Bagaimana Cara Memutus Penyebaran Virus Corona menurut Cak Nun?

Bagi kita, pandemi Coronavirus atau Covid-19 ini sudah seperti bola salju besar yang menggelinding dan menimpa siapa saja yang berhadapan dengannya, bahkan tak pandang bulu. Mulai dari masyarakat biasa, pekerja, pejabat kota, menteri, hingga presiden pun tak luput dari serangan virus yang kini mewabahi dunia itu. Namun, di balik fenomena langka itu semua, lantas bagaimana sikap kita sebagai manusia dalam menghadapi virus tersebut?

Tentu secara logika, langkah yang bisa kita lakukan adalah berusaha supaya virus tersebut dapat segera menghilang dari bumi, sekaligus memutus rantainya agar tak terus berinang dalam tubuh manusia, khususnya paru-paru. Karena sudah menjadi sifat asli manusia, jika ada sesuatu yang mengancam dirinya, sebisa mungkin harus dimusnahkan, apalagi yang sampai mengorbankan banyak jiwa itu.

Akan tetapi, tak semudah itu pula memusnahkan virus yang merupakan turunan dari virus SARS tersebut. Kita harus bisa bersama-sama dan bergotong royong untuk menyelesaikan masalah kesehatan ini karena tak semua masalah bisa diselesaikan sendiri. Apalagi virus ini berperan dengan memanfaatkan droplet atau air liur dari manusia satu ke manusia lainnya sehingga penyebarannya pun serupa tali yang disengat oleh api, mudah sekali merembet ke mana-mana. Siapa pun bisa berperan dalam menyebarkan virus atau disebut carrier, dan siapa saja bisa terkena dampak penyakitnya.

Saya pun teringat oleh salah satu poin yang disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun melalui bukunya yang berjudul Lockdown 309 Tahun. Buku ini khusus membahas keluh kesah serta refleksi Cak Nun dalam menyikapi fenomena virus Corona yang sukses merusak tatanan ekonomi dan keamanan dunia, dan kesemua isinya merupakan bagian dari proses kreatif Cak Nun selama beraktivitas di rumah, yang saking produktifnya, Cak Nun mampu menciptakan dua tulisan dalam sehari, lho. Semua itu dalam rangka ikut memutus penyebaran virus tersebut.

Kira-kira seperti ini isi poinnya, yang terdapat dalam artikel berjudul: “Ngono Yo Ngono, Nanging Ojo Ngono”:

“Setiap orang sekarang ini memang dianjurkan atau diseyogyakan untuk membangun sendiri di dalam hati dan pikirannya kesadaran lockdown atas hidupnya, disuruh atau tidak, oleh pihak mana pun. Kenapa? Bukan karena supaya ia selamat dari kemungkinan tertular Coronavirus di pasar, sekolahan, terminal, mal, stadion, kantor, atau tempat kerumunan mana pun, melainkan sebaliknya, agar ia bisa menghindari dari kemungkinan mencelakakan siapa pun yang ia bertemu dengannya, melalui penularan Coronavirus.

“Semoga Tuhan lebih menyayangi hamba-Nya yang lebih mementingkan keselamatan orang lain daripada mengutamakan dirinya sendiri.”

Apa yang bisa kita dapat dari petikan tulisan di atas? Ya, kesadaran masyarakat. Itu sangat dibutuhkan oleh semua elemen dalam menurunkan angka penderita virus tersebut. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang ngeyel dan melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah bersama elemen kesehatan, seperti tidak memakai masker, tidak rutin mencuci tangan, selalu keluar rumah padahal tidak mendesak, hingga berkumpul dalam jumlah banyak dalam satu lokasi.

Apalagi yang paling disayangkan ialah, ada beberapa masyarakat yang sudah mengalami gejala-gejala dari penularan virus Corona itu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan lainnya. Namun, mereka justru malah menganggap enteng, dan tak ada bedanya dengan sakit ringan pada umumnya. Padahal, kekurangsadaran itulah yang justru membahayakan bagi orang lain, terutama orang berusia lanjut dan tenaga medis. Sudah banyak orang tua yang menjadi korban dari virus Corona, bahkan sampai menyebabkan kematian karena memang virus ini dapat berevolusi bersama penyakit lain sehingga muncullah penyakit komplikasi, asma akut, dan sebagainya.

Belum lagi para tenaga medis yang hingga kini terus menjadi garda terdepan dalam menghadapi virus dengan nama lain Covid-19 itu. Sudah banyak terjadi kasus di Indonesia, para pasien yang tak jujur dalam mengatakan keluhan penyakitnya padahal telah terpapar virus Corona, hingga akhirnya malah menjadi carrier bagi para medis yang memeriksa, bahkan pegawai rumah sakit, sampai tukang sapunya pun ikut terdampak penyakitnya.

Maka dari itu, sudah sepantasnya kita belajar dari Cak Nun bahwa kita sendiri harus menyadari betapa pentingnya peran tiap manusia dalam meminimalisasi risiko pandemi ini dengan tanpa diperintah atau diarahkan siapa pun. Sudah seharusnya kita berpikir secara mandiri terhadap suatu marabahaya yang sudah ada di depan mata, bahkan bisa saja sewaktu-waktu menyerang kita. Kita tak boleh sampai egois. Memikirkan keselamatan diri itu boleh, tetapi lebih penting lagi adalah memikirkan keselamatan orang lain.

Melalui apa? Ya dengan ikut memutus rantai penyebaran virus Corona tersebut, sebagaimana yang telah digaungkan oleh Kementerian Kesehatan dan pihak terkait, terkhusus pula Cak Nun. Itulah salah satu bentuk gotong royong yang bisa kita lakukan sehingga kebahagiaan tak hanya tercurah ketika virus Corona musnah dari bumi, tetapi tingginya solidaritas sesama manusia juga sangat berharga bagi kita semua.

Semoga Allah Swt. segera menyadarkan seluruh isi hati manusia sehingga menarik kembali virus Corona dari negeri ini. Kita semua yakin bahwa apa yang diciptakan oleh Allah Swt. tentu memiliki fungsi dan tujuannya, termasuk dengan adanya makhluk sekecil virus Corona ini, yang sepertinya untuk menyadarkan kita bahwa jangan sampai lupa dengan hakikat yang kita miliki sebagai manusia, yakni sebagai makhluk sosial, makhluk yang tak dapat hidup sendiri, dan selamanya akan terus bergantung pada manusia lainnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *