Fiksi atau Nonfiksi: Mau Menulis yang Mana?

Bukan sekali-dua kali saya menemukan naskah “nonfiksi” tercecer masuk ke folder editor “fiksi”. Waktu itu saya pikir naskah itu hanya tersasar. Namun, setelah saya cek, naskah itu memang novel yang menampilkan cerita yang benar-benar khayalan alias fiksi. Atau, di lain kesempatan, saya menemukan naskah berlabel fiksi, dan setelah saya baca justru merupakan naskah autobiografi atau memoar penulisnya. Padahal, autobiografi atau memoar jelas-jelas berisikan kisah yang benar-benar telah terjadi.

Sebelum memutuskan untuk menuliskan naskah, para calon penulis perlu mengetahui jenis naskah apa yang akan dituliskannya. Fiksi atau nonfiksi? Dengan mengetahui sejak awal, kita akan lebih mudah memilih pendekatan yang tepat karena keduanya jelas-jelas berbeda.

Fiksi, jika menilik KBBI, bermakna “cerita rekaan”, sementara rekaan memiliki makna karangan, buatan, angan-angan (fantasi). Contohnya adalah novel, cerpen, dongeng, fabel, roman sejarah, puisi, dan lain-lain. Sementara itu, nonfiksi, menilik namanya sudah jelas merupakan kebalikan fiksi, dan dengan demikian adalah karangan yang dibuat berdasarkan fakta dan kenyataan tanpa ada tambahan unsur imajinasi di dalamnya. Contoh karangan nonfiksi adalah biografi, memoir, prosa, penerbitan akademik dan lainnya. Melihat contoh-contohnya saja, kita langsung bisa menyimpulkan bahwa karangan nonfiksi cenderung informatif dan berbasis data.

Setelah mengetahui definisinya, pasti jadi lebih mudah kan menyiapkan bahan tulisan. Kalau ingin menulis biografi, kita harus siapkan data lengkap terkait kronologi, tokoh-tokoh yang akan dimunculkan, termasuk detail peristiwa yang dialami tokoh. Atau, jika ingin menulis karya akademik, sudah barang tentu Anda butuh data seakurat mungkin untuk membantu pembaca memahami argumen Anda.

Nah, kalau kita memutuskan menulis karangan fiksi yang merupakan khayalan, yang segala-galanya ada di kepala dan tinggal dituliskan, berarti prosesnya lebih mudah, dong. Eits, jangan buru-buru senang. Proses menuliskan naskah fiksi juga tidak kalah seru. Kita tetap perlu menentukan ide, alur, karakter, latar belakang, dan bahkan melakukan riset!

Ide yang kuat akan menggerakkan seluruh cerita.

Carilah ide yang unik, tetapi juga terasa dekat dengan pembaca. Dengan demikian, pembaca akan tertarik untuk membaca cerita kita. Boleh juga mengambil ide dari kisah nyata. Meskipun berarti karya imajinatif, banyak karya fiksi yang berangkat dari kisah nyata, lho. Hanya saja, dalam pengembangannya, penulis tetap melibatkan imajinasi. Misalnya, ada pengembangan cerita, bisa dengan menambahkan karakter baru yang dianggap memperkuat ide cerita, mengubah alur sesungguhnya, atau bahkan mengubah akhir cerita. Contohnya, novel Majapahit karya Langit Kresna Hariadi yang menghadirkan tokoh-tokoh fiktif dalam sepak terjang Raden Wijaya bersama Bala Sanggrama saat mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit.

Kemudian, kita juga perlu menentukan karakter yang kuat. Karakter yang kuat adalah karakter yang mudah diingat oleh pembaca. Untuk itu, karakter kita harus benar-benar hidup. Jangan takut untuk membayangkan sedetail mungkin karakter cerita kita. Deskripsi karakter bukan sekadar fisik, tetapi juga motivasi, hasrat, kelebihannya, dan bahkan ketakutannya.

Hadirkan tokoh itu senyata mungkin ke hadapan pembaca. Yang tidak kalah penting adalah alur.

Sekalipun kita menulis karangan di dunia antah berantah dengan tokoh yang mungkin tidak pernah ada di dunia nyata (misalnya peri yang tinggal di sebuah planet yang belum pernah ditemukan oleh saintis bumi), alur cerita yang logis merupakan syarat yang tidak bisa ditawar. Dengan alur yang logis, kita akan mudah memahami situasi yang dihadapi tokoh sekaligus bersimpati kepadanya.

Untuk bisa menghadirkan ide, alur, karakter, dan latar belakang yang menunjang, di sinilah riset berperan penting. Saat menuliskan novel Aroma Karsa, misalnya, Dee Lestari melakukan riset dengan belajar membuat parfum, mempelajari seluk-beluk dunia anggrek, hingga mendaki Gunung Lawu untuk bisa menceritakan setting cerita dengan baik. Riset yang mendalam itu membuat para pembaca sulit membedakan mana bagian yang merupakan data akurat dan mana bagian yang merupakan imajinasi.

Jadi, kalau ingin bercerita panjang lebar tentang sejarah hidup kita tanpa ditambahi bumbu-bumbu imajinasi, sudah tahu kan harus memasukkan ke kategori apa? Atau, kalau ingin menceritakan kisah cinta tragis tetapi memakai tokoh khayalan dari dunia antah-berantah, jangan ragu lagi melabelinya dengan kategori “FIKSI”.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *