fbpx

Ini Dia Resep Supernova Dee Lestari

Lima belas tahun memainkan kehidupan sebagai pencipta dan pengatur tunggal dunia Supernova, membuat nama Dee Lestari lekat dengan karyanya yang satu ini. Meskipun terhitung sebagai penulis Indonesia yang produktif melahirkan karya-karya ciamik, namun, tak pelak Supernova membuat Dee menyandang status sebagai penulis tanah air yang patut diperhitungkan.

“Supernova bagi saya adalah penelusuran ke dalam. Supernova adalah salah satu cara saya bertanya tentang hal-hal mendasar tentang diri dan eksistensi,” katanya.

Lima belas tahun bukan merupakan waktu yang singkat bagi Dee bertahan atas konsistensinya menciptakan ide, konflik, setting tempat, dan tokoh yang liar dalam Supernova. Sebutlah tema LGBT, buddhisme, yogi, ilmu biologi, hingga lucid dreaming, adalah tema besar yang telah Dee angkat dalam kelima seri Supernova. Belum lagi puluhan setting tempat tak biasa yang Dee gambarkan, mulai dari pedalaman Amazon, Cusco, Golden Triangle, Tanjung Puting, hingga Lembah Yarlung. Atau tokoh-tokoh nyentrik yang Dee ciptakan, mulai dari PSK, penato, penyembuh, hingga ilmuwan. Adalah hasil dari konsistensi kerangka cerita yang selalu Dee buat, untuk menempatkan segala ide dan infromasi teknis.

“Ide adalah konten yang ketika sudah masuk ke cerita harus lebur dan subtil. Gerbong dan lokomotifnya tetap elemen-elemen fiksi seperti karakter, konflik, setting, dan sebagainya,” jelas Dee.

Dengan banyaknya karakter yang Dee ciptakan selama penggarapan Supernova, rupanya ia memiliki trik tertentu untuk menyelami tokoh yang ia telurkan. Ketika mengerjakan karakter yang Dee tulis, ia mengaku selalu menyetel mindset-nya sedemikian rupa untuk bisa melihat dunia dari sudut pandang si karakter tersebut, bukan lagi sebagai Dee Lestari.

“Mungkin kasarnya seperti ‘dirasuki’. Dan, itu terjadi berbulan-bulan sepanjang saya menulis. Dalam bercerita, sebisa mungkin saya menahan ‘Dee Lestari’ untuk muncul, dan membiarkan karakter saya yang menonjol,” beber Dee.

Taktik yang Dee lakukan ini pada akhirnya akan memudahkan pembaca terhubung dengan karakter yang ia ciptakan. Pembaca bisa jatuh cinta, tergila-gila, simpati, sebal, dan yang lainnya, adalah emosi-emosi riil yang menghidupkan karakter tersebut di benak pembaca. Oleh karenanya, pembaca mempunyai akses penuh untuk memiliki hubungan dengan karakter Supernova secara langsung tanpa Dee harus menginterupsi.

Mengenai banyaknya setting tempat asing yang Dee ceritakan dalam Supernova, pun nyatanya Dee belum pernah mengunjungi sebagaian besar tempat yang ia tuliskan. Oleh karenanya, riset adalah menu sehari-hari yang menjadi asupan wajib Dee dalam menulis. Bagi Dee, angle dan porsi deskripsi yang tepat adalah kunci dari penggambaran setting tempat yang berhasil.

“Tanpa terlalu berlebihan membeberkan, atau terlalu minim deskripsi. Jika pas, maka pembaca akan merasa mereka berada di sana, dan imbasnya mereka juga ikut percaya bahwa saya pasti pernah berada di sana,” katanya.

Riset pula yang membawa Dee selalu lulus ‘melahirkan’ anak-anaknya dengan baik, Supernova ‘bersaudara’. Dee mengaku, bahan yang ia kumpulkan untuk riset bisa dipastikan jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan apa yang akhirnya termuat dalam cerita.

“Misalnya, tentang fungi. Banyak sekali hal menarik tentang fungi, tapi tidak semuanya bisa dikawinkan dengan elemen fiksi yang tengah saya garap, jadi pada akhirnya saya hanya memasukkan hal-hal yang mendukung cerita. Dari enam atau tujuh buku yang saya baca untuk riset fungi, ketika sudah masuk ke dalam cerita paling jadinya hanya beberapa halaman saja,” terangnya.

Dee menambahkan, meskipun materi riset yang ia muat dalam cerita hanya diambil porsi kecilnya, sisa bahan yang ia pelajari tak terbuang percuma begitu saja. Baginya, riset mempunyai dua fungsi. Pertama, untuk menjadi bahan keyakinan bagi penulis, sama halnya ketika seseorang belajar untuk ujian. Artinya, semakin banyak yang dipelajari, seseorang cenderung lebih percaya diri menghadapi ujian, meskipun belum tentu materi yang dipelajari tadi akan keluar seluruhnya dalam soal ujian. Fungsi kedua, bahwa riset yang strategis akan memperkuat keyakinan pembaca kepada tulisan. Strategis di sini berarti tidak perlu banyak, tetapi tepat guna. Menurut Dee, riset dalam penulisan haruslah mendukung elemen cerita, memperkuat deskripsi, dan menstimulasi panca indra pembaca.

Mengingat Dee menempuh pendidikan formal berupa ilmu sosial, riset dan referensi adalah segala-galanya. Dee selalu percaya, bahwa pendidikan formal seringkali tidak menentukan minat dan ketertarikan personal seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Didasari ketertarikannya dalam bidang  spiritualitas, pada tahun 2000 Dee mulai membaca karya-karya sains yang ditulis oleh para ilmuwan, yang juga berusaha mendedah spiritualitas dari sudut pandang berbeda. Sejak saat itu, Dee yang pada dasarnya menyukai ilmu alam, banyak membaca buku sains. Ia juga mengaku tak terlalu kesulitan untuk memahami buku-buku tersebut.

“Mungkin karena ketertarikan saya sesungguhnya bukan ke teknisnya tapi cenderung ke makna filosofisnya. Kalau disuruh kerja di laboratorium, saya belum tentu suka,” akunya sambil terkekeh.

Lima belas tahun memainkan kehidupan sebagai pencipta dan pengatur tunggal dunia Supernova, membuat nama Dee Lestari lekat dengan karyanya yang satu ini. Meskipun terhitung sebagai penulis Indonesia yang produktif melahirkan karya-karya ciamik, namun, tak pelak Supernova membuat Dee menyandang status sebagai penulis tanah air yang patut diperhitungkan.

“Supernova bagi saya adalah penelusuran ke dalam. Supernova adalah salah satu cara saya bertanya tentang hal-hal mendasar tentang diri dan eksistensi,” katanya.

Lima belas tahun bukan merupakan waktu yang singkat bagi Dee bertahan atas konsistensinya menciptakan ide, konflik, setting tempat, dan tokoh yang liar dalam Supernova. Sebutlah tema LGBT, buddhisme, yogi, ilmu biologi, hingga lucid dreaming, adalah tema besar yang telah Dee angkat dalam kelima seri Supernova. Belum lagi puluhan setting tempat tak biasa yang Dee gambarkan, mulai dari pedalaman Amazon, Cusco, Golden Triangle, Tanjung Puting, hingga Lembah Yarlung. Atau tokoh-tokoh nyentrik yang Dee ciptakan, mulai dari PSK, penato, penyembuh, hingga ilmuwan. Adalah hasil dari konsistensi kerangka cerita yang selalu Dee buat, untuk menempatkan segala ide dan infromasi teknis.

“Ide adalah konten yang ketika sudah masuk ke cerita harus lebur dan subtil. Gerbong dan lokomotifnya tetap elemen-elemen fiksi seperti karakter, konflik, setting, dan sebagainya,” jelas Dee.

Dengan banyaknya karakter yang Dee ciptakan selama penggarapan Supernova, rupanya ia memiliki trik tertentu untuk menyelami tokoh yang ia telurkan. Ketika mengerjakan karakter yang Dee tulis, ia mengaku selalu menyetel mindset-nya sedemikian rupa untuk bisa melihat dunia dari sudut pandang si karakter tersebut, bukan lagi sebagai Dee Lestari.

“Mungkin kasarnya seperti ‘dirasuki’. Dan, itu terjadi berbulan-bulan sepanjang saya menulis. Dalam bercerita, sebisa mungkin saya menahan ‘Dee Lestari’ untuk muncul, dan membiarkan karakter saya yang menonjol,” beber Dee.

Taktik yang Dee lakukan ini pada akhirnya akan memudahkan pembaca terhubung dengan karakter yang ia ciptakan. Pembaca bisa jatuh cinta, tergila-gila, simpati, sebal, dan yang lainnya, adalah emosi-emosi riil yang menghidupkan karakter tersebut di benak pembaca. Oleh karenanya, pembaca mempunyai akses penuh untuk memiliki hubungan dengan karakter Supernova secara langsung tanpa Dee harus menginterupsi.

Mengenai banyaknya setting tempat asing yang Dee ceritakan dalam Supernova, pun nyatanya Dee belum pernah mengunjungi sebagaian besar tempat yang ia tuliskan. Oleh karenanya, riset adalah menu sehari-hari yang menjadi asupan wajib Dee dalam menulis. Bagi Dee, angle dan porsi deskripsi yang tepat adalah kunci dari penggambaran setting tempat yang berhasil.

“Tanpa terlalu berlebihan membeberkan, atau terlalu minim deskripsi. Jika pas, maka pembaca akan merasa mereka berada di sana, dan imbasnya mereka juga ikut percaya bahwa saya pasti pernah berada di sana,” katanya.

Riset pula yang membawa Dee selalu lulus ‘melahirkan’ anak-anaknya dengan baik, Supernova ‘bersaudara’. Dee mengaku, bahan yang ia kumpulkan untuk riset bisa dipastikan jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan apa yang akhirnya termuat dalam cerita.

“Misalnya, tentang fungi. Banyak sekali hal menarik tentang fungi, tapi tidak semuanya bisa dikawinkan dengan elemen fiksi yang tengah saya garap, jadi pada akhirnya saya hanya memasukkan hal-hal yang mendukung cerita. Dari enam atau tujuh buku yang saya baca untuk riset fungi, ketika sudah masuk ke dalam cerita paling jadinya hanya beberapa halaman saja,” terangnya.

Dee menambahkan, meskipun materi riset yang ia muat dalam cerita hanya diambil porsi kecilnya, sisa bahan yang ia pelajari tak terbuang percuma begitu saja. Baginya, riset mempunyai dua fungsi. Pertama, untuk menjadi bahan keyakinan bagi penulis, sama halnya ketika seseorang belajar untuk ujian. Artinya, semakin banyak yang dipelajari, seseorang cenderung lebih percaya diri menghadapi ujian, meskipun belum tentu materi yang dipelajari tadi akan keluar seluruhnya dalam soal ujian. Fungsi kedua, bahwa riset yang strategis akan memperkuat keyakinan pembaca kepada tulisan. Strategis di sini berarti tidak perlu banyak, tetapi tepat guna. Menurut Dee, riset dalam penulisan haruslah mendukung elemen cerita, memperkuat deskripsi, dan menstimulasi panca indra pembaca.

Mengingat Dee menempuh pendidikan formal berupa ilmu sosial, riset dan referensi adalah segala-galanya. Dee selalu percaya, bahwa pendidikan formal seringkali tidak menentukan minat dan ketertarikan personal seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Didasari ketertarikannya dalam bidang  spiritualitas, pada tahun 2000 Dee mulai membaca karya-karya sains yang ditulis oleh para ilmuwan, yang juga berusaha mendedah spiritualitas dari sudut pandang berbeda. Sejak saat itu, Dee yang pada dasarnya menyukai ilmu alam, banyak membaca buku sains. Ia juga mengaku tak terlalu kesulitan untuk memahami buku-buku tersebut.

“Mungkin karena ketertarikan saya sesungguhnya bukan ke teknisnya tapi cenderung ke makna filosofisnya. Kalau disuruh kerja di laboratorium, saya belum tentu suka,” akunya sambil terkekeh.

@fitriafarisabentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta