10 Bacaan Nonfiksi untuk Kamu yang Dijamin Nggak Bikin Ngantuk!

Bacaan nonfiksi jarang sekali saya temui dalam daftar belanjaan buku teman-teman. Berbagai alasan pun dilontarkan. Mulai dari ada yang belum sempat memasukkan ke daftar belanjaan bacaan, hingga alasan klise yang membuat seolah-olah muak atau lebih baik undur diri jika disuguhkan dengan bacaan nonfiksi.

Apa yang salah dengan bacaan nonfiksi? Jikalau para buku nonfiksi bisa bersuara, pastilah mereka tertegun dan meronta-ronta kepada kita alasan jarang sekali untuk disentuh dan dibaca. Sungguh malang nasibmu, Nak!

Artikel kali ini hadir untuk Sahabat Bentang yang sedang: (1) merasa bosan dengan kumpulan buku as known as ingin keluar dari zona nyaman; (2) memiliki buku bacaan nonfiksi yang tak mudah membuat kantuk, dan atau; (3) para pencinta buku nonfiksi yang hendak mencari rekomendasi buku apa lagi yang sekiranya bisa masuk ke daftar belanjaan. Mari kita simak~.

Mengheningkan Cinta

Rekomendasi pertama untuk kalian yakni yang sedang gundah gulana terkait diri sendiri pada saat ini, masa depan, ataupun masa lalu. Mengheningkan Cinta hadir untuk memberikan sisi terbaik dari hati yang terluka, yaitu dengan penerimaan diri yang berharga.

Meskipun ada kata “cinta” di bagian judulnya, karya dari Mas Adjie Santosoputro ini sejatinya membantu kita semua yang sedang terluka bukan hanya karena asmara, melainkan juga bagaimana menyembuhkan luka batin yang sedang mendera.

Kalian akan bertemu dengan sosok Sunyi jika membaca buku ini. Siapa Sunyi? Ada hubungan apa Mas Adjie dengannya? Intip lebih jauh di dalam bukunya, ya!

Dear Tomorrow

Kadang kala, kita merasa khawatir dengan masa depan kita. Pencapaian apa saja yang dibutuhkan pada masa depan? Apakah masa depan kita akan gemilang? Sesuai rencana? Hal-hal apa saja yang dibutuhkan diri kita agar bisa mencapai target impian yang sedang membumbung tinggi? Karya dari Maudy Ayunda jawabannya!

Notes to My Future Self. Sebuah kompilasi perjalanan hidup Maudy yang dikemas dalam perspektif menarik menjadi sebuah buku. Berbagai tips berupa pengembangan diri akan kalian temukan melalui buku ini.

The Moment of Lift

Selama dua puluh tahun terakhir, Melinda Gates telah menjalankan misi demi menemukan solusi bagi orang-orang dengan kebutuhan paling mendesak, di mana pun mereka tinggal. Dalam buku yang menyentuh hati dan memikat ini, Melinda Gates membagikan inspirasi berharga dari orang-orang inspiratif yang dia temui selama bekerja dan bepergian ke seluruh dunia. Beberapa cerita akan membuat hati kita hancur, tetapi cerita-cerita yang lain mampu melambungkan harapan. Para pahlawan ini telah membangun sekolah, menyelamatkan hidup, mengakhiri perang, memberdayakan anak perempuan, dan mengubah budaya.

Sepanjang perjalanan ini, satu hal semakin jelas bagi Melinda Gates: jika kalian ingin mengangkat masyarakat, kalian harus berhenti menekan perempuan. Dia telah membuktikan bahwa hanya cara inilah yang memberikan lebih banyak kesempatan untuk mengubah dunia—dan diri kita sendiri.

Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar

Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar merupakan tulisan terbaru bergaya novel karya Cak Nun, yang membahas interaksi antara Simbah bersama tiga penerusnya dengan watak dan latar belakang yang berbeda: Gendhon, Pèncèng, dan Beruk dalam memaknai setiap tujuan hidup manusia serta dinamika di dalamnya.

Buku ini banyak melibatkan fenomena yang terjadi masa kini dan lampau, mulai dari agama, politik, budaya, sejarah, hingga kehidupan setelahnya, yang seolah mengajak kita berkaca kembali, apakah Indonesia saat ini sudah tercipta sesuai dengan harapan para pendahulunya?

Kalian juga masih bisa mengikuti pre-order buku Cak Nun melalui laman Cak Nun Mencari Kebenaran.

TRUTH: Temukan Rasa Utuhmu, Temukan Hidup

Setelah mengajak pembaca menerima diri sendiri lewat buku pertamanya, Hati yang Gembira Adalah Obat (2016), Sophie kembali menguraikan sekelumit pikiran dan segenap hatinya untuk bertutur melalui buku ini. Kali ini, Sophie mengajak kita untuk berpikir bersama-sama, sembari menemukan “rasa utuh” dalam diri. Sebuah kelanjutan proses setelah dapat menerima diri sendiri.

Tanpa sadar, jika ditempa masalah kita mungkin terbiasa mendengar saran selayaknya: Forgive yourself and move on …. Namun, dalam kenyataannya, kok, tidak bisa semudah itu, ya? Rupanya ada satu faktor yang terlupa, faktor yang justru lebih penting daripada diri kita, yaitu tentang DARI MANA semua—termasuk diri ini—bermula. Alasan mendasar diri kita bisa hadir saat ini, hidup dan berkarya di bumi, adalah Sang Pencipta, Sang Maha Kasih, DIA yang selalu siap mengampuni dan menerima kita apa adanya. Semua orang ingin diterima, kan, keberadaannya? Jawabannya pasti, ya.

Baca Juga: Fiksi atau Nonfiksi: Mau Menulis yang Mana?

Talijiwo dan Senandung Talijiwo

Manusia harus saling mengingatkan pada kebaikan karena hutan, gunung, sawah, dan lautan hanya bisa mengingatkan kita kepada mantan.

Demi itu buku ini ada. Namun, Sujiwo Tejo tak ingin mendudukkan kalian sebagai pembaca, Sujiwo Tejo ingin mengajakmu duduk sebagai teman ngobrol.

Banyak jalan menuju Roma, tapi tak ada yang sepasti setiap jalan menuju takdir. Saat dipamiti adik atau anak ke sekolah, kita menjelma sebagai kakak atau orang tua. Bertemu teman kuliah atau sejawat kantor, mendadak kita menjadi sohib atau saingan. Sepernano detik yang lalu, kamu kekasihnya dan kini malah menjadi mantannya.

Begitulah. Hidup selalu bergerak seperti kisah-kisah Talijiwo yang hendak  diobrolkan kepadamu. Aku akan mendengarmu. Dengar aku juga. Siapa tahu setiap kata yang kuobrolkan, mengandung senandung untuk kita nyanyikan berdua.

Alasan Kita Rela Menderita

Penulis buku terlaris dan pembicara TED Talks yang terkenal, Dan Ariely, mengungkapkan wawasan baru yang menarik tentang motivasi—betapa upaya ini jauh lebih kompleks daripada yang pernah kita bayangkan. Setiap hari kita bekerja keras untuk memotivasi diri kita sendiri, orang-orang yang tinggal bersama kita, maupun orang-orang yang bekerja bersama kita. Dengan semua upaya itu, apa yang sesungguhnya melandasi kita untuk berusaha mencapai sesuatu yang sulit dan menantang, meski prosesnya cukup menyakitkan? Apa yang sesungguhnya membuat kita rela menderita demi mencapai keinginan kita?

Dalam buku ini, Ariely menyajikan serangkaian riset eksperimentalnya. Ia mendatangi kantor Intel dan melakukan tes tentang hubungan peningkatan kinerja dan bonus, mengunjungi pasien dengan luka bakar akut yang tengah berjuang untuk sembuh, hingga menelisik dorongan sederhana mengapa orang-orang rela bersusah payah dan menghabiskan waktu merakit produk IKEA dengan petunjuknya yang rumit. Semua ini bertujuan menemukan akar motivasi—cara kerjanya dan bagaimana kita dapat menggunakan pengetahuan ini untuk memutuskan pilihan-pilihan penting dalam kehidupan kita sendiri.

The Naked Traveler 8: The Farewell

Trinity menumpahkan hal-hal seru, yang bikin senang, kesal, geli, haru, sedih, dan bikin nagih―semua lagi-lagi menularkan virus untuk traveling. Dari perjalanan menyaksikan pesona Iceland yang overrated, menikmati megahnya alam Afganistan dari perbatasaan saat road trip di Asia Tengah, merasakan atmosfer Islam di Iran, menderitanya menjadi traveler difabel, hingga mencoba peruntungan kencan online di Eropa.

The Life-Changing Magic of Tidying Up

Konsultan berbenah asal Jepang, Marie Kondo, memperkenalkan metode merapikan yang ampuh tiada duanya, KonMari. Keampuhan metode yang kini semakin marak diterapkan di Jepang dan telah dikemas dalam program televisi laris, Tidy Up with KonMari! ini telah menular ke seluruh dunia. Saking ampuhnya, tak seorang pun klien Kondo kembali ke kebiasaan berantakan (dan calon kliennya harus masuk daftar tunggu selama tiga bulan).

Keuntungan kalian jika mendapatkan buku ini ialah: menjadi klien jarak jauh Kondo, menentukan barang-barang mana saja di rumah Anda yang “membangkitkan kegembiraan” dan mana yang tidak. Memulai kebiasaan berbenah yang efektif dengan sistem berbenah berdasarkan kategori. Membabat habis situasi berantakan, hingga menikmati efek ajaib dari rumah yang rapi—beserta pikiran damai yang mengikutinya.

Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner

Rudy adalah kisah yang disusun dari cerita-cerita B.J. Habibie yang belum diceritakan sebelumnya. Ini adalah kisah tentang perjalanan tumbuh dewasa seorang anak laki-laki dan Indonesia yang masih belia.

Tak banyak yang tahu bahwa cita-cita membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia justru diawali oleh ketakutan Rudy akan burung besi pada masa Perang Dunia Kedua. Tak banyak juga yang tahu kisah cinta tersembunyi Rudy sebelum akhirnya ia bertemu Ainun, cinta sejatinya, dan fakta bahwa Rudy tak terlalu suka kata “mimpi” sebagai kata ganti hal yang sangat diinginkannya. Baginya, “cita-cita” adalah kata yang lebih menjejak dan nyata.

Rekomendasi dari saya sudah cukup menarik, bukan? Sebenarnya, masih ada banyak lagi bacaan nonfiksi yang bisa membuat jatuh hati, tetapi sudikah dirimu untuk mengintip lebih jauh di mizanstore.com the one and only? ^^

Salam,

Anggit Pamungkas Adiputra

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *