Prioritas

Tolak Hal yang Bukan Prioritas dengan Strategi Roti Lapis

Sama sekali tidak ada maksud menggeneralisasi, tapi orang Indonesia biasanya sulit bilang tidak. Setuju? Sebagian besar dari kita pasti pernah mengiyakan tugas atau pekerjaan yang bukan prioritas dan sebenarnya sangat ingin kita tolak. Jangan khawatir, kamu bukan satu-satunya, kok! Di dalam bukunya, The Joy of Missing Out, Tanya Dalton mengingatkan kita bahwa setiap kali kita mengiakan sesuatu, sebenarnya kita sedang menolak hal lain.

Baca juga: Jangan Sampai Terjebak Mitos Produktivitas Ini!

Ketika kita merelakan waktu demi prioritas orang lain, kita sendiri yang tersisihkan. Berikut contoh sederhananya. Saat kita menjawab ya untuk menjadi panitia event yang tidak kita sukai, maka kita mungkin berarti menolak kebersamaan dengan keluarga. Ketika kita setuju untuk membantu teman mengerjakan esainya, kita berarti menolak kesempatan menjadi sukarelawan di organisasi yang kita mau.

Jangan Menjadi People Pleaser

Problema ini dialami oleh banyak orang. Kita tak bisa berkata ya tanpa mengatakan tidak. Padahal, itu berarti kita harus mencuri waktu, energi, dan fokus dari kegiatan lain dalam daftar prioritas kita. Berkomitmenlah pada prioritas dan tujuanmu. Jika terus menerus berusaha menyenangkan orang lain dengan tidak menolak mereka, lama-lama kita memiliki kecenderungan untuk menjadi people pleaser.

Itu sama sekali tidak baik bagi kita di masa yang akan datang. Orang-orang akan menganggap kita “mudah disuruh” kalau semua permintaan mereka dituruti.Kita sering melupakan poin penting bahwa menolak suatu permintaan bukan berarti menolak orangnya.

Ajukan 10 Pertanyaan Ini Sebelum Mengatakan Ya

Jadi, kita tidak boleh bilang ya? Boleh. Bagaimana pun juga kita tidak mau melewatkan kesempatan begitu saja, bukan? Namun, ingatlah bahwa semua peluang harus dipertimbangkan dengan matang. Coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebelum kamu mengiakan sesuatu:

  1. Bagaimana perasaanmu tentang peluang ini?
  2. Kenapa kamu ingin menerimanya?
  3. Apa ini sejalan dengan bintang utara/tujuan hidupmu?
  4. Apa ini memuaskanmu?
  5. Berapa lama yang dibutuhkan?
  6. Ada waktu untuk melakukannya?
  7. Bagaimana menolaknya?
  8. Apa yang harus kamu lepaskan supaya ada waktu untuk ini?
  9. Jika kamu terima, apa yang kamu tolak?
  10. Itu bukan masalah?

Nah, kalau jawaban dari pertanyaan terakhir adalah ya, kamu boleh setuju! Pertanyaannya terlalu banyak. Waktu untuk mempertimbangkan jadi semakin lama. Memang. Namun, kamu tidak akan menyesali pilihanmu kelak jika telah menimbang hal ini dengan matang.

Strategi Roti Lapis

Kita sering merasa tidak enak pada orang yang kita tolak. Dalton menyarankan sebuah teknik untuk menyampaikan penolakan hati-hati dengan “Strategi Roti Lapis”. Teknik apa itu? Bayangkan sandwich. Dua roti lapis yang di tengahnya berisi daging. Anggaplah daging itu sebagai kata tidak. Kamu tinggal melapisinya dengan dua lembar kebaikan. Seperti ini contohnya. Suatu hari kamu diajak oleh sahabat ikut organisasi kemanusiaan di kampus. Berikut contoh jawaban dengan strategi roti lapis.

Tersanjung sekali kamu mempertimbangkan aku untuk ikut organisasi itu. Sayangnya, sekarang ada beberapa kegiatan lain yang harus aku urus, takutnya aku tidak bisa memaksimalkan performa dan memberikan konsentrasi penuh untuk itu. Aku bangga punya teman yang peduli di bidang itu dan mau melakukan aksi nyata.

 

Bagaimana? Penolakannya jadi lebih halus, bukan? Yakin, deh, kalau sudah terbiasa menolak dengan metode ini, kita takkan merasa bersalah lagi ketika harus menolak ajakan, tawaran, limpahan tugas, dan tambahan pekerjaan. Tidak semua orang yang mengetuk pintu harus kita biarkan masuk. Dapatkan buku The Joy of Missing Out di sini!

 

Nur Aisyiah Az-Zahra

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *