Tips Menjadi Manusia Terbaik Menurut Cak Nun

Pada masa pandemi Covid-19 atau Corona ini, kita pasti sering mendapat kabar berita jika masih banyak masyarakat yang tak mengindahkan seruan social atau physical distancing, yang bahasa akrabnya “Di Rumah Saja”, padahal mereka sedang tidak ada keperluan khusus, dan justru melakukan hal-hal yang kurang urgen seperti nongkrong, membuat pesta berskala besar, hingga berkumpul pada satu titik tertentu. Mereka yang melanggar aturan pun kemudian ditindak secara tegas oleh kepolisian dan TNI, seperti pembubaran, bahkan ada juga yang disetrap di kantor polisi. Padahal, gerakan social atau physical distancing semacam ini cukup penting dan berperan dalam memutus rantai penyebaran virus yang kini menguasai dunia.

Sementara itu, kita yang menyaksikan pelanggaran demi pelanggaran juga pasti merasa jengkel, bahkan tak sedikit pula yang mencelanya di media sosial dengan kata-kata yang kurang pantas. Namun, apakah bijak perilaku seperti itu? Tentu keduanya dinilai kurang bijak karena sama-sama tak mampu mengontrol keinginan diri dengan baik dalam menghendaki sesuatu, terutama dalam menyikapi sesuatu yang menjadi perintah atau larangan dalam kehidupan bermasyarakat ini.

Akan tetapi, kira-kira bagaimana pendapat Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengenai fenomena ngeyelnya masyarakat dalam menaati aturan negeri ini? Beginilah kira-kira pendapat Cak Nun, yang sebagian tulisannya telah beliau sampaikan dalam buku terbarunya berjudul Lockdown 309 Tahun.

Demikianlah budaya manusia. Yang pasti direlatifkan, yang relatif dipastikan. Yang sulit dipermudah. Yang mudah dipersulit. Kalau bahasa Jombang-nya, manusia memang ngewohi. Kalau lapar tidak bisa mikir. Kalau kenyang malas mikir. Ketika jomlo mengeluhkan kejomloannya, ketika sudah nikah mengeluhkan rumah tangganya.

Sesungguhnya dunia adalah negeri rantauan dan bukan negeri tempat menetap. Dan, Nabi Adam alaihis salam diturunkan di dunia untuk menjalani hukuman. Karena itu, berhati-hatilah. (Az-Zuhd, Ibnu Abi Dunya, No. 50)

Allah menciptakan manusia sesudah makhluk-makhluk yang lain sehingga disebut “ahsanu taqwim”. Paling oke. Paling sempurna dibanding yang lain-lain.

Lantas, bagaimana seharusnya perilaku kita dalam menghadapi hal-hal seperti itu? Sebagai manusia, tentu kita dianugerahi oleh cerdasnya akal pikiran serta kepekaan hati yang cukup tinggi sehingga mampu memilah sesuatu yang benar dan yang salah. Begitupun dalam menghadapi dinamika dunia yang terus-menerus dan akan terus berubah ini. Kita sebagai umat manusia harus mampu menyesuaikan terhadap segala kemungkinan dampak baik atau buruknya perilaku manusia.

Jika saat ini kita sedang diuji oleh pandemi Covid-19 yang menurut Cak Nun disebabkan oleh rusaknya dan angkuhnya ilmu pengetahuan manusia sehingga lupa bahwa dirinya tampak kecil di hadapan semesta, dan amat sangat kecil di hadapan Allah Swt. Maka, seharusnya kita semua mulai menyadari dan memekakan diri bahwa bisa jadi, pandemi yang kini banyak menyerang imun manusia merupakan teguran keras dari Allah Swt. agar jangan mudah terlena dengan urusan dunia yang fana ini, yang saking fananya selalu dianggap sebagai tempat persinggahan, atau istilah terkenalnya “sebagai panggung sandiwara saja”.

Lalu, bagaimana lagi jika kita ternyata sudah melakukan segala hal itu dengan cukup baik? Kita sudah berperilaku dengan baik, bijak dalam bermedia sosial misalnya, bahkan sangat tunduk dan patuh pada pemerintah perihal seruan dalam mencegah penyebaran virus Corona ini? Ingat, bahwa kebaikan itu tidak hanya kita yang merasakan, tetapi juga orang lain, khususnya di sekitar kita. Maka dari itu, sesungguhnya kebaikan tak perlu diutarakan, tak perlu dipamerkan, bahkan kalau perlu simpanlah rapat-rapat, sebagaimana kita menyimpan dosa secara erat. Biar orang lain yang mengetahui dan menilai bagaimana baiknya sikap kita, yang nantinya akan berbuah sebuah timbal balik, yang bisa saja timbal balik itu akan bermanfaat bagi kita, meskipun kita tak menyadarinya.

Misalnya, kita sudah mengikuti anjuran pemerintah untuk selalu beraktivitas “Di Rumah Saja” agar memutus rantai penyebaran Covid-19. Nah, bisa jadi, kebaikan yang kita dasarkan dari hati kepada Allah Swt. demi kemaslahatan orang banyak mampu menolong mereka-mereka yang mungkin saja rentan. Para dokter dan perawat tak lagi kewalahan menghadapi jumlah pasien misalnya, atau kita yang kemungkinan kecil tak termasuk sebagai carrier atau pembawa virus, atau bahkan kita bisa menyehatkan fisik bumi secara tidak langsung melalui angka penggunaan kendaraan serta polusi industri yang terus menurun, udara di bumi yang kita pijaki ini bisa berangsur sejuk dan normal kembali. Bahkan, di langit DKI Jakarta, sampai terlihat wujud Gunung Salak yang pada tahun-tahun sebelumnya jarang muncul.

Pada akhirnya, virus Covid-19 yang telah menyebar luas ini tak hanya bertugas untuk melemahkan sistem imun dan paru-paru, tetapi juga menyadarkan kita, bahkan menampar dengan keras akan kesombongan dan keangkuhan kita, yang menurut Cak Nun, pada akhirnya kita tetap kalah dengan sebuah benda kecil yang bermikro-mikro ukurannya. Salah satu jalan agar kita menang kembali adalah jadilah tawaduk, jangan pernah sombong, jangan pernah merasa bisa mengalahkan apa pun. Karena bagi Cak Nun, satu-satunya yang bisa mengalahkan kita hanyalah keagungan Allah Swt., yang salah satunya melalui makhluk ciptaan-Nya berupa virus bernama Corona.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *