Puzzle Book: Cara Baru Mengenal Cerita Rakyat

Ada sebuah cerita rakyat yang menceritakan kisah seorang perempuan bernama Bawang Putih. Pada suatu hari, Bawang Putih diperintahkan oleh ibu tirinya untuk mencuci pakaian di sungai. Saat sedang mencuci, salah satu selendangnya hanyut di sungai. Sesegara mungkin, dia mengikuti selendang tersebut dan berusaha mengambilnya. Namun, tiba-tiba muncul seorang nenek .…

Tidak asing dengan penggalan cerita di atas? Penggalan di atas merupakan penggalan dari cerita rakyat Bawang Merah Bawang Putih. Sebagai masyarakat Indonesia, kita pasti akrab dengan cerita rakyat Indonesia seperti Ande-Ande Lumut, Tangkuban Perahu, Lutung Kasarung, Keong Mas, hingga yang sangat terkenal yaitu Malin Kundang, Timun Mas, dan Bawang Merah Bawang Putih.

 

Kurangnya Pengenalan Cerita Rakyat Indonesia

Pada awal 2000-an, cerita rakyat Indonesia bisa kita nikmati dari berbagai sumber, seperti tayangan televisi hingga buku bacaan. Sayangnya, sekarang cerita rakyat sudah sulit diakses. Bahkan, tayangan televisi dan buku bacaan sudah tidak lagi menceritakan cerita rakyat kepada generasi muda Indonesia. Sekarang ini, media hiburan Indonesia lebih suka menayangkan cerita Disney atau dongeng-dongeng luar negeri.

Sulitnya mengakses cerita rakyat membuat generasi penerus bangsa kurang mengerti cerita-cerita rakyat Indonesia. Mereka lebih tahu cerita Frozen, Beauty and The Beast, dan sebagainya. Padahal, cerita rakyat Indonesia penting untuk dipelajari, terlebih bagi anak-anak. Dengan membaca cerita rakyat Indonesia, anak-anak dapat mengambil pesan moral positif sebagai pondasi moral yang sesuai dengan budaya Indonesia. Selain itu, mereka juga dapat mempelajari sejarah dan keragaman budaya Indonesia.

Untungnya, masih ada media yang peduli terhadap pengenalan cerita rakyat kepada anak-anak. Salah satunya adalah Penerbit Bentang Pustaka. Bentang Pustaka telah menerbitkan seri Cerita Klasik Indonesia. Seri Cerita Klasik Indonesia telah mengangkat dua cerita rakyat dalam dua buku berbeda yaitu Bawang Merah Bawang Putih dan Timun Mas.

Bawang Merah Bawang Putih dan Timun Mas yang ditulis oleh Tria Ayu K. merupakan read and play puzzle book. Artinya, dalam buku tersebut terdapat cerita, ilustrasi, dan juga puzzle untuk bermain anak-anak. Buku tersebut cocok untuk anak usia satu sampai lima tahun.

 

Sinopsis Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih dan Timun Mas

Bawang Merah Bawang Putih yang diadaptasi oleh Tria Ayu K. bercerita tentang Bawang Putih yang sedang mencuci pakaian di sungai. Tiba-tiba, salah satu selendangnya hanyut di sungai. Bawang Putih berusaha mengambilnya, tetapi gagal. Lalu, Bawang Putih bertemu dengan seorang nenek. Dia bertanya mengenai selendangnya. Namun, sebelum menjawab pertanyaan Bawang Putih, Nenek meminta Bawang Putih untuk membantunya. Karena kebaikan Bawang Putih, Nenek memberinya labu yang ternyata berisi emas. Emas tersebut diambil oleh Bawang Merah dan Ibu Tiri. Karena serakah, mereka ingin mendapatkan labu berisi emas. Bawang Merah pun menemui Nenek dan Nenek pun membantunya. Bukannya mendapatkan labu berisi emas, Bawang Merah hanya mendapatkan labu busuk.

Sementara itu, Tria Ayu membuat sedikit modifikasi pada cerita Timun Mas. Diceritakan bahwa ada seorang perempuan bernama Mbok Srini yang memetik timun berisikan bayi. Kemudian, bayi tersebut diberi nama Timun Mas. Suatu ketika, ada Raksasa yang ingin mengambil Timun Mas darinya. Untuk membantu Timun Mas, Mbok Srini meminta pertolongan dari seorang Pratapa yang memberinya bungkusan berisi benih timun, duri, garam, dan trasi. Timun Mas pun mengalahkan Raksasa dengan isi bungkusan tersebut. Ternyata, pada akhir cerita dikisahkan bahwa Raksasa tidak ingin berbuat jahat kepada Timun Mas. Dia hanya ingin mendapatkan teman bermain dengan menjadikan Timun Mas sebagai adiknya. Timun Mas dan Raksasa akhirnya berteman.

 

Cerita dan Ilustrasi yang Cocok untuk Usia Anak

Seri Cerita Klasik Indonesia memiliki gaya penyampaian cerita yang sederhana dan tidak bertele-tele sehingga mudah dipahami oleh anak-anak. Selain itu, pesan moral yang dapat diambil juga disampaikan dengan jelas. Contohnya, dalam read and play book Bawang Putih Bawang Merah, pesan moral yang penulis ingin sampaikan dapat disimpulkan dengan mudah bahwa manusia tidak boleh serakah. Kebaikan dan rezeki yang diharapkan tidak akan datang sesuai harapan ketika kita serakah terhadap sesuatu.

“Bawang Putih menatap Ibu Tiri dan Bawang Merah dengan sedih. Mungkin, itu adalah balasan bagi sikap serakah mereka.”

Selain penyampaian yang sederhana, seri Cerita Klasik Indonesia juga menggunakan cara penceritaan yang tidak menyeramkan. Jika kebanyakan cerita Bawang Merah Bawang Putih, labu yang Bawang Merah dapatkan berisi lebah atau sesuatu yang mengerikan, Tria Ayu menceritakan bahwa labu yang Bawang Merah dapatkan adalah labu busuk. Mendapatkan labu busuk lebih cocok diceritakan kepada anak-anak daripada tersengat lebah. Hal yang sama juga diterapkan pada cerita Timun Mas ketika Raksasa bukanlah raksasa yang jahat. Dengan begitu, anak tidak merasa ketakutan yang berlebihan sehingga menyebabkan mimpi buruk.

Dalam menyampaikan cerita, Tria juga menyajikan ilustrasi pada seri ini. Ilustrasi yang disajikan dapat membantu anak untuk mengimajinasikan cerita yang dibacakan sehingga anak lebih mudah untuk mengerti dan membayangkan apa yang terjadi. Ilustrasi dalam buku tersebut cocok untuk anak-anak karena menarik, jelas, sederhana, dan tidak menyeramkan. Contohnya, Raksasa dalam buku Timun Mas tidak diilustrasikan memiliki taring dan wajah seperti monster sehingga anak dapat melihat ilustrasi dengan nyaman.

Menariknya, seri Cerita Klasik Indonesia juga dilengkapi dengan dua bahasa: bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Cerita bilingual ini dapat membantu anak belajar bahasa asing sekaligus. Mengenal bahasa Inggris sejak dini memudahkan anak untuk belajar bahasa Inggris lebih dalam ketika mereka tumbuh.

 

Buku yang Berkualitas

Keistimewaan dari seri Cerita Klasik Indonesia adalah tersedianya puzzle di akhir halaman. Puzzle ini berilustrasikan tokoh yang ada dalam cerita. Dengan adanya puzzle, anak bisa mengasah area motoriknya.

Selain itu, seri Cerita Klasik Indonesia memiliki kualitas buku fisik yang tinggi. Karena buku ini ditujukan anak usia 1―5 tahun, buku-buku seri Cerita Klasik Indonesia menggunakan round corner. Setiap buku menggunakan kertas ivory 350 gram sebagai kertas isi dan grey board sebagai kertas sampul. Jumlah halaman tidak terlalu tebal, yaitu 21 halaman dalam buku Timun Mas dan 22 halaman dalam buku Bawang Merah Bawang Putih membuat buku-buku tersebut ringan untuk diikuti oleh anak.

Mengenalkan anak dengan read and play book memiliki banyak manfaat, seperti melatih imajinasi anak, kemampuan membaca, dan kemampuan motorik melalui puzzle. Dengan adanya ilustrasi dan puzzle, mengenal cerita rakyat pun akan semakin menyenangkan sehingga anak tidak mudah bosan. Selain itu, Tria Ayu menyesuaikan penyampaian cerita sesuai dengan usia anak sehingga akan semakin mudah mengikuti dan memproses cerita.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *