Filosofi Kopi Terbit dalam Edisi Jepang

Kabar gembira dari Filosofi Kopi, salah satu cerpen yang ada pada Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade karya Dee Lestari.

Buku ini dilirik oleh dua penerjemah novel di Jepang, yaitu Hiroaki Kato dan Keiko Nishino. Dan rencananya cerpen terbitan Bentang Pustaka itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang serta akan diterbitkan oleh Sophia University Press di Jepang.

Acara launching dan talkshow Filosofi Kopi edisi Jepang ini diadakan di Auditorium Sophia University, pada 8 Januari 2020. Acara tersebut dimulai pukul 18.00 bersifat free tanpa registrasi.

Dee juga menampilkan musical performance yang dibawakan oleh Hiroaki Kato featuring Reza Gunawan. Bagi para pembaca setia Dee Lestari yang berada di Jepang silakan merapat, karena Filosofi Kopi edisi Jepang tersedia di tempat dan juga sudah ada di toko buku Jepang, lho!

Dee Lestari dan Karyanya

Bagi yang belum mengenal Dee Lestari, beliau adalah seorang penulis kelahiran Bandung. Sudah delapan belas tahun namanya termasuk dalam jajaran penulis papan atas Indonesia.

Karya pertamanya yang membuat namanya melejit yaitu seri Supernova. Di mulai dari Supernova: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh hingga judul terakhirnya yaitu Supernova: Inteligensi Embun Pagi.

Filosofi Kopi adalah salah satu judul dalam cerpen Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade terbitan penerbit Bentang Pustaka. Terbit pada tahun 2006, perempuan yang akrab di sapa ibu suri itu ingin menghadirkan sosok  yang memaknai kopi dalam perspektif kehidupan.

Sebagian besar karya Dee Lestari yang difilmkan meraih banyak penghargaan, seperti Perahu Kertas, Supernova: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, dan Filosofi Kopi.

Kopi, Kesederhanaan, dan Cinta

Film Filosofi Kopi rilis pertama kali di tahun 2015, diperankan oleh Rio Dewanto dan Chicco Jeriko, bercerita tentang dua orang sahabat yang mendirikan sebuah kedai kopi bernama “Filosofi Kopi”

Chicco Jeriko berperan sebagai Ben, sedangkan Rio Dewanto sebagai Jody.

Ben dalam cerita dikisahkan sebagai seorang barista yang sangat piawai dalam meracik kopi. Hal itu dikarenakan sejak kecil ia hidup di lingkungan petani kopi sebagaimana ayahnya yang juga petani kopi. Sedang Jody dikisahkan sebagai manager yang mengatur administrasi di kedai tersebut.

Mereka membuat nama Filosofi Kopi atas usul Ben, ia sering menyelipkan sebuah filosofi pada setiap kopi yang ia racik. Sampai pada kilmaks cerita, Ben bertemu dengan Pak Seno yang kemudian mengajarinya sebuah cinta sederhana melalui kopi tiwus.

Pada dasarnya Filosofi Kopi mengajarkan kepada semua pembacanya bahwa dalam mengerjakan sesuatu tidak dibutuhkan kesempurnaan tetapi bagaimana sesuatu itu dibuat dengan sepenuh hati.

Tepatnya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana yang diajarkan Pak Seno kepada Ben tentang kopi sederhana namun penuh cinta.

Mencicipi Kopi Sambil Berfilosofi

Berawal dari film yang diadaptasi dari cerpen Dee Lestari hingga diwujudkan sebagai brand dan kedai kopi, saat ini masyarakat tidak hanya bisa membayangkan kopi yang diseduh oleh Ben dan diseruput oleh Jody, akan tetapi mereka dapat merasakan sendiri dengan adanya transformasi tersebut.

Kopi menjadi trend yang tidak dapat ditolak, banyak yang menggemari kopi lebih dari sekadar minuman. Menyeruput kopi sambil membaca filosofinya bisa jadi adalah hal menyenangkan yang patut kamu coba lho, Sahabat Bentang! (Rizal)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *