Kenapa Kita Mudah Percaya pada Ideologi yang Menjanjikan Dunia Lebih Baik?
Hampir semua orang menginginkan kehidupan yang lebih adil. Tapi ketika sebuah ideologi menawarkan jalan menuju dunia yang lebih baik, apakah kita masih mau mempertanyakan ideologi tersebut?
Ketimpangan sosial, kemiskinan, eksploitasi, dan ketidakadilan membuat gagasan tentang perubahan sosial-ekonomi masyarakat selalu menarik. Ketika kehidupan terasa tidak adil, manusia akan mencari penjelasan tentang siapa yang menyebabkan ketidakadilan ini, bagaimana sistem bekerja, dan apa yang harus dilakukan untuk mengubahnya.
Dari sinilah berbagai ideologi mendapatkan daya tariknya.
Salah satunya adalah Marxisme, salah satu pemikiran Barat yang memberikan perhatian besar pada persoalan kelas, kepemilikan, produksi, dan ketimpangan dalam masyarakat kapitalis. Bagi banyak orang, gagasan dalam Marxisme menawarkan cara untuk memahami mengapa ketidakadilan ekonomi terjadi, sekaligus membayangkan masyarakat yang lebih setara.
Namun, apakah sebuah ideologi yang menawarkan kehidupan masyarakat yang lebih adil otomatis menjawab seluruh permasalahan tentang manusia?
Mengapa Manusia Membutuhkan Ideologi?
Secara sederhana, ideologi membantu manusia memahami dunia.
Kita hidup dalam masyarakat yang kompleks. Ada persoalan ekonomi, politik, agama, kelas sosial, budaya, hingga relasi kekuasaan. Tanpa kerangka tertentu, semua persoalan tersebut bisa terlihat seperti kumpulan masalah yang tidak saling berhubungan.
Ideologi menawarkan sebuah cara untuk membaca hubungan di antara berbagai persoalan tersebut.
Ia dapat membantu menjawab pertanyaan seperti mengapa masyarakat menjadi seperti sekarang, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan perubahan seperti apa yang seharusnya dilakukan?
Itulah sebabnya ideologi tidak hanya berupa bentuk teori yang kita baca dalam buku. Ia juga dapat mempengaruhi cara seseorang memahami pekerjaan, kekayaan, kemiskinan, negara, agama, bahkan hubungan antarmanusia.
Masalahnya, sebuah kerangka berpikir yang membantu kita memahami sebagian realitas belum tentu mampu menjelaskan seluruh realitas.
Satu Penjelasan Terasa Bisa Menjelaskan Segalanya
Salah satu risiko ketika kita menemukan sebuah teori yang terasa masuk akal adalah mulai menggunakannya untuk menjelaskan segala sesuatu.
Ketika sebuah masalah sosial dapat dijelaskan melalui satu kerangka, dunia terasa lebih sederhana. Kita memiliki kategori untuk membedakan siapa yang tertindas dan siapa yang menindas, apa yang menjadi penyebab masalah, serta apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.
Namun, manusia tidak pernah sederhana dan tidak bisa disederhanakan hanya dalam satu kategori.
Seseorang dapat menjadi pekerja sekaligus orang tua. Ia dapat mengalami ketidakadilan ekonomi sekaligus memiliki keyakinan agama yang kuat. Ia dapat menjadi bagian dari kelompok tertentu dalam satu situasi, tetapi berada dalam posisi berbeda dalam situasi lainnya.
Karena itu, pertanyaan mengenai bagaimana sebuah ideologi memahami manusia menjadi sama pentingnya dengan pertanyaan mengenai bagaimana ideologi tersebut memahami masyarakat.
Ali Syari’ati dan Kritik terhadap Marxisme
Pertanyaan itu pula yang mendasari pembahasan dalam buku Marxism and Other Western Fallacies: An Islamic Critique karya Ali Syari’ati, seorang cendekiawan dan sosiolog revolusioner dari Iran.
Syari’ati tidak hanya membahas Marxisme sebagai sistem pemikiran politik dan ekonomi. Ia juga mempertanyakan fondasi pemikiran yang mendasarinya, termasuk materialisme, pandangan mengenai manusia, agama, serta gagasan tentang pembebasan.
Dalam buku ini, Syari’ati membahas hubungan Marxisme dengan materialisme dan dialektika Hegel, pandangan Marx terhadap agama, serta perbedaan antara cara pandang Marxisme dan Islam terhadap manusia. Pembahasannya kemudian juga diperluas ke berbagai pemikiran Barat lainnya, termasuk liberalisme borjuis dan eksistensialisme.
Dengan demikian, buku ini tidak sekadar mengajak pembaca bertanya apakah Marxisme benar, tapi juga mempertanyakan pembebasan manusia seperti apa yang dimaksud dalam Marxisme dan pemikiran Barat lainnya.
Apakah Keadilan Material Sudah Cukup?
Bayangkan sebuah masyarakat berhasil mengurangi ketimpangan ekonomi. Akses terhadap kebutuhan dasar semakin merata. Kesempatan ekonomi semakin terbuka. Namun, apakah semua persoalan manusia otomatis selesai?
Belum tentu.
Manusia juga memiliki kebutuhan akan makna, kebebasan, moralitas, hubungan sosial, dan kehidupan spiritual. Karena itu, persoalan tentang manusia tidak selalu dapat direduksi menjadi persoalan mengenai bagaimana sumber daya dibagikan.
Di sinilah perspektif Syari’ati menjadi menarik. Ia melihat bahwa pembebasan manusia perlu dipahami dengan mempertimbangkan manusia secara lebih utuh, termasuk dimensi spiritualnya.
Artinya, keadilan sosial tetap penting, tetapi manusia tidak berhenti menjadi manusia setelah persoalan ekonominya diselesaikan.
Mengapa Kritik terhadap Ideologi Tetap Penting?
Mengkritik sebuah ideologi tidak selalu berarti menolak seluruh gagasannya.
Kita bisa mengakui bahwa sebuah pemikiran membantu menjelaskan persoalan tertentu, sekaligus mempertanyakan bagian lain yang menurut kita belum memadai.
Sikap semacam ini justru membuat kita tidak mudah terjebak pada dua kondisi ekstrem yaitu menerima sebuah ideologi secara keseluruhan atau menolaknya secara keseluruhan.
Cara membaca semacam ini juga relevan ketika kita berhadapan dengan berbagai gagasan hari ini. Kita mungkin menemukan teori yang sangat cocok menjelaskan persoalan ekonomi, gagasan yang sangat kuat dalam membahas kebebasan, atau pemikiran yang terasa tepat untuk menjelaskan ketimpangan.
Tetapi selalu ada pertanyaan yang layak diajukan. Misalnya, apa yang sebenarnya dijelaskan oleh gagasan ini? Dan apa yang mungkin tidak dijelaskan dalam gagasan ini?
Membaca Marxisme dari Perspektif Islam
Marxism and Other Western Fallacies menjadi buku yang menarik bagi pembaca yang ingin melihat bagaimana pemikiran Islam berhadapan dengan ideologi dan filsafat Barat modern.
Banyak orang beranggapan bahwa dalam beberapa hal, Marxisme sama dengan Islam. Namun, di buku ini, Ali Syari’ati menjabarkan berbagai perbedaan besar yang bahkan mendasar antara Marxisme dan Islam.
Bukan berarti Marxisme sepenuhnya salah, tapi berbagai perkembangan dan perubahan dunia nyatanya juga membuat banyak nilai dalam Marxisme bergeser hingga semakin jauh berbeda dengan Islam.
Ali Syari’ati sendiri merupakan intelektual Iran yang mempelajari sosiologi di Prancis dan telah berinteraksi dengan berbagai tradisi pemikiran modern. Sepulangnya ke Iran, ia dikenal melalui ceramah dan tulisan yang membahas Islam, masyarakat, perubahan sosial, dan persoalan manusia.
Latar belakang tersebut membuat pendekatannya tidak sekadar berupa penolakan terhadap pemikiran Barat. Ia mencoba membaca berbagai gagasan modern sekaligus mengujinya melalui perspektif Islam.
Karena itu, buku ini dapat menjadi bacaan bagi siapa saja yang tertarik pada Marxisme, filsafat sosial, pemikiran Islam, keadilan sosial, maupun hubungan agama dengan perubahan masyarakat.
Marxism and Other Western Fallacies Kini Terbit dalam Bahasa Indonesia
Bagi pembaca Indonesia yang ingin mengenal pemikiran Ali Syari’ati dalam tema tersebut, Marxism and Other Western Fallacies kini telah terbit dalam versi bahasa Indonesia dengan judul Kritisisme Islam di Tengah Arus Pergulatan Pemikiran Modern.
Buku ini menawarkan kesempatan untuk melihat perdebatan tentang Marxisme bukan hanya sebagai perdebatan antara “setuju” dan “tidak setuju” terhadap sebuah ideologi. Lebih dari itu, pembaca diajak mempertanyakan kembali gagasan tentang manusia, agama, kebebasan, kesetaraan, dan pembebasan.
Diterbitkan oleh Bentang pada 2 Oktober 2026, buku ini sudah bisa dipesan di seluruh marketplace Bentang.
Ikuti seluruh media sosial Bentang untuk mendapatkan berbagai informasi terbaru mengenai buku ini dan buku-buku terbaik lainnya.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!