fbpx

Kutipan-Kutipan Cak Nun Ini Cocok sebagai Renungan #DiRumahAja

Ramadan tiba. Kita semua berharap, pandemi ini segera berakhir. Kalau kita sebagai manusia bisa menawar, caranya hanya dengan berdoa semoga Corona berakhir sebelum Lebaran. Namun, lagi-lagi manusia hanya bisa berharap dan berdoa dengan kesemogaannya. Kita sering mendengar bahwa doa insya Allah akan lebih mustajab jika dilantunkan oleh banyak orang, oleh jamaah. Namun, sejak wabah ini menyerang dunia, suasana menjadi sunyi senyap. Tablig akbar ditiadakan, tidak dianjurkan lagi shalat berjamaah di masjid. Tidak ada ajakan wirid, zikir, mengaji total, atau istigasah dari NU, MUI, maupun Muhammadiyah. Tidak ada pencerahan logika maupun spiritual. Tidak ada introspeksi, muhasabah, atau apa pun yang didorongkan oleh para pemimpin agama. Dan, kalau kemudian Tuhan memperkenankan seorang pasien Corona sembuh dan pulih, juga tidak ada suasana syukur, tidak ada sujud syukur, tidak ada “slametan” atau bentuk apa pun yang mencerminkan ada hubungan antara manusia dan Tuhan.

Ada tak terhitung labirin dan lapisan-lapisan hijab di bumi dan langit, di siang dan malam, di kemarin dan esok. Sekarang seluruh umat manusia penduduk bumi sedang diajak main petak umpet dengan Hijab Corona. Menurut KBBI, salah satu arti hijab adalah dinding yang membatasi hati manusia dan Allah Swt. Saat ini, manusia tengah disibukkan oleh musibah yang muncul mendunia secara tiba-tiba. Inilah saatnya kita untuk memperbaiki diri, waktu yang tepat untuk membuka Hijab Corona. Kita sibak penutup hati kita selama ini. Apa lagi dengan datangnya Ramadan, semoga Allah mengabulkan semua doa yang dipanjatkan seluruh umat-Nya di dunia ini, khususnya doa segera hilang pandemi Covid-19.

Sampai detik ini, sudah berapa persenkah warga Indonesia yang telah meninggal karena Covid-19? Mungkinkah masih akan terus bertambah? Sebenarnya, kematian itu merupakan proses perjalanan manusia untuk menemui Sang Penciptanya. Hal tersebut berarti kematian merupakan berita bahagia. Namun, pada sisi lain, kematian merupakan hal yang paling ditakutkan oleh sebagian manusia. Bisa dibilang, manusia tidak ingin mati, mereka ingin hidup selamanya. Maka “Innalillahi wainnailaihi raji’un”, selalu dianggap, dirasakan, dan disimpulkan sebagai ucapan duka atas maut yang menimpa seseorang. Padahal, kalimat itu hanya informasi teknis, steril, dan datar—bahwa “siapa dan apa saja berasal dari Allah dan kembali pula kepada Allah”. Tidak ada nada suka atau duka.

Pemerintah telah menganjurkan untuk tidak keluar rumah supaya mata rantai pandemi ini segera terputus. Meskipun demikian, rakyatnya ajaib. Mereka bisa tenang dalam kecemasan. Mereka berlaku normal dalam situasi darurat. Mereka sanggup bergembira dalam kesedihan. Mereka terbiasa “nekat”, mencapai level sangat tinggi di atas “tekad”. Kalau mau keluar rumah, ya, keluar saja. Hati kecilnya berkata, Di rumah ya bisa mati, di luar rumah ya bisa mati.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta