangan menangis begitu sayang

ada wayang memburu dalang, o!

Tidak. Bagian ini jelas bukan soal ateisme. Ini adalah sebuah wacana besar Maneka dan Satya dalam Kitab Omong Kosong. Bahkan, bisa disebut bahwa inilah jiwa buku ini: protes ketuhanan. Kita mesti membayangkan seseorang yang dalam tatanan sosial direndahkan, atau sebut saja pelacur, menjadi korban persembahan kuda Rama yang barangkali bisa ditafsirkan sebagai gimik saja. Ya, begitulah. Orang yang tertindas telah ditindas berkali-kali. Maneka. Dan, kita akan menyaksikannya mencari dalang kehidupan, seseorang yang menggariskan takdirnya, seseorang yang menghendakinya menderita. Dari sana, semuanya bermula: sebuah pencarian pangkal takdir, sebuah perjalanan spiritual, sebuah pertanyaan tentang kehidupan yang sejati.

Kitab Omong Kosong, sebuah dekonstruksi cerita Ramayana. Dapatkan di sini.

 

Lugas Ikhtiar

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *