Kenali Bahaya Perundungan Lewat Buku Nyaliku Kecil Seperti Tikus

Selama ini, perundungan kerap kita anggap sebagai hal “biasa” tanpa memahami bahaya tersembunyi di balik hal tersebut. Praktik dari perundungan ini juga beragam bentuknya, mulai dari kekerasan verbal hingga fisik. Ironisnya, beberapa orang justru lekat dengan perundungan sejak masih anak-anak.

Nah, salah satu novela karya Yu Hua berjudul Nyaliku Kecil Seperti Tikus dapat memberikan gambaran bagaimana perundungan berdampak pada diri seseorang. Salah satu cerita dalam buku tersebut memang mengangkat tema seputar perundungan. Bahkan, karakter dalam cerita tersebut sudah dekat dengan perundungan sejak bangku SD.

Sebagai informasi nih, Nyaliku Kecil Seperti Tikus merupakan salah satu sastra Mandarin yang seru dan menarik. Novela ini tidak terlalu tebal sehingga dapat kamu baca sekali duduk. Tiga cerita dalam novela ini juga penuh tragedi dan plot twist yang mengejutkan.

Kejeniusan Yu Hua dalam mengangkat tema perundungan tercermin dari cerita pertama. Berikut beberapa bahaya dari perundungan yang bisa kamu kenali dari bacaan Nyaliku Kecil Seperti Tikus. Simak ya! 

Karakter dalam Novela Nyaliku Kecil Seperti Tikus

Yang Gao tumbuh sebagai orang dewasa yang kerap mengalami perundungan dari orang-orang. Dia tidak pernah paham kenapa orang suka meremehkannya. Padahal, Yang Gao merasa hidupnya baik-baik saja dan tak pernah merugikan orang lain.

Meski sering menerima perlakukan buruk, Yang Gao tak pernah membalasnya. Semua cacian dan makian orang dia terima. Pada dasarnya, Yang Gao memang tak ingin cari ribut dengan siapa pun.

Efek Buruk Labeling pada Anak

Karena sifatnya yang terkesan “lembek,” Yang Gao mendapat label sebagai seorang pengecut. Bahkan, label itu sudah dia dapatkan sejak masih SD. Kala itu, guru kelasnya mengatakan kalau sosok Yang Gao itu bernyali kecil layaknya seekor tikus.

Labeling yang dia dapatkan rasanya mengakar pada diri Yang Gao. Akhirnya, semua teman sekelas Yang Gao sepakat menyebutnya pengecut. Dari situlah hidup Yang Gao sebagai korban perundungan bermula. Bahkan, anak perempuan pun ikut merundungnya secara verbal.

Korban Perundungan Kehilangan Percaya Diri

Namun, ada juga masa-masa bagi Yang Gao mempertanyakan sikap orang-orang kepadanya. Dia merasa tak mampu membalas perlakuan mereka. Tanpa Yang Gao sadari, sesungguhnya dia telah kehilangan kepercayaan diri.

Hingga dewasa pun, Yang Gao seakan nyaman-nyaman saja dengan ketidakadilan yang terjadi. Inilah salah satu bahaya dari perundungan. Korban perundungan, apalagi yang berlangsung lama, sulit menemukan kelebihan dalam dirinya. 

Perundungan Dianggap Biasa

Nyaliku Kecil Seperti Tikus menggambarkan betapa perundungan terlalu dianggap biasa oleh orang-orang. Bahkan, oleh sang korban sendiri. Pilihan Yang Gao yang memilih enggan melawan menunjukkan bahwa dia merasa baik-baik saja.

Ketika tidak ada satu orang pun yang peduli pada bahaya perundungan, maka jangan heran jika praktik kegiatan ini terus menjamur. Korban perundungan yang tak mendapatkan perlindungan lama-lama juga ikut merasa bahwa kondisi ini sudah “biasa.”

Diam-Diam Korban Perundungan Menyimpan Dendam

Namun, Yang Gao tak selamanya merasa baik-baik saja. Sebuah tragedi dalam hidupnya membuatnya memikirkan satu hal penting: pembalasan. Ya, sang korban perundungan pun sadar bahwa perlakuan orang-orang terhadapnya tidak benar.

Perundungan memang menyimpan bahaya tak terduga, terutama bagi korban. Dendam yang terpendam dapat menjadi bencana. Hal ini tentu tak akan terjadi andai ada orang yang sadar dampak perundungan pada seseorang.

Lantas, apakah Yang Gao berhasil membalaskan dendam pada orang-orang yang merundungnya? Temukan saja jawabannya dengan menuntaskan novela Nyaliku Kecil Seperti Tikus! Kamu bisa pesan langsung lewat https://linktr.ee/Bentang sekarang ya.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - Bentang Pustaka