fbpx

Karya Baru Emha Ainun Nadjib: Mbah Nun Bertutur, Akan Menemanimu pada Bulan Ramadhan!

Tak terasa, bulan depan kita sudah akan menyambut bulan Ramadhan. Jika kamu bertanya-tanya buku apa yang cocok untuk menemanimu melewati bulan yang penuh berkah ini, karya terbaru Emha Ainun Nadjib adalah jawabannya. Penulis yang akrab dipanggil Mbah Nun ini selalu aktif menuangkan buah pikirnya dalam bentuk kolom, artikel, dan esai. Kira-kira, Mbah Nun Bertutur akan membahas tentang apa?

Lanjutan Indonesia Bagian dari Desa Saya?

Ada pertanyaan menarik di sini. Beberapa telah berasumsi bahwa Mbah Nun Bertutur merupakan “sekuel” Indonesia Bagian dari Desa Saya? Tidak, Mbah Nun Bertutur dan Indonesia Bagian dari Desa Saya bukan merupakan buku serial. Namun, karya terbaru ini akan sangat “nyambung” apabila dibaca setelah Indonesia Bagian dari Desa Saya yang terbit tahun lalu.

Bahasan lebih lanjut mengenai modernisme dalam Indonesia Bagian dari Desa Saya, akan kamu temukan dalam Mbah Nun Bertutur yang menuliskan bahwa modernitas adalah anak sulung dari sekularisme. Melalui buku ini, para pembaca juga akan diperkenalkan dengan karya kesenian, “musik-puisi” yang menghiasi jagat budaya Yogyakarta pada akhir 1970 sampai awal 1980-an.

Musik-Puisi, Keseimbangan yang Ciptakan Harmoni

Jangan salah sangka, ini bukan musikalisasi puisi, puitisasi musik, puisi-musikal, atau pun musik-puitis. Mbah Nun memilih idiom musik-puisi sebab kadar dan peran keduanya dikelola untuk tetap seimbang dan komplementer. Ini bukan bunyi musik yang diaransemen sehingga menjadi puitis. Bukan pula puisi yang dinyanyikan jadi penampilan musikal. Bukan juga pembacaan puisi yang diiringi musik ilustratif. Dan bukan musik yang memimpin. sedangkan puisi jadi pelengkap penderita.

Bahkan, kalau kita menyebutnya “puisi-musik” pun tidak masalah karena keduanya seimbang. Mereka sama-sama berperan, menjadi dasar pertimbangan, dan sumber inspirasi kreatif, musik dan puisi menghiasi satu sama lain hingga menghasilkan harmoni. Penyatuan, keseluruhan, dan keseimbangan. Itu adalah makna dari karya musik-puisi menurut Mbah Nun.

Mbah Nun Bertutur akan Hadir Bulan April

Masih dengan gaya tulisnya yang sama, dicampur dengan istilah bahasa Jawa, disisipkan pengetahuan tentang Islam, dan diselipkan kebudayaan Indonesia, Mbah Nun Bertutur akan menjadi sebuah karya yang membekas di hati para pembaca. Nantikan segera tanggal terbitnya pada bulan April 2021!

 

Nur Aisyiah Az-Zahra

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta