Marie Kondo: Tips Merawat Buku agar Tidak Menguning

Toh, bukan hanya pelanggan yang bisa dianggap raja yang istimewa,

koleksi buku-buku kita pun perlu diperlakukan hal yang sama.

Sering kali kita mendapati buku-buku yang belum lama dibeli dan dijamah pun sudah menguning atau berubah warna dari semula. Kira-kira, mengapa bisa terjadi, ya?

Perlu kita ketahui bersama, bahan dasar pembuatan kertas ialah kayu. Meski kayu lebih murah, ternyata bahan dasar ini lebih mudah bereaksi dengan oksigen dan cahaya matahari. Kayu mengandung dua zat polimer utama, yaitu selulosa dan lignin. Selulosa ini colorless dan sangat mudah menyerap cahaya sehingga membuatnya buram. Oksidasi selulosa-lah yang membuat kertas jadi terlihat dull, rapuh, dan less white, tetapi bukan ini penyebab kertas menguning.

Zat lain dalam kayu yaitu lignin, yang paling banyak terkandung di dalam kertas koran. Bisa dibilang lignin adalah “glue” bagi kayu. Lignin berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan kayu. Berbeda dengan selulosa, warna zat ini lebih gelap, seperti paper bag cokelat atau kardus Indomie. Namun, oksidasi lignin lebih tinggi. Oksigen mengubah struktur molekul lignin sehingga warnanya berubah menjadi yellow-brown.

Nah, kertas koran yang biaya produksinya lebih murah mengandung lebih banyak lignin. sehingga kertas koran lebih mudah menguning. Sementara itu, kertas buku banyak yang di-bleeching sehingga kandungan ligninnya berkurang. Oleh karena itu, saat ini banyak dokumen penting yang ditulis pada kertas acid-free dengan kandungan lignin yang sangat terbatas.

Jangan Pernah Membiarkan Buku Terpapar Langsung Sinar Matahari

Biasanya beberapa dari kita sering membawa buku keluar ruangan―entah memang dibawa karena benar-benar betul akan dibaca atau hanya sekadar digunakan pelengkap swafoto. Padahal, kebiasaan seperti itu menjadi salah satu penyebab buku cepat memudarkan warna aslinya.

Perlu kita cerna baik-baik bahwa ternyata sinar UV pada matahari bisa membuat cover buku memudar dan (sepertinya) cepat rapuh. Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita tak selalu sering membawa buku keluar ruangan saat sinar matahari mulai menyeruak.

Lapisi Buku dengan Sampul Plastik

Melapisi buku dengan sampul plastik yang bening juga berguna mengurangi intensitas kita menyentuh buku secara langsung. Bisa dipahami bahwa jika semakin sering kita menyentuh buku tanpa ada pelapisan lanjutan, akan menyebabkan tangan yang belum tentu terjaga kebersihannya menempelkan kuman dan bakteri yang tersisa di buku. Hal kecil semacam itu memang perlu kita perhatikan agar meminimalkan pemudaran warna buku sebelum waktunya.

Alasan lain buku perlu dilapisi sampul plastik bening agar buku terlihat lebih estetik. Lebih jauh dari itu, bisa juga dijadikan pencegahan jika buku jatuh dari genggaman dan tergeletak di tempat yang kotor atau penuh noda, setidaknya ada lapisan yang melindungi buku tersebut. Masuk akal, bukan?

Baca Juga: Telah Ditampilkan di 30 Stasiun TV Besar, Marie Kondo Kini Hadir di Indonesia

Jangan Ditaruh di Sudut Pojok dan Tempat Lembab

Apa kalian tidak punya hati jika buku dibiarkan begitu saja merenung sendirian di pojok ruangan? Merintih dan menggerutu nasibnya atas sebuah pelampiasan pemilik buku karena hanya mementingkan ego untuk membelinya, tetapi dibuka dan dibacanya saja tak sudi. Haha, bukan itu alasan yang sebenarnya.

Baiknya juga buku perlu kita dekatkan dengan jarak aktivitas kita. Namun, masih dalam jangkauan mata. Jangan sampai tega membiarkan buku digeletakkan begitu saja di pojokan sudut ruangan, ditambah lagi ruangan yang lembap dan pengap, tentunya buku tak betah dengan kondisi seperti itu. Bayangkan saja jika dirimu yang diperlakukan layaknya buku tersebut.

Cucilah Tangan Sebelum Memegang Buku

Jika setiap akan memegang buku dengan keadaan tangan kotor, jelas saja buku akan lebih cepat memudarkan warna dan tak bakal awet dalam jangka yang lama. Maka dari itu, tak hanya sebelum makan dan minum kita mencuci tangan, memegang dan membaca buku juga perlu diterapkan.

Simpan Buku Secara Vertikal, Bukan Ditumpuk

Ada orang-orang yang gemar menyimpan buku koleksinya dengan cara menumpuk, entah itu buku, kertas, atau pakaian. Namun, cara itu justru memakan tempat. Padahal, cara yang paling bagus yaitu menyimpan secara vertikal alias memberdirikan.

Menumpuk buku hanya akan membuat tempat penyimpanan niscaya terkesan tak ada habis-habisnya. Barang bisa ditumpuk terus-menerus sehingga kita akan luput memperhatikan jumlahnya yang kian bertambah. Sebaliknya, ketika barang disimpan secara vertikal, tiap penambahan niscaya memakan tempat ke samping sehingga kelihatan apabila sudah penuh.

Alasan lainnya yaitu: menumpuk membebani barang yang paling bawah. Ketika buku-buku ditumpuk, buku yang berada paling bawah pasti tergencet. Kebiasaan menumpuk akan melemahkan dan merusak buku yang menopang keseluruhan bobot tumpukan. Selain itu, benda-benda di bagian bawah tumpukan praktis terlupakan karena kita mengabaikannya.

Karya dari Marie Kondo buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ini juga akan hadir di Program Festival Komidi Putar yang diadakan oleh Mizan Media Utama. Komidi Putar merupakan festival anak dan keluarga yang memadukan berbagai acara seperti diskusi, workshop, conference, hingga bazar berbagai produk serta layanan seputar anak dan keluarga. Tentunya juga akan ada potongan harga yang menarik perhatian kita semua!

Kalian dapat mengintip lebih jauh tentang program ini melalui akun Instagram dan Twitter @komidiputarcom serta situs web www.komidiputar.com. Festival Komidi Putar akan diselenggarakan pada 23 Juni―23 Juli 2020 mendatang. Jangan sampai terlewatkan karena akan ada berbagai narasumber inspiratif yang akan menemani Sahabat Bentang di dalam Festival Komidi Putar.

Sumber referensi:

Anugrah, Ratri. 2017. http://www.ratrianugrah.com/2017/10/cara-mencegah-buku-menguning.html, diakses pada 20 Juni 2020 pukul 16:00.

Salam,

Anggit Pamungkas Adiputra

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *