Tag Archive for: Simone Davies

Manfaat Pengamatan Terhadap Bayi

Pengamatan terhadap bayi

 

Memahami bayi harus dimulai dengan membentuk bonding dengan mereka sedini mungkin. Saat bayi masih dalam kandungan pun, seorang ibu perlu memulai komunikasi dengan bayi. Dalam memahami bayi, kita perlu melakukan pengamatan terhadap bayi. Tidak hanya agar mengenal mereka lebih dekat, tetapi ada manfaat lain yang bisa kita dapatkan.

 

Baca juga: Tiga Alasan Kita Mencintai Bayi

 

Memahami dan Mengikuti Perkembangan Bayi

Ketika telah berusaha mengamati bayi, kita akan memahami dan mengikuti perkembangan mereka. Kita bisa menyadari perubahan-perubahan kecil dalam kemampuannya. Ketika menyadari perubahan tersebut, kita bisa menyediakan lingkungan serta kegiatan yang memberikan tantangan yang tepat bagi bayi.

Selain itu, kita juga bisa mengetahui rintangan apa saja yang menghambat gerakan, komunikasi, dan kegiatan bayi. Jika bayi kita rasa kurang mandiri, kita bisa mengenali faktor yang menghambat kemandirian bayi. Melalui pengamatanlah kita bisa mengetahui apakah kecenderungan manusiawi bayi sudah dipupuk atau belum.

 

Pengamatan Membuat Kita Menyadari Usaha dan Kemampuan Bayi

Saat melakukan pengamatan terhadap bayi, kita juga perlu mengamati apakah bayi berinteraksi dengan lingkungannya atau tidak. Kemudian, kita juga perlu melihat apakah bayi menggunakan indranya untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pengamatan ini, kita bisa mulai menyadari apa usaha yang sedang dilakukan bayi.

Begitu kita menyadari usaha yang sedang dilakukan oleh bayi, kita juga akan menyadari kemampuan mereka. Dari sini, kita bisa mulai mengenali periode sensitif bayi. Kita akan menyadari minat dan kegiatan apa yang menjadi konsentrasi bayi. Selain itu, kita pun mulai melihat apa saja hal yang terus-menerus bayi kembalikan, ulangi atau justru bayi menaruh konsentrasi di bidang tersebut.

 

Melalui pengamatan terhadap bayi, kita bisa mengenal dan memahami bayi kita lebih jauh dan mampu membantu saat mereka butuhkan. Pengamatan ini akan lebih baik lagi jika kita lakukan tanpa harus ikut campur tangan terlalu banyak. Dengan mengamati secara seksama, kita benar-benar memahami setiap gerakan yang dilakukan bayi dan hal apa yang berusaha mereka sampaikan. Kita bisa memaknai semua ini lebih dalam dan bisa membuat kita lebih dekat lagi dengan bayi. Hal ini karena bayi akan berpikir bahwa orang tua atau orang terdekatnya, benar-benar memahami mereka.

 

Montessori Baby coverMelalui buku The Montessori Baby karya Simone Davies dan Junnifa Uzodike dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ini, kita bisa belajar memahami bayi seutuhnya dan juga menemukan alasan mengapa kita begitu mencintai bayi. Hal-hal sederhana yang dilakukan bayi barangkali tidak pernah kita pikirkan, namun melalui buku ini penulis mengajak kita untuk memahami mereka lebih dalam lagi. Buku ini bisa kamu dapatkan di linktr.ee/Bentang atau di toko buku terdekat.

Mencintai Bayi

Tiga Alasan Kita Mencintai Bayi

Pernahkah kita berpikir, mengapa kita mencintai bayi? Apa alasan yang membuat kita bisa mencintai mereka begitu dalam? Apakah semua orang bisa mencintai bayi? Atau perasaan ini sebenarnya hanya sebatas kagum? Banyak sekali pertanyaan kita tentang bayi. Dunia mereka yang sangat mungil namun menyimpan berbagai misteri, membuat kita semakin tertarik.

Di sisi lain, bayi menguras banyak waktu, membangunkan kita pada malam hari, membuat kita merasa kelelahan, dan terkadang mereka juga tidak berhenti menangis. Tentu hal-hal ini dirasakan setiap ibu yang sedang memiliki bayi. Tetapi, kita tetap menyayangi mereka. Apa alasannya? Berikut adalah tiga alasan kita mencintai bayi.

 

Baca juga: Hal-Hal yang Perlu Kita Ketahui Tentang Bayi

 

Bayi Mengingatkan Kita Betapa Polosnya Manusia Sewaktu Lahir ke Dunia

Ketika kita melihat bayi, yang terlintas pertama kali dalam benak kita adalah bahwa mereka terlihat sangat polos dan suci. Kita juga bisa teringat bahwa dulu pun saat kita masih bayi tentu seperti mereka. Kita melihat bahwa setiap manusia mengawali hidup seperti bayi kita. Mereka polos, tidak menghakimi siapa pun, tidak merasa takut, dan tidak memiliki beban.

Saat bayi pertama kali melihat dunia, kita sangat suka mengamati kepolosan mereka saat menelaah dunia di sekitarnya. Tindak dan tanduk bayi dalam melihat dan menjelajahi segalanya membuat kita merasa sangat damai. Kepolosan mereka yang melihat segala sesuatu tanpa menghakimi, tetapi justru merasa takjub membuat kita mencintai bayi. Ini adalah alasan pertama mengapa kita bisa mencintai bayi dengan sangat mendalam.

 

Bayi Menumbuhkan Harapan Kita untuk Masa Depan

Kelahiran anak mencetuskan harapan semoga dunia menjadi lebih baik untuk hidupnya kelak. Kita selalu berharap bahwa nantinya anak kita suka untuk belajar, dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Kita juga berharap bahwa mereka mencintai lingkungan dan semesta, dan ia tidak terlibat pada kekerasan maupun peperangan. Harapan ini membuat kita semakin ingin melindungi dan menjaga mereka, kita jadi semakin mencintai bayi.

Harapan-harapan inilah yang membuat kita semakin menyayangi mereka. Harapan itu semakin besar, hingga kita berharap mereka menjadi orang sukses dan bisa bekerja sebagai ini dan itu. Karena harapan itu, kita benar-benar berniat untuk menjaga mereka sepenuh hati dan jangan sampai mereka terluka. Rasa sayang kita dibungkus dengan harapan untuk menjadikan lingkungan sekitar semakin baik dan nyaman. Karena adanya harapan ini, kita mencintai bayi dengan mendalam. Kita berharap cinta kita membuat mereka bisa mewujudkan harapan tersebut.

 

Bayi Berbau Harum dan Ekspresif

Ini adalah salah satu alasan yang paling banyak diutarakan oleh orang-orang. Bayi berbau harum! Bagi kita, tidak ada aroma yang lebih sedap daripada bau badan bayi sehabis dimandikan. Kita sering kali mencium tubuh bayi karena menyukai aroma mereka yang membuat kita merasa relaks dan nyaman, juga senang menggelitik mereka.

Kita senang dengan ekspresi mereka saat kita menggelitik mereka. Kita juga senang melihat mereka saat mengekspresikan sesuatu. Misalnya, saat mereka menangis untuk menyampaikan bahwa popok mereka sudah kotor atau saat mereka lapar dan lelah. Meskipun suara tangisan terkadang membuat kita terganggu, kita juga merasa senang melihat ekspresi mereka. Kita seolah bermain tebak-tebakan dengan mereka, apa yang sedang bayi sampaikan dan apa yang mereka inginkan. Aroma tubuh mereka yang harum, ekspresi mereka yang lucu tidak hanya membuat kita semakin mencintai bayi, tetapi juga merasa lebih rileks dan seolah beban dalam pikiran hilang.

 

 

Beberapa orang mengatakan bahwa bayi bak mainan yang sangat mereka sayangi. Saat kita bersama bayi, ada rasa nyaman dan ingin merawat mereka dengan sepenuh hati. Saat kita melihat wajah mereka, memperhatikan ekspresi mereka, dan mencium aroma mereka, kita menyadari bahwa bayi sangat berharga. Kesadaran kita bahwa bayi sangat berharga itulah yang membuat kita mencintai mereka dan ingin mengasuh mereka dengan sangat baik.

Menurut Montessori, kita bisa melakukan pengasuhan dengan pendekatan Montessori bahkan sejak mereka lahir. Kita menjadi tahu caranya menanggapi tangisan bayi, tahu aktivitas mana saja yang dicari dan tepat untuk bayi, dan cara menyiapkan rumah yang ramah bayi. Semua penjelasan tersebut bisa didapatkan melalui buku The Montessori Baby karya Simone Davies dan Junnifa Uzodike yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bentang.

Saat ini, buku The Montessori Baby dalam bahasa Indonesia sedang dalam masa prapesan. Kamu bisa ikut prapesan melalui bit.ly/pesanmontessoribaby.

Mengatur Kebiasaan Makan Balita Ala Montessori

Orang tua pasti mengharapkan balitanya sehat, bisa makan dengan lahap. Namun, tak jarang pula orang tua yang khawatir jika anaknya terlalu banyak makan. Ada banyak tekanan mengenai kebiasaan makan balita ini. Termasuk apakah bijak jika kita memberikan camilan kepada si kecil, dan sebagainya. Kegiatan makan jadi menimbulkan tekanan yang membuat orang tua serba salah. Dalam buku The Montessori Toddler, Simone Davies memberikan tips mengatur kebiasaan makan balita melalui pendekatan Montessori.

Pemahaman Anak dan Peran Orang Tua di Meja Makan

Dalam metode Montessori, anak menjadi pusat kegiatan. Oleh karena itu, mengatur kebiasaan makan pun bukan sekadar kita menyuruh kapan mereka makan, kapan tidak. Pun bukan cuma menyediakan makanan mereka dan menyuruh mereka menghabiskannya. Penting bagi anak untuk mengetahui alasan ia harus makan teratur, kenapa ada makanan yang tak boleh ia makan, dan hal-hal lain yang tak boleh berhenti sebagai perintah orang tua belaka. Logika anak mulai bekerja saat ia balita sehingga mereka sering kali membutuhkan konsep sebab-akibat. Pemahaman setidaknya akan memberikan gambaran alasan ia harus disiplin.

Karena balita senang sekali meniru apa yang ia lihat, penting juga bagi kita untuk memberikan contoh bagi anak. Misal, dengan menunjukkan cara duduk yang baik saat makan dan menghabiskan makanan. Anak juga biasanya akan lebih tertarik kepada makanan saat ia terlibat dalam menyiapkan makanannya. Contohnya, jika anak diajak dalam proses memasak maka kita bisa katakan, “Tadi kamu membantu Mama mengocok telur dadar ini. Rasanya pasti enak. Kamu juga penasaran, kan, bagaimana rasanya?”

Waktu dan Tempat Makan

Membiasakan anak makan teratur dengan jadwal yang sudah ditentukan akan lebih baik ketimbang memberikan mereka makanan atau camilan tiap kali mereka merengek. Biasakan sarapan, makan siang, dan makan malam bersama anak-anak. Mungkin jadwal makan mereka berbeda dengan orang dewasa, tetapi ada baiknya kita selalu mendampingi dan ikut makan bersama mereka. Siasati dengan menyantap makanan yang tidak terlalu berat ketika menemani mereka, misalnya sup.

Anak balita juga aktif bergerak dan ini mungkin menjadi kendala yang banyak dialami oleh orang tua saat mengajari mereka kebiasaan makan yang disiplin. Namun, ketika kita rutin memberikan contoh tempat makan yang seharusnya, anak biasanya akan lebih mudah untuk mengikuti hal tersebut. Tak hanya saat jadwal makan, waktu mengudap pun bisa kita berikan contoh untuk melakukannya di meja makan sambil duduk dengan baik. Ada kalanya anak belum selesai makan, tetapi ia ingin beranjak untuk bermain sebentar, kemudian kembali lagi ke makanannya. Hal itu wajar, selama anak tetap paham tempat dan waktu makan yang seharusnya. Jika waktu makan sudah selesai, kita bisa contohkan dengan membereskan makanannya dan memberikan mereka pengertian kalau mereka tidak bisa mengambil makanannya sesuka mereka lagi.

Apa yang Balita Makan?

Sering kali balita memilih-milih makanan, bahkan tak mau makan sama sekali. Mereka mungkin belum tahu makanan apa yang bagus untuk mereka dan mereka tidak bisa menentukan apa yang tersedia di meja makan. Jika kita mau mencoba memberikan mereka pilihan, kita bisa memberikan dua jenis makanan yang tentunya sudah kita sortir sebelumnya. Dengan begitu mereka bisa belajar dan setidaknya memiliki kesadaran atas makanan mereka.

Porsi anak juga bisa kita serahkan kepada mereka. Daripada kita memaksa mereka menghabiskan sepiring penuh makanan yang mungkin tak bisa mereka habiskan, beri mereka porsi kecil dan biarkan mereka menambah sendiri jika belum kenyang. Biarkan mereka belajar mendengarkan tubuhnya sendiri agar mereka paham kapan mereka lapar, kapan mereka kenyang.

 

Mengatur kebiasaan makan balita memang cukup menantang. Melalui proses ini,kita sebagai orang tua juga bisa mengamati banyak hal terkait perkembangan mereka. Nafsu makan mereka bisa tampak naik-turun pada satu waktu, bagaimana mereka bisa mulai lepas dan mengenal makanan tertentu, dan sebagainya. Selain mengatur kebiasaan makan, ada banyak tips lain cara mengasuh balita ala Montessori dalam buku The Montessori Toddler. Di dalamnya kita bisa mencoba memahami balita dengan lebih mudah. Sangat direkomendasikan bagi para orang tua yang memiliki balita yang sedang gemas-gemasnya.

The Montessori Toddler oleh Simone Davies

Konsep Minimalis dalam Montessori

Metode montessori tidak saklek berbicara soal teori pengasuhan dan kurikulum pendidikan di ruang kelas belaka. Dalam montessori, lingkungan merupakan salah satu komponen penting  yang mempengaruhi tumbuh kembang  anak.  Terdapat hubungan yang dinamis antara anak, orang dewasa, dan lingkungan. Tak terkecuali lingkungan rumah.  Oleh karena itu, montessori juga menekankan kita akan pentingnya strategi penataan lingkungan yang kondusif. Salah satu strateginya adalah melalui unsur minimalis.

Jika memperhatikan ruangan kelas montessori, kita bisa lihat bahwa penataannya dibuat sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan anak. Rumah sebagai tempat utama berkumpul dan berinteraksi dengan keluarga pun sebetulnya bisa disulap menjadi lingkungan yang kondusif.  Berikut ini beberapa prinsip minimalis dalam penataan ruangan ala montessori dari buku The Montessori Toddler karya Simone Davies.

Kesederhanaan

Memiliki anak, apalagi yang masih berusia dini seringkali menjadi kendala dalam menata rumah. Alasannya, anak usia dini memiliki banyak kebutuhan. Mulai dari baju, mainan, alat makan,  sampai perangkat belajar seperti alat tulis dan sarana aktivitas anak. Padahal dalam montessori, kesederhanaan merupakan salah satu kunci. Alih-alih menyediakan banyak barang, orang tua cukup memajang beberapa sarana aktivitas anak saja. Dengan begitu anak-anak akan terlatih fokusnya dalam menguasai kegiatan tertentu dalam satu waktu.

Kerapian dan keteraturan

Konsep minimalis menekankan keteraturan. Metode montessori pun senantiasa mendukung hal tersebut melalui aktivitas pendukung sensorik dan motorik anak. Itulah kenapa di kelas-kelas montessori perangkat belajarnya tersimpan rapi di nampan atau rak khusus. Lewat hal ini kita bisa mengajarkan anak di mana suatu benda harusnya berada. Sebuah penanaman kebiasaan baik yang bisa kita mulai sejak dini di rumah.

Kebersihan

Konsep minimalis sangat khas dengan rutinitas berbenah dan tampilan yang bersih. Dalam metode montessori, anak-anak juga dikenalkan dengan kebersihan melalui aktivitas mandiri seperti menyapu dan membersihkan debu. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun koordinasi, konsentrasi, dan kemandirian mereka.

 

Nah, bagi para orang tua yang memiliki anak usia dini dan tertarik untuk menata rumahnya secara minimalis, tak perlu bingung kan. Ternyata kita bisa menerapkan konsep minimalis lewat metode montessori. Masih ada banyak tip lainnya seputar penerapan montessori di rumah dalam buku The Montessori Toddler karya Simone Davies yang tersedia di Mizanstore loh. Segera dapatkan bukunya ya!

Montessori Toddler oleh Simone Davies

Lima Tip Menata Rumah Ala Montessori

Metode montessori adalah metode pendidikan yang didasari oleh aktivitas kemandirian dan pembelajaran langsung. Metode ini disusun berdasarkan teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori. Metode ini menekankan penyesuaian lingkungan dengan perkembangan anak. Keberhasilan praktik montessori di rumah tidak lepas dari properti, alat, dan penataan rumah yang ramah anak.

Bagi orang tua di rumah yang menerapkan metode ini pada pengasuhan anak, penting untuk merancang ruangan di rumah sesuai dengan aktivitas dan kebutuhan anak. Berikut tip menata rumah ramah anak ala montessori.

Keindahan ruangan

rumah gaya apapun, keindahan adalah hal mutlak yang harus dimiliki suatu ruangan. Begitu juga dengan menata rumah ala montessori, keindahan ruangan menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Moms bisa memajang karya seni yang sesuai dengan jangkauan anak dan terbuat dari bahan yang aman untuk anak.

Kemandirian 

Salah satu karakteristik permainan montessori adalah mempersiapkan mainan sebelum aktivitas bermain dimulai. Moms bisa meletakkan dan menata mainan beserta material nya di atas nampan dan keranjang sehingga mainan siap digunakan. namun, tetap carilah cara agar anak dengan mudah melakukan semuanya sendiri.

Sederhana lebih baik

Salah satu tujuan montessori juga adalah melatih fokus anak, dan anak dianjurkan untuk bermain dengan aktivitas yang hendak dikuasai nya. Agar anak tidak kewalahan, Moms harus menyiapkan beberapa aktivitas permainan yang membantu konsentrasi anak. Pajanglah aktivitas yang sedang berusaha mereka kuasai.

Tempat untuk semuanya dan semua ada tempatnya.

Balita memiliki keteraturan yang kuat. Ketika kita menyediakan tempat untuk sesuatu barang dan setiap barang memiliki tempatnya masing-masing. Hal tersebut akan membantu mereka untuk belajar meletakkan barang pada tempatnya dan melatih keteraturan.

Simpan dan rotasi

Buatlah tempat penyimpanan yang ideal untuk menyimpan peralatan bermain anak. Tempat penyimpanan tersebut harus berada di luar jangkauan mereka, rapi, dan enak dipandang. Adapun peralatan aktivitas yang dipajang ini juga memudahkan orang tua maupun anak ketika mencari permainan.

Tidak harus semua ruangan berisi dengan peralatan-peralatan aktivitas montessori, hanya saja perlu menyisakan satu ruang ramah anak di rumah. Semoga tip nya membantu, ya, Moms untuk mewujudkan rumah ramah anak.

 

perisapan balita masuk PAUD/Sekolah

Tip Persiapan Balita Masuk PAUD/Sekolah

Salah satu momentum menjadi orang tua adalah persiapan balita masuk PAUD/Sekolah. Ada banyak perasaan campur aduk yang akan kita rasakan. Mulai dari takut si kecil akan crancky, sedih melihat anak sudah makin besar, sekaligus excited menanti perkembangan si kecil. Semuanya muncul jadi satu.

Bahayanya, jika perasaan negatif yang lebih banyak kita rasakan, si kecil ternyata juga bisa ikut merasakannya, lho. Kalau sudah begitu, bisa-bisa pengalaman pertama mereka masuk PAUD/sekolah bisa jadi karut-marut, nih. Karena itu, Simone Davies membagikan tip spesial untuk membantu kita mempersiapkan balita masuk PAUD/sekolah:

  • Berlatih keterampilan mandiri. Misalnya, dengan mendorong si kecil mempersiapkan perlengkapannya sendiri ke dalam tas sekolah. Buatlah anak terlibat langsung dalam aktivitasnya dengan konsep bermain.
  • Berlatih keterampilan sosial. Caranya dengan mengenalkan mereka kepada berbagai macam konteks situasi mulai dari membela diri jika diperlukan, berteman dengan anak lainnya, hingga peduli kepada orang lain.
  • Berlatih perpisahan. Sebelum benar-benar berpisah selama masa sekolah.

Khusus untuk tip nomor 3, harus dilatih jauh-jauh hari agar persiapan balita masuk PAUD/sekolah lebih maksimal, ya. Karena biasanya, di usia balita si kecil memang cenderung tidak ingin bermain sendirian. Sering kali mereka tidak akan membiarkan kita meninggalkan ruangan, bahkan sekadar ke toilet. Semakin sering kita membuat jarak dengan mereka, yang ada mereka akan semakin menempel. Dalam budaya Jawa fenomena ini biasa digambarkan dengan istilah “bau tangan”.

Agar persiapan balita masuk PAUD/sekolah lancar, kita harus memastikan terlebih dahulu apa saja yang menjadi penyebab “bau tangan” itu. Berikut ini adalah beberapa alasan umumnya:

  • Perjalanan, perubahan rutinitas, sakit, perubahan dalam situasi kerja, tempat penitipan anak yang baru. Perubahan-perubahan besar seperti ini bisa membuat anak waswas.
  • Temperamen anak. Beberapa anak lebih suka merasa aman dengan ditemani oleh orang tua mereka.
  • Kita memusatkan perhatian pada hal lain, misalnya ketika kita memasak atau membalas chat di grup Whatsapp.
  • Mereka masih bergantung pada orang dewasa untuk melakukan sesuatu bagi mereka karena belum mempunyai kemampuan atau akses yang dibutuhkan

Lalu gimana cara agar anak jadi tidak bau tangan dan siap masuk PAUD/sekolah tanpa drama? Begini, nih, caranya menurut Simone Davies dalam buku The Montessori Toddler.

  1. Bermain lebih sering dengan anak dan biarkan dia yang memimpin permainan. Lambat laun, kita bisa duduk sedikit lebih jauh sambil tetap menonton mereka bermain.
  2. Seperti lagunya Elo, kita harus sering membiasakan pamit kepada si kecil ketika ingin pergi meninggalkannya, dan sesegera mungkin kembali setelah urusan selesai, ya. Hal ini akan membuat si kecil merasa tenang dan terbiasa karena ditepati janjinya.
  3. Ciptakan suasana membosankan jika si kecil memang masih ingin bersama kita.

Akan tetapi, jangan lupa sisipkan juga mindset positif pada diri kita bahwa pada kenyataannya, balita memang ingin selalu berada di dekat kita, ya. Jadi, jangan sampai demi mempersiapkan anak masuk PAUD/sekolah, kita malah menjaga jarak berlebihan dengan anak. Jangan lupa perbanyak informasi juga mengenai bagaimana cara memilih sekolah yang tepat untuk balita

Intinya, yuk nikmati perjalanan parenting kita! (Radyastuti)

Montessori

Montessori & Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu pada Anak

Montessori percaya bahwa anak bukanlah bejana kosong yang siap diisi fakta. Secara naluriah, mereka penuh rasa ingin tahu, senang belajar, eksplorasi, dan menemukan solusi kreatif dalam kehidupannya. Hal ini menjadi pegangan dasar para guru montessori. Mereka percaya bahwa manusia dilahirkan dengan potensi yang siap dikembangkan. Misalnya, sikap ingin tahu yang merupakan faktor penting dalam proses belajar.

Dengan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, anak-anak akan memiliki keinginan yang kuat untuk belajar. Montessori meyakini rasa ingin tahu harus dikembangkan sejak dini. Dengan demikian, hal itu menjadi suatu kebiasaan yang akan mendukung proses belajar anak di masa depan.

Simone Davies dalam bukunya The Montessori Toodler memaparkan beberapa prinsip yang harus dimiliki orang tua untuk menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak.

 

Ikuti Kemauan Anak

Orang tua cenderung mengabaikan pendapat anaknya karena dirasa masih terlalu kecil. Contohnya saja ketika ingin pergi liburan. Mereka akan menjadi pengambil keputusan yang menentukan rencana liburan keluarga, mulai dari lokasi hingga aktivitas. Padahal, apabila kita membiarkan anak-anak berpendapat, hal itu sudah termasuk salah satu upaya dalam menumbuhkan rasa ingin tahu anak, lho. Anak-anak akan merasa memiliki kendali terhadap kehidupan mereka sendiri.

Mendorong Pembelajaran yang Melibatkan Tangan (Hand-on)

Anak-anak senang mengeksplorasi sekitarnya untuk mendapatkan sensasi dan pengalaman langsung. Perilaku menyentuh, mendengar, dan merasakan benda-benda yang ada di sekitarnya merupakan proses belajar terbaik bagi mereka. Oleh karena itu, Simone Davies memberikan saran melalui buku The Montessori Toodler untuk memberikan anak fasilitas untuk bermain di alam. Alam adalah tempat yang bagus untuk pembelajaran yang melibatkan tangan dan indra.

Libatkan Anak dalam Kehidupan Sehari-hari

Rasa ingin tahu anak paling tinggi bisa dilihat dari bagaimana reaksi anak yang selalu penasaran dengan apa yang dilakukan orang tuanya. Misalnya ketika memasukkan baju ke mesin cuci. Terkadang anak akan mengeluarkan kembali baju-baju tersebut. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah akan mendorong rasa ingin tahunya. Meskipun ketika melibatkan mereka, pekerjaan rumah menjadi sedikit lama dan berantakan, namun akan membentuk memori yang dapat bertahan selamanya.

Jangan Terburu-buru

Dalam menumbuhkan rasa ingin tahu anak, orang tua tidak boleh terburu buru dan tidak sabar. Memancing rasa penasaran anak pasti membutuhkan waktu. Misalnya, ketika anak bertanya tentang suatu hal, memang akan lebih cepat kita memberi tahu langsung. Tetapi akan lebih baik jika anak ikut terlibat dan mencari jawaban.

Biasanya, rasa ingin tahu anak yang berlebih justru dianggap menganggu. Orang tua merasa kelelahan mempersiapkan jawaban yang tepat. Alhasil, rasa ingin tahu mereka sering kali dimatikan sebelum bisa tumbuh berkembang. (annisa)

 

© Copyright - Bentang Pustaka