Revolusi Digital, Mengubah Peradaban Manusia

Masih ingat dengan puncak revolusi industri yang terjadi pada abad ke-19 silam? Menurut T.S Ashton, revolusi industri mulai terjadi pada tahun 1760-1830.  Pada tahun-tahun tersebut, teknologi mesin sedang berada dalam puncaknya. Manusia mulai memanfaatkan mesin untuk mempermudah berbagai pekerjaan berat. Pada akhirnya, perkembangan mesin-mesin itu menimbulkan revolusi industri, yaitu peralihan produksi yang mulanya dilakukan oleh tenaga manusia berganti menjadi mesin.

Ada satu hal yang mesti kita cermati dalam melihat fenomena “revolusi industri”. Hal tersebut adalah adanya perkembangan teknologi yang terus-menerus dan mempengaruhi peradaban umat manusia – tidak terkecuali dalam aspek ekonomi. Kita tahu bahwa teknologi dan perkembangannya memberikan efek besar terhadap perilaku manusia. Ditambah dengan banyaknya berbabagi kemudahan yang dituntut oleh umat manusia, teknologi memiliki fungsi untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Pada era sekarang, perkembangan teknologi berpusat pada arus informasi dan komunikasi. Internet dan teknologi komunikasi telah menciptakan budaya serta peradaban baru umat manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa internet dan teknologi komunikasi juga mempengaruhi bidang ekonomi. Dengan berbagai riset yang panjang, internet menjadi solusi bagi perilaku konsumen di era sekarang ini.

Salah satu usaha ekonomi yang tercipta akibat perkembangan internet adalah bisnis startup. Pada era digital seperti sekarang, kebanyakan bisnis startup disokong oleh internet dan berbagai perkembangan teknologi komunikasi lainnya.  Ada hal yang menarik ketika berbicara startup adalah peran internet, terutama sosial media dalam pengembangan bisinisnya. Dalam hal ini, pengaruh internet memang menyinggung bahkan melekat pada berbagai aspek kehidupan manusia. Revolusi pun kembali terjadi dan kita dapat menyebutnya sebagai “revolusi digital”.

Dulu, untuk melihat perilaku konsumen – para pengusaha mesti mengadakan riset yang begitu panjang dan terkadang tidak akurat dan tepat sasaran. Kehadiran internet, terutama sosial media telah menciptakan satu kemudahan baru; yaitu menganalisis perilaku konsumen melalui sosial media.

Pada era digital seperti ini, tidak dapat dipungkiri bahwa peluang membuka bisnis dengan model startup sangat diminati. Kita bisa membayangkan bahwa suatu saat nanti berbagai usaha membutuhkan internet. Kantor-kantor perusahaan hanya sebuah ruangan kecil dengan banyak komputer yang servernya tidak pernah mati.

Di Indonesia sendiri, startup mulai merajalela. Mulai dari produk transportasi hingga  antar makanan. Dalam hal ini, keberadaan startup memang akan menciptakan banyak enterpreneur. Dalam kondisis yang begitu esktrem dan penuh ketidakpastian, siapa pun akan mulai melakukan upaya untuk menciptakan produk dan bisnis baru.

Startup bisa menjadi solusi di tengah ingar-bingar pengangguran yang semakin bertambah. Startup juga mampu menjadi wadah kreativitas anak muda yang terhalang berbagai kendala. Seperti Mark Zuckeberg yang sukses dengan facebook. Bisnis startup tentunya sangat menggiurkan. Tetapi, bagaimana memulainya bisnis startup? Pada dasarnya, memulai bisnis apapun harus berdasarkan dengan banyak bertimbangan, tidak terkecuali dengan bisnis startup.

Salah satu buku yang ditulis oleh Eric Ries, yaitu  The Lean Start Up akan memandu kita dalam menciptakan berbagai bisnis start up. Eric dalam bukunya tersebut menjelaskan bahwa ada banyak hal sebelum memulai bisnis startup , mulai dari riset, pengujian, hingga evaluasi. Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin memulai start up mereka. Dengan perkembangan internet dan teknologi yang semakin maju, tentu bisnis start up diproyeksikan sebagai masa depan ekonomi dunia ke depannya.

Melihat fenomena ini, memang sudah layak jika era sekarang disebut sebagai revolusi digital. Internet bukan lagi sekadar sumber informasi tetapi juga penunjang bisnis dan ekonomi. Bahkan, dapat dikatakan internet merupakan medium utama suatu bisnis atau produk tertentu. Internet telah memengaruhi peradaban manusia. Sayangnya, untuk memenuhi revolusi digital tersebut, diperlukan infrastruktur yang mumpuni. Indonesia sendiri masih kalah jauh dengan negara lain karena infrastruktur dalam teknologi informasi dan komunikasi masih sangat kurang.

 
Lamia Putri D. Masih ingat dengan puncak revolusi industri yang terjadi pada abad ke-19 silam? Menurut T.S Ashton, revolusi industri mulai terjadi pada tahun 1760-1830.  Pada tahun-tahun tersebut, teknologi mesin sedang berada dalam puncaknya. Manusia mulai memanfaatkan mesin untuk mempermudah berbagai pekerjaan berat. Pada akhirnya, perkembangan mesin-mesin itu menimbulkan revolusi industri, yaitu peralihan produksi yang mulanya dilakukan oleh tenaga manusia berganti menjadi mesin.

Ada satu hal yang mesti kita cermati dalam melihat fenomena “revolusi industri”. Hal tersebut adalah adanya perkembangan teknologi yang terus-menerus dan mempengaruhi peradaban umat manusia – tidak terkecuali dalam aspek ekonomi. Kita tahu bahwa teknologi dan perkembangannya memberikan efek besar terhadap perilaku manusia. Ditambah dengan banyaknya berbabagi kemudahan yang dituntut oleh umat manusia, teknologi memiliki fungsi untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Pada era sekarang, perkembangan teknologi berpusat pada arus informasi dan komunikasi. Internet dan teknologi komunikasi telah menciptakan budaya serta peradaban baru umat manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa internet dan teknologi komunikasi juga mempengaruhi bidang ekonomi. Dengan berbagai riset yang panjang, internet menjadi solusi bagi perilaku konsumen di era sekarang ini.

Salah satu usaha ekonomi yang tercipta akibat perkembangan internet adalah bisnis startup. Pada era digital seperti sekarang, kebanyakan bisnis startup disokong oleh internet dan berbagai perkembangan teknologi komunikasi lainnya.  Ada hal yang menarik ketika berbicara startup adalah peran internet, terutama sosial media dalam pengembangan bisinisnya. Dalam hal ini, pengaruh internet memang menyinggung bahkan melekat pada berbagai aspek kehidupan manusia. Revolusi pun kembali terjadi dan kita dapat menyebutnya sebagai “revolusi digital”.

Dulu, untuk melihat perilaku konsumen – para pengusaha mesti mengadakan riset yang begitu panjang dan terkadang tidak akurat dan tepat sasaran. Kehadiran internet, terutama sosial media telah menciptakan satu kemudahan baru; yaitu menganalisis perilaku konsumen melalui sosial media.

Pada era digital seperti ini, tidak dapat dipungkiri bahwa peluang membuka bisnis dengan model startup sangat diminati. Kita bisa membayangkan bahwa suatu saat nanti berbagai usaha membutuhkan internet. Kantor-kantor perusahaan hanya sebuah ruangan kecil dengan banyak komputer yang servernya tidak pernah mati.

Di Indonesia sendiri, startup mulai merajalela. Mulai dari produk transportasi hingga  antar makanan. Dalam hal ini, keberadaan startup memang akan menciptakan banyak enterpreneur. Dalam kondisis yang begitu esktrem dan penuh ketidakpastian, siapa pun akan mulai melakukan upaya untuk menciptakan produk dan bisnis baru.

Startup bisa menjadi solusi di tengah ingar-bingar pengangguran yang semakin bertambah. Startup juga mampu menjadi wadah kreativitas anak muda yang terhalang berbagai kendala. Seperti Mark Zuckeberg yang sukses dengan facebook. Bisnis startup tentunya sangat menggiurkan. Tetapi, bagaimana memulainya bisnis startup? Pada dasarnya, memulai bisnis apapun harus berdasarkan dengan banyak bertimbangan, tidak terkecuali dengan bisnis startup.

Salah satu buku yang ditulis oleh Eric Ries, yaitu  The Lean Start Up akan memandu kita dalam menciptakan berbagai bisnis start up. Eric dalam bukunya tersebut menjelaskan bahwa ada banyak hal sebelum memulai bisnis startup , mulai dari riset, pengujian, hingga evaluasi. Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin memulai start up mereka. Dengan perkembangan internet dan teknologi yang semakin maju, tentu bisnis start up diproyeksikan sebagai masa depan ekonomi dunia ke depannya.

Melihat fenomena ini, memang sudah layak jika era sekarang disebut sebagai revolusi digital. Internet bukan lagi sekadar sumber informasi tetapi juga penunjang bisnis dan ekonomi. Bahkan, dapat dikatakan internet merupakan medium utama suatu bisnis atau produk tertentu. Internet telah memengaruhi peradaban manusia. Sayangnya, untuk memenuhi revolusi digital tersebut, diperlukan infrastruktur yang mumpuni. Indonesia sendiri masih kalah jauh dengan negara lain karena infrastruktur dalam teknologi informasi dan komunikasi masih sangat kurang.

 
Lamia Putri D.bentang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Copyright - PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta