Bagaimana Buku Ngaji Fikih Diciptakan?

Bagi pembaca setia buku Nadirsyah Hosen (Gus Nadir), pasti tak asing dengan buku-buku beliau sebelumnya seperti Tafsir Al-Quran di Medsos dan Saring Sebelum Sharing. Tak lama lagi, buku ketiga beliau akan terbit, yakni Ngaji Fikih, merupakan representasi dari kajian fikih yang selama ini Gus Nadir pelajari dari sang abah, Prof. K.H. Ibrahim Hosen, L.M.L. Abah Ibrahim Hosen merupakan seorang ahli fikih ternama di Indonesia, bahkan kepiawaiannya dalam menentukan hukum fikih membawa beliau menjadi salah seorang pengurus Komisi Bidang Fatwa di Majelis Ulama Indonesia pada 1980 hingga 2000. Sementara itu, Gus Nadir sendiri merupakan Rais Syuriah PCI Nadhlatul Ulama Australia dan New Zealand, serta dosen tetap di Monash Law School di Monash University, Australia. Duet bapak-anak dalam bidang fikih ini dinilai cukup penting karena selain menjadi tonggak dalam sepak terjang kepenulisan hukum seputar fikih di Indonesia, juga memetik sebuah hikmah―bagaimana sebuah ilmu (khususnya ilmu agama) dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Sungguh betapa mulianya hakikat mencari ilmu tersebut.

Gus Nadir yang merupakan lulusan santri pondok, banyak menerjemahkan berbagai kitab-kitab yang diciptakan oleh para perawi, tabi’in, hingga ulama, kemudian mengemasnya ke dalam bentuk bacaan yang disesuaikan oleh pembaca zaman sekarang, khususnya para pengguna medsos, yang cenderung lebih tertarik pada hal-hal yang ringkas serta mudah diaplikasikan.

Selain itu, Gus Nadir juga memiliki misi mulia dalam menerbitkan buku Ngaji Fikih ini. Buku yang diharapkan dapat menjadi pelengkap dari dua karya besar beliau sebelumnya dalam mewarnai khazanah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, khususnya di Indonesia. Jika buku Tafsir Al-Quran di Medsos merupakan bentuk kajian Al-Quran yang dibahas secara mendalam dengan konteks kekinian, lalu buku Saring Sebelum Sharing sebagai bentuk kajian beberapa hadis sahih maka buku Ngaji Fikih menjadi pelengkap atas kajian ilmu fikih yang tentu tak bisa dilepaskan dari penerapan hukum-hukum Islam itu sendiri.

Ushul Fiqh atau ilmu fikih adalah cabang hukum Islam yang mempelajari teori serta sumber Islam dalam rangka menghasilkan hukum-hukum agama yang sejalan dengan prinsipnya, serta baik bagi kemaslahatan umat. Jika hukum-hukum yang berasal dari Al-Quran dan hadis disebut syariat maka hukum-hukum yang berasal dari ijmak, qiyas, serta sumber lainnya disebut fikih. Dan ilmu fikih inilah yang justru melibatkan banyak pendapat para ulama dari masing-masing mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), sebelum kemudian diputuskan menjadi sebuah ketetapan hukum.

Proses perumusan hukum fikih yang melalui diskursus panjang, juga memuat berbagai hikmah, salah satunya adalah bagaimana sikap tawaduk senantiasa dimiliki para sahabat serta ulama dalam mengkaji, berpendapat, hingga memutuskan satu perkara yang melibatkan kepentingan khalayak tersebut.

Maka, melalui buku ini, Gus Nadir tak hanya menyajikan prinsip hukum fikih dan cara memutuskan perkara yang benar, tetapi juga mengulas sejarah hukum fikih, bagaimana ilmu fikih bekerja, hingga pertanyaan-pertanyaan hukum Islam yang diajukan warganet pada era Milenial ini, yang tentu disusun secara tekstual agar dapat dipraktikkan secara kontekstual.

Semuanya dijawab secara tuntas oleh Gus Nadir, bahkan disampaikan secara santai tanpa mengurangi nilai serta hakikat mencari ilmu agama yang selama ini menjadi modal berkembangnya Islam di dunia. Ini menjadi penting karena jarang sekali ulama fikih yang membahas hukum-hukum melalui teknik pendekatan khususnya kepada para Milenial.

Apalagi ilmu fikih yang disampaikan oleh Gus Nadir ini juga berasal dari sumber kitab-kitab fikih yang justru belum banyak diketahui orang sebelumnya sehingga menjadi nilai tambah, sekaligus kemudahan bagi pembaca dalam memahami konteks dan isinya.

Gus Nadir yang juga seorang akademisi berharap besar melalui buku ini agar para pembaca dapat memilih “guru ngaji” yang tepat pada era media sosial ini. Juga pembaca tak sampai tersesat dalam memahami hukum fikih dan hukum syariat yang sebenarnya karena sejatinya Islam adalah agama yang memudahkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *