fbpx

Tiga Alasan Kita Mencintai Bayi

Pernahkah kita berpikir, mengapa kita mencintai bayi? Apa alasan yang membuat kita bisa mencintai mereka begitu dalam? Apakah semua orang bisa mencintai bayi? Atau perasaan ini sebenarnya hanya sebatas kagum? Banyak sekali pertanyaan kita tentang bayi. Dunia mereka yang sangat mungil namun menyimpan berbagai misteri, membuat kita semakin tertarik.

Di sisi lain, bayi menguras banyak waktu, membangunkan kita pada malam hari, membuat kita merasa kelelahan, dan terkadang mereka juga tidak berhenti menangis. Tentu hal-hal ini dirasakan setiap ibu yang sedang memiliki bayi. Tetapi, kita tetap menyayangi mereka. Apa alasannya? Berikut adalah tiga alasan kita mencintai bayi.

 

Baca juga: Hal-Hal yang Perlu Kita Ketahui Tentang Bayi

 

Bayi Mengingatkan Kita Betapa Polosnya Manusia Sewaktu Lahir ke Dunia

Ketika kita melihat bayi, yang terlintas pertama kali dalam benak kita adalah bahwa mereka terlihat sangat polos dan suci. Kita juga bisa teringat bahwa dulu pun saat kita masih bayi tentu seperti mereka. Kita melihat bahwa setiap manusia mengawali hidup seperti bayi kita. Mereka polos, tidak menghakimi siapa pun, tidak merasa takut, dan tidak memiliki beban.

Saat bayi pertama kali melihat dunia, kita sangat suka mengamati kepolosan mereka saat menelaah dunia di sekitarnya. Tindak dan tanduk bayi dalam melihat dan menjelajahi segalanya membuat kita merasa sangat damai. Kepolosan mereka yang melihat segala sesuatu tanpa menghakimi, tetapi justru merasa takjub membuat kita mencintai bayi. Ini adalah alasan pertama mengapa kita bisa mencintai bayi dengan sangat mendalam.

 

Bayi Menumbuhkan Harapan Kita untuk Masa Depan

Kelahiran anak mencetuskan harapan semoga dunia menjadi lebih baik untuk hidupnya kelak. Kita selalu berharap bahwa nantinya anak kita suka untuk belajar, dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Kita juga berharap bahwa mereka mencintai lingkungan dan semesta, dan ia tidak terlibat pada kekerasan maupun peperangan. Harapan ini membuat kita semakin ingin melindungi dan menjaga mereka, kita jadi semakin mencintai bayi.

Harapan-harapan inilah yang membuat kita semakin menyayangi mereka. Harapan itu semakin besar, hingga kita berharap mereka menjadi orang sukses dan bisa bekerja sebagai ini dan itu. Karena harapan itu, kita benar-benar berniat untuk menjaga mereka sepenuh hati dan jangan sampai mereka terluka. Rasa sayang kita dibungkus dengan harapan untuk menjadikan lingkungan sekitar semakin baik dan nyaman. Karena adanya harapan ini, kita mencintai bayi dengan mendalam. Kita berharap cinta kita membuat mereka bisa mewujudkan harapan tersebut.

 

Bayi Berbau Harum dan Ekspresif

Ini adalah salah satu alasan yang paling banyak diutarakan oleh orang-orang. Bayi berbau harum! Bagi kita, tidak ada aroma yang lebih sedap daripada bau badan bayi sehabis dimandikan. Kita sering kali mencium tubuh bayi karena menyukai aroma mereka yang membuat kita merasa relaks dan nyaman, juga senang menggelitik mereka.

Kita senang dengan ekspresi mereka saat kita menggelitik mereka. Kita juga senang melihat mereka saat mengekspresikan sesuatu. Misalnya, saat mereka menangis untuk menyampaikan bahwa popok mereka sudah kotor atau saat mereka lapar dan lelah. Meskipun suara tangisan terkadang membuat kita terganggu, kita juga merasa senang melihat ekspresi mereka. Kita seolah bermain tebak-tebakan dengan mereka, apa yang sedang bayi sampaikan dan apa yang mereka inginkan. Aroma tubuh mereka yang harum, ekspresi mereka yang lucu tidak hanya membuat kita semakin mencintai bayi, tetapi juga merasa lebih rileks dan seolah beban dalam pikiran hilang.

 

 

Beberapa orang mengatakan bahwa bayi bak mainan yang sangat mereka sayangi. Saat kita bersama bayi, ada rasa nyaman dan ingin merawat mereka dengan sepenuh hati. Saat kita melihat wajah mereka, memperhatikan ekspresi mereka, dan mencium aroma mereka, kita menyadari bahwa bayi sangat berharga. Kesadaran kita bahwa bayi sangat berharga itulah yang membuat kita mencintai mereka dan ingin mengasuh mereka dengan sangat baik.

Menurut Montessori, kita bisa melakukan pengasuhan dengan pendekatan Montessori bahkan sejak mereka lahir. Kita menjadi tahu caranya menanggapi tangisan bayi, tahu aktivitas mana saja yang dicari dan tepat untuk bayi, dan cara menyiapkan rumah yang ramah bayi. Semua penjelasan tersebut bisa didapatkan melalui buku The Montessori Baby karya Simone Davies dan Junnifa Uzodike yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bentang.

Saat ini, buku The Montessori Baby dalam bahasa Indonesia sedang dalam masa prapesan. Kamu bisa ikut prapesan melalui bit.ly/pesanmontessoribaby.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta