Menangani Kemarahan kepada Anak hingga Akarnya

Menangani kemarahan adalah momok parenting bagi orang tua. Ada saat orang tua bersikap lemah lembut dan mengekspresikan rasa sayangnya kepada anak dengan baik. Tapi, ada pula saat dimana orang tua geram terhadap anak. Rasanya ingin sekali membentak anak.Banyak juga yang tak memukul anak untuk mengekspresikan kemarahan. Emosi berupa kemarahan sering kali berujung kekerasan.

Marah adalah emosi manusiawi. Sebagai manusia, orang tua juga bisa marah. Namun, kita sering mengekspresikan kemarahan dengan cara yang salah, seperti menggunakan kekerasan. Kekerasan bisa berupa kekerasan fisik maupun verbal. Padahal, jika dipikirkan dengan kepala dingin, kesalahan anak sebenarnya masih bisa ditolerir. Berita buruknya, mengekspresikan rasa marah dengan cara yang tidak sehat hanya akan berdampak buruk bagi anak maupun orang tua.

Anak yang sering dimarahi orang tua dibayangi dampak buruk secara fisik maupun mental. Kekerasan fisik akan berakibat buruk secara mental dan fisik. Sementara itu, kekerasan verbal berdampak buruk pada mental anak. Secara mental, anak akan tumbuh menjadi orang yang pemarah, anti-sosial, agresif, pemberontak, dan masih banyak lagi. Dampak tersebut juga diperngaruhi lingkungan dan kekuatan mental anak. Bagi orang tua sendiri, pelampiasan rasa marah yang tidak sehat akan berakibat pada penyesalan dan self-blaming atau menyalahkan diri sendiri.

Oleh karena itu, orang tua wajib memiliki kemampuan untuk menangani rasa marah. Dalam buku Gentle Discipline, Sarah Ockwell-Smith—seorang psikolog dan gentle parenting method specialist—membongkar rahasia menangani kemarahan dari akarnya. Berikut cara-cara menangani kemarahan sebagai orang tua.

Kenali Pemicu Kemarahan pada Anak

Jika kita bertanya pada internet atau orang di sekitar kita, banyak yang memberi saran tentang cara menangani kemarahan yang bersifat parsial sehingga tidak menyentuh akar permasalahan. Hal ini hanya akan membuat usaha kita menangani emosi tidak efektif dengan hasil yang tak pasti. Mereka hanya akan memberikan solusi untuk menahan emosi dengan menarik napas, menghitung dari satu sampai sepuluh, dan semacamnya. Tidak ada yang salah dari cara tersebut. Namun, jika orang tua hanya melakukan hal tersebut tanpa mengenali penyebab kemarahan pada anak, cara tersebut hanya akan bertahan sementara.

Pemicu kemarahan adalah akar dari setiap kemarahan kita. Dengan memahaminya, kita tidak hanya dapat mengendalikan kemarahan, tetapi juga menghindarinya. Pemicu yang dimaksud Sarah Ockwell-Smith bukanlah pemicu eksternal, tetapi pemicu internal. Pemicu eksternal bisa datang dari kesalahan anak, sementara pemicu internal datang dari diri kita sendiri. Dalam buku Gentle Discipline, Sarah menjelaskan beberapa contoh pemicu tersebut, seperti kelelahan mental dan fisik, stres, lingukungan tempat kita tumbuh menggunakan kekerasan, kecemasan dan kekhawatiran, kekurangan waktu untuk diri sendiri, dan masalah lain yang sedang kita hadapi baik di rumah maupun di luar rumah. Masalah-masalah tersebut dapat mengusik ketenangan mental kita sehingga menjadi pemicu kemarahan.

Lalu, apa manfaat mengetahui pemicu kemarahan kita? Dengan mengetahui pemicu kemarahan, kita dapat mengetahui kapan kita perlu memberi waktu untuk diri sendiri. Kita biasa menyebutnya me-time. Banyak kegiatan yang dapat mengisi me-time seperti berbelanja, relaksasi, berolahraga, atau melakukan hobi kita. Namun, jika me-time bukanlah solusi yang efektif, orang tua dapat mencari bantuan orang yang profesional seperti psikolog. Konseling dengan psikolog akan membantu orang tua menangani pemicu internal dengan lebih terarah.

Terapkan Mindfulness

Mindfulness adalah merasakan, sadar, dan menikmati “saat ini.” Yang Sarah Ockwell-Smith maksud bukan mempraktikkan mindfulness dengan cara meditasi atau relaksasi dengan mendengarkan CD. Namun, mindful berarti menjadi awas dan mengamati apa yang terjadi pada diri sendiri pada “saat ini”. Menerapkan mindfulness membantu kita mengambil jeda sebelum merespons. Jeda memberikan kita kesempatan untuk berpikir rasional, sehingga emosi yang keluar pun lebih terkendali.

Buku Gentle Discipline juga menjelaskan lima teknik yang dapat membantu mindfulness dalam menangani kemarahan. Sarah menyingkatnya menjadi PETER: pause, empathise, think, exhale, dan respond. Selain PETER, Sarah juga menuliskan beberapa strategi favotitnya. Salah satunya adalah dengan menutup mata dan membayangkan tempat favorit kita. Dengan begitu, kita dapat menemukan ketenganan.

Memaafkan Diri Sendiri

“Semua orang pernah ‘meledak’ pada titik tertentu ketika menghadapi anak-anak mereka, termasuk saya,” tulis Sarah. Pertanyaan yang pasti semua orang setujui. Oleh sebab itu, akan ada saat orang tua kesulitan atau gagal dalam mengendalikan kemarahan walaupun sudah menerapkan banyak strategi.

Ketika orang tua gagal mengendalikan kemarahan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memaafkan diri. Gagal mengendalikan kemarahan tidak menjadi acuan baik dan buruknya kita sebagai orang tua. Selain memaafkan diri, kita juga perlu membuang kata menyerah dan terus berusaha memperbaiki diri.

Pada dasarnya, kegagalan ini adalah momen emas untuk kita mengintrospeksi diri. Kegagalan yang terjadi pun dapat kita perbaiki. Dalam memperbaiki diri, kita perlu memberi waktu untuk menenangkan diri sendiri. Cari tahu pemicu kegagalan tersebut. Apakah karena sedang kelelahan? Lalu, pikirkan solusi yang tepat untuk setiap pemicu yang berbeda.

Ketika kita sudah tenang dan mengintrospeksi diri, minta maaflah kepada anak. Selama meminta maaf, beri tahu anak bahwa kita telah melakukan kesalahan dan akan terus berusaha untuk lebih menjadi lebih baik. Ajak mereka berdiskusi. Dalam diskusi, beri anak pengertian bahwa marah itu manusiawi, tetapi harus diekspresikan dengan cara yang sehat. Beri juga pemahaman bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Diskusi tersebut dapat membantu membentuk norma anak. Selain itu, beri anak pemahaman tentang kondisi yang sedang orang tua alami. Percaya deh, anak akan lebih kooperatif setelahnya.

Menerapkan ketiga cara tersebut memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ketekunan dan kesabaran untuk  berlatih mengendalikan kemarahan. Namun, perlu diingat bahwa kita tidak diwajibkan menjadi orang tua sempurna. Bahkan, dalam buku Gentle Discipline, Sarah menyarankan aturan 70% 30%. Sebanyak 70% untuk kita berusaha menjadi orang tua terbaik dan 30% untuk tidak memusingkan hal tersebut. Oleh karena itu, mengakui kekurangan dan memaafkan diri adalah hal terpenting dalam menangani emosi. Sering kali diri kita sendirilah yang menjadi sumber utamanya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *