Cara Mengubah Sifat Menjadi Dewasa yang Baik Secara Mental!

Sobat Bentang, pernah engga merasa bahwa menjadi dewasa itu sulit? Seolah sangat menakutkan gitu. Sampai ada lagunya tuh, “Takut tambah dewasa, takut aku kecewa, takut tak seindah yang kukira”. Ketakutan akan menghadapi fase dewasa ini identik dialami oleh seseorang yang memasuki usia 20-an. Sobat Bentang yang pernah merasa takut atau khawatir akan kehidupan selama fase dewasa pasti bingung mendefinisikan bagaimana sih seharusnya menjadi seseorang yang siap untuk menjadi dewasa? Apakah benar menjadi dewasa itu engga terkait dengan umur kita?. Kita coba cari tau jawabannya bareng-bareng, yuk!

 

Baca Juga: [“Supaya Lebih Siap Mental, Ini Alasan Mengapa Panduan Menuju Dewasa Dibutuhkan Usia 20-an”]

Photo by Andrea Piacquadio: https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-looking-at-the-mirror-774866/

Kapan kita menjadi dewasa?

Pengertian dewasa selama ini masih identik dengan hal-hal yang berkaitan dengan biologis. Hal ini wajar, mengingat saat di bangku sekolah kita diajarkan perihal perubahan fisik dalam tubuh yang menandakan seseorang tersebut disebut dewasa. Pengertian dewasa juga umum dipahami hanya sebatas umur, sebenarnya hal ini juga bisa kita sebut wajar karena dalam psikologi mengklasifikasian umur seperti anak-anak, remaja dan dewasa juga berkaitan dengan kondisi emosional.

 

Lalu kapan kita menjadi orang yang dewasa apabila bukan dari segi fisik dan emosi?. Ada satu lagi yang luput dan jarang sekali dibahas. Menjadi dewasa betul bukan hanya dari segi fisik dan emosi tapi juga mental. Dalam penjelasan Study.com, maturity atau matang (dewasa) adalah kemampuan untuk merespon situasi secara tepat. Hal ini masih berkaitan dengan umur karena emosi dan mental adalah suatu hal yang beririsan. Walaupun tidak selalu umur menandakan kedewasaan seseorang.

 

Dalam buku Memilih Pulih karya Selvia Lim, menjadi dewasa adalah pilihan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan tiap orang dalam merespon situasi secara berbeda-beda. Misalnya dalam buku Memilih Pulih, Selvia Lim mendapat dua kisah dari dua orang yang bebeda tapi dengan permasalahan yang sama, suami selingkuh. Kisah pertama, yang dialami Doris ia memergoki suaminya selingkuh dan langsung memberikan respon marah. Ia juga menyebut “semua lelaki sama saja! Engga bisa setia!”. Berbeda dengan Yenny, yang kaget dan marah tapi dia mengintropeksi diri, bersikap tenang dan memberikan pilihan kepada suaminya ingin meneruskan pernikahan atau mengakhiri.

 

Kedua orang tersebut memiliki respon yang berbeda dalam menghadapi permasalahan yang sama. Namun perlu digarisbawahi bahwa bukan berarti Doris salah karena menggeneralisir semua laki-laki tidak bisa setia. Disinilah pentingnya menjadi dewasa dalam berpikir dan bersikap. Karena kita perlu melihat secara lebih luas bagaimana pola didik orangtua Doris selama ini dan bagaimana cara Doris mengolah emosinya selama ini.

Bagaimana cara menjadi dewasa?

Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan dan perjalanan. Dalam buku Memilih Pulih, jika kita memilih menjadi dewasa, berupayalah. Berupayalah mencari cara untuk merawat kesehatan mental kita. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa diupayakan. Karena satu-satunya cara menjadi dewasa adalah berupaya, berikut beberapa upaya yang bisa Sobat Bentang lakukan untuk menjadi dewasa:

  1. Pahami pola didik yang selama ini diterima

Menjadi dewasa adalah perihal mengajak untuk berpikir secara matang. Mampu merespon dengan tepat segala permasalahan yang ada dengan melihat secara luas. Memahami pola didik yang selama ini kita terima bukan berarti menyalahkan atau menyudutkan pola didik orangtua kita selama ini. Jika kita selama ini bahkan sejak kecil kita mendapat pola asuh yang salah, bukan berarti orangtua kita salah sepenuhnya. Mungkin mereka mengikuti pola didik secara turun menurun dan sulitnya akses ilmu parenting seperti sekarang

 

  1. Berani mengambil keputusan

Setiap keputusan mengandung konsekuensi. Orang yang memilih menjadi dewasa adalah orang yang sadar atas segala konsekuensi dari setiap keputusan yang dia ambil. Menjadi dewasa bukan berarti hidup akan senantiasa tenang tiada masalah. Justru, ketika seseorang telah menjadi dewasa apapun masalahnya adalah proses penggemblengan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Meski awalnya ada penyangkalan, amarah, kesedihan, itulah yang memang harus dilalui

Menjadi dewasa akhir-akhir ini narasinya begitu menakutkan ya, Sobat Bentang?. Seolah menjadi dewasa adalah beban yang akan menghantarkan kita semua dalam keterpurukan hidup. Walaupun nampak menakutkan, perjalanan menjadi dewasa adalah proses yang membutuhkan kesadaran dan upaya yang harus dilalui. Membaca buku Memilih Pulih karya Selvia Lim adalah sebuah upaya menumbuhkan kesadaran dan bagian dari upaya kita untuk lebih memahami soal bagaimana kesehatan mental kita sejauh ini. Melalui kisah-kisah reflektif para followers-nya serta pengalaman penulis. Untuk informasi buku Memilih Pulih, bisa diakses di sini, ya!.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - Bentang Pustaka