Perang Besar Kiamat Kiamat Kecil

 

Menurut Cak Nun, dan mungkin juga kebanyakan orang, saat ini dunia sedang mengalami stres atau tekanan yang diakibatkan oleh kehadiran virus Corona yang merupakan perang besar bagi manusia. Karena, musuhnya kali ini bukanlah sebuah kelompok atau negara, melainkan sebuah benda mikroskopis yang mengancam eksistensi manusia. Coronavirus juga dapat dikatakan sebagai Qiyamah Sughra jika dilihat dengan cara pandang Allah dalam menciptakan makhluk.

Tidak ada satu pun manusia yang tidak terlibat dalam peperangan melawan virus Corona. Meski demikian, manusia yang biasanya sangat percaya bahwa dirinya serbadigdaya, kali ini bahkan tidak memiliki peta serangan yang jelas, apalagi strategi serang. Bagaikan perang dengan prajurit buta, saat ini kita hanya dapat melakukan perang dengan segala upaya yang memungkinkan bagi diri kita. Bukan tanpa alasan, panglima perang yang harusnya menjadi acuan pun, bingung bukan kepalang. Maka, sudah barang tentu, arahannya pun simpang siur.

Manusia tidak bisa menyerang Coronavirus. Tidak bisa menyerbu Coronavirus sebagai subjek. Paling jauh hanya mempertahankan diri agar tidak terlalu kalah oleh virus siluman itu. Posisi saat ini, umat manusia, dengan segala kecanggihan teknologinya, termasuk sophistikasi senjata-senjata perangnya sudah kalah dan semakin kalah. Padahal, penduduk bumi sekitar 6,5 miliar dan virus Corona hanya semata wayang. Ia menempel ke manusia, numpang replikasi sampai sebanyak berapa pun manusia yang ditempelinya. Lebih mengerikan lagi kalau kekalahan manusia itu tidak hanya berupa sakit dan mati, tapi juga gila.

“Orang-orang yang makan mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila.”

Riba adalah suatu jenis dusta ekonomi, manipulasi hitungan, kebohongan ilmu, dan kecurangan akhlak. Itu berlangsung tidak hanya dalam dunia perbankan, tapi juga dalam sistem politik, sistem kekuasaan, arus informasi, budaya komunikasi, hubungan negara dan rakyat dan apa pun yang manusia kerjakan. Maka menurut Tuhan, kita semua ini gila, baik dalam urusan dengan-Nya maupun dengan sesama manusia.

Kegilaan yang dimaksud oleh Cak Nun dalam hal ini adalah sebuah kebohongan. Meskipun kebohongan adalah suatu hal yang tampak sepele, tetapi ia merupakan pengingkaran terhadap kesehatan mental dan tertib berpikir yang dimiliki oleh akal kita. Hal ini membuat akal kita tidak berfungsi. Padahal, Tuhan sudah berkali-kali memberi warning dengan sebuah pertanyaan retoris Afala ta’qilun? Afala tatafakkarun?” yang merupakan sindiran halus bagi kita, ketika Tuhan mempertanyaan fungsi akal kita. Mungkin jika diterjemahkan dalam kultur bahasa Indonsia, ini akan lebih seperti, “Pakailah otakmu, jangan pakai dengkul.”

 

 

Firman-firman Allah tentang dusta atau kebohongan dalam Kitab-Nya pada umumnya menyangkut eksistensi Allah, yang muaranya adalah kekufuran dan kemusyrikan. Namun, kalau manusia mau berpikir secara dialektis, kita akan menemukan bahwa dusta tentang Allah pada praktiknya melimpah menjadi dusta atas atau tentang ciptaan-Nya. Maka, kemusyrikan dan kekufuran sebenarnya sangat teraplikasi dan terimplementasi pada kehidupan horizontal umat manusia sendiri, pada skala kecil maupun besar, dari rumah tangga hingga negara, dari keluarga hingga globalisasi.

Cak Nun juga memberikan kita peringatan bahwa mestinya, setiap orang yang mengerti rangkaian berpikir dan berpikir rangkaian, dapat memiliki asosiasi bahwa dusta tentang dan kepada Allah terkait erat dengan dusta pada atau tentang segala ciptaan-Nya: manusia, alam, makhluk-makhluk non-manusia, Hari Akhirat, dan seterusnya. Alih-alih menerima dan memperhitungkan konteks Akhirat sebagai Hari Pembalasan.

 

Dengan demikian, pandemi ini tidak hanya mengharuskan kita untuk menundukkan ego dan hawa nafsu, tetapi juga mengaktifkan kembali akal sehat serta kemampuan kita untuk berpikir tertib. Karena, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang terlalu besar tanpa dimulai dari hal yang paling kecil. Jika hal tersebut berupa kelalaian, mungkin hal ini juga bermula dari kelalaian kecil kita melakukan manipulasi, kebohongan, dan membiarkan akal sehat kita mati akibat terlalu lama tidak berfungsi.

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Manusia dengan ilmu, kebudayaan, dan peradabannya selalu mendahului Allah. Artinya, mengedepankan dirinya dan membelakangkan Tuhan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.

Bagi kebanyakan manusia, tecermin dari perilaku budaya dan nilai peradabannya, menomorduakan Tuhan dan menomorsatukan dirinya sendiri. Kalau pakai idiom Allah, “Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi,” maka ciri utama akhlak kebudayaan manusia adalah merendahkan Nabi. Merendahkan Nabi adalah merendahkan Tuhan, dengan berbagai kemungkinan luas pemaknaannya.

Kita, dengan segala keterbatasan kapasitas yang kita miliki saat ini, dapat berkontribusi untuk melakukan perlawanan atas situasi yang sedang terjadi. Jika kemampuan kita hanya sebatas rapalan doa maka maksimalkan. Jika memiliki kelebihan rezeki untuk makanan sehari-hari, hendaknya kita tidak berbuat atau tidak berpikir untuk mementingkan diri sendiri. Karena kita adalah bagian dari makrokosmos yang telah menyebabkan datangnya kondisi ini maka hendaknya kita juga turut andil dalam menyelesaikannya.

 

 

Jika kita memiliki kesempatan untuk membagi sebuah informasi, kita harus mengingat pesan yang tanpa tedeng aling-aling Allah sampaikan dalam Surah Al-Hujurat itu. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Sekarang, sampai waktu yang akan lama, kita ikut menanggung sifat takabur umat manusia kepada Tuhan: Corona merebahkan kita semua ke belakang punggung di rumah kita masing-masing.

 

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] dan relevan sekali membaca tulisan-tulisan tentang situasi pandemi saat ini. Buku yang berisi 51 esai karya Emha Ainun Najib ini melibatkan banyak hal yang terjadi selama masa pandemi serta menyinggung permasalahan yang […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *