Bagaimana Seharusnya Kita Menghadapi Virus?

Pertanyaan di atas tentu memerlukan jawaban yang beragam karena ada banyak perspektif yang dapat diambil dalam menemukan jalan keluarnya. Keberadaan virus Covid-19 atau Corona tak bisa dianggap enteng. Posisinya yang kini telah mencapai pandemi dan menguasai hampir seluruh negara di bumi, harus disikapi dengan pikiran yang jernih serta sejuk pula. Pasalnya, eksistensinya saja sudah hampir merobohkan banyak sendi negara, seperti ekonomi, politik, pemerintahan, keamanan, karier, budaya, hingga mobilitas masyarakat. Sementara itu, kita yang belum pernah merasakan bagaimana terkungkung oleh virus yang berkuasa, mau tak mau harus terus memutar otak agar kehidupan tetap baik-baik saja.

Lalu, bagaimana jika pertanyaan di atas kita tanyakan kepada Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun? Tentu beliau memiliki jawaban tersendiri dalam menyikapinya. Pemikiran dan tulisan Cak Nun seolah menyajikan sebuah oase kehidupan yang mendinginkan pikiran serta hati kita, sekalipun di tengah panas prahara Covid-19 ini. Keberadaan ancaman virus tersebut seolah memberi semangat baru bagi Cak Nun untuk terus produktif dalam menulis, bahkan dalam sehari Cak Nun mampu menyelesaikan dua tulisan tentang Corona sekaligus.

Belum lama ini juga, sebagian dari tulisan beliau telah diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Lockdown 309 Tahun. Melalui 55 tulisan beliau setebal 260 halaman itu pula, kita dapat mengetahui sekaligus belajar dari keluh kesah serta refleksi yang beliau utarakan atas munculnya virus Corona yang telah merenggut banyak jiwa dan kesiapsiagaan finansial itu.

Salah satu poin yang dimaksud, terdapat pada tulisan beliau yang berjudul “Corona Tosca”, yang tampak relevan dengan pertanyaan di atas tadi. Kira-kira seperti ini:

Ada Jamaah Maiyah yang bersama keluarganya berupaya membangun hijab atau tabir tebal dengan cara memaksimalkan self lockdown. Lewat tengah malam, ia shalat Tahajud dan memasrahkan permohonan dari ketidakberdayaannya kepada Allah Yang Maha Berdaya.

Ada yang membiasakan baca Ayat Kursi dengan ‘wala ya`uduhu hifdhuhuma’ diulang 9x untuk memantapkan hatinya baru diakhiri ‘wa huwal ‘aliyyul ‘adhim’. Ada yang tetap bekerja keluar rumah, ke kantor, warung, atau kegiatan penghidupan yang lain, dengan sebelumnya menggosokkan sabun serbuk di seluruh tubuhnya, terutama tangan dan wajahnya.

Jamaah Maiyah yang melakukan itu lantas meyakini bahwa ia sebagai wakil Tuhan yang diamanati untuk mengelola kehidupan dengan prinsip maslahat dan berkah, pada tahap tertentu diperkenankan oleh Allah untuk mengatasi warna merah itu sehingga menjadi tosca. Dari bahaya menjadi indah. Dari ancaman menjadi kenikmatan.

Cak Nun menginterpretasikan perilaku bijak manusia ke dalam jenis manusia yang tak jauh dari kita semua, yakni Jamaah Maiyah. Siapa yang tak mengenal sekumpulan manusia haus akan ilmu agama ini, yang setiap bulannya selalu ikut belajar bersama Cak Nun di banyak tempat dan kota, sebut saja seperti “Sinau Bareng”, “Mocopat Syafaat”, “Kenduri Cinta”, hingga lainnya.

Cak Nun menggambarkan bahwa sudah seharusnya manusia bisa menyadari akan dirinya yang amat kecil di hadapan Allah Swt., sekaligus menganggap bahwa virus Corona juga serupa makhluk, yang diciptakan dan ditugaskan oleh Allah Swt. untuk menyadarkan umat manusia agar selalu mendekatkan dirinya kepada Yang Kuasa. Alangkah baiknya kita juga jangan sampai melaknat atau bahkan mencela virus tersebut karena yang menentukan kemunculannya hanya Allah Swt. semata.

Cara mendekatkan diri pun bermacam-macam. Jika terkait dengan kutipan Cak Nun di atas, salah satu upaya mendekatkan diri adalah dengan cara tawakal kepada Allah Swt. Tawakal secara definisi ialah menyerahkan semua urusan kita kepada Allah, setelah kita melakukan sesuatu hal dengan semaksimal mungkin. Begitu juga dengan aktivitas semasa pandemi Corona ini. Kita harus saling membentangkan “tirai besar” atau “hijab” sebagai bentuk penjagaan pada diri kita sendiri atau Cak Nun menyebutnya self lockdown, seperti misalnya beraktivitas di rumah saja, memperbanyak intensitas dalam beribadah, lalu makan makanan sehat, menjauhi kerumunan, atau tak keluar rumah jika tak ada hal yang mendesak.

Setelah itu mungkin kita bertanya. Bagaimana dengan manusia lainnya yang mungkin tak bisa menaati instruksi tersebut? Sebab, tersekat oleh faktor ekonomi atau pekerjaan yang harus dikerjakan di luar rumah, seperti tukang ojek, sopir angkutan umum, pedagang asongan, pedagang pasar, dan lainnya?

Maka, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah tetap menyerahkan semuanya kepada Allah atas rezeki yang kita dapatkan nantinya. Dengan kita wujudkan tetap bekerja mencari nafkah sebagaimana biasanya, memperbanyak berdoa selama di luar rumah, ditambah dengan penerapan aturan-aturan kesehatan agar sebisa mungkin kita tak terjangkau oleh perantara virus tersebut, seperti mencuci tangan dengan sabun, makan makanan yang bergizi, hindari kerumunan, dan memilih tidak bekerja jika badan terasa demam cukup tinggi.

Semua itu merupakan bentuk tawakal yang sudah seharusnya manusia lakukan agar kecintaannya kepada Allah Swt., tetap terjaga. Dan seharusnya pula, dengan adanya virus yang masih membayang-bayangi itu, kita dapat lebih meningkatkan intensitas ibadah kita kepada Allah Swt. dengan selalu berdoa agar virus ini dapat segera hilang dari muka bumi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *