Rilis Novel Grafis Bermusik, Sujiwo Tejo Tak Menyasar Kalangan Tertentu

IMG_20160401_084710[1]

Sujiwo Tejo akhirnya merilis buku terbaru yang ia tulis, berjudul Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati, penghujung Maret lalu. Dalam bukunya, Sujiwo tak hanya menuliskan kata-kata saja. Setelah tahun lalu sukses dengan label novel bermusik yang diusung bukunya berjudul Rahvayana, kini, di bawah naungan penerbit Bentang Pustaka lagi, Sujiwo kembali ciptakan karya nyentrik berupa novel grafis bermusik. Sesuai dengan namanya, novel ini tak sekedar bercerita dari kata-kata, tetapi dipenuhi pula dengan lukisan, serta sisipan lagu-lagu yang khusus Sujiwo cipta dan tembangkan.

Novel grafis bermusik Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati bercerita tentang tokoh pewayangan modern. Adalah Sumantri yang sangat mengabdi kepada rajanya, Arjuna Sasrabahu. Dalam pengabdiannya, Sumantri diminta untuk merebut Dewi Citrawati dari Magada, dan memboyongnya ke hadapan Arjuna Sasrabahu di Maespati. Setelah berhasil mengalahkan Prabu Darma Wisesa, dalam perjalanan memboyong Dewi Citrawati ke Maespati, Sumantri dan Citrawati justru jatuh cinta.

Meskipun memilih untuk bercerita lewat tulisan yang disertai gambar, Sujiwo mengaku tidak menyasar pembaca kalangan tertentu. Baginya, Serat Tripama ia ciptakan untuk seluruh kalangan. “Yang suka makrifat, ambil makrifatnya. Misalnya bahwa pertemuan Sumantri dan Arjuna Sasrabahu itu simbol saja, sejatinya pertemuan makhluk dengan Tuhannya,” jelas Sujiwo. “Yang suka cinta laki-perempuan, biar ambil romansa antara Sumantri dan Citrawati. Sumantri yang semula disuruh oleh Prabu Arjuna Sasrabahu untuk memboyong Citrawati, eh di tengah jalan malah jatuh cinta sama Citrawati dan tak bertepuk sebelah tangan,” terangnya lagi.

Sujiwo menambahkan, bahkan anak-anak pun sebenarnya bisa membaca buku ini. Aku Sujiwo, dalam bukunya, banyak guyonan punokawan tokoh Cangik dan Limbuk yang bisa menjadi penghibur bagi anak-anak. “Mudah-mudahan pembaca terhibur dengan gambar-gambar imajinatifku, karena dilukis secara ngawur tapi benar. Misalnya, Sumantri memanah tidak di hutan, tetapi dari lapangan glof dibantu caddy,” kekehnya.

Fitria Farisa IMG_20160401_084710[1]

Sujiwo Tejo akhirnya merilis buku terbaru yang ia tulis, berjudul Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati, penghujung Maret lalu. Dalam bukunya, Sujiwo tak hanya menuliskan kata-kata saja. Setelah tahun lalu sukses dengan label novel bermusik yang diusung bukunya berjudul Rahvayana, kini, di bawah naungan penerbit Bentang Pustaka lagi, Sujiwo kembali ciptakan karya nyentrik berupa novel grafis bermusik. Sesuai dengan namanya, novel ini tak sekedar bercerita dari kata-kata, tetapi dipenuhi pula dengan lukisan, serta sisipan lagu-lagu yang khusus Sujiwo cipta dan tembangkan.

Novel grafis bermusik Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati bercerita tentang tokoh pewayangan modern. Adalah Sumantri yang sangat mengabdi kepada rajanya, Arjuna Sasrabahu. Dalam pengabdiannya, Sumantri diminta untuk merebut Dewi Citrawati dari Magada, dan memboyongnya ke hadapan Arjuna Sasrabahu di Maespati. Setelah berhasil mengalahkan Prabu Darma Wisesa, dalam perjalanan memboyong Dewi Citrawati ke Maespati, Sumantri dan Citrawati justru jatuh cinta.

Meskipun memilih untuk bercerita lewat tulisan yang disertai gambar, Sujiwo mengaku tidak menyasar pembaca kalangan tertentu. Baginya, Serat Tripama ia ciptakan untuk seluruh kalangan. “Yang suka makrifat, ambil makrifatnya. Misalnya bahwa pertemuan Sumantri dan Arjuna Sasrabahu itu simbol saja, sejatinya pertemuan makhluk dengan Tuhannya,” jelas Sujiwo. “Yang suka cinta laki-perempuan, biar ambil romansa antara Sumantri dan Citrawati. Sumantri yang semula disuruh oleh Prabu Arjuna Sasrabahu untuk memboyong Citrawati, eh di tengah jalan malah jatuh cinta sama Citrawati dan tak bertepuk sebelah tangan,” terangnya lagi.

Sujiwo menambahkan, bahkan anak-anak pun sebenarnya bisa membaca buku ini. Aku Sujiwo, dalam bukunya, banyak guyonan punokawan tokoh Cangik dan Limbuk yang bisa menjadi penghibur bagi anak-anak. “Mudah-mudahan pembaca terhibur dengan gambar-gambar imajinatifku, karena dilukis secara ngawur tapi benar. Misalnya, Sumantri memanah tidak di hutan, tetapi dari lapangan glof dibantu caddy,” kekehnya.

Fitria Farisabentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta