Kenapa Kita Cemas? Bincang Buku Filsafat Kecemasan Akan Hadir di Yogyakarta
Pernah nggak kamu merasa semakin banyak tahu, justru kamu malah semakin mudah cemas?
Kita hidup di zaman ketika informasi datang tanpa henti. Kita tahu ada masalah di berbagai belahan dunia, kita bisa melihat pencapaian orang lain setiap hari, kita memikirkan masa depan, pekerjaan, hubungan, uang, sampai keputusan-keputusan kecil yang ternyata bisa terasa begitu berat. Kita punya lebih banyak pilihan, tetapi pilihan itu juga bisa membuat kita semakin bingung.
Lalu, sebenarnya kenapa manusia cemas?
Pertanyaan inilah yang coba dibedah dan didiskusikan oleh Dr. Muhammad Faisal, seorang youth researcher, pendiri Youth Laboratory Indonesia, dan Rian Fahardhi, S.Sos, seorang kreator konten dan aktivis muda Indonesia yang sering dijuluki “Presiden Gen Z”.
Melalui buku Filsafat Kecemasan, keduanya tidak sekadar membahas kecemasan sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Sebaliknya, mereka mengajak kita untuk belajar mengenali dan memahami kecemasan: dari mana ia muncul, apa yang ingin disampaikan, dan mengapa rasa tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman manusia.
![]()
Cemas Tidak Selalu Berarti Lemah
Selama ini, kita sering diajarkan untuk melawan kecemasan. Jangan terlalu banyak berpikir. Jangan takut. Jangan overthinking. Tenangkan diri dan lanjutkan hidup.
Namun, bagaimana jika ternyata kecemasan tidak selalu harus dilawan?
Dalam Filsafat Kecemasan, rasa cemas dilihat sebagai sesuatu yang juga bisa memberi tanda. Ketakutan terhadap masa depan, keraguan saat mengambil keputusan, atau kegelisahan ketika menghadapi perubahan mungkin bukan sekadar gangguan yang harus disingkirkan. Bisa jadi, justru ada sesuatu yang sedang berusaha kita pahami.
Dengan pendekatan filosofis yang dibuat sedekat mungkin dengan persoalan kehidupan sehari-hari, buku ini mengajak pembaca mengambil jeda dan mencoba melihat kecemasan dari sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya bertanya “Bagaimana supaya aku tidak cemas?”, tetapi juga “Apa yang sebenarnya membuatku cemas?”
Pertanyaan kedua mungkin terdengar sederhana. Namun, jawabannya bisa membawa kita pada persoalan yang jauh lebih dalam, bahkan mungkin menjadi jalan untuk mengenali diri kita sendiri.
Ketika Semakin Banyak Tahu, Kita Justru Semakin Cemas
Ada sebuah paradoks dalam kehidupan modern di mana semakin luas pengetahuan dan akses informasi yang kita miliki, kita akan semakin mudah merasa cemas karena ada terlalu banyak hal yang akhirnya kita sadari.
Kita tahu dunia tidak selalu baik-baik saja. Kita tahu masa depan penuh ketidakpastian. Kita melihat standar kesuksesan orang lain. Kita mengetahui begitu banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Informasi yang seharusnya membuat kita lebih memahami dunia, terkadang justru membuat kepala semakin penuh dengan berbagai pikiran yang terasa mengganggu.
Di titik inilah pembahasan dalam buku Filsafat Kecemasan menjadi semakin relevan. Buku ini tidak menawarkan dunia tanpa kecemasan. Sebaliknya, ia mengajak kita berhadapan dengan kecemasan dan memahami keberadaannya sebagai bagian dari proses menjadi manusia yang lebih utuh.
Karena pada dasarnya, cemas adalah perasaan fitrah yang dimiliki oleh manusia. Sebuah perasaan yang tidak akan bisa kita eliminasi dengan cara apapun karena meski kadang terasa mengganggu, perasaan ini juga punya fungsi yang sangat penting dalam hidup manusia.
Dan mungkin selama ini masalahnya bukan karena kita terlalu sering merasa cemas. Mungkin kita hanya belum cukup memahami apa yang sedang kita cemaskan.
Saatnya Membicarakan Kecemasan
Kalau selama ini kecemasan hanya dibicarakan sebagai sesuatu yang harus diatasi, bagaimana kalau kali ini kita membicarakannya sebagai sesuatu yang perlu dipahami?
Kamu punya kesempatan untuk mendiskusikan berbagai pertanyaan mengenai kecemasan bersama kedua penulis buku Filsafat Kecemasan dalam rangkaian Bincang Buku Filsafat Kecemasan yang hadir di beberapa tempat.
Acara ini akan berlangsung di tiga lokasi berbeda:
- Universitas Sanata Dharma — Jumat, 9 Oktober 2026
Kamu bisa mendaftarkan diri di bit.ly/FilsafatKecemasanUSD - JABFest, The Ratan — Jumat, 9 Oktober 2026
- Buku Akik — Sabtu, 10 Oktober 2026
Buat kamu yang sedang cemas karena berada di persimpangan pilihan hidup, sering mempertanyakan masa depan, atau sekadar penasaran mengapa manusia bisa begitu mudah merasa cemas, bincang buku ini bisa menjadi ruang pertama untuk melihat kecemasan dari perspektif yang berbeda.
Kamu juga bisa mendapatkan buku Filsafat Kecemasan di seluruh marketplace Bentang.
Ikuti seluruh sosial media Bentang untuk mendapatkan berbagai informasi terbaru terkait buku ini dan buku-buku terbaik lainnya.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!