Apa Itu Sufisme? Mengenal Haidar Bagir, sang Cendekiawan Muslim

Di era modern ini, saat teknologi dan berbagai macam media sosial telah mendominasi, tetapi nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan tidak akan luntur dan hilang. Selama berabad-abad budaya dan agama serta ajaran-ajaran yang disampaikan secara turun-temurun akan sulit hilang dan luntur. Bahkan, seiring berkembangnya zaman, ketika teknologi terus maju dan berkembang pesat, budaya dan ajaran-ajarannya juga ikut membaur dan beradaptasi di dalamnya. Salah satunya ajaran budaya dan agama yang turut membaur yaitu aliran sufisme. Yang ternyata juga dijalankan dan diajarkan oleh Haidar Bagir yang merupakan pemimpin Grup Mizan. Namun, mungkin bagi sebagian masyarakat luas belum terlalu mengenal apa itu sufisme. Pada artikel kali ini kita akan membahas dan mengenal ajaran sufisme.

Apa Itu Sufisme?

Secara etimologi, sufisme berasal dari kata sufi. Kemudian terdapat beberapa pandangan, pertama berawal dari suf yang dalam bahasa Arab berarti ‘wol’. Merujuk pada jubah sederhana yang dikenakan oleh penganut agama Islam. Selanjutnya juga ada yang berpendapat berasal dari kata saf, yaitu ‘barisan dalam shalat’. Kemudian ada juga yang berpendapat bahwa kata sufisme berakar dari kata safa yang dipahami sebagai ‘kemurnian’. Hal tersebut yang mereferensikan sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Terdapat pula teori yang mengatakan bahwa sufisme atau tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yaitu theosofie yang berarti ‘ilmu mengenai ketuhanan’.

Sufisme atau juga biasa disebut sebagai tasawuf, merupakan ilmu untuk memahami bagaimana cara menyucikan jiwa. Kemudian juga untuk mengetahui cara menjernihkan akhlak, membangun batin hingga memperoleh kebahagiaan yang abadi. Sufisme juga dipahami sebagai gerakan zuhud, atau tindakan menjauhi hal-hal duniawi dalam agama Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, sufisme melahirkan tradisi mistisme Islam.

Dalam sufisme juga terdapat aliran yang disebut sebagai tarekat. Hal ini kerap kali dihubungkan dengan Syiah, Sunni, serta cabang Islam yang lain, maupun gabungan beberapa tradisi. Sufisme juga dipahami sebagai sebuah konsep dalam agama Islam. Didefinisikan oleh para ahli sebagai bentuk bagian batin. Kemudian dianggap juga sebagai dimensi mistis Islam. Hingga juga pendapat yang mengatakan bahwa sufisme merupakan filosofi yang telah ada sebelum kehadiran agama itu sendiri dan menjadi ekspresi perkembangan agama Islam.

Sejarah Sufisme

Pada awalnya pemikiran sufi muncul di Timur Tengah. Pemahaman aliran tersebut tercetus kali pertama pada abad ke-8 hingga akhirnya tradisi dan ajaran ini sudah tersebar ke seluruh dunia. Pada kala itu orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran yang sebelumnya bukan penganut agama Islam ataupun menganut pemahaman serta aliran tertentu. Mereka pada saat itu sudah mengamalkan ajaran dan hidup dalam kesederhanaan. Budaya dan ajaran sufisme terlihat mulai dari pakaian yang sederhana.

Pakaian sederhana tersebut biasanya terbuat dari bulu domba. Hal itu yang menyebabkan pemaknaan sufisme berasal dari kata suf. Namun, juga terdapat teori dan pendapat lain yang mengatakan bahwa asal muasal sufisme atau tasawuf sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Bermula dari kata suffa yang artinya ‘beranda’. Kemudian, dianggap sebagai pencetus awal paham sufisme yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad.

Terdapat pula teori dan pendapat lain yang mengatakan bahwa sufisme muncul saat pertikaian umat Islam pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Hal tersebut dipicu oleh perseteruan politik kala itu. Hingga pada akhirnya muncul gerakan yang diprakarsai oleh Hasan Al-Bashiri mengenai sikap hidup menjauhi hal-hal duniawi dan diikuti oleh figur-figur lain, yang akhirnya gerakan tersebut dipahami sebagai sufisme.

Haidar Bagir Seorang Cendekiawan Muslim

Sosok Direktur Utama Grup Mizan ini dikenal sebagai seorang cendekiawan Muslim. Hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan beliau. Selain itu juga karena pengalaman beliau di bidang pengajaran dan filsafat keagamaan yang mendalam sehingga dikenal sebagai seorang cendekiawan Muslim.

Pria kelahiran Solo, 20 Februari 1957 tersebut merupakan lulusan Sarjana Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung tahun 1982. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana di Pusat Studi Timur Tengah Harvard University di Amerika Serikat pada tahun 1990 hingga 1992. Tak berhenti di sana, beliau juga meraih gelar jenjang S-3 di Universitas Indonesia pada Jurusan Filsafat dengan riset selama tahun 2000 hingga 2001 di Departemen Sejarah dan Filsafat Sains, Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat.

Haidar Bagir juga berpengalaman sebagai Staf Pengajar di Jurusan Filsafat Universitas Madina Ilmu pada tahun 1998, juga di Universitas Indonesia tahun 1996, dan Universitas Paramadina Mulya tahun 1997. Beliau juga menjadi direktur utama Gudwah Islamic Digital Edutainment (GUIDE) dan Ketua Pusat Kajian Tasawuf Positif dan Ketua Yayasan Manusia Indonesia. Selain itu, beliau juga menjadi koordinator regional International Society for Islamic Philosophy untuk wilayah Indonesia, Australia, dan Selandia Baru.

Atas segala pengalaman yang beliau miliki, menjadikannya seorang cendekiawan Muslim. Bahkan, hingga saat ini Haidar Bagir juga masih aktif memberikan ceramah mengenai keagamaan dan pendidikan di sejumlah instansi dan masyarakat. Beliau juga aktif menjadi pembicara dalam sejumlah seminar keilmuan khususnya pada bidang filsafat dan pengajaran Islam.

Aliran Sufisme dan Islam Cinta

Haidar Bagir bersama beberapa tokoh lain di antaranya Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Mahfud MD, dan Abdillah Toha, Haidar Bagir mendeklarasikan Gerakan Islam Cinta. Gerakan tersebut berdasar pada sufisme yang merupakan kesederhanaan. Kemudian yang bertujuan untuk menekankan aspek cinta dan spiritualitas Islam kepada masyarakat Muslim. Tema ini juga diangkat oleh Haidar Bagir pada karya-karya puisinya dengan tajuk “Alkimia Cinta”.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *