Eksistensi Tionghoa Muslim Indonesia pada Masa Belanda

Eksistensi Tionghoa Muslim di Indonesia mengalami pasang surut dari masa ke masa. Satu fase yang menarik untuk dibahas adalah Tionghoa Muslim di Indonesia pada masa pendudukan Belanda.

Menurut Al-Qurtuby, keberadaan Tionghoa Muslim di Jawa sudah dimulai sejak abad ke-15. Pada masa itu, kolaborasi kehidupan antara Tionghoa Muslim dengan masyarakat Jawa digambarkan dengan gaya arsitektur masjid. Lombard dan Salmon (2001) menyebut hal ini sebagai subkultur Muslim Peranakan, terlihat interaksi sebagai bentuk “persekutuan suci” kosmopolitan yang mengombinasikan antara peran-peran positif teologi Islam dan teknik-teknik Tionghoa.

Akan tetapi, masuknya kolonial Belanda ke Indonesia membuat eksistensi Tionghoa Muslim dan hubungannya dengan budaya lokal mengalami kemerosotan. Banyak kebijakan Belanda yang bersifat memecah belah sehingga menciptakan batas-batas yang lebih tegas antara orang-orang Tionghoa dan penduduk asli Indonesia. Misalnya, ketika Belanda membagi warga ke dalam tiga kategori rasial yang masing-masing memiliki hak hukum dan hak istimewa berbeda-beda. Orang-orang Eropa berada di posisi teratas, orang Timur Asing (terutama Tionghoa, juga Arab dan India) berada di tengah-tengah, dan orang pribumi berada di posisi terbawah.

Hew Wai Weng dalam bukunya Berislam ala Tionghoa mengungkapkan pembagian kasta-kasta tersebut memunculkan stigma di kalangan etnis Tionghoa kalau orang-orang asli Indonesia berkedudukan lebih rendah. Karena agama Islam mayoritas dipeluk oleh orang-orang pribumi, banyak orang Tionghoa yang berpandangan jika ia memeluk Islam maka status sosialnya akan turun, karena sama dengan orang-orang pribumi. Di samping itu, kebijakan Belanda juga terkesan mempertahankan etnis Tionghoa supaya tidak membaur dengan orang-orang pribumi. Bersamaan dengan itu, banyak orang pribumi juga yang menanamkan stigma negatif terhadap etnis Tionghoa. Misalnya mengatakan kalau orang Tionghoa hidup secara eksklusif dan mengeksploitasi sumber-sumber daya di Indonesia.

Kendati demikian, masih ada orang Tionghoa yang memeluk Islam. Sebagian besar dari mereka yang memeluk Islam karena alasan keamanan dan ekonomi. Terutama pasca pembunuhan massal etnis Tionghoa oleh serdadu Belanda di Jakarta pada 1740. Ada juga yang masuk Islam supaya tidak dikenakan pajak tinggi. Hal ini membuat Belanda bertindak, karena hal tersebut membuat pendapatannya menurun. Belanda kemudian melarang konversi keagamaan bagi etnis Tionghoa.

Selain itu, pemerintah kolonial Belanda juga takut kalau orang-orang Tionghoa dengan penduduk lokal membaur, hal tersebut akan mengancam kekuasaan mereka. Untuk mencegah pembauran tersebut, Belanda mengangkat seorang Kapitan sebagai pemimpin para kaum Tionghoa Muslim dan membangunkan masjid untuk mereka, salah satunya masjid Krukut yang khusus digunakan untuk komunitas Tionghoa.

Masa pendudukan Belanda di Indonesia disebut-sebut sebagai periode paling gelap dalam perkembangan Tionghoa Muslim di Indonesia. Keadaan tersebut makin memburuk ketika Meletus Perang Jawa (1825—1830) dan penyerangan Sarekat Islam pada 1912. Lombard dan Salmon menuliskan bahwa selama puncak Perang Jawa, Diponegoro, seorang tokoh Jawa mengambil sikap tidak mau kompromi dengan etnis Tionghoa. Bahkan, di beberapa daerah tertentu, Diponegoro memberlakukan sebuah aturan yang ditujukan kepada orang-orang Tionghoa untuk masuk Islam atau menghadapi hukuman mati.

Kemudian pada 1905, para pengusaha Muslim Pribumi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuannya untuk melindungi kepentingan bisnis mereka menghadapi para pedagang Tionghoa yang lebih mapan. SDI kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1912 dan melakukan boikot terhadap pedagang-pedagang Tionghoa yang berakhir rusuh di sekitar Solo.

Peristiwa-peristiwa tersebut semakin menguatkan stereotip negatif di kalangan pribumi. Bagi sejumlah orang Tionghoa Indonesia, Islam dipandang sebagai agama yang tidak cocok dengan ketionghoaan dan bahkan “anti-Tionghoa”. Sementara, bagi orang-orang Indonesia sendiri, orang-orang Tionghoa diasosiasikan dengan eksklusivitas sosial dan dominasi ekonomi.

Ketahui lebih banyak mengenai Berislam ala Tionghoa, Pergulatan Etnisitas dan Religiositas di Indonesia karya terbaru Hew Wai Weng. Dapatkan info selengkapnya tentang buku tersebut di sini.


Kontributor: Widi Hermawan

Sumber gambar: berdikarionline

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *