Pahami Faktor Kenakalan Remaja dari Kisah Sabit dan Saira!

Sobat Bentang, melihat fenomena kenakalan remaja akhir-akhir ini membuat kita semua turut prihatin juga khawatir atas kondisi remaja sebagai penerus bangsa, bukan?

Rasa prihatin dan khawatir atas fenomena kenakalan remaja semakin dirasa apabila dalam lingkup keluarga terdapat anak, adik, atau saudara yang juga masih remaja. Peran orangtua hingga orang dewasa penting dalam merespon adanya kenakalan remaja. Oleh sebab itu, belajar ilmu parenting tak harus menunggu ketika sudah punya anak, sedini mungkin kita perlu belajar ilmu parenting untuk memahami kebutuhan dan menjalin relasi dengan anak.

Photo by Monstera: https://www.pexels.com/photo/faceless-people-scolding-discontent-black-girl-7114755/

Kenakalan remaja adalah…

Apa yang ada dalam benak Sobat Bentang ketika menemui kata kenakalan remaja? 

Remaja yang suka bolos? 

Remaja di bawah umur yang merokok? 

Atau seperti yang sedang banyak terjadi di beberapa daerah kini, remaja yang suka tawuran? Semua itu adalah contoh bentuk kenakalan remaja yang telah menjadi fenomena tersendiri bagi kehidupan remaja saat ini. 

 

Kenakalan remaja adalah penyimpangan perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma, nilai, dan budaya yang berlaku di masyarakat. Kenapa kenakalan identik dengan remaja? Karena masa remaja adalah masa peralihan pola kehidupan remaja yang mengalami perubahan atau transisi dari masa anak-anak menuju dewasa. Perubahan tersebut mencakup tata cara bertingkah laku, bergaul, dan berpikir. Ketika remaja tidak mampu mengendalikan diri sehingga lepas kontrol mereka mudah terjerumus pada perilaku menyimpang.

 

Ada beragam faktor yang melatari mengapa remaja akhirnya terjerumus pada perilaku menyimpang dan akhirnya masuk ke dalam circle fenomena kenakalan remaja. Menurut Santrock ada dua faktor yang mempengaruhi, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berpangkal dari remaja itu sendiri. Sementara faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri remaja atau berasal dari lingkungannya.

 

Hal ini pun kuat terasa dalam kisah Sabit dan Saira dalam novel My Rocket Queen. Sabit dan Saira adalah dua remaja SMA yang hidup di tahun 90-an. Mereka berdua suka dunia musik, hidup di era tahun 90 yang penuh gejolak politik dan agama juga berpengaruh ke kondisi keluarga masing-masing yang sama-sama tidak harmonis. Keduanya adalah remaja yang ingin kebebasan dalam menentukan arah hidup tapi terbentur oleh egoisnya sikap orangtua. Sabit dan Saira hidup dalam kondisi lingkungan dengan kenakalan remaja yang tinggi, termasuk narkoba dan alkohol. 

Mengapa terjadi kenakalan remaja?

Dalam novel My Rocket Queen, Sobat Bentang bisa melihat dua faktor kuat terjadinya kenakalan remaja dalam kisah Sabit dan Saira, antara lain:

1. Faktor lingkungan sekolah yang tidak menarik dan menguntungkan

Sabit adalah siswa kelas X, ia baru saja memasuki bangku SMA. Sejak pertama kali masuk sekolah ia merasa harinya adalah hari berengsek tiada guna. Bagaimana ia tidak kesal? Baru pertama masuk sekolah ia harus mengikuti ospek. Ia dipaksa memakai topi dari bola plastik yang tak ia pahami apa gunanya. Justru, ia merasa dongkol dengan aturan ospek yang aneh ini. Belum lagi senior yang suka marah dan menghukum  seenaknya hanya karena tak menatap mata sang senior.

 

Bangunan sekolahnya juga seperti penjara, tembok kusam tangga besi berkarat. Dari segi fisik, sekolahnya tak menarik. Apalagi orang-orangnya, kakak kelas sok senior serta guru yang dongkol tapi sebenarnya ketakukan ketika mengetahui siswanya ada yang membaca buku Karl Marx, Das Kapital. Sebab itulah Sabit dan dua kawannya sering bolos sekolah dan memilih latihan band di studio bersama dua kawannya, Rio dan Levi.

 

Baca Juga: Pentingnya Belajar Ilmu Parenting Sejak Dini

2. Faktor lingkungan keluarga, kurangnya perhatian dan penghargaan

Saira masih kelas tiga SMA, tapi ia harus menanggung segala ego bapaknya sang mantan jendral yang otoriter. Kakaknya kabur ke Jepang karena tak kuat dengan kerasnya perilaku bapak dan ketidakmampuan ibu untuk membela anak-anaknya. Saira juga punya adik bernama Bayu, pengidap down sindrom yang tak diakui oleh bapaknya. Bayu seolah tak ada di dunia tapi Saira sangat sayang dengan adiknya itu.

 

Kondisi keluarganya yang karut marut serta beban yang dipangkunya sebagai anak satu-satunya di rumah membuat Saira bersentuhan dengan narkoba. Ia tak mendapat kasih sayang yang utuh dari orangtuanya. Hanya tekanan dan perintah yang muncul dari kedua orangtuanya. Ia terpaksa bertahan dalam keluarganya yang karut marut karena kondisi bapaknya yang stroke dan sang ibu yang sering dimarahi juga oleh bapaknya.

Kenakalan remaja merupakan sebuah fenomena yang kompleks untuk dipahami. Namun, bukan berarti kita tak bisa mengambil pelajaran dan upaya agar lebih memahami kondisi yang mungkin terjadi di lingkungan terdekat kita. 

Yuk Ikuti Kisah Sabit dan Saira!

Kisah Sabit dan Saira dalam novel My Rocket Queen seolah jadi tamparan bagi dunia pendidikan dan juga orangtua untuk lebih memperhatikan lebih kondisi remaja. Bagaimana kisah Sabit dan Saira pada akhirnya? Sobat Bentang bisa ikuti kisahnya dalam novel My Rocket Queen, karya original penulis skenario film, produser dan sutradara Salman Aristo. Informasi detail perihal produk bisa diakses di sini. 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - Bentang Pustaka