Jake Knapp, sang Penemu Pemangkas Waktu

“Mencintai proses ketimbang mengutamakan hasil”. Filosofi hidup Jake Knapp tersebut mencerminkan bahwa dia selalu menghargai setiap detail usaha. Begitu bernilainya sebuah upaya atau perjuangan dalam satu pekerjaan atau proyek, meski hasilnya nanti tidak seusai dengan harapan, menandakan dia seorang yang jujur, pekerja keras, visioner, dan menghargai waktu. <p style="text-align: justify;">“Mencintai proses ketimbang mengutamakan hasil”. Filosofi hidup Jake Knapp tersebut mencerminkan bahwa dia selalu menghargai setiap detail usaha. Begitu bernilainya sebuah upaya atau perjuangan dalam satu pekerjaan atau proyek, meski hasilnya nanti tidak seusai dengan harapan, menandakan dia seorang yang jujur, pekerja keras, visioner, dan menghargai waktu. Maka, tak heran jika dirinya merasa gelisah manakala menyia-nyiakan waktu tanpa memberikan makna atau manfaat kepada orang-orang sekitar, khususnya orang-orang tercinta. Singkatnya, dia ingin detik hidupnya berkualitas.</p>

<p style="text-align: justify;">Kepedulian Jake terhadap pemanfaatan waktu tersebut tak lepas dari pengalaman pribadinya, khususnya momen-momen perjumpaan dengan sang ayah. Baginya, waktu terasa sedemikian pendek, sedangkan dia belum bisa memberikan yang terbaik untuk ayahandanya. Knapp merupakan bungsu dari tujuh bersaudara. Dia teramat dekat dengan ayahnya. Ketika Knapp lahir pada 1977, ayahnya sudah berumur 47 tahun. Seiring dengan perkembangan usia dan pergaulannya, Knapp menyadari bahwa ayahnya tampak menua dari waktu ke waktu. Dari situlah, dia sepertinya meyakini filosofi hidup, waktu cepat sirna karena hidup ini fana maka isilah waktu dengan penuh makna. Orang Jawa memaknainya sebagai “wong urip iku mung mampir ngombe” yang setidaknya berisi pesan “selagi masih hidup, isilah dengan hal-hal yang baik mengingat hidup ini sangat singkat”. Oleh sebab itu, semenjak duduk di bangku kuliah, Knapp terobsesi untuk berpacu dengan waktu.</p>

<p style="text-align: justify;">Refleksi hidup tersebut membuat Knapp berpikir taktis dan strategis dalam setiap fase hidupnya. Sebagai mahasiswa angkatan 1996 program studi Seni Visual Interdisipliner di University of Washington, di awal masa kuliahnya, Knapp menerapkan hasil dari permenungannya itu dalam setiap aktivitasnya. Terobosan hidup yang monumental sudah dia alami ketika itu. Pada usia 22 tahun, dia sudah menggarap desain situs web Oakley, perusahaan kacamata hitam ternama dunia. Kemudian, dia terpaksa memilih cuti kuliah untuk bekerja di Microsoft pada 2000.</p>

<p style="text-align: justify;">Tahun itu juga, dia bertemu dengan Holly yang kelak menjadi istrinya. Knapp jatuh hati pada Holly pada pandangan pertama. Di sebuah acara makan barbeku, mata Knapp berbinar-binar melihat perempuan yang di matanya layaknya bidadari. Dia pun curi-curi pandang dan tatapan Knapp itu disambut oleh Holly. Namun, Knapp urung menyapanya karena di sana dia melihat ada temannya, Dave, yang sedang berbincang-bincang dengan Holly. Lebih baik baginya untuk mengorek keterangan dari Dave, siapa jati diri sang pemikat hatinya itu dan yang terpenting apakah dia masih jomlo. Tanpa diduga, Knapp mendapatkan laporan yang membuat dadanya tersentak. “Dia tidak tertarik,” ujar Dave, seperti dilansir fastcompany.com. Manusiawi apabila Knapp merasa gundah karena suara hatinya meyakini bahwa Holly membuka hati untuk dirinya. Suatu hari, sekitar Mei 2000, Knapp mengajak Dave berkunjung ke apartemen tempat Holly berada. Knapp dan Holly berkenalan, saling berbagi cerita, dan bersemailah benih cinta yang sebelumnya tertanam di awal pertemuan itu. Keduanya menunjukkan ekspresi rasa saling suka dan selanjutnya mereka memutuskan menikah di acara keluarga sekaligus peringatan Thanksgiving di rumah orang tua Knapp di Orcas Island. Momentum itu mereka gunakan untuk meresmikan hubungan mereka. Knapp menerima ajakan Holly untuk menikah pada saat usia mereka masih sangat muda, 23 tahun. Knapp berani menelan risiko menikah muda karena dia yakin dengan pencapaiannya saat itu, dirinya bisa hidup bahagia bersama Holly.</p>

<p style="text-align: justify;">Di Microsoft, Knapp mengerjakan ensiklopedia produk Encarta. Dia adalah seorang pemikir yang selalu gemar merancang banyak hal. Baginya, mendesain Encarta terasa seperti bermain dengan Lego. Berkat prestasinya, dia dipromosikan dan duduk sebagai jajaran “pejabat”. Namun, dia tidak merasa nyaman. Setiap hari, dia dihadapkan pada rutinitas rapat yang mengakibatkan kreativitasnya terhenti karena praktis dia hanya memiliki sedikit waktu untuk bereksplorasi. Kejenuhan menderanya. Kemudian, Knapp memutuskan mundur dan pindah kerja ke Google pada 2007.</p>

<p style="text-align: justify;">Di Google, dia semakin bersemangat untuk mengoptimalkan waktunya dan cara kerja yang dia terapkan mayoritas berjalan sukses. Knapp berhasil menciptakan metode efisiensi yang dia namai Metode Sprint. Penemuan Knapp tersebut sudah teruji dalam ratusan proyek. Dengan bermitra dengan Braden Kowitz dan John Zeratsky, Knapp merancang dengan cepat desain Google Design Sprint dengan dukungan Google Ventures. Metode Sprint sendiri memegang prinsip efisiensi, hanya butuh waktu 5 hari. Apabila kita menerapkannya, kita dapat mengatasi permasalahan bisnis kita. Meski sukses di Google, dia akhirnya memutuskan untuk keluar pada 2017 dan memilih “merdeka” dalam berkarya.</p>

<p style="text-align: justify;">Karya termasyhur Jake Knapp adalah <em>Sprint. </em>Buku ini mengulas pengalamannya selama berada di Google Ventures maupun Microsoft. Ini tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah perusahaan dan menguji ide baru dalam 5 hari. Metode ini diterapkan di berbagai <em>start-up </em>terkemuka seluruh dunia. Seakan semua berkiblat pada metode ini karena telah terbukti berhasil menyelamatkan berbagai ide berharga Google. Dapatkan bukunya di sini.</p>Sigit Suryanto

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta