fbpx

Latihan Dasar Meredakan Cemas: Berani Menemui Cemas

Apakah kamu perlu untuk menenangkan pikiran dan meredakan cemas? Anxiety. Begitu banyak dari kita yang sering mengucapkan kata tersebut ketika berada dalam sebuah kebimbangan. Banyak dari kita pula yang tak sadar akan datangnya sebuah anxiety tersebut. Sering kali itu multitafsir dan pada akhirnya membuat pikiran kita menjadi kacau balau.

Suatu ketika, saya mendengar percakapan Adjie Santosoputro yang sedang bercengkerama dengan Sunyi, si pakar dari segala permasalahan pikiran dan batin. Tampak begitu syahdu mereka saling menuangkan pikiran dalam sebuah topik tentang “kecemasan dalam kehidupan”.

Suatu hari, Sunyi berkata kepadaku, ketika berani menemui rasa cemas, kita akan sadar bahwa hidup yang serba nggak pasti ini sudah sempurna apa adanya.

Meredakan Cemas ala Mengheningkan Cinta

meredakan cemas

Sadari sensasi tubuhmu, temani rasa dan masukilah, tersenyumlah, dan luangkan waktu untuk keluar ruangan dan lihatlah langit

“Boleh-boleh saja, setiap merasa cemas, kita berusaha mengusirnya. Kita melarikan diri darinya atau kita berupaya mengatasinya dengan mengalihkan perhatian, makan, belanja, minum alcohol, atau pakai obat-obatan … atau dengan melakukan reframing (mengubah sudut pandang) akan sumber kecemasan itu. Namun, sehebat apa pun usaha kita melawan cemas dan melarikan diri darinya, cemas akan selalu ada, bahkan cemas terasa lebih mengerikan,” ucap beberapa nasihat dari Sunyi kepada Adjie dengan perkataan yang jelas.

“Cemas” ada di dalam rumah kita. Ketika melarikan diri darinya, kita pergi, kita nggak bersamanya. Namun, mau nggak mau, akhirnya kita harus pulang ke rumah dan bertemu dengannya. Begitu pula ketika kita melawannya 100%, bersiaplah untuk mendapatkan serangan balik darinya 100%.

Sering kali, saat kita cemas, kita berusaha melawannya atau melarikan diri darinya … kita berpikir, Pergilah, Cemas! Kamu menyebalkan! Kenapa kamu menemuiku? Begitulah kira-kira gambaran yang kita bayangkan ketika cemas selalu datang menghantui diri kita. Terus berandai-andai … bakalan menyenangkan kalau kita nggak pernah merasakan sebuah kecemasan.

Beberapa tips meredakan cemas dari buku Mengheningkan Cinta karya dari Adjie Santosoputro di bawah ini dapat kalian jadikan referensi latihan dasar untuk membuat suasana diri dan sekitar menjadi aman serta nyaman ketika sebuah kecemasan datang menghampiri.

Ketika Merasa Cemas, Sadari Sensasi Tubuhmu

Jangan menghindar. Menghindar dari sebuah kecemasan dengan usaha yang keras justru akan melemahkan pikiran dan batinmu. Terima semua hal yang datang, terima sensasinya, dan jangan pernah menolaknya.

“Belajar untuk tidak memercayai cerita-cerita yang berkecamuk di kepalamu. Cerita-cerita itulah yang bikin kamu cemas. Sadari saja apa yang dirasakan tubuhmu. Di bagian mana rasa cemas itu berada?”

Kamu berhak atas semua kendali yang ada di tubuhmu. Kamu punya otoritas akan hal itu. Kendalikanlah, jangan pernah mudah digoyahkan oleh sebuah kecemasan. Kelabuhi “dia” dengan siasat-siasat yang sekiranya dapat kita robohkan.

Temui Rasa Cemas Itu … Temani Rasa Itu dan Masukilah

“Coba untuk tidak lari, tetapi temanilah sensasi tubuh yang kita rasakan. Ketimbang melawannya atau menginginkan rasa cemas itu berhenti … sebaiknya kita membuka diri untuk merasakan dengan sepenuhnya. Merasakan cemas dengan ikhlas. Layaknya anak kecil yang serba-ingin tahu. Rasa cemas ini sebenarnya bagaimana, sih? Apakah intensitasnya berubah-ubah? Reaksi pikiranku terkait rasa cemas ini bagaimana?”

Baca juga : Adjie Susantoputro Praktisi Mindfulness Milenial

Tersenyumlah

“Tumbuhkan sikap ramah terhadap rasa cemas. Sadari rasa cemas sebagai hal yang wajar, yang dirasakan sebagai manusia. Belajarlah ramah terhadap rasa cemas. Lihatlah ini sebagai kesempatan kita untuk berteman dengan cemas yang akan bersama kita sepanjang hidup. Sebuah peluang untuk belajar nyaman di tengah ketidaknyamanan. Kalau bisa melakukan ini, kita akan menjadi manusia bermental baja dan mudah berbahagia.

Luangkan Waktu Buat Keluar Ruangan dan Lihatlah Langit

“Ini akan membantu kita untuk meluaskan sudut pandangmu. Biasanya, reaksi kita saat cemas adalah berusaha melawannya karena kita terjebak dalam sudut pandang yang sempit, bahkan ada sebagian orang yang terbiasa egois. Sadari bahwa pikiran kita ini seperti langit biru … bukan sempit, melainkan sangat luas,” tegas ucapan Sunyi sembari menatap mata Adjie.

“Nah, kita bisa melihat rasa cemas layaknya sebuah awan di pikiran, di ruang yang sangat luas dan terbuka. Jadi, nggak perlu lalu larut dalam awan cemas itu. Kita bisa melihat rasa cemas seperti awan … sifat alaminya adalah temporer, sementara. Nggak kekal, nggak abadi. Rasa cemas hanya melintas dan akan berlalu. Bukan cemas, melainkan pikiran yang sangat luas dan terbukalah yang akan selalu menemani kita.”

Dari melihat ucapan Sunyi di atas, bisa kita ambil sebuah kesimpulan bahwa setiap insan yang merasakan sebuah kecemasan harus bisa dilihatnya sebagai sisi yang positif. Berarti insan tersebut sudah berani melangkah jauh angan dan pikirannya. Sudah mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan datang dan memikirkan apa saja yang perlu dijadikan amunisi.

Mengheningkan Cinta: Buku untuk Meredakan Cemas

Beberapa hal di atas merupakan latihan dasar dari Adjie Santosoputro yang dituangkan dalam karyanya berjudul Mengheningkan Cinta. Kalian bisa menemui kelengkapan kisah Sunyi dan petuah lainnya di mizanstore.com. Dilihat dari judulnya memang sepertinya membahas soal percintaan, tetapi lebih dari itu, buku Mengheningkan Cinta menghadirkan esensi penyembuhan luka batin dan cara menghadapinya.

Bagaimanapun, berbagai latihan yang ada sangat sulit memang. Saya pun tak menjamin latihan-latihan dasar di atas dapat mendapatkan testimoni baik secara langsung, tetapi setidaknya ada usaha yang kita kerahkan untuk mengobati rasa cemas yang sedang melanda.

Saya tahu kamu bisa. Anggap saja ini semua masa transisi untuk menjadikan dirimu lebih kuat dan tangguh pada masa mendatang. Cemas itu hal biasa, hal wajar yang bahkan semua manusia yang masih bernapas pun pernah atau sedang mengalaminya. Kamu tak perlu khawatir berlebihan. Kamu hanya perlu istirahat sejenak dari kepenatan yang ada.

Jangan pernah memaksakan sesuatu lebih dari takarannya. Berjalan atau berlarilah sesuai porsinya. Sebisa kamu, asalkan kamu mampu untuk menjalaninya. Sedihnya sudah? Mari kita saling merayakan keheningan pilu yang sudah berlalu dengan torehan senyum yang ada di parasmu.

Salam,

Anggit Pamungkas Adiputra

2 replies
  1. Asar
    Asar says:

    Setitik cemas membuat gundah
    Setitik cinta membuat indah
    Selamat tinggal pilu
    Semua hal bukan hanya tentang dirimu

    Reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] di London. Semasa mudanya, ia dikelilingi dengan permasalahan hidup yang hampir serupa dengan kita: quarter life crisis, kesulitan mengendalikan emosi, dan bahkan sekecil permasalahan ditinggal pergi sahabat atau […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta